Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Albert stress


__ADS_3

Darius keluar dari ruangan Albert, ia langsung dicegat oleh Vanesa di depan lift dan meminta pria itu segera bicara padanya terkait keputusan Albert yang ingin memecatnya.


"Bagaimana paman? Apa paman berhasil membujuk Albert untuk tidak memecat saya? Ini bahaya paman, kalau saya benar-benar dipecat maka semua rencana yang sudah kita susun akan berantakan semuanya!" ucap Vanesa panik.


"Tenang Vanesa! Saya memang belum berhasil bujuk Albert, tapi saya yakin dia akan mengejar saya dan memohon pada saya!" ucap Darius.


"Maksud paman?" tanya Vanesa tak mengerti.


"Ya, kita lihat saja nanti! Sudah lah, ayo kita turun dulu ke bawah dan lanjut bicara di ruang kerja kamu! Terlalu riskan jika kita bahas itu disini, nanti bisa ada yang mendengar obrolan kita!" ucap Darius sembari melirik ke kanan dan kiri yang mana lumayan banyak orang berlalu lalang.


"Benar paman! Baiklah, kita bicara di ruangan saya sekarang!" ucap Vanesa.


Darius mengangguk setuju disertai senyuman tipisnya, Vanesa menekan tombol lift dan masuk ke dalam sana bersama Darius.


"Paman, memangnya apa yang paman bicarakan dengan Albert tadi? Sampai paman begitu yakin kalau Albert akan mengejar paman nantinya. Saya penasaran sekali paman, cepat ceritakan ke saya sekarang!" ucap Vanesa.


"Hahaha, kamu itu terlalu kepo Vanesa!" ucap Darius seraya mencolek dagu wanita di sebelahnya dengan jari telunjuknya. "Yasudah, akan saya ceritakan sekarang ke kamu!" sambungnya.


"Nah gitu dong paman!" ucap Vanesa senang.


"Saya ini tahu dimana lokasi Nadira berada sekarang, saya meminta Albert untuk urungkan niatnya memecat kamu. Setelahnya, saya berjanji akan memberitahu dimana Nadira kepada Albert! Memang awalnya Albert menolak, tapi saya yakin sekali dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan saya! Karena hanya saya yang tahu dimana Nadira," jelas Darius.


"Waw! Ternyata anda memang sangat pintar paman, baguslah berarti kemungkinan saya dipecat sekarang berkurang drastis!" ucap Vanesa.


"Kamu jangan senang dulu! Rencana saya bisa saja meleset, kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Albert sekarang. Intinya kamu harus terus membujuk Albert dengan tubuh kamu itu!" ujar Darius menunjuk ke arah dada Vanesa.


"Tubuh saya? Maksud paman, saya harus menggoda Albert lagi gitu?" tanya Vanesa.


"Ya, itu benar Vanesa!" jawab Darius.


"Tidak paman, saya tidak mau. Lagipun, Albert sudah tidak mungkin tergoda dengan saya! Dia itu sekarang benci sama saya, mana mungkin dia mau berhubungan lagi dengan saya?" ucap Vanesa.


"Itu semua terserah kamu Vanesa, keputusan ada di tangan kamu. Tapi, saya yakin seyakin-yakinnya kalau Albert akan terpengaruh dengan godaan kamu! Dia itu pria yang lemah syahwat, kamu pasti tahu itu Vanesa!" ucap Darius.


Vanesa terdiam memalingkan wajahnya, ia berpikir apakah harus melakukan semua itu atau tidak, karena ia khawatir akan gagal.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan mereka pun hendak keluar dari sana. Namun, alangkah terkejutnya Vanesa ketika melihat sosok laki-laki di hadapannya.


Tiiingg...


"Eh, pak Rio?" Vanesa terkejut dan tidak jadi melangkah keluar dari dalam lift.


"Halo! Kamu sekretaris Albert kan?" ucap pria itu.




Albert kini masih berada di ruangannya, ia tengah berpikir keras mengenai tawaran Darius. Ya Albert sangat bingung saat ini, ia harus segera menemukan Nadira dan hanya Darius yang mengetahui dimana keberadaan istrinya itu.


Namun, syarat dari Darius lah yang membuatnya bingung sebab Darius meminta jika Albert membatalkan surat pemecatan terhadap Vanesa dan menerima kembali Vanesa bekerja di perusahaannya itu.


"Aaarrgghh!! Saya harus melakukan apa sekarang? Kalau saya tidak pecat Vanesa, masalah di kantor akan semakin melebar kemana-mana! Tapi, saya juga butuh informasi dari om Darius tentang lokasi keberadaan Nadira, saya jadi makin bingung sekarang!" ujarnya garuk-garuk kepala.


"Haish, coba aja ada Keenan disini, pasti dia bisa bantu saya memikirkan semua ini!" sambungnya.


Tak lama kemudian, pintu ruangannya terketuk dari arah luar dan membuat Albert sedikit kaget lalu reflek menoleh ke belakang.


TOK TOK TOK...


"Ya masuk!" Albert berteriak cukup keras meminta orang di luar tersebut untuk masuk ke dalam.


Ceklek...

__ADS_1


Albert pun tersenyum dan spontan berdiri begitu melihat yang datang adalah Rionaldo, detektif alias sahabat masa kecilnya juga.


"Wah selamat datang pak Rio!" ucap Albert.


"Halo pak, selamat siang!" ucap Rio tersenyum.


"Siang juga! Sudahlah, kita tidak perlu terlalu formal seperti ini! Saya rasa itu berlebihan, padahal disini juga tidak ada siapa-siapa selain kita berdua. Jadi, panggil nama saja ya!" ucap Albert.


"Oh begitu, baiklah pak! Eh maksud saya Albert," Rio langsung merevisi ucapannya begitu ditatap tajam oleh Albert.


"Hahaha, itu lebih enak didengar..." Albert tertawa.


"Silahkan duduk Rio! Anggap saja seperti ruangan sendiri, sorry ya kalau disini gak semewah di tempat kerja anda! Soalnya saya memang suka dengan dekorasi yang sederhana seperti ini, alasan lainnya ya karena saya bangkrut! Hahaha..." sambungnya.


"Waduh candaannya lumayan gelap ya? Saya jadi bingung nih mau bicara apa," ujar Rio.


"Hahaha, santai aja kalo disini mah! Anda mau bahas apa juga gak mungkin kena pasal, sudah ayo duduk Rio! Sebentar ya biar saya telpon ob dulu untuk bikinin minuman buat anda," ucap Albert.


"Oke thanks!" ucap Rio singkat lalu duduk.


Sementara Albert pun menelpon office boy untuk meminta tolong dibuatkan minuman, setelahnya barulah Albert kembali berbincang dengan Rio.


"Eee sudah Yo, sekarang kita langsung ke intinya saja! Saya mau minta tolong sama anda!" ucap Albert berubah serius.


"Minta tolong untuk apa? Bukannya masalah penyelidikan sekretaris anda itu sudah selesai ya? Kan semua bukti sudah saya dapatkan, tinggal eksekusinya saja!" tanya Rio bingung.


"Bukan soal itu, ini masalah lain. Ada yang lebih gawat daripada itu!" ucap Albert.


"Apa?" Rio semakin dibuat penasaran.


"Istri saya kabur dari rumah karena ulah Vanesa, dia membeberkan foto-foto kebersamaan saya dengan dia sewaktu di kantor. Sekarang saya tidak tahu kemana perginya istri saya itu, boleh saya minta tolong sama anda untuk mencari dimana istri saya?" ucap Albert menjelaskan.


"Eee sebenarnya saya belum pernah terima kasus seperti ini, tapi karena anda teman saya jadinya saya akan berusaha buat bantu anda! Berikan saja foto istri anda itu, saya akan perintahkan anak buah saya untuk mencarinya di seluruh kota!" ucap Rionaldo meminta foto Nadira pada Albert.


"Sama-sama Albert, sudah lah tenang saja saya pasti akan berusaha buat bantu anda! Ya semoga saja saya berhasil menemukan istri anda, dan bawa dia pulang ke rumah anda!" ucap Rio.


"Aamiin!"




Cakra menghampiri Nadira yang sedang melamun di balkon kamar seorang diri, ia juga membawakan teh hangat untuk wanita itu sebagai teman agar Nadira tidak sendirian, tentu saja Cakra juga berusaha untuk bisa berdekatan dengan Nadira.


Pria itu meletakkan cangkir berisi teh tersebut di atas meja, lalu menghampiri Nadira sembari menegurnya.


"Ehem ehem..." Nadira menoleh begitu mendengar suara deheman di dekatnya.


Dia terkejut ketika mendapati Cakra sudah berada di sampingnya saat ini, "Cak? Kamu sejak kapan ada disini? Kok aku gak sadar sih kalau kamu datang?" ucap Nadira bertanya pada pria itu.


"Hahaha, makanya jangan kebanyakan melamun gitu! Nanti kesambet loh! Udah, kamu mending minum dulu tuh teh hangat yang aku buatin untuk kamu! Supaya kamu jadi lebih tenang," ujar Cakra.


"Ah iya, makasih ya Cak!" ucap Nadira tersenyum.


"Sama-sama," ucap Cakra singkat lalu duduk di dekat Nadira.


Nadira pun mengambil cangkir teh tersebut, lalu meminumnya perlahan.


"Kamu itu sebenarnya lagi mikirin apa sih? Aku lihat-lihat kelihatannya kamu pusing banget, lagi ada masalah ya sama suami kamu yang kejam itu? Bilang aja sama aku Nadira, siapa tahu aku bisa bantu kamu! Kita lapor ke polisi atas perlakuan keji suami kamu itu ke kamu, ini bisa dinamakan kdrt loh Dira, kamu jangan diam aja!" ucap Cakra.


"Apa sih Cakra? Kamu gausah sok tahu deh, aku gak ada masalah sama sekali sama tuan Albert!" ucap Nadira merasa kesal.


"Udah lah kamu ngaku aja sama aku! Gak mungkin kamu sampai kabur dari rumah kalau cuma karena kangen sama ibu kamu, pasti kamu lagi ada masalah sama tuh om-om kan!" ujar Cakra.

__ADS_1


"Aku udah bilang kan sama kamu, aku gak punya masalah dengan suami aku. Dan stop panggil dia om-om, karena tuan Albert itu masih muda! Umurnya gak beda jauh kok sama aku, jadi dia bukan om-om!" ucap Nadira.


"Kamu kok jadi belain suami kamu itu sih? Padahal dia udah sakitin kamu loh, buat apa kamu masih belain dia? Oh atau benar kalau kamu emang udah cinta sama dia, iya?" ujar Cakra.


Nadira terdiam bingung, dirinya pun tak tahu apakah ia sudah mencintai Albert atau belum.


"Hey, kenapa diam? Benar kan yang aku bilang barusan? Kamu itu cinta sama si om-om itu, makanya kamu belain dia!" ujar Cakra.


"Kata siapa? Aku belain dia, karena dia suami aku. Udah itu aja kok gak lebih!" ucap Nadira.


"Ah masa? Ngaku aja deh sama aku sayang, kamu cinta kan sama tuh om-om!" ucap Cakra.


Lagi-lagi Nadira kembali terdiam, ia masih ragu untuk menjawab pertanyaan Cakra mengenai perasaannya pada Albert, sedangkan Cakra makin yakin kalau Nadira memang mencintai Albert.


"Aduh Nadira! Bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama om-om kayak gitu, mending kamu tobat deh! Ada aku yang jauh lebih tampak dari dia, kamu bisa pilih buat tinggal sama aku sayang! Aku jamin deh kehidupan kamu bakal bahagia, udah gitu aku juga gak akan larang kamu buat ketemu sama ibu dan ayah kamu. Bukan kayak si om-om itu, masa seorang suami larang istrinya ketemu sama orang tua kandungnya? Suami macam apa itu?" ujar Cakra menjelekkan Albert di depan Nadira.


"Cukup ya Cakra! Aku gak mau dengar kamu jelekin tuan Albert lagi di depan aku, tolong sekarang kamu tinggalin aku! Aku lagi pengen sendiri untuk beberapa saat, please ya kamu ngertiin aku! Makasih tehnya!" ucap Nadira.


"Yaudah iya..." Cakra menurut dan pergi meninggalkan Nadira sendirian disana.


Namun, pria itu menyempatkan diri untuk terdiam di sela-sela pintu sebelum pergi, ia memandangi wajah Nadira sesaat dengan tatapan sedihnya.


"Apa aku masih punya kesempatan buat dapetin kamu Nadira? Sepertinya kamu sudah mulai tertarik dengan om-om itu, sampai kamu tidak anggap aku lagi disisi kamu!" batin Cakra.




Malam harinya, Albert pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan galau karena ia belum berhasil menemukan keberadaan Nadira. Ia pun duduk di sofa sambil mengusap wajahnya kasar dan tampak berantakan, hingga kini Albert masih tak tahu dimana Nadira saat ini.


Abigail serta Chelsea muncul, mereka ikut sedih melihat Albert yang sedang terduduk disana mengacak-acak rambutnya, tanpa berpikir panjang mereka pun menghampiri Albert dan duduk di sebelah pria itu bermaksud menenangkannya.


"Albert, gimana sama Nadira? Kamu udah berhasil temuin keberadaan dia?" tanya Abigail pelan.


"Belum mah, aku juga bingung mau cari Nadira kemana lagi. Padahal aku sudah perintahkan anak buah buat cari Nadira ke seluruh kota, tapi aku masih belum bisa temuin dia!" jawab Albert.


"Sabar ya sayang! Tadi mama juga udah datang ke rumah orang tua Nadira, tapi ternyata Nadira gak kesana," ucap Abigail.


"Udah lah kak, kakak gak perlu pusing mikirin cewek itu terus deh! Biarin ajalah kalo dia mau pergi, harusnya kakak senang karena di rumah ini gak ada lagi yang bikin kakak pusing! Toh Nadira juga cuma ngincer harta kakak, buat apa ditangisin kayak gini coba? Gak penting banget!" ujar Chelsea.


"Chelsea! Kamu ini apa-apaan sih! Kakak kamu itu lagi sedih, kamu jangan bikin dia tambah stres dong dengan kata-kata kamu itu!" tegur Abigail.


"Apa sih mah? Aku cuma bicara fakta kok, kenyataannya memang begitu. Kalau Nadira cinta sama kak Albert, mana mungkin dia kabur gitu aja cuma karena masalah kak Albert selingkuh sama cewek lain!" ucap Chelsea.


"Chelsea, kamu itu belum ngerti apa-apa soal hubungan suami-istri. Kamu gak tahu gimana perasaan Nadira sekarang, seorang istri jika diselingkuhin pasti akan sangat kecewa dan sedih! Apalagi Albert melakukannya berulang kali sampai selingkuhannya hamil," ucap Abigail.


Chelsea terdiam memalingkan wajahnya, sedangkan Albert masih terus meracau tentang Nadira dan membuat Abigail merasa bingung harus melakukan apa untuk membantu putranya.


"Nadira, kamu itu kemana sih sayang? Saya harus cari kamu kemana lagi?" ujar Albert.


"Tenang ya Albert! Mama yakin kamu bisa temuin Nadira cepat atau lambat, asal kamu jangan nyerah buat cari dia! Mama pasti juga akan bantu kamu, begitupun dengan Chelsea. Kamu sekarang istirahat ya di kamar, simpan tenaga kamu supaya besok kamu bisa cari Nadira lagi!" ucap Abigail.


"Mana bisa aku istirahat mah? Aku belum bisa tenang, kalau aku belum temuin Nadira! Aku mau terus cari dia sampai ketemu, baru aku bisa istirahat bareng sama Nadira!" ucap Albert.


"Jangan Albert! Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat dulu! Dengarkan mama, besok kita cari lagi Nadira sama-sama ya!" ucap Abigail.


"Iya kak, mama benar!" sahut Chelsea.


Albert justru semakin histeris dan berteriak, hingga membuat Abigail dan Chelsea terkejut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2