Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Datang ke apartemen


__ADS_3

Tiiinnnn....


Albert yang kesal terus membunyikan klakson mobilnya dengan keras dan panjang, ya saat ini Albert baru saja hendak pergi menyusul Nadira menuju apartemen Cempaka, namun sayangnya saat di depan gerbang rumahnya pria itu justru dihadang oleh seorang wanita yang terus berdiri sembari merentangkan tangannya.


Akan tetapi, wanita yang tak lain ialah Vanesa itu tidak mau pergi dari sana dan terus berdiri di depan mobil Albert sehingga Albert tak bisa melakukan mobilnya keluar dari rumah.


Tentu saja Albert semakin emosi, ia membuka kaca mobilnya lalu berteriak menegur Vanesa dan meminta wanita itu segera menyingkir.


"Vanesa, cepat minggir atau saya tabrak kamu! Saya sedang ada urusan penting, kamu jangan halangi jalan saya!" teriak Albert kesal.


"Saya gak akan pergi, pak. Saya bakal tetap berdiri disini sampai bapak mau terima saya kembali di perusahaan bapak, cuma itu aja kok permintaan saya!" ucap Vanesa tetap kekeuh ingin berdiri disana tak mau mendengarkan perkataan Albert.


Akhirnya Albert memanggil para penjaga di rumahnya untuk mengusir Vanesa dari sana.


"Hey kalian! Cepat kesini dan usir wanita ini dari rumah saya, jangan biarkan dia datang lagi kesini tanpa seizin saya!" perintah Albert.


"Baik tuan!" para penjaga tersebut segera mendekat dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Albert, mereka berupaya mengusir Vanesa dari sana agar Albert dapat lewat.


"Kalian mau apa ha?" ujar Vanesa.


"Maaf mbak! Tapi, mbak harus pergi dari sini sekarang! Kalau mbak masih kekeuh pengen disini, maka kami akan paksa mbak buat pergi!" ucap salah seorang pengawal Albert mengancam Vanesa untuk segera pergi.


"Saya sudah bilang tadi, saya gak akan pergi sebelum pak Albert mau terima saya kembali di perusahaannya!" ucap Vanesa tegas.


"Heh kalian! Jangan terlalu banyak bicara! Cepat usir saja dia dari sana!" Albert berteriak dari mobilnya, merasa kesal lantaran para penjaganya itu terlalu bertele-tele.


"I-i-iya tuan... mari mbak, ikut kami pergi dari sini! Jangan buat keributan disini!" ucap penjaga itu.


Dua orang penjaga itu pun langsung menyeret paksa Vanesa dan membawa wanita itu menyingkir dari hadapan Albert.


"Ish lepasin saya!" Vanesa terus berusaha melepaskan diri, namun gagal karena tenaganya kalah kuat dibanding kedua pria tersebut.


"Diam saja mbak!" bentak si penjaga.


Setelah Vanesa berhasil disingkirkan, kini Albert memiliki banyak ruang untuk dapat pergi dari sana. Pria itu bergegas menancap gas dan segera melaju menggunakan mobilnya.


Abigail dan Rio yang baru muncul pun terlambat, mereka menyesal lantaran gagal mencegah Albert untuk tidak pergi dari rumahnya, keduanya kompak mengusap wajah tanda penyesalan.


"Aduh! Kita gagal lagi cegah Albert buat gak pergi, saya jadi khawatir Albert tidak bisa menahan emosi dan akan terjadi keributan disana! Apalagi Albert itu orangnya tempramen, dia bisa saja menghajar cowok yang bersama Nadira disana!" ucap Abigail merasa cemas pada putranya.


"Iya tante, itu juga yang saya khawatirkan. Kalau begitu izinkan saya buat kejar Albert, tante. Saya akan berusaha untuk tahan Albert!" ucap Rio.


"Ah iya iya, terimakasih kalau kamu bersedia melakukan itu!" ucap Abigail.


"Tentu saja saya bersedia tante, saya juga tidak mau Albert terbawa emosi dan malah akan membahayakan dirinya sendiri!" ucap Rio.


"Baguslah! Tolong kamu kejar dia ya!" ujar Abigail.


"Baik tante! Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Rio pamit pada Abigail.


"Iya silahkan!" ucap Abigail memberi jalan.


Rio pun berjalan menuju mobilnya, tanpa berpikir panjang ia langsung melaju keluar dari rumah besar tersebut.


Saat menuju gerbang keluar, Rio tak sengaja melihat seorang wanita yang tengah diseret paksa oleh dua orang penjaga di rumah itu, sontak Rio terkejut ketika menyadari wanita itu adalah Vanesa alias sekretaris Albert.


"Loh, itu kan Vanesa. Kenapa dia sampe diseret kayak gitu ya?" gumam Rio keheranan.




Sementara itu, Cakra sudah memanggil security yang bertugas disana untuk mengusir Juan. Sebenarnya Cakra masih ingin menghajar sang kakak setelah apa yang dilakukannya terhadap Nadira tadi, tapi sayang Cakra tak bisa menolak permintaan Nadira untuk tidak melakukan itu.


Setelah Juan dibawa pergi oleh sang satpam, kini Cakra kembali menghampiri Nadira di ruang tamu dan duduk bersama wanita itu, Cakra juga merangkul Nadira bermaksud menenangkan Nadira agar tidak trauma.

__ADS_1


"Sayang, kamu masih takut ya? Tenang aja, dia gak akan berani datang lagi kesini kok! Aku bakal selalu jagain kamu dari dia!" ucap Cakra.


"Thanks ya Cak! Untung aja kamu datang tadi, kalau enggak aku gak tahu deh bakal gimana. Aku juga heran kenapa abang kamu bisa kayak gitu sama aku," ucap Nadira geleng-geleng kepala.


"Ya sebenarnya aku udah curiga dari gerak-gerik dia semalam, tapi aku gak nyangka kalau dia bisa ngelakuin semua ini. Maaf banget ya sayang, harusnya aku gak cerita tentang kamu ke dia! Pasti ini semua gak akan terjadi," ucap Cakra.


"Gapapa, kan udah berlalu juga. Oh ya, bisa gak kamu tolong jangan panggil aku dengan sebutan sayang! Kamu kan tahu sendiri, aku ini udah punya suami." pinta Nadira.


"Ah iya iya, aku ingat kebiasaan aku sewaktu kita masih sekolah bareng dulu. Aku janji kok gak akan panggil kamu sayang lagi!" ucap Cakra.


"Sorry ya Cakra!" ucap Nadira.


"No problem. Eh ya, kamu udah sarapan belum?" ucap Cakra bertanya pada Nadira.


"Belum," jawab Nadira sambil menggelengkan kepala dan memegangi perutnya.


"Nah kan, gimana kalau kita sarapan dulu ke bawah? Aku lupa belum beliin makanan buat kamu, kita turun aja yuk!" ucap Cakra mengajak Nadira keluar untuk makan.


"Eh gausah, itu tadi abang kamu kesini bawa makanan kok. Katanya sih itu sarapan dari kamu, kita makan pakai itu aja!" ucap Nadira.


"Hah? Duh jangan deh Dira! Aku takut di makanan itu terdapat apa-apa, nanti yang ada kamu malah sakit perut atau yang lainnya. Mending kita makan di bawah aja, mencegah itu lebih baik daripada mengobati!" ucap Cakra.


"Iya deh, aku ngikut kamu aja!" ucap Nadira.


"Yaudah, yuk kita keluar!" ujar Cakra.


"Eh sebentar Cakra, aku mau ke kamar mandi dulu!" ucap Nadira.


"Oh gitu, yaudah silahkan! Aku tunggu disini," ucap Cakra tersenyum.


"Iya, sebentar ya!" ucap Nadira.


Wanita itu beranjak dari sofa, lalu menuju kamar mandi meninggalkan Cakra sendirian disana. Entah mengapa Cakra terus tersenyum melihat punggung Nadira sambil terduduk, pria itu nampak semakin tertarik pada sosok Nadira dan sulit baginya untuk bisa mengikhlaskan jika Nadira sudah memiliki suami.


Ketika di dalam kamar mandi, Nadira merasa heran lantaran dirinya tiba-tiba teringat pada sosok Albert alias orang yang menikahinya itu.


Nadira menyalakan keran, membasuh mukanya dengan air untuk menenangkan diri.


"Kalau saja aku tadi ada di rumah kamu, pasti kejadian seperti ini gak akan terjadi. Mana mungkin ada orang jahat yang bisa masuk ke rumah itu," ucap Nadira.


"Aku gak bisa bohong, aku kangen kamu tuan!"




Teng tong teng tong...


Disaat Cakra tengah bermain ponsel, suara bel di apartemennya itu berbunyi. Cakra pun merasa bingung dan penasaran.


"Loh, siapa ya yang datang kesini? Apa itu Juan balik lagi?" gumam Cakra.


Akhirnya Cakra memilih bangkit dari duduknya, menaruh ponsel di saku celana lalu melangkah menuju pintu untuk mencari tahu siapakah yang datang ke apartemennya pagi-pagi begini.


Ceklek...


Cakra cukup terkejut begitu membuka pintu, tampak seorang pria dengan kemeja putih berdiri di hadapannya dan menatap bengis ke arahnya sembari mengepalkan tangan.


Cakra pun sedikit cemas plus takut, karena yang ada di depannya saat ini adalah Albert alias sang suami dari wanita yang ada bersamanya di apartemen tersebut, Cakra sama sekali tak tahu bagaimana Albert bisa datang kesana.


"Loh, om kenapa ada di apartemen saya? Mau ngapain ya om?" ucap Cakra berusaha tenang menanyakan maksud Albert datang kesana.


"Tidak usah banyak basa-basi! Jadi, Nadira ada disini bersama anda. Kalau begitu cepat bawa Nadira kesini! Saya selaku suaminya ingin bertemu dengan dia," ucap Albert.


"Nadira? Maksud om ini apa sih? Masa iya Nadira disini sama saya, om udah gak waras apa gimana? Kalau emang Nadira istri om, kenapa bisa om tuduh dia ada disini?" ucap Cakra.

__ADS_1


"Sudah saya bilang, jangan terlalu banyak bicara! Saya ingin bertemu dengan Nadira, itu saja!" ujar Albert tegas.


"Tapi, Nadira tidak ada disini. Kalau om ingin bertemu dengan istri om itu, ya om cari di rumah om dong gimana sih! Oh atau jangan-jangan Nadira kabur ya dari rumah om? Waw luar biasa sekali, keputusan yang tepat dari Nadira untuk keluar dari neraka!" ucap Cakra tersenyum licik.


"Sialan! Jangan pancing emosi saya! Saya tidak ingin membuat keributan disini!" ucap Albert.


"Saya juga gak mau kok, toh saya cuma bicara apa adanya. Nadira gak ada disini, jadi om mending pergi aja sana!" ucap Cakra.


"Saya tidak percaya dengan kata-kata anda! Cepat pertemukan saya dengan Nadira, atau saya paksa buat masuk ke dalam dan temui Nadira!" ujar Albert mulai emosi.


"Om ini susah banget dibilangin sih, terserah om aja deh! Saya sibuk dan gak punya waktu buat ladenin om, jadi permisi om saya harus masuk ke dalam!" ucap Cakra.


Cakra hendak menutup pintu dan pergi meninggalkan Albert, namun Albert dengan cepat menahan pintunya.


"Jangan bohongi saya! Atau anda akan menyesal seumur hidup! Sekarang biarkan saya masuk ke dalam dan mengecek sendiri apakah Nadira ada di dalam atau tidak, jangan halangi saya dan minggir!" ucap Albert tegas.


"Saya punya hak untuk menolak kemauan om, karena ini apartemen saya. Justru om lebih baik pergi dari sini, atau saya akan lapor security dan minta om diusir dari sini!" ucap Cakra.


"Saya tidak perduli dengan itu! Yang saya inginkan hanya Nadira, bukan yang lain!" ujar Albert.


"Cih dasar om-om tua!" cibir Cakra.


Cakra pun mendorong tubuh Albert menjauh dari pintu, Albert terhuyung namun langsung kembali mendekat dan menerobos masuk melewati Cakra.


"Hey dasar kurang ajar!" teriak Cakra geram.


"Nadira! Kamu dimana Nadira?" Albert tak perduli dengan ucapan Cakra, ia terus melangkah masuk berusaha menemukan istrinya.




Disisi lain, Keenan telah berhasil membawa Celine pulang ke rumah. Pria itu langsung saja menidurkan tubuh adiknya di ranjang dan mengusap wajah serta rambut sang adik dengan lembut, sesekali Keenan juga mengecup kening Celine tanda bahwa ia sangat senang karena dapat bertemu kembali dengan Celine.


Celine sendiri saat ini masih tersadar, namun ia sulit bergerak lantaran tubuhnya terbujur kaku akibat terlalu lama berdiri, sehingga Keenan pun menggendongnya dari depan sampai ke kamar.


"Sayang, sekarang kamu istirahat dulu ya! Kamu gak perlu cemas lagi, kamu udah aman saat ini!" ucap Keenan lembut.


"Makasih ya bang! Lu emang selalu bisa bikin gue tenang, jujur gue senang banget bisa kembali kesini dan kumpul sama lu lagi. Ya walau gue masih gak nyangka sih kita bisa bebas dari si penculik itu," ucap Celine tersenyum.


"Lu gak perlu bilang makasih! Udah tugas seorang kakak buat jaga dan lindungin adiknya," ucap Keenan sembari mengelus wajah Celine dengan posisi membungkuk.


"Bang, lu tiduran juga sini! Gue tahu lu pasti capek banget abis lari-larian sambil gendong gue, gue gak mau lu kelelahan dan malah jatuh sakit nantinya!" pinta Celine pada abangnya.


Cupp!


Keenan justru mengecup pipi Celine sambil tersenyum.


"Gue itu gak kenapa-kenapa, yakali seorang Keenan gitu doang kecapekan! Gue bakal istirahat kok, tapi gak disini lah. Gue kan juga punya kamar sendiri, jadi gue istirahatnya disana! Lu tidur aja, nanti kalo udah ngerasa enakan baru deh lu bangun terus bisa mandi! Atau lu mau ganti baju dulu? Kan lu masih pake seragam sekolah," ucap Keenan.


"Nanti aja ah bang, gue males bangun lagi buat ganti baju! Paling gue copot aja nanti seragamnya, eh ya lu jangan pergi dong bang! Disini aja ya temenin gue, gue masih takut banget kalo sendirian! Kan lu tahu gue baru aja diculik sama orang-orang aneh itu," ucap Celine manja.


"Lu kok jadi manja banget sih, ha? Perasaan Celine yang gue kenal gak kayak gini deh, ya tapi bagus sih gue lebih suka versi lu begini daripada yang brutal dan susah diatur!" ujar Keenan nyengir.


"Ish, udah ya lu disini aja temenin gue!" Celine memaksa Keenan tetap disana sembari menarik lengan pria itu.


"Iya iya, yaudah gausah tarik tarik tangan gue gini! Gue bakal temenin lu kok sampe lu tidur, abis itu baru gue keluar. Udah, sekarang lu istirahat yang cukup jangan kebanyakan ngomong nanti capek!" ucap Keenan mengusap rambut adiknya.


"Ih ya jangan tinggalin gue juga lah walaupun gue udah tidur! Lu harus tetap disini, gue gak mau ditinggal sendiri bang!" ujar Celine.


Keenan menghela nafas sembari geleng-geleng kepala, jujur sikap Celine saat ini sangat manja dan bahkan tak mau melepaskan genggaman tangannya.


Namun, Keenan mewajarkan itu mengingat Celine baru saja selamat dari penculikan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2