Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Siapa pelakunya?


__ADS_3

Nadira buru-buru masuk ke dalam kamarnya, ia melangkah dengan tergesa-gesa sembari menutupi bagian wajahnya menggunakan masker serta kain agar tak ada yang mengetahuinya.


Namun, ia justru bertemu dengan Chelsea yang muncul dari arah dapur bersama mbok Widya dan juga Liam sang penjaga disana, sontak Nadira menghentikan langkahnya karena teriakan dari Chelsea sehingga ia terpaksa meladeni gadis itu lebih dulu biarpun ia sangat malas dan khawatir jika nantinya mereka mengetahui sakit yang dideritanya.


"Heh Nadira!" teriak Chelsea memanggil kakak iparnya yang lebih muda darinya itu.


Chelsea, mbok Widya serta Liam bergerak mendekati Nadira. Sedangkan Nadira sendiri hanya diam menunduk berusaha keras menutupi luka pada bagian wajahnya.


"I-i-iya, kenapa?" tanya Nadira gugup.


"Udah gausah ditutupin begitu, gue sama mereka udah pada tahu kok! Lu sakit kulit kan? Muka lu itu gatal-gatal dan muncul bintik merah, iya kan?" ujar Chelsea.


Nadira amat terkejut dengan tuturan kata dari Chelsea barusan, ia bingung darimana gadis itu bisa mengetahuinya. Namun ketika ia melihat Liam, ia langsung mendapat jawabannya.


"Eee iya benar! Tapi, dokter barusan udah beri saya obat kok!" jawab Nadira.


"Non, non Dira yang sabar ya! Saya yakin wajah non Dira pasti bisa pulih kembali seperti sediakala! Dan semoga orang yang ngelakuin itu semua ke non Dira bisa mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan!" ucap mbok Widya sangat cemas.


"Iya mbok, makasih ya! Saya juga bingung kenapa ini bisa terjadi ke saya, padahal saya ngerasa gak punya musuh kok disini!" ucap Nadira heran.


"Aduh, gausah drama deh lu! Baru sakit begitu aja udah lebay! Lagian nih ya, itu mungkin kulit lu aja yang gak biasa kena bedak merk mahal dari kak Albert! Makanya muka lu langsung gatal-gatal kayak gitu, udah deh gausah sok-sokan pake begituan segala!" ujar Chelsea.


"Non, jangan gitu sama non Dira, gak baik! Biar gimanapun, non Dira ini iparnya non Chelsea! Jadi, seharusnya non Chelsea itu hormat sama non Dira!" ucap mbok Widya menegur Chelsea.


"Apaan sih mbok? Ngapain aku harus hormat sama dia?!" ujar Chelsea.


"Udah mbok, Chelsea! Aku mau masuk ke dalam dulu, permisi!" ucap Nadira menengahi.


Tanpa basa-basi lagi, Nadira langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu begitu saja tak perduli dengan ketiga manusia yang ada disana.


Braakkk... (suara pintu tertutup)


"Ish, emang gak ada akhlaknya tuh cewek! Kenapa sih kak Albert mau nikahin dia? Apa istimewanya coba cewek kampungan kayak gitu? Selera kak Albert turun banget gila!" umpat Chelsea kesal.


"Aduh non, jangan bilang begitu! Menurut saya, non Dira itu anaknya baik kok dan dia perhatian juga sama tuan Albert! Itu artinya tuan Albert tidak salah pilih istri, non! Karena jarang loh ada wanita seumuran non Dira yang bisa kayak gitu!" ucap mbok Widya membela Nadira.


"Terus aja mbok belain dia terus! Udah ah, aku mau ke depan temuin Keenan!" ujar Chelsea ngambek.


"Eh non, jangan marah!" ujar mbok Widya.


Chelsea tak memperdulikan ucapan mbok Widya, ia terus melangkah ke depan dengan perasaan jengkel karena tak ada seorangpun yang membela dirinya.


Sementara mbok Widya tetap disana bersama Liam, ia bingung hendak diapakan makanan yang sudah dibuat olehnya tadi, karena tak mungkin Nadira mengantar makan itu untuk Albert sekarang.


"Eh Liam, menurut kamu gimana ya sama masakan yang udah saya buat barusan?" tanya mbok Widya.


"Ya terserah kamu lah! Kok nanya saya? Saya ini disini tugasnya menjaga non Nadira, bukan memberi usul atau ide buat mbok Widya! Ya tapi kalau mau dikasih saran, mending makanannya buat saya aja mbok biar gak mubazir!" jawab Liam.


"Yeh itu mah pengennya kamu!" cibir mbok Widya.


Mbok Widya memukul bahu Liam, lalu pergi ke dapur dengan wajah cemberut.


"Aneh tuh orang! Tadi minta saran, giliran dikasih saran malah marah-marah sambil mukul!" umpat Liam sembari mengusap-usap bahunya.




Nadira yang berada di kamar, langsung melepas masker dari wajahnya. Ia berdiri di depan cermin dan menatap tubuhnya dengan perasaan sedih, ia melihat wajahnya semakin memburuk dan banyak bintik merah yang gatal disana.


Perasaan Nadira makin tak karuan, ia khawatir jika Albert pulang dan mengetahui semuanya nanti, pasti pria itu tidak akan mau menyentuhnya lagi dan bisa menghukumnya karena sudah teledor.


"Ya ampun! Aku harus gimana sekarang? Gak mungkin bintik-bintik ini bisa hilang dalam sekejap, pasti tuan Albert bakal marah besar!" gumamnya.


Demi meminimalisir keburukan yang akan terjadi nantinya, Nadira pun segera membuka kantong berisi salep dan obat pemberian dokter tadi. Ia memakaikan salep tersebut di wajahnya supaya rasa gatal serta panasnya dapat hilang, dan semua bintik-bintik merah itu juga pergi dari sana.


"Semoga aja ini berhasil!" ucapnya pede.


Setelah memakai salep itu, Nadira merasakan sensasi yang luar biasa, rasa sakit dan pedih menjadi satu di wajahnya, ditambah kegatalan yang ia rasakan juga menjadi bertambah.


"Duh, ini kok malah jadi makin gatal sih? Apa karena emang efeknya?" ujar Nadira bingung.


Akhirnya wanita itu memilih duduk di pinggir ranjangnya untuk menenangkan diri, ia berharap rasa perih itu bisa segera hilang bersamaan dengan bintik-bintik merah tersebut.

__ADS_1


Akan tetapi, saat tangannya mengusap-usap ranjang, tanpa sengaja ia merasakan sesuatu aneh seperti bubuk halus disana, yang tentunya membuat ia kaget dan berdiri secara tiba-tiba.


Nadira langsung menyibakkan selimutnya, terlihat bubuk bubuk putih itu berhamburan membuat matanya sedikit sakit dan hidungnya merasa tidak enak karena itu.


"Apa ini?" ujarnya heran sambil menutupi hidungnya.


"Kok bisa banyak banget di kasur ku? Gak mungkin dong kotoran yang jatuh dari atas, apalagi debu!" Nadira masih penasaran.


Nadira coba mengeceknya, ia menghirup aroma bubuk tersebut dan ternyata sangat wangi.


"Wangi? Tunggu tunggu, kok wanginya kayak aku kenal ya? Ah iya, ini kan wangi aroma bedak yang dibeliin sama tuan Albert! Tapi, kenapa bisa tumpah semua disini? Pantas aja pas tadi aku mau pakai, tinggal sisa sedikit!" ucapnya kebingungan.


"Gak, ini aneh! Pasti ada orang yang masuk ke kamar ini dan ngelakuin ini semua, tapi siapa ya kira-kira?" gumam Nadira sambil menggigit jari telunjuknya.




Sementara itu, di depan rumah, Keenan masih berusaha menjelaskan pada Albert mengenai perkataan dari mulutnya perihal dirinya yang mengantar Nadira ke rumah sakit.


📞"Maksud kamu apa Keenan? Memangnya Nadira kenapa sampai harus dibawa ke rumah sakit? Apa yang terjadi sama dia, ha?" tanya Albert cemas.


📞"Eee begini tuan, tapi sebelumnya saya minta sama tuan supaya gak marah atau ngehukum nona Nadira! Karena ini semua murni kecelakaan, bukan salah non Dira atau siapapun itu! Bisa kan taun?" pinta Keenan pada Albert.


📞"Haish, yasudah iya! Cepat cerita!" tegas Albert.


📞"Baik tuan! Jadi begini, non Dira itu tiba-tiba mengalami gatal dan panas pada kulit wajahnya setelah beliau habis menggunakan bedak pemberian tuan! Saya juga tidak tahu apa penyebabnya, tapi setelah diperiksa oleh dokter tadi ternyata bedak yang digunakan non Dira sangat berbahaya, tuan!" ucap Keenan menjelaskan.


📞"Hah? Berbahaya? Yang benar kamu? Saya belikan bedak itu mahal loh, gak mungkin Nadira bisa kena sakit kulit pas pakai bedak itu! Kamu jangan asal bicara ya Keenan!" tegur Albert.


📞"Iya tuan, saya tahu kok itu tidak mungkin! Yang saya pikirkan sekarang, pasti ada seseorang yang dengan sengaja menukar isi bedak dari tuan itu!" ucap Keenan.


📞"Apa? Memangnya siapa yang berani melakukan perbuatan seperti itu Keenan?" tanya Albert.


📞"Eee saya tidak tahu tuan, tapi yang pasti dia orang dalam! Karena bedak itu kan letaknya ada di kamar tuan dan non Dira, gak sembarang orang bisa masuk kesana! Mungkin kita bisa bertanya pada penjaga pintu kamar tersebut, tuan!" jawab Keenan.


📞"Ya, kamu benar Ken! Cepat kamu selidiki ini semua dan infokan ke saya hasilnya! Saya akan pulang setelah menyelesaikan meeting ini, jangan kecewakan saya Keenan!" ucap Albert.


Tuuutttt...


Telpon dimatikan oleh Albert, kini Keenan merasa lega karena ia telah menceritakan semuanya pada Albert dan tak ada tanda-tanda kalau Albert akan marah pada Nadira.


"Huh syukurlah! Ternyata tuan Albert perduli juga sama non Dira, sampe secemas itu!" ujar Keenan.


"Sayang!"


Tiba-tiba saja, sebuah suara teriakan dari seorang wanita muncul hingga membuat Keenan terkejut dan reflek menoleh ke belakang. Ya itu adalah suara dari Chelsea, sang kekasih Keenan yang cantik jelita.


"Chelsea? Ya ampun kamu ngagetin aku aja sih! Ngapain kamu berdiri disitu sayang?" ujar Keenan.


Terlihat Chelsea seperti orang yang sedang ngambek dan kesal, ia cemberut dan memutar bola matanya begitu Keenan berbicara.


"Sayang, ada apa sih?" tanya Keenan heran.


Lagi-lagi Chelsea hanya terdiam, membuat Keenan makin penasaran dan memilih maju menghampiri kekasihnya tersebut untuk coba menghiburnya, walau ia tak tahu apa yang menjadi penyebab Chelsea jadi seperti itu.


Keenan berdiri di dekat Chelsea, pria itu mulai membelai rambut halus milik sang kekasih dan menciumnya bermaksud untuk membuat Chelsea dapat tersenyum kembali.


"Hey sayang! Kamu kenapa sih? Datang-datang kok cemberut kayak gitu?" tanya Keenan pelan.


"Ya kamu ngapain pake anterin Nadira ke rumah sakit segala? Apa sih yang bikin kamu care sama dia, ha?" ujar Chelsea.


"Loh? Jadi, kamu ngambek karena aku anterin non Dira ke rumah sakit? Sayang, aku ini kan asisten kakak kamu dan non Dira itu istri sahnya tuan Albert! Wajar aja dong kalo aku anterin dia, aku gak mau dia sampai kenapa-napa sayang, nanti aku juga yang kena!" ucap Keenan menjelaskan.


"Halah alasan! Bilang aja kamu emang mau cari perhatian sama dia! Kamu mulai tertarik sama Nadira, iya kan? Awas loh ya sayang, kalau kamu berani macam-macam di belakang aku!" ancam Chelsea.


"Ya ampun, enggak lah sayang! Aku kan setia sama kamu, cuma kamu yang aku sayangi!" ucap Keenan.


"Bener?" tanya Chelsea.


"Iya dong sayang, mana pernah aku bohong sama kamu? Jangan ngambek lagi ya!" jawab Keenan.


"Ouuhhh so sweet deh kamu!"

__ADS_1


Seketika Chelsea langsung berubah dan kembali menjadi gadis manja seperti biasanya ketika bersama Keenan.




Setelah selesai menelpon Keenan, kini Albert tampak gelisah dan mencemaskan kondisi istrinya. Ya biar bagaimanapun, Albert merasa bersalah karena ia tak bisa menjaga wanita miliknya itu.


"Aaarrgghh payah lu Bert! Kenapa lu bisa kecolongan kayak gini? Awas aja ya, siapapun pelakunya pasti bakal gue kasih balasan setimpal!" gumam Albert.


TOK TOK TOK...


Disaat ia tengah asyik melamun, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintunya dari luar dan membuat Albert tersadar dari lamunannya lalu segera mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Ya, masuk!" teriak Albert masih sedikit emosi.


Ceklek...


Orang itu membuka pintu, dan terlihatlah pria tinggi berkumis yang tak lain ialah Darius.


"Om Darius?" ujar Albert cukup kaget.


"Helo Albert! Apa kabar? Lama kita tidak berjumpa, akhirnya sekarang saya bisa bertemu dengan kamu setelah waktu itu saya gagal menemui kamu di rumah karena kamu sedang pergi!" ucap Darius.


Darius melangkah mendekati Albert, kemudian duduk begitu saja pada sofa yang tersedia di ruangan Albert tanpa permisi.


"Ada urusan apa om datang kesini?" tanya Albert.


"Santai saja Albert, tidak perlu tegang begitu! Saya kesini cuma mau bertanya sesuatu sama kamu, jadi kamu tenang aja ya karena saya bukan orang jahat yang punya niat buat rebut perusahaan ini dari kamu Albert!" ucap Darius tersenyum smirk.


"Yasudah, om mau tanya apa sama saya? Cepat om, saya tidak punya banyak waktu!" ucap Albert.


"Begini Albert, saya cuma ingin tahu mengapa kamu menyembunyikan pernikahan kamu dari saya? Apa kamu sudah tidak menganggap saya sebagai keluarga kamu, iya?" ujar Darius bertanya.


"Hah??"


Albert terkejut mendengar pertanyaan dari Darius, yang ia tahu selama ini pamannya tersebut belum mengetahui apa-apa soal pernikahan dirinya, namun nyatanya ia salah karena Darius memang sudah mengetahui semuanya dari Nadira.


"Om, om tahu darimana soal pernikahan saya? Dan bagaimana caranya om bisa tahu tentang itu?" tanya Albert masih terkejut.


"Hahaha Albert Albert! Ya jelaslah saya tahu dari istri kamu, dia sendiri yang bilang sama saya kalau kamu sudah menikah dengan dia! Sekarang kamu jangan mengalihkan pembicaraan lagi, jawab saja pertanyaan saya yang tadi! Mengapa kamu menyembunyikan semua ini Albert?" tegas Darius.


"Om, saya bukannya gak nganggap om, tapi saya emang gak mau kasih tahu tentang pernikahan saya ke siapapun! Jadi bukan cuma om yang gak tahu, mama saya aja gak tahu juga loh!" jawab Albert.


"Waw hebat sekali kamu Albert! Lalu, apa alasannya kamu menyembunyikan itu?" tanya Darius lagi.


"Eee sa-saya..."


Ucapan Albert terhenti lantaran Vanesa, sekretaris cantiknya itu muncul dan membuyarkan obrolan serius diantara keduanya.


"Permisi pak, maaf mengganggu! Tapi, meeting akan segera dimulai!" ucap Vanesa.


"Oh, baik Vanesa! Saya akan segera keluar, kamu tunggu saja di parkiran ya!" perintah Albert.


"Baik pak!" ucap Vanesa.


Setelah gadis itu pergi, Albert pun kembali berbicara pada Darius untuk pamitan dan menghindari semua pertanyaan dari Darius untuknya.


"Maaf om! Tapi, saya harus pergi!" ucap Albert.


"Ya, baiklah tak mengapa!" ucap Darius.


Albert beranjak dari kursinya membawa serta berkas yang akan digunakan, perasaannya masih tak karuan mengingat Darius ternyata sudah mengetahui semuanya dari Nadira langsung.


"Sialan kamu Nadira! Beraninya kamu membohongi saya!" gumam Albert dalam hati.


Melihat kepalan tangan Albert, Darius justru tersenyum karena ia telah berhasil membuat ponakannya itu emosi.


"Kena kamu Albert!"


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2