Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Vanesa kejam


__ADS_3

"Sekali lagi gue pertegas sama lu, siapa tuh cowok yang berani pegang-pegang lu tadi?! Jawab dengan jujur!" ucap Keenan.


"Gue udah bilang tadi bang, dia itu kakak kelas gue namanya Frendi. Apa salahnya sih emang kalo gue dekat sama dia? Kita sama-sama single kok, gak masalah dong?" ucap Celine.


"Jelas masalah buat gue! Gue gak suka lihat lu dekat sama cowok lain! Paham?" bentak Keenan.


"Kenapa?" tanya Celine bingung.


"Kan tadi gue udah bilang, lu itu milik gue dan cuma gue yang boleh sentuh lu!" jawab Keenan.


"Hah??" Celine menganga lebar karena terkejut mendengar jawaban abangnya.


"Maksud lu apa sih bang?" tanya Celine heran.


"Lu gausah banyak tanya! Gue sayang sama lu dan intinya cuma gue yang boleh sentuh lu! Udah, ayo kita masuk ke mobil!" ucap Keenan menggandeng tangan adiknya.


"Gue gak mau sama lu, bang. Gue pengen pulang sendiri aja, jangan paksa gue!" ucap Celine.


"Emangnya lu pikir gue bakal biarin lu pulang sendiri? Gak akan!" tegas Keenan.


"Ish, gue itu pengen pulang sendiri. Lu gak bisa paksa gue bang, udah lah lepasin tangan gue!" ujar Celine kesal.


"Gak mau! Pokoknya lu pulang sama gue, kalo gak mau ya gue paksa! Lu itu milik gue, jadi lu harus nurut sama gue sepenuhnya!" tegas Keenan.


"Apaan sih? Lu gak bisa paksa gue!" ujar Celine.


"Bodoamat, gue gak perduli! Udah ayo kita masuk ke mobil dan jangan nolak lagi! Kalau lu masih nolak, gue setubuhi beneran lu nanti malam!" ucap Keenan mengancam adiknya.


"Ih emang kurang ajar ya lu, bang! Gue—"


"Sssttt jangan berisik!" potong Keenan.


Keenan langsung menarik lengan Celine dan membawa adiknya itu ke dalam mobil.


Ia mendorong Celine duduk di kursi mobilnya, memasang seat belt lalu ikut masuk kesana.


"Ish, lu kenapa doyan banget maksa gue sih?! Gue kan udah bilang gak mau pulang sama lu, gue tuh pengen tinggal sendiri!" ucap Celine.


"Emangnya bisa? Selama ini aja lu bergantung sama gue, nanti yang ada kalo tinggal sendiri lu malah kesusahan lagi." kata Keenan.


"Dih, kata siapa?" ujar Celine.


"Emang begitu faktanya. Udah lah dek, lu pulang aja sama gue ya! Lu gak mau kan gue setubuhi disini sekarang juga?" ucap Keenan.


"Hah? Ya jelas gak mau lah! Lu dah gila kali ya ngomong kayak gitu ke gue?" ucap Celine.


Keenan tersenyum smirk, kemudian membelai rambut Celine dan mendekat ke wajahnya sambil menatap mata gadis itu cukup tajam.


"Lu mau apa...??" tanya Celine gugup.


Keenan menarik dagu Celine dan menjepitnya.


"Gue bisa setubuhi lu sekarang, kalo lu gak mau nurut sama gue. Jadi, lu gak boleh ngelawan gue lagi oke?! Ingat loh, gue ini gak pernah main-main sama ancaman gue! Lu itu punya gue, lu harus nurut sama gue!" tegas Keenan.


"Huh nyebelin lu! Ancaman lu gak ada yang lain apa selain itu?" ucap Celine.


"Enggak, cuma itu yang bisa bikin lu takut kan? Makanya gue ancam lu begitu," kata Keenan.


"Yaudah, gue gak dekat-dekat lagi sama cowok di sekolah. Puas kan lu?" ucap Celine menurut.


"Puas sih, tapi jangan cuma yang di sekolah dong! Seluruh cowok di dunia ini lu gak boleh deketin, kecuali gue." kata Keenan.


"Hah? Terus, gue nikah nanti sama siapa bang? Waria?" tanya Celine bingung.


"Sama gue lah, pake nanya lagi." jawab Keenan spontan dan langsung menutup mulutnya.


"Hah??" Celine terkejut bukan main mendengar ucapan abangnya, ia reflek menoleh ke arah Keenan disertai mulut terbuka.




Nadira tengah berdiri melamun di pinggir kolam renang seorang diri, ia terus menatap ke air di bawah sana sambil mengusap perutnya lembut dan sesekali tersenyum tipis.


Ya saat ini Albert sedang pergi ke kantor, sehingga Nadira merasa kesepian walau di rumah itu masih ada Chelsea dan Abigail. Nadira juga sengaja memilih pergi ke kolam, karena ia tak mau terlalu sering bertemu dengan Vanesa.


"Nak, mama sebenarnya masih gak ngerti sama jalan pikiran papa kamu. Mama heran banget kenapa papa kamu bawa wanita itu buat tinggal disini bareng kita. Tapi, mama gak punya pilihan lain selain mengiyakan aja keinginan papa kamu itu. Kamu tahu sendiri kan nak? Papa kamu itu kan orangnya keras dan gak mau dibantah, nanti yang ada mama malah disakiti lagi." ucap Nadira.


"Kalau nanti kamu udah lahir, jangan tiru sikap papa kamu ya sayang!" sambungnya.


"Wah wah wah... asik banget sih bicara sama anaknya! Udah gila ya Bu?" Nadira terkejut dengan suara wanita yang muncul dari belakangnya, ia reflek menoleh dan terkejut melihat wanita itu.

__ADS_1


"Vanesa?" benar saja dugaan Nadira tadi, itu adalah suara dari Vanesa.


Vanesa tersenyum dan terus melangkah ke dekat Nadira, "Iya, ini aku. Kenapa?" ucapnya.


"Mau apa sih kamu kesini, ha?" tanya Nadira.


"Aduh Nadira! Kamu ngapain coba pake bicara begitu ke anak kamu? Kamu mau ajarin dia buat benci sama aku dari lahir, iya?" ujar Vanesa.


"Enggak, aku gak ada bilang gitu sama anakku ini. Aku kan cuma curhat sama dia, apa itu salah? Kalau kamu mau curhat juga, kan bisa kamu bicara sama anak kamu itu." kata Nadira.


"Buat apa? Aku mah masih normal, aku gak seperti kamu yang udah gila karena ngajak perut ngobrol." ujar Vanesa terkekeh kecil.


"Ya terserah kamu aja!" ucap Nadira.


Nadira langsung membuang muka, jujur ia malas harus berhadapan dengan Vanesa.


"Nadira, aku mau tanya deh sama kamu. Emang beneran ya kamu cinta sama Albert? Atau kamu cuma gak mau kehilangan dia, karena kamu takut kalau kamu jatuh miskin kayak dulu?" ucap Vanesa.


"Jangan sembarangan bicara ya! Aku ini tulus cinta sama mas Albert, dan begitupun sebaliknya mas Albert juga cinta sama aku! Kami berdua udah buat janji untuk saling bersama selamanya!" ucap Nadira.


"Hahaha... kamu jangan kepedean dulu Nadira! Albert itu sebenarnya gak cinta sama kamu, dia malah cuma anggap kamu sebagai pel*cur. Nanti setelah dia bosan sama kamu, pasti dia bakal tinggalin kamu kok. Sekarang dia emang manis dan lembut sama kamu, tapi suatu hari nanti dia akan buang kamu dan anak kamu itu!" ujar Vanesa.


"Kamu gak bisa pengaruhi aku dengan kata-kata kamu itu Vanesa! Aku percaya sama mas Albert, gak mungkin dia tega berbuat seperti itu!" tegas Nadira.


"Itu sih terserah kamu aja! Tapi, kalau aku jadi kamu jelas aku lebih milih Cakra. Cakra itu kan benar-benar cinta sama kamu, dia bukan cuma suka sama tubuh kamu seperti Albert. Kenapa sih kamu gak mau sama dia aja?" ucap Vanesa.


"Aku ini istri mas Albert, jelaslah aku lebih pilih suami aku!" ucap Nadira.


"Tapi, gak ada jaminan kan kalau Albert bakal terus sayang sama kamu seperti ini?" ujar Vanesa.


Nadira terdiam, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia saat ini sedang panik mendengar kata-kata yang diucapkan Vanesa barusan.




Chelsea tampak kebingungan mencari keberadaan Nadira dan juga Vanesa, pasalnya kedua wanita itu tak terlihat di seluruh penjuru rumah itu.


Chelsea pun panik, ia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Nadira saat ini. Ia terus mengelilingi rumah dan berusaha mencari Nadira.


"Duh, mbak Dira kemana ya...??" gumamnya.


Disaat ia hendak lanjut melangkah, tanpa sengaja ia bertemu dengan mbok Widya yang baru datang dari luar rumah.


"Eh mbok mbok, tunggu sebentar deh!" ucap Chelsea menahan mbok Widya.


"Ah iya non, ada apa?" mbok Widya menghentikan langkahnya dan tersenyum ke arah Chelsea.


"Mbok lihat atau tahu gak mbak Nadira ada dimana? Soalnya daritadi aku cariin, mbak Dira itu gak ada disini." tanya Chelsea.


"Ohh, barusan mbok lihat non Dira ada di kolam renang tuh non. Kayaknya tadi ada mbak Vanesa juga disana," jawab mbok Widya.


"Apa? Mbak Dira sama Vanesa?" Chelsea terkejut bukan main mendengar jawaban mbok Widya.


"Sial! Ngapain lagi sih tuh cewek gatel? Gak ada kapok-kapoknya dia ngerusuh di rumah tangga mbak Dira dan kak Albert!" ujar Chelsea kesal.


"Sabar non! Mungkin aja mbak Vanesa cuma mau ngobrol sama non Dira, siapa tahu mereka bisa baikan kan non?" ucap mbok Widya.


"Gak mungkin mbok! Mustahil cewek penggoda itu mau baikan sama mbak Nadira, dia pasti lagi cari cara buat pengaruhi mbak Dira!" ucap Chelsea.


"Positif tingting aja non!" ucap mbok Widya.


"Apaan mbok positif tingting? Ayu tingting?" tanya Chelsea bingung.


"Itu loh non, mikir positif." jelas mbok Widya.


"Ohh, positif thinking kali mbok. Yaudah mbok, aku mau susul mbak Dira ke kolam renang. Aku takut dia kenapa-napa!" ucap Chelsea.


"Iya non," ucap mbok Widya.


Chelsea pun pergi keluar hendak menyusul Nadira yang tengah bersama Vanesa di kolam renang.


"Haish, ngapain sih Vanesa nyamperin mbak Dira? Mau apa dia coba?" gumam Chelsea.


Sesampainya di kolam, benar saja Chelsea melihat Nadira tengah bersama Vanesa. Terlihat juga kalau mereka sedang asyik berbicara disana, Chelsea pun penasaran pada perbincangan mereka.


Chelsea pun langsung bergerak cepat menghampiri mereka dan menjauhkan Vanesa dari Nadira, ia tidak mau Vanesa terus-terusan memengaruhi Nadira.


"Heh! Ngapain sih lu deketin mbak Dira? Apa yang lagi lu rencanain sekarang?" ucap Chelsea menatap tajam ke arah Vanesa.


"Eh ada Chelsea, halo Chelsea!" ujar Vanesa.

__ADS_1


"Gausah sok akrab lu! Gue tahu lu lagi usaha buat jadi nyonya di rumah ini kan? Dan lu pengen singkirkan Nadira, iya kan?" ucap Chelsea.


"Umm, kalau emang itu bisa terjadi ya bagus sih. Sekalian aku juga mau singkirin kamu, Chelsea. Jadi, aku bisa lebih leluasa di rumah ini tanpa ada pengganggu nantinya." ucap Vanesa.


"Hah? Apa? Lu jangan mimpi ya Vanesa! Lu gak akan bisa singkirin gue dari sini!" tegas Chelsea.


"Chelsea, udah! Kamu gausah ladenin dia! Biarin aja dia bermimpi seperti itu, kita mah mending pergi aja dari sini!" ucap Nadira.


"Tapi mbak, dia—"


"Udah ya Chelsea! Kamu gausah perpanjang masalah ini! Dia emang berusaha buat pengaruhi pikiran aku, tapi kamu tau kan kalo aku ini gak mudah dipengaruhi." potong Nadira.


"Iya deh mbak.." Chelsea akhirnya menurut dan mau pergi bersama kakak iparnya.


Akan tetapi, ketika mereka hendak pergi tiba-tiba saja Vanesa berlagak kepeleset dan menarik tubuh Nadira dengan sengaja.


"Eh eh Nadira!" teriak Vanesa.


Byuurr...


Akibatnya, Nadira pun tercebur ke kolam dan membuat Chelsea serta Vanesa melongok lebar.




Praaangg...


Albert tanpa sengaja menyenggol gelas di meja kerjanya hingga terjatuh dan pecah, ia sedikit terkejut sampai detak jantungnya bergerak cepat.


"Huh kenapa perasaan saya jadi gak enak gini ya? Ada apa sih di rumah?" ujarnya.


"Pak, biar saya yang bersihkan pecahan gelasnya ya?" ucap Carolina.


"Eh jangan! Ini bukan kerjaan kamu, biar nanti saya hubungi ob buat bersihin ini." ucap Albert.


"Baik pak! Kalau begitu, saya mohon izin permisi dulu! Nanti saya akan kembali membawa berkas lainnya yang diperlukan pak, sekalian saya juga mau hubungi ob untuk bersihkan pecahan ini." ucap Carolina.


"Ya, terimakasih Lina!" ucap Albert tersenyum.


"Sama-sama, pak." ucap Vanesa singkat lalu berbalik dan pergi dari ruangan bosnya itu.


Sementara Albert mengerutkan dahinya bingung karena tiba-tiba ia merasa cemas entah kenapa.


"Saya kenapa ya?" ucapnya.


"Kenapa saya tiba-tiba kepikiran dengan Nadira? Apa yang terjadi sama dia?" gumamnya.


"Atau saya coba aja hubungi nomor rumah, ya? Saya khawatir dia kenapa-napa!" ujarnya.


"Iya deh, saya hubungi dia!" sambungnya.


Akhirnya Albert mengambil ponselnya, dan berusaha menghubungi nomor rumah karena ia sudah tak tahan dengan rasa cemasnya.


Namun, tidak ada yang bisa dihubungi sekarang ini. Albert pun semakin kalut dan panik, ia mengacak-acak rambutnya merasa kesal.


"Aaarrgghh!! Ini kenapa gak ada yang bisa dihubungi sih?!" geram Albert.


Tak lama kemudian, Carolina kembali masuk ke dalam ruangan itu dan terkejut melihat bosnya tengah marah-marah tidak jelas.


"Misi pak! Bapak kenapa?" tanya Carolina.


"Eh Lina, saya gapapa kok. Saya cuma lagi kepikiran sama istri saya, gak tahu kenapa daritadi saya merasa cemas." jawab Albert.


"Kalau begitu, ada baiknya bapak segera hubungi istri bapak itu. Supaya bapak tidak terus-terusan kepikiran dengan beliau," usul Carolina.


"Percuma Lina, saya sudah coba hubungi dia dan tidak ada jawaban darinya. Saya jadi semakin khawatir dengannya!" ucap Albert cemas.


Carolina pun ikut bingung dengan perasaan Albert saat ini.


"Eh ya, setelah ini saya masih ada jadwal meeting dengan klien gak?" tanya Albert pada sekretarisnya itu.


"Eee kalau untuk hari ini sih tidak ada, pak. Besok baru bapak akan kembali mengadakan pertemuan dengan klien kita di Bogor," jawab Carolina.


"Baguslah, kalau begitu saya bisa kan pulang sekarang? Jujur saja saya cemas sekali dengan istri saya!" ucap Albert.


"Bisa kok pak, tapi tolong bapak tandatangani berkas ini dulu ya pak! Karena ini penting dan harus segera diserahkan ke pihak supplier," ucap Carolina.


"Baiklah, sini berkasnya!" ujar Albert.


Carolina memberikan berkas itu pada Albert, lalu Albert segera menandatangani semua berkas itu dengan cepat dan terburu-buru.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2