Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Mencari alamat Vanesa


__ADS_3

Albert dan Keenan tiba di tempat yang diduga adalah rumah Vanesa, ya Albert mengira bahwa Vanesa tinggal disana karena sebelum ini ia pernah mengantar Vanesa pulang kesana.


Namun, berkali-kali mereka memanggil orang di dalam rumah itu, tidak ada juga yang keluar dan membuat kedua pria tersebut merasa heran sekaligus curiga bahwa rumah itu bukanlah tempat tinggal Vanesa.


Apalagi beberapa warga yang tinggal disana juga mengaku tak mengenal atau bahkan melihat Vanesa di sekitar sana ketika Keenan menunjukkan foto gadis itu pada orang-orang disana.


"Tuan, gimana ini? Kita udah tanya ke semua orang disini, tapi mereka gak ada yang kenal sama Vanesa. Malahan mereka ngaku, kalau mereka itu belum pernah melihat sosok Vanesa disini. Apa mungkin kita salah tempat ya pak? Vanesa tidak tinggal disini," ujar Keenan kebingungan.


"Entahlah Keenan, saya juga bingung. Tapi, yang pasti waktu itu saya antar Vanesa kesini. Dia ngaku kalau ini rumah dia," ucap Albert.


"Bisa saja Vanesa bohong tuan, dia itu kan wanita yang licik." kata Keenan.


"Ya, itu bisa jadi. Vanesa membohongi saya karena dia tidak mau saya mengetahui dimana tempat tinggal dia yang sebenarnya. Selain itu, Vanesa juga tidak ingin seorangpun tahu tentang identitas keluarganya." kata Albert.


"Ada yang aneh dari sini tuan, pastinya ayah Vanesa itu bukan orang sembarangan. Karena saya dengar sendiri, kemarin Vanesa dan ayahnya telponan di depan kantor. Mereka membahas tentang rencana untuk memisahkan tuan dari Bu Nadira, itu artinya ayah Vanesa lah dalang dari semua kejahatan Vanesa!" ucap Keenan.


"Kau memang pandai Keenan! Tidak salah saya memilih kamu sebagai asisten saya, kamu sudah banyak membantu saya." kata Albert.


"Biasa saja tuan, tidak usah berlebihan begitu! Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya juga tidak mau ada satu orangpun yang berani menyentuh keluarga tuan!" tegas Keenan.


"Terimakasih Keenan! Yasudah, kita pergi saja dari sini! Percuma juga, kita tak bisa temukan Vanesa disini." ucap Albert.


"Baik tuan! Silahkan!" ucap Keenan membukakan pintu untuk Albert.


Albert masuk ke dalam mobil, Keenan menatap sekeliling sejenak untuk memastikan apakah benar disana tidak ada Vanesa.


Barulah Keenan ikut masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi, ia segera melajukan mobilnya tanpa menunggu perintah dari Albert.


***


Setelah kepergian Albert dan Keenan dari sana, Vanesa justru muncul dari balik tembok rumah tersebut. Wanita itu memandang heran ke arah mobil Albert yang sudah menjauh.


"Huh untung aja mereka gak lihat aku! Dan untung juga papa udah bayar semua orang yang tinggal di sekitar sini untuk pura-pura gak kenal sama aku, jadinya aku aman deh dari kejaran Albert dan Keenan." gumamnya.


"Ternyata dugaan papa semalam benar, pasti pak Albert bakalan cari tahu tentang aku. Mereka gak mungkin diam aja setelah tahu aku ini penyebab terjadinya masalah di perusahaan mereka, untung aja semuanya bisa diatasi!" sambungnya.


Vanesa pun melanjutkan langkahnya melewati halaman depan rumah yang sebelumnya ia akui sebagai rumah dirinya di hadapan Albert.


"Harusnya waktu itu aku bawa pak Albert ke rumah yang jauh dari tempat tinggal aku, pasti semuanya gak akan repot kayak gini!" ucap Vanesa.


Wanita hamil itu menghentikan langkahnya, lalu menyetop taksi dan menaikinya agar ia bisa lebih cepat sampai ke rumah orang tua Nadira untuk menjalankan rencananya.




"Nadira, kamu mau kemana?" Abigail merasa heran melihat menantunya sudah tampak rapih pagi ini.


"Eee aku ada janji sama om Darius di luar, mah." jawab Nadira dengan sedikit gugup.


"Apa? Mau ngapain kamu ketemu lagi sama Darius? Memangnya kamu gak ingat perkataan Albert yang melarang kamu menemui Darius?" tanya Abigail terheran-heran.


"Justru itu mah, aku mau ketemu om Darius juga karena diminta sama mas Albert. Aku pun gak tahu apa alasannya," jawab Nadira.


"Oalah, kenapa Albert tiba-tiba jadi berubah pikiran gitu ya? Padahal kemarin dia sendiri yang larang kamu buat temuin Darius, tapi sekarang udah berubah aja. Mama jadi curiga sayang, jangan-jangan ada yang disembunyikan sama suami kamu itu!" ucap Abigail.


"Aku gak mau mikir negatif sama suami aku sendiri, mah. Biar aja itu urusan mas Albert, aku mah ngikutin kemauan dia aja. Karena kan seorang istri wajib menuruti perintah suaminya, kalau enggak aku bisa dosa!" ucap Nadira.


"Iya sih sayang, tapi kan Darius itu bukan orang baik. Mama khawatir kamu dipengaruhi lagi sama dia, mama gak mau itu terjadi sayang!" ujar Abigail.


"Tenang aja ya mah, aku bakal baik-baik aja kok! Kan aku ditemani sama pak Liam," ucap Nadira.


"Yaudah deh, kalo gitu mama kasih izin kamu buat pergi. Tapi, kabarin mama ya kalau ada sesuatu yang terjadi sama kamu!" pinta Abigail.


"Iya mah, pasti kok! Aku pamit ya, mah?" ucap Nadira sembari mencium tangan Abigail.


"Iya sayang, hati-hati di jalan!" ucap Abigail.


Nadira pun melangkah keluar menemui Liam untuk minta diantar olehnya. Memang sebelumnya Nadira juga sudah menelpon Darius dan mengajak pria itu ketemuan di sebuah warung makan pagi.


Setelah Nadira pergi, Chelsea muncul menghampiri mamanya dan melihat ke arah Nadira yang sudah menjauh dengan wajah heran. Chelsea penasaran mengapa sekarang ini Nadira lebih sering pergi keluar rumah tanpa ditemani oleh Albert.


"Mah, Nadira mau kemana lagi tuh? Hobi kok keluyuran mulu, kayak gak punya rumah aja!" cibir Chelsea.

__ADS_1


"Sayang, kamu gak boleh gitu sama Nadira! Dia itu kakak ipar kamu, ingat loh!" tegas Abigail.


Abigail pergi begitu saja meninggalkan Chelsea yang cemberut disana.




Vanesa telah tiba di depan rumah Suhendra, wanita itu coba menyamakan lokasi yang diberikan oleh Cakra dengan lokasi tempat ia berada saat ini.


Setelah dipastikan benar, Vanesa pun merasa yakin dan langsung membayar ongkos taksi tersebut, lalu turun dari mobil untuk segera pergi menemui orang tua Nadira.


"Nah ini dia, aku harus bisa ambil hati ibu dan ayah Nadira! Dengan begitu, jalanku untuk merebut Albert dari Nadira akan lebih mudah!" ucapnya.


Vanesa mulai melangkah menuju rumah sederhana itu, sesekali ia menunduk dan mengusap perutnya seraya berbicara pada calon bayinya di dalam sana.


"Nak, kamu yang sabar ya! Mama lagi berusaha buat dapetin papa kamu lagi!" ucapnya.


Wanita itu tiba di depan rumah Suhendra, ia mulai mengangkat tangannya bersiap mengetuk pintu walau agak sedikit ragu. Vanesa bahkan sampai memejamkan mata sejenak untuk meyakinkan dirinya sebelum mengetuk pintu itu.


"Huh ayo Vanesa...!!"


TOK TOK TOK...


"Permisi, selamat pagi!" Vanesa berteriak memanggil orang rumah sembari mengetuk pintunya.


"Misi!"


Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam sana. Vanesa pun tampak frustasi dan mengira kalau rumah itu kosong alias para penghuninya sedang pergi keluar.


"Yah elah, ini pada kemana sih orangnya! Aku bingung deh, masih pagi kok rumah udah kosong aja!" geram Vanesa.


Pukkk...


Vanesa terkejut saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang, ia spontan menoleh dan melihat siapa yang menepuknya itu.


"Ehem ehem... cari siapa mbak?" Vanesa memandangi pria di depannya itu dengan heran.


"Ka-kamu siapa..??" tanya Vanesa bingung.


"Eee aku mau ketemu sama pak Suhendra, tapi daritadi aku ketuk-ketuk gak ada yang keluar. Kamu tahu gak mereka pada kemana?" ucap Vanesa.


"Ya gak akan ada yang keluar lah! Kalau pagi begini, pasti pak Hendra tuh lagi nganter istrinya ke pasar buat belanja. Emang situ ada perlu apa sih sama pak Hendra? Biar nanti saya sampaikan kalau beliau sudah pulang," ucap Rojali.


"Ah tidak usah, nanti biar saya balik lagi aja kesini kalau pak Hendra nya sudah kembali. Sekarang saya mau pulang aja, permisi!" ucap Vanesa langsung buru-buru pamit dan pergi dari sana.


"Iya iya..." Rojali kebingungan menggaruk kepalanya memandangi kepergian wanita itu.


"Siapa ya tuh cewek? Dia kayaknya lagi hamil, terus ngapain cari-cari pak Hendra?" ujar Rojali amat penasaran.




Nadira tiba di lokasi tempat ia janjian dengan Darius untuk bertemu, gadis itu melangkah memasuki area dalam tempat sarapan tersebut dimana Darius juga sudah menunggu disana.


Begitu melihat kemunculan Nadira, pria itu langsung berdiri menyambutnya sambil tersenyum.


"Selamat pagi Nadira!" ucap Darius.


"Pagi om! Apa kabar?" tanya Nadira ramah.


"Saya baik kok! Kamu sendiri bagaimana? Tidak ada masalah lagi kan dengan Albert?" ucap Darius.


"Ya begitulah om, Alhamdulillah hubungan saya dengan mas Albert semakin membaik! Malah kami lebih mesra sekarang," ucap Nadira.


"Oh ya? Syukurlah kalau benar begitu! Om ikut senang dengarnya." kata Darius.


"Makasih om!" ucap Nadira tersenyum.


"Yasudah, mari duduk! Kamu mau pesan apa? Kita sarapan sama-sama disini!" ujar Darius.


"Iya om," Nadira menurut lalu duduk di samping Darius dan memesan sarapan.

__ADS_1


"Lalu, ada urusan apa kamu minta bertemu dengan saya disini Nadira? Tadinya saya kira kamu sedang ada masalah sama Albert, tapi ternyata enggak. Karena biasanya kamu datang ke saya itu kan ingin curhat tentang Albert, haha..." tanya Darius.


"Begini om, aku cuma pengen ketemu aja sama om ngobrol-ngobrol biasa gitu. Aku jujur gak tega sama om, karena om sekarang udah gak bisa masuk ke rumah karena dilarang mas Albert. Makanya ini juga aku ajak om ketemuan tanpa sepengetahuan mas Albert," ucap Nadira.


"Kamu serius? Jadi, kamu kesini gak izin dulu sama Albert? Gimana kalau dia marah nantinya sama kamu?" tanya Darius.


"Itu urusan gampang om, mas Albert mudah dibujuk kok. Justru kalau aku bilang ke mas Albert aku mau ketemu sama om, dia pasti bakal larang aku dan sekarang aku gak bisa ketemu om disini." kata Nadira.


"Iya sih, ya semoga aja Albert gak tahu ya kalau kamu temui saya disini!" ucap Darius.


"Iya om, asal om bisa jaga rahasia dan gak bilang-bilang ke mas Albert. Soalnya aku tahu banget kalau sekarang tuh mas Albert lagi curiga sama om, dia mau selidiki om!" ujar Nadira.


"Maksud kamu? Selidiki bagaimana?" tanya Darius.


"Ya aku juga kurang tahu pastinya, tapi kelihatan dari sikap mas Albert tuh dia kayak gak suka banget sama om." jawab Nadira.


"Tapi, kamu ada tahu gak kira-kira Albert curiga soal apa sama saya? Terus dia mau selidiki soal apa juga?" tanya Darius.


"Umm... ya paling karena masalah di kantornya, mas Albert curiga om dalang dibalik masalah yang terjadi di kantor. Terus sekarang dia mau cari tahu lebih lanjut tentang itu," jawab Nadira.


"Oh soal itu, Albert memang tidak pernah berubah. Dia selalu saja mencurigai saya!" geram Darius.


"Itu dia om, padahal aku yakin banget bukan om pelakunya. Ya kan om?" ucap Nadira.


"Ya jelas bukan lah! Albert nya aja yang terlalu curiga sama saya, harusnya dia tuh gak boleh begitu!" ucap Darius.


Nadira manggut-manggut saja dan dirinya pun sudah mulai larut ke dalam obrolan itu.


"Oh ya om, kira-kira om tahu gak perihal keluarga Vanesa mantan sekretaris mas Albert itu?" tanya Nadira pada Darius.


Seketika Darius terkejut mendengar pertanyaan Nadira, ia menatap wanita itu dengan muka heran seakan mencurigai Nadira.




"Ini pak berkas yang bapak minta," Carolina menyerahkan berkas data diri Vanesa yang masih berada di perusahaan tersebut kepada Albert serta Keenan.


"Terimakasih, kamu bisa kembali bekerja!" ucap Albert mengambil berkas itu dari Carolina.


"Baik pak, permai!" ucap Carolina.


"Ya silahkan!"


Setelah Carolina pergi, Albert pun mulai membuka dan membaca satu persatu isi dari berkas milik Vanesa tersebut. Ia ingin tahu apakah Vanesa mencantumkan alamat resminya disana atau tidak.


"Gimana tuan? Ada informasinya?" tanya Keenan penasaran.


"Ada. Disini dia cantumkan komplek delima di jalan jeruk barat 13 sebagai alamat rumahnya. Tapi, saya tidak yakin kalau ini benar alamatnya. Bisa saja dia memalsukan semua informasi di berkas ini, karena dia tidak mau ada siapapun yang mengetahui identitas dirinya." jawab Albert.


"Kalau begitu, Vanesa berarti sudah menipu kita dong tuan. Kita gak bisa tinggal diam, karena Vanesa sudah melakukan cukup banyak kerusakan di perusahaan ini!" ujar Keenan emosi.


"Iya Keenan, tapi gak ada salahnya kalau kita coba cek dulu ke komplek ini. Siapa tahu dia memang tinggal disana," ucap Albert.


"Baik tuan! Apa tuan mau ikut dengan saya mengecek ke komplek itu?" tanya Keenan.


"Tidak. Kamu sendiri saja ya pergi kesana! Saya harus standby disini menunggu kabar dari Nadira, saya khawatir dia ketahuan dan Darius akan berbuat yang tidak-tidak padanya!" ucap Albert.


"Baiklah tuan, kalau begitu saya pergi dulu. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan Bu Nadira ya tuan!" ucap Keenan.


"Ya semoga!" ucap Albert mengangguk singkat.


Keenan berbalik, lalu melangkah pergi dari ruangan tersebut.


Namun, Keenan sangat terkejut saat ia membuka pintu lantaran terdapat Carolina yang masih berdiri disana.


Sama halnya dengan Keenan, gadis itu pun juga terkejut dan salah tingkah dibuatnya.


"Carol, lagi ngapain kamu disini? Bukannya pak Albert sudah minta kamu kembali bekerja?" tanya Keenan dingin.


"Eee..."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2