
Albert terus melakukan semua permainan yang dia inginkan, Nadira hanya bisa pasrah dan menurut walau dalam dirinya dia juga tidak mau melakukan itu semua.
Setelah melakukan berbagai macam hal yang ingin dilakukan, kini Albert mengangkat tubuh Nadira dan memindahkannya ke atas ranjang. Ia memborgol lengan wanita itu pada sandaran ranjang, lalu mengambil sebuah alat cambuk berbulu dari lacinya dan mengarahkan itu ke tubuh Nadira.
Nadira langsung merasakan sensasi aneh saat bulu dari alat itu menyentuhnya, tubuhnya terangkat sedikit dan ia berusaha untuk melepaskan diri. Namun, ia justru mendapatkan rasa sakit akibat borgol yang ada di lengannya itu.
Hukuman itu terus berlanjut dengan berbagai macam cara yang dilakukan Albert, hingga intinya tentu Albert memasukkan miliknya ke dalam milik Nadira dan memompanya secara cepat tanpa perduli dengan erangan dari Nadira yang memintanya berhenti.
•
•
Albert membawa wanitanya keluar dari kamar mandi, kini mereka telah selesai membersihkan diri sehabis melakukan hubungan badan yang cukup nikmat bagi seorang Albert dan menyakitkan bagi Nadira.
Pria itu meletakkan tubuh Nadira di atas ranjang, lalu dengan baik ia mengambil pakaian ganti untuk Nadira dan meminta wanita itu memakainya. Ada senyum licik di wajahnya ketika Nadira perlahan mengenakan kain tipis untuk menutupi bagian sensitifnya.
"Hey, sekarang kamu sudah tahu kan apa yang akan kamu terima bila bermain-main dengan saya?" ujar Albert.
Wanita itu mengangguk pelan.
"Bagus! Sekali lagi kamu melakukan itu, maka saya tidak akan segan-segan berbuat yang lebih kejam dan mengerikan dibanding tadi!" ancam Albert.
Nadira menunduk ketakutan, ia telah selesai memakai pakaian yang disediakan Albert.
Pria itu tersenyum tipis, lalu mendekati Nadira dan mengusap lembut wajah istrinya itu sembari mengendus lehernya sesekali.
"Jangan bikin saya marah!" bisik Albert.
Seketika Nadira bergidik mendengar ucapan Albert, ia benar-benar dibuat ketakutan dengan apa yang baru saja diucapkan pria itu. Terlebih ia juga sudah mengetahui bagaimana sikap Albert yang sangat kasar dan hyper itu.
"Yasudah, saya masih ada urusan! Kamu diam disini, jangan keluar tanpa perintah dari saya!" ujar Albert.
__ADS_1
"Iya tuan," ucap Nadira pelan.
Albert berbalik lalu pergi meninggalkan wanita itu disana, namun sebelumnya ia sudah mengambil sebuah benda kecil dari atas meja dan memencet tombol yang ada disana.
Seketika Nadira merasakan miliknya bergetar tak karuan, tentu saja hal itu membuatnya kebingungan dan merasa ada yang aneh dengan celana tersebut.
"Ahh sshh ini kenapa??" ujarnya.
Albert sempat mendengar suara Nadira sebelum ia keluar dari kamar itu, ada rasa puas tersendiri di hatinya saat mendengar suara tersebut.
"Awhh ini pasti ulah tuan Albert!" ujar Nadira.
Akhirnya wanita itu berusaha melepas celana yang ia kenakan, namun tiba-tiba Albert kembali dan memperingatinya.
"Hey, jangan pernah kamu lepas celana itu tanpa seizin dari saya!" tegas Albert.
"Tapi tuan, celana ini—"
"Jangan membangkang!" potong Albert emosi.
Pria itu pergi kembali dan mengunci pintu rapat-rapat, sedangkan Nadira tetap duduk disana sembari terus berusaha menahan getaran dari celana yang ia kenakan.
•
•
Disaat Albert tengah berjalan menuju ruang depan, tiba-tiba saja sebuah teriakan dari seorang wanita membuatnya terkejut dan menghentikan langkahnya lalu seketika menatap ke depan mencari asal suara.
"KAK ALBERT...!!"
Ya itu adalah suara dari Chelsea, alias adik kandung Albert yang selama ini menjalani kuliah di luar negeri dan baru kembali ke rumahnya karena waktu liburan telah tiba.
__ADS_1
Sontak Albert terkejut melihat keberadaan adiknya disana, ia tak menyangka Chelsea bisa sampai secepat itu di rumahnya. Apalagi gadis itu tak mengabarinya sama sekali kalau dia akan pulang atau sedang dalam perjalanan.
"Chelsea? Is that you?" ujar Albert keheranan
"Iya kak, ini aku Chelsea! Aku adik kakak, masa lupa sih sama adiknya sendiri?" ucap Chelsea.
"Ohh hahaha enggak lah, gak mungkin saya lupa! Saya selalu merindukan kamu Chelsea, mau peluk?" ucap Albert tersenyum.
"Sure!"
Gadis itu bergerak maju dan memeluk sang kakak dengan erat, terlihat Albert juga sangat rindu dengan adiknya karena telah cukup lama mereka berpisah dan jarang sekali berhubungan walau hanya melalui telpon.
"I really miss you, my sister!" ucap Albert.
"Too kak! Disana tuh aku selalu bayangin, gimana ya nanti kalau aku balik dan bisa kumpul lagi sama kak Albert sama mama juga? And than, akhirnya aku berhasil balik kesini kak!" ucap Chelsea.
Mereka melepas pelukan, namun Albert masih memegang dua pundak adiknya dan menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu makin cantik aja Chelsea! Disana jangan-jangan kamu malah asyik perawatan nih bukannya fokus belajar, iya kan? Ngaku aja kamu!" ujar Albert.
"Ahaha ya enggak lah kak, aku tetap fokus belajar kok! Cuma sekali-sekali aja perawatan mah, kalau aku ngerasa kulitku gak enakan gitu!" jawab Chelsea.
"Ya baguslah! Sayang aja kalau misal uang dari kakak, malah kamu pake buat perawatan! Padahal saya pengennya kamu jadi sarjana, sesuai permintaan terakhir papa!" ucap Albert.
"Iya kak, aku juga gak akan lupa kok sama permintaan papa yang satu itu!" ucap Chelsea.
"Yaudah, duduk yuk!" ucap Albert.
"Yuk!"
Keduanya melangkah menuju sofa, dan melanjutkan perbincangan disana dengan menikmati minuman buatan pelayan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...