
Nadira baru keluar dari kamar mandi, ia tak tahu menahu mengenai keributan yang terjadi di luar sana karena sedang asyik membasuh muka sambil melamun di depan cermin.
Ketika kembali ke sofa, Nadira merasa heran karena disana tidak ada Cakra. Ia pun celingak-celinguk ke kanan dan kiri mencari sosok Cakra, tapi tidak ketemu.
"Loh, Cakra kemana ya?" ujarnya kebingungan.
Wanita itu pun bergerak menyusuri seluruh ruangan disana berusaha menemukan Cakra.
Langkahnya terhenti begitu melihat sosok pria dengan kemeja putih menerobos masuk ke dalam apartemen itu dan menghampiri dirinya, Nadira spontan membuka mulutnya tak percaya pada apa yang ia lihat saat ini.
Albert yang baru masuk juga dibuat terkejut sekaligus senang, ia sangat bahagia dapat melihat kembali Nadira sang istri yang sebelumnya kabur dari rumah setelah mengetahui hubungan gelapnya dengan Vanesa.
"Nadira? Akhirnya saya bisa temuin kamu, sudah berhari-hari saya berusaha cari kamu tapi selalu gagal. Syukurlah sekarang kita bisa ketemu lagi disini Nadira!" ucap Albert.
"Tuan? Kamu ngapain kesini? Ada urusan apa?" Nadira bertanya pada Albert dan bersikap seolah ia tak menyukai kedatangan Albert disana.
"Kenapa kamu tanya begitu Nadira? Saya ini kan suami kamu, jelas saja saya kesini untuk bertemu dengan kamu. Saya mau bawa kamu kembali ke rumah saya, karena disini bukan tempat kamu Nadira! Ayolah, kita sama-sama tinggal di rumah saya seperti sebelumnya!" jelas Albert.
"Aku gak mau. Aku lebih suka tinggal disini, daripada di rumah tuan!" Nadira menolak ajakan suaminya untuk kembali, ia merasa Albert pasti akan mengulangi perbuatannya.
"Tolonglah Nadira, kembali ke rumah bersama saya! Jujur saja hidup saya hampa setelah kamu pergi dari rumah saya, Nadira. Kalau kamu marah atau kecewa sama saya, kamu boleh pukul saya dan lakuin apapun yang kamu mau ke saya. Tapi, saya memohon sama kamu untuk tetap tinggal disana! Rumah itu membutuhkan kehadiran kamu Nadira, dan saya juga sangat butuh kamu untuk selalu ada disisi saya!" ucap Albert memohon.
Nadira terdiam dan memalingkan wajahnya ke samping, sungguh berat rasanya membohongi diri sendiri karena Nadira harus menahan kerinduannya terhadap Albert demi memberikan pelajaran bagi pria tersebut.
"Maaf tuan! Aku emang pengen kembali dan tinggal sama kamu, jujur aja aku juga rindu sama kamu! Tapi, semua perlakuan kamu ke aku selama ini udah bikin aku muak tuan! Apalagi setelah aku tahu, kamu menjalin hubungan gelap dengan sekretaris kamu sendiri. Bahkan kamu juga sampai menghamili dia," gumam Nadira dalam hati.
"Mungkin aku baru bisa kembali kesana, kalau kamu sudah berubah tuan. Walau aku tak tahu apakah aku kuat menahan semua rasa rindu ini!" batinnya.
Akhirnya Albert mendekati Nadira, ia meraih dua tangan wanita itu lalu menggenggamnya erat. Nadira yang sedang melamun pun terkejut, matanya kembali menatap Albert yang kini sudah berkaca-kaca di depannya.
"Please, saya mohon sama kamu! Maafkan saya Nadira, maafkan semua perbuatan yang sudah saya lakukan ke kamu selama ini! Tolong kamu kembali ke rumah bersama saya! Kalau kamu mau kembali kesana, maka saya janji saya tidak akan mengulangi semua itu lagi!" rengek Albert.
Tiba-tiba saja Cakra muncul menghampiri keduanya dan berdiri tepat di samping Nadira, Albert yang melihat itu menjadi emosi.
"Nadira, kamu jangan mau dipaksa ikut sama dia! Lebih baik kamu tetap tinggal disini, karena kamu lebih aman dan gak akan dikekang lagi seperti saat kamu ada di rumah dia!" ucap Cakra.
"Heh! Anda tidak usah ikut campur dalam urusan rumah tangga saya! Karena anda itu bukan siapa-siapa disini, anda lebih baik keluar dan tinggalkan kami berdua untuk menyelesaikan masalah kami!" ucap Albert menegur Cakra.
"Saya tidak akan pergi, ini apartemen saya dan saya berhak ada disini! Justru sebaliknya, anda yang harus pergi dari sini karena saya tidak menginginkan kehadiran anda disini!" ujar Cakra.
"Anda memang kurang ajar ya! Apa perlu saya beri pelajaran untuk anda?" ancam Albert.
"Kenapa marah? Semua yang saya bilang itu benar, anda yang seharusnya pergi dan jangan ganggu Nadira lagi! Anda itu bukan suami yang baik untuk Nadira, jadi lebih baik anda tinggalkan Nadira dan ceraikan dia! Setelah itu, Nadira akan menikah dengan saya supaya dia bisa mendapat kebahagiaan!" ucap Cakra.
"Lancang sekali anda!" Albert emosi dan hendak memukul wajah Cakra dengan tangannya, akan tetapi Nadira mencegahnya.
__ADS_1
"Tahan tuan!" Nadira mencekal lengan Albert meminta pria itu tak membuat keributan disana. "Tolong jangan bikin keributan disini! Kamu emang gak malu apa? Tuan, ini itu apartemen milik Cakra dan kamu gak bisa usir dia dari sini!" sambungnya.
"Lalu kenapa kamu malah pilih tinggal disini sama dia? Apa karena kamu juga mencintai dia, iya?" tanya Albert pada Nadira dengan tegas dan tatapan menelisik. "Jawab pertanyaan saya Nadira, jangan hanya diam saja! Kamu suka kan sama Cakra? Kamu pergi dari rumah saya, karena kamu pengen berdua-duaan sama dia!" sambungnya.
"Kamu itu kenapa sih tuan? Aku kabur dari rumah kamu itu karena siapa, ha? Emang kamu udah lupa sama kesalahan kamu? Kalau kamu aja bisa selingkuh, kenapa aku enggak?" ucap Nadira.
"Nadira!" Albert semakin tersulut emosi dengan perkataan Nadira. "Jadi semua ini kamu lakukan, karena kamu ingin balas perbuatan saya? Saya gak nyangka kamu ternyata bisa berpikir seperti itu Nadira, saya kira kamu ini gadis baik-baik loh. Tapi, ternyata saya salah. Karena kamu justru kabur dari rumah suami sah kamu, dan memilih tinggal disini dengan pria lain!" ucapnya penuh emosi.
"Awalnya niat saya gak begitu kok tuan, saya dan Cakra bertemu secara tidak sengaja. Saya dibawa kesini juga dalam kondisi tidak sadarkan diri karena pingsan, jadi itu semua bukan salah saya tuan. Sebaiknya tuan sekarang pergi, dan jangan ganggu kehidupan saya lagi!" ucap Nadira.
"Loh gak bisa gitu dong Dira! Kamu itu masih jadi istri saya, ayo kita kembali dan saya janji akan perlakukan kamu dengan baik!" ujar Albert.
Albert menarik tangan Nadira, namun ditepis oleh Cakra yang spontan memasang badan.
"Jangan paksa Nadira buat pergi! Biarkan dia tentukan pilihannya, anda tidak bisa memaksa dia untuk tinggal lagi dengan anda! Anda sudah memiliki kesempatan untuk bisa bersama Nadira, tetapi anda lewatkan begitu saja kesempatan itu. Lalu, mengapa sekarang anda ingin Nadira kembali ke pelukan anda? Itu semua tidak akan saya biarkan terjadi, kalau anda ingin Nadira maka anda harus hadapi saya lebih dulu!" ucap Cakra.
Albert tersenyum smirk sembari mengusap dagunya, "Apa anda tidak salah bicara? Saya harus menghadapi bocah seperti anda untuk bisa mendapatkan Nadira kembali? Oh ayolah, anda pikir anda ini siapa? Kalau kita bawa kasus ini ke pengadilan, saya yakin hakim akan membela saya. Karena saya suami sah dari Nadira, sedangkan anda? Anda itu tidak lebih dari sekedar pelarian Nadira, seharusnya anda sadar itu!" ucapnya.
"Saya tidak perlu Nadira menganggap saya apa, tapi yang pasti saya akan mati-matian melindungi Nadira karena saya sangat mencintai Nadira! Anda sudah menyakiti perasaannya, lalu untuk apa anda kembali lagi kesini dan meminta Nadira ikut bersama anda?" ucap Cakra.
Albert maju dan mendorong tubuh Cakra hingga terhuyung ke belakang. "Gausah sok jadi pahlawan ya anda! Saya ada urusan dengan istri saya, anda yang bukan siapa-siapa sebaiknya tidak usah ikut campur!" ujarnya emosi.
"Tuan cukup! Kamu kenapa sampai dorong Cakra kayak gitu?" ujar Nadira.
"Kamu emang suami aku, tapi kamu tidak mencerminkan sebagai sosok suami yang baik buat aku! Jadi, aku berhak buat putusin untuk pergi dari rumah kamu! Seandainya kamu gak selingkuh dan main di belakang aku, mungkin aku masih bisa terima segala perlakuan buruk kamu itu! Tapi, kehamilan sekretaris kamu itu udah bikin aku sakit tuan! Lebih sakit daripada siksaan yang kamu berikan selama ini ke aku!" ucap Nadira.
Melihat wanitanya menangis, membuat Albert tersentuh dan merasa bersalah atas segala perlakuan buruknya terhadap Nadira. Ia sadar kalau selama ini ia tak pernah membuat Nadira bahagia, justru sebaliknya ia malah terus-terusan menyakiti Nadira hingga wanita itu terluka.
"Iya, saya sadar kok kalau saya bukan suami yang baik untuk kamu. Saya cuma suka sama tubuh kamu itu, sejak awal emang saya tidak mencintai kamu Nadira. Sekali lagi saya minta maaf sama kamu, dan saya mohon kembalilah ke rumah bersamaku sekarang Nadira! Kita mulai semuanya dari awal lagi, saya janji tidak menyakiti kamu untuk yang kedua kalinya!" ucap Albert tulus.
"Apa kamu serius dengan itu tuan?" tanya Nadira.
"Ya, saya tidak pernah seserius ini sebelumnya! Karena hanya kamu wanita yang dapat meluluhkan hati saya, saya mohon sama kamu Nadira ayo kembali ke rumah!" jawab Albert lantang.
Nadira terdiam sejenak memikirkan itu, ia khawatir salah mengambil keputusan dan malah berakibat buruk pada dirinya sendiri.
"Baiklah, aku mau kembali ke rumah tuan. Asal tuan buat surat perjanjian di atas kertas yang ditandatangani materai, kalau tuan tidak akan bertindak kasar terhadap saya lagi dan juga tidak mengekang saya seperti sebelumnya. Satu lagi, tuan juga harus memastikan pada saya kalau tuan sudah menyelesaikan masalah tuan dengan sekretaris tuan yang hamil itu!" ucap Nadira.
"Iya iya Nadira, saya akan segera urus surat perjanjian yang kamu mau itu! Syukurlah, saya senang sekali karena kamu mau kembali ke rumah bersama saya Nadira!" ucap Albert sangat senang dan langsung memeluk Nadira cukup erat.
Cakra yang menyaksikan momen itu, sungguh merasa sesak dan sedih. Ia tak mengerti mengapa Nadira masih mau memberikan kesempatan bagi orang yang sudah menyakitinya, padahal tadi ia mati-matian membela Nadira dan berharap Nadira akan terus bersamanya.
"Eee tuan, tolong lepasin pelukannya!" pinta Nadira pada suaminya.
Albert menurut dan melepas pelukan itu sesuai kemauan Nadira. "Iya Nadira, sekarang saya tidak akan memaksa kamu lagi untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan. Saya harap dengan begitu, kamu bisa merasa bahagia!" ucapnya.
__ADS_1
Nadira tersenyum menatap wajah Albert, ia turut merasakan kesenangan yang dirasakan Albert saat ini, karena ia pun merindukan sosok Albert.
•
•
Singkat cerita, Albert dan Nadira telah keluar dari apartemen Cakra. Mereka pun pulang bersama menuju rumah besar nan mewah milik Albert, tentunya Albert sangat senang karena bisa membawa pulang Nadira ke rumahnya, biarpun ia harus bersusah payah membuat surat perjanjian dan menuruti semua keinginan Nadira.
Saat ini mereka ada di parkiran apartemen, Albert menghentikan langkahnya sejenak menatap Nadira dan menggenggam kedua tangannya, Nadira hanya diam membiarkan Albert melakukan apa yang ingin dilakukannya.
"Nadira, terimakasih ya kamu sudah mau pulang dengan saya!" ucap Albert.
"Gak perlu terimakasih tuan, aku ikut sama tuan sekarang kan karena kewajiban aku sebagai seorang istri. Aku juga mau terimakasih sama tuan, karena tuan udah mau turuti permintaan aku dan buat surat perjanjian itu. Ya semoga aja tuan bisa pegang janji tuan ya!" ucap Nadira.
"Pasti Nadira! Saya akan berusaha untuk tepati janji saya, karena laki-laki yang dipegang adalah ucapannya. Sekarang kita mau langsung pulang atau kemana dulu nih?" ucap Albert.
Nadira berpikir sembari mengetuk-ngetuk dagunya. "Umm... kita pulang aja deh tuan, aku capek pengen istirahat."
"Oh oke! Tapi sebelum itu, aku mau tanya satu hal sama kamu. Selama kamu kabur dari rumah dan tinggal di apartemen ini, apa kamu pernah tidur bareng sama Cakra?" ucap Albert bertanya dengan tegas dan menelisik.
"Ahaha, kamu cemburu ya...??" ledek Nadira.
"Apa sih? Siapa yang cemburu? Orang saya cuma nanya. Kalau kamu tidur sama dia ya terserah kamu, tapi saya sebagai suami jujur kecewa dong!" ucap Albert mengelak.
"Cie cie... bilang aja kali kalo tuan cemburu, aku malah seneng loh!" ujar Nadira.
"Hah? Kok senang?" tanya Albert heran.
"Ya iyalah tuan, kalau tuan cemburu itu artinya tuan udah mulai cinta sama aku. Makanya tuan cemburu aja ya!" ucap Nadira.
Albert justru terdiam kebingungan, ia memalingkan wajahnya dan berpikir sejenak mengenai apa yang baru dikatakan Nadira.
"Cinta? Masa iya sih saya udah cinta sama Nadira? Tapi, sekarang ini saya emang ngerasa beda tiap kali dekat dengan Nadira, bahkan saat gak ada Nadira disisi saya, saya sulit buat bisa tenang! Apa emang benar saya mulai jatuh cinta sama Nadira?" gumam Albert dalam hati.
"Tuan, kenapa tuan diem aja? Hayo, pasti benar kan tuan udah cinta sama aku!" goda Nadira.
"Kamu bicara apa sih? Sudah jangan ngawur deh! Ayo kita masuk ke mobil, mama pasti senang lihat kamu kembali ke rumah! Asal kamu tahu aja, saya paksa kamu pulang itu karena mama! Padahal mah saya gak perduli kamu mau kemana kek," ujar Albert berbohong.
"Oh gitu, berarti tuan bohong ya tadi? Katanya tuan pengen banget aku balik ke rumah, kok sekarang malah bilang disuruh mama?" ujar Nadira cemberut.
"Eee..." Albert terlihat kebingungan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1