Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Kapan nikah?


__ADS_3

"Jadi, gimana Keenan? Kapan kamu mau melamar adik saya itu? Kalian kan sudah lumayan lama berhubungan, apa gak mau segera melangsungkan pernikahan?" tanya Albert pada Keenan.


Seketika Keenan langsung kebingungan dan menggaruk kepala bagian belakangnya, pria itu sebenarnya ingin sekali menikah dengan Chelsea.


Akan tetapi, Keenan masih belum bisa memastikan kapan ia akan melamar kekasihnya karena saat ini Chelsea juga masih harus meneruskan kuliahnya.


"Eee pernikahan itu kan bukan sesuatu yang gampang, tuan. Saya dan Chelsea harus memikirkan itu matang-matang lebih dulu sebelum kami melangsungkan pernikahan, lagipun Chelsea kan juga belum wisuda tuan. Saya khawatir dia malah tolak saya nanti," jawab Keenan gugup.


"Hahaha... gak mungkin Chelsea tolak kamu Ken! Saya tahu kok dia itu cinta sama kamu, jadi pasti dia mau-mau aja terima lamaran kamu. Tapi, semuanya tergantung kamu sih udah siap apa belum buat nikahin adik saya." kata Albert.


"Itu dia tuan, saya masih ragu untuk bisa menikahi Chelsea. Bukannya apa-apa, saya takut aja gak bisa bikin Chelsea bahagia setelah menikah dengan saya. Apalagi saya juga harus bekerja dengan tuan, pasti saya akan sulit bagi waktu untuk Chelsea." ucap Keenan.


"Ohh jadi kamu merasa kalau bekerja dengan saya itu bikin kamu dan Chelsea jadi berjauhan gitu? Oke tidak masalah, kamu bisa ajukan pengunduran diri kok dan saya akan segera cari pengganti untuk kamu." kata Albert.


"Wah jangan gitu dong tuan! Saya kan gak ada bilang begitu," ucap Keenan cemas.


"Hahaha... gausah panik gitu Ken! Mana mungkin saya akan melepaskan kamu segampang itu? Kamu itu kan asisten terbaik saya, kamu juga sudah banyak membantu saya." kata Albert terkekeh.


"Begini aja deh, saya akan berikan kamu cuti kalau kamu nantinya akan menikah dengan Chelsea. Bebas terserah kamu mau libur berapa hari, saya akan izinkan itu!" sambungnya.


"Yang benar tuan?" tanya Keenan kaget.


"Tentu saja, buat apa saya bohong? Lagipun, saya juga merasa ingin berlibur sejenak dari kerjaan yang cukup melelahkan ini. Saya ingin ajak istri saya ini pergi bulan madu, kami kan belum melakukan itu sebelumnya." jawab Albert.


"Bulan madu? Kamu serius mas mau ajak aku bulan madu?" tanya Nadira terkejut.


"Kamu kelihatan senang banget pas saya bahas bulan madu, pasti kamu pengen banget ya berduaan sama saya!" ledek Albert.


"Ih bukan begitu, aku kaget aja seorang mas Albert bisa ajak istrinya bulan madu. Padahal kamu kan lagi sibuk banget loh mas, apalagi urusan kantor kamu juga belum selesai." kata Nadira.


"Itu mah soal gampang, kan ada Keenan dan karyawan lain di kantor yang bisa mengurus itu. Nah, nanti baru setelah Keenan menikah gantian deh saya yang beri dia waktu berlibur." kata Albert.


"Tenang saja tuan! Saya pasti akan urus semuanya dengan baik selama tuan dan ibu pergi berdua!" ucap Keenan.


"Nah kan, kamu lihat sendiri tuh sayang! Keenan aja gak ngerasa keberatan kok, jadi kita bisa pergi bulan madu deh." kata Albert tersenyum.


"Iya mas, terserah kamu aja!" ucap Nadira.


Keenan hanya tersenyum tipis melihat kemesraan antara Albert dan Nadira, baru kali ini ia melihat bosnya begitu lembut pada seorang perempuan dan tampak sekali kalau Albert memang memiliki rasa pada Nadira.


Tak lama kemudian, Chelsea kembali dari kamarnya dan menemui mereka setelah berganti pakaian.


"Halo semua aku kembali!" ucap Chelsea yang kini mengenakan dress berwarna biru.


Keenan langsung terpukau melihat kecantikan kekasihnya itu, ia sampai tak bisa berkata-kata dan hanya menganga lebar memandangi tubuh Chelsea yang anggun itu.


"Heh! Mata dijaga mata!" tegur Albert.


"Ah eee ma-maaf tuan! Saya tidak fokus!" ucap Keenan gugup.


"Ahaha, biarin aja mas! Kayak kamu gak pernah begitu aja!" ucap Nadira terkekeh.


"Yeh kalau saya mah emang gapapa, tapi si Keenan ini gak boleh dong!" ucap Albert.


"Kenapa gitu mas?" tanya Nadira heran.


"Ya memang sudah begitu aturannya," jawab Albert tersenyum.


"Ada-ada aja kamu mas," ucap Nadira menggeleng.


Chelsea dan Keenan sama-sama tersipu, mereka kompak merunduk sembari menggaruk kepala di hadapan sepasang suami-istri itu.




Setelah Keenan dan Chelsea pergi, kini Albert mulai kembali bermesraan dengan Nadira di ruang tamu.


Albert langsung memeluk wanitanya dari samping dan menaruh wajahnya pada pundak sang istri sembari mengusap perutnya yang sudah mulai membesar itu.


"Sayang, kamu wangi banget sih!" ujarnya.


"Mas, apa-apaan sih kamu! Jangan kayak gini dong malu nanti kalau dilihat orang! Lepasin dong mas!" ujar Nadira merasa risih.


"Gapapa sayang, siapa sih emang yang berani ganggu kita? Toh kita mesra-mesraan juga di rumah, bukan di tempat umum. Kamu gak perlu malu begitu lah, sama suami sendiri juga!" ucap Albert malah mengeratkan pelukannya.


"I-i-iya mas, tapi aku —"

__ADS_1


"Sssttt udah diem aja! Aku lagi mau manja sama kamu tau, ngerti dong!" potong Albert.


"Iya deh mas, tapi mending kita ke kamar aja supaya lebih leluasa! Kan kalau di kamar, gak bakal ada yang ganggu kita. Jadi, kamu bisa puas deh peluk-peluk aku!" saran Nadira.


"Ohh istriku yang manis dan cantik ini maunya berduaan di kamar toh? Bilang aja dong kalau kamu pengennya di kamar, yaudah ayo kita ke kamar aja sayang!" ucap Albert langsung semangat.


"Ish, giliran ke kamar aja semangat banget! Tapi ingat loh mas, kita cuma pelukan aja gak ngapa-ngapain!" ucap Nadira.


"Ya tergantung sih sayang, kalau si dia nya bisa kuat tahan diri pasti saya gak akan apa-apain kamu." kata Albert terkekeh.


"Hah? Maksud kamu? Emangnya si dia siapa?" tanya Nadira terheran-heran.


"Itu loh yang biasa masukin kamu dan bikin kamu puas terus setiap malam, masa gak tahu?" jawab Albert sambil nyengir.


"Ish kamu itu ya!" ujar Nadira cemberut.


"Hahaha..." Albert tertawa puas sampai terbahak-bahak dan membuat Nadira makin kesal.


"Udah lah mas, jangan ketawa terus! Nanti malam kamu kan ada janji mau ketemuan sama rekan kamu itu, kalau kita begituan sekarang yang ada kamu kecapekan loh nanti." kata Nadira.


"Iya sih, yaudah deh kita cuma tidur-tidur aja sambil pelukan. Aku cuma mau ciumin wangi kamu kok, soalnya enak banget!" ucap Albert tersenyum.


"Iya mas," ucap Nadira singkat.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua pun langsung beranjak dari sofa dan bergegas menuju kamar karena Albert sudah tidak sabar ingin bermesraan lagi dengan istrinya.


Setibanya di kamar, Albert langsung menidurkan istrinya itu di atas ranjang dengan dirinya yang juga ikut berbaring tepat di sebelahnya.


Albert sudah melepas bajunya hingga kini ia bertelanjang dada, sedangkan Nadira masih lengkap karena memang ia tak mau melakukan apa-apa disana.


Namun, bukan Albert tentunya jika tidak melakukan hs dengan Nadira.


Ya pria itu tetap saja menerkam tubuh sang istri dan menikmatinya, biarpun Nadira sudah menolak sekuat tenaga.


Akhirnya Nadira pun pasrah saja menikmati setiap sentuhan Albert di tubuhnya, bahkan tanda merah di tubuhnya sudah tak terhitung lagi.




Namun, terkuaknya identitas dirinya oleh Keenan membuat Harrison sedikit kesulitan untuk bisa mengatur rencana selanjutnya.


Terlebih putrinya, Vanesa juga sudah tak bisa diandalkan lagi karena semua kebusukannya sudah terbongkar oleh Keenan dan juga Albert, walau wanita itu belum menyerah.


"Aaarrgghh!! Kenapa saya harus ketemu dengan Keenan kemarin!" geram Harrison.


"Papi!" tiba-tiba Vanesa muncul dan menghampiri papanya, ia duduk di samping sang papa dengan perlahan sambil berusaha menenangkan papanya itu.


"Papi pasti masih kepikiran sama kejadian kemarin ya? Udah lah pih, jangan dipikirin terus! Identitas kita emang udah ketahuan, tapi bukan berarti kita nyerah gitu aja dong. Kita kan masih bisa balas dendam melalui paman Darius," ucap Vanesa.


"Itu benar, bagaimanapun caranya kita harus bisa meneruskan rencana ini! Kita pun tidak boleh terang-terangan berhubungan dengan Darius, karena bisa saja Albert atau Keenan memantau kita setelah mereka tahu bahwa kita ini ada hubungan." kata Harrison.


"Tenang aja pih! Walaupun begitu, tapi kan mereka belum tahu dimana kita tinggal. Jadi, setidaknya kita masih aman lah!" ucap Vanesa tersenyum.


"Kau benar! Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan jangan sampai mereka tahu dimana tempat tinggal kita! Karena kalau sampai itu terjadi, selesai sudah nasib kita!" ucap Harrison.


"Iya, aku yakin mereka pasti akan terus cari tahu lokasi kita berada sekarang ini!" ucap Vanesa.


"Oh ya, bagaimana perkembangan rencana mu dengan Darius? Apa kalian sudah berhasil mendekati Nadira?" tanya Harrison penasaran.


"Aku belum tahu, pih. Belum ada kabar lagi dari om Darius ataupun Chelsea." jawab Vanesa.


"Chelsea? Siapa dia?" tanya Harrison heran.


"Dia itu adik kandung Albert, tapi sepertinya dia tak menyukai Nadira. Jadi, dia akan membantu kita untuk coba mendekati Nadira." jelas Vanesa.


"Oh ya? Waw luar biasa! Tapi, benar kan kalau dia akan membantu kita? Papa takut aja kalau dia hanya berpura-pura saja, dan ternyata dia adalah mata-mata Albert." ujar Harrison cemas.


"Tenang aja papi! Aku bisa pastikan Chelsea berada di pihak kita!" jawab Vanesa.


"Baguslah! Lalu, kamu mau kemana sekarang sayang?" tanya Harrison.


"Umm... rencananya sih aku mau ketemu lagi sama Cakra, itu loh orang yang waktu itu aku ceritain ke papi kalau dia suka sama Nadira." jawab Vanesa.


"Iya iya papa ingat. Yasudah, kamu hati-hati ya Vanesa! Jangan lupa buat terus berkabar dengan papa kalau ada info apapun itu!" ujar Harrison.


"Siap pih!" ucap Vanesa menurut.

__ADS_1


"Yaudah, kalo gitu aku pergi sekarang ya pih? Aku takut Cakra udah nunggu disana, lebih cepat kan lebih baik." sambungnya.


"Oke! Kamu perginya sendiri apa mau diantar sama supir?" tanya Harrison.


"Sendiri aja pih, aku lebih suka nyetir sendiri daripada disetirin." jawab Vanesa.


"Iya deh, yang penting kamu hati-hati aja jangan ngebut ya!" ucap Harrison.


"Siap pih!" ucap Vanesa tersenyum.


Vanesa pun mencium tangan papanya dalam rangka pamitan, ia akan segera menemui Cakra di tempat mereka berjanjian.


Vanesa langsung beranjak dari sofa, lalu berjalan keluar rumah dengan perlahan meninggalkan papanya disana.




📞"Apa? Jadi, Albert sudah mengetahui siapa ayah dari Vanesa? Bagaimana bisa?" tanya Darius yang terkejut setelah mendengar penjelasan Chelsea di telpon.


📞"Iya paman, aku dengar sendiri kemarin Keenan menyampaikan itu ke kak Albert dan Nadira. Keenan bilang kalau Vanesa dan Harrison ternyata punya hubungan, ya walau aku gak kenal siapa itu Harrison." jawab Chelsea.


📞"Haduh gawat dong! Kok bisa sih mereka ceroboh sekali begitu!" ujar Darius.


📞"Yasudah, terimakasih ya Chelsea atas informasinya! Nanti paman akan temui Vanesa lebih dulu, untuk membahas soal ini." kata Darius.


📞"Baik paman! Aku juga mau keluar dulu nih," ucap Chelsea.


📞"Iya, terus kabari paman kalau ada informasi tentang penyelidikan Albert itu! Kamu bersedia kan jadi mata-mata paman di rumah Albert?" ucap Darius.


📞"Iya paman, aku bersedia kok!" jawab Chelsea.


📞"Baguslah! Kalau begitu paman sudahi dulu ya telpon kita kali ini?" ucap Darius.


📞"Oke paman!" ucap Chelsea.


Tuuutttt...


Telpon terputus dan Chelsea pun menaruh ponsel miliknya di atas nakas, lalu bangkit dari tempat tidurnya.


Gadis itu berjalan menuju pintu, ia akan keluar dari kamar setelah cukup lama berbaring disana sembari memainkan ponselnya.


Ceklek..


Baru saja pintu dibuka, Chelsea sudah langsung dibuat kaget dengan keberadaan mamanya yang sedang berdiri menatap ke arahnya disana.


"Mama? Ya ampun, mama ngagetin aku aja deh!" ujar Chelsea terkejut sembari memegangi dadanya.


"Kenapa harus kaget gitu sayang? Emang kamu abis telpon siapa sih?" tanya Abigail penasaran.


"Hah? Mama dengar tadi aku telponan sama paman Darius?" ujar Chelsea.


"Ohh jadi kamu abis telponan sama Darius? Tapi, kenapa kamu pake bahas dan sebut-sebut nama Vanesa sama Keenan? Setahu mama, Vanesa itu kan sekretarisnya kakak kamu. Ada urusan apa kamu sama dia sayang?" ujar Abigail curiga.


Chelsea terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat agar tak membuat Abigail mengetahui apa yang ia rencanakan bersama pamannya.


"Eee mama salah kira, Vanesa yang aku maksud itu teman kampus aku, bukan Vanesa sekretaris kak Albert. Lagian buat apa juga aku bahas Vanesa itu, mah?" jawab Chelsea berusaha tetap tenang.


"Oh gitu, mama kira kamu bahas Vanesa sekretaris kakak kamu." kata Abigail.


"Ya enggak lah, mah! Oh ya, mama ada apa ke kamar aku? Terus kenapa mama gak ketuk pintu aja tadi?" tanya Chelsea.


"Iya, mama sebenarnya mau ketuk. Tapi, pas mama dengar kamu lagi telponan, mama jadi ngerasa gak enak deh takut ganggu kamu. Makanya mama tunggu aja sampai kamu selesai, eh pas mama mau ketuk pintu tiba-tiba kamu udah muncul aja." jelas Abigail.


"Oalah, terus mama ada apa nih temuin aku?" tanya Chelsea penasaran.


"Iya sayang, mama mau ajak kamu makan siang. Ini kan sudah waktunya, abisnya kamu gak keluar-keluar kamar sih. Yuk sayang, itu kakak kamu juga udah di bawah!" ucap Abigail.


"Iya mah, aku juga emang pengen makan kok." kata Chelsea sambil tersenyum.


"Yaudah, kita ke bawah yuk!" ucap Abigail.


Chelsea mengangguk pelan, kemudian pergi menuruni tangga bersama mamanya dengan bergandengan tangan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2