Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Vanesa penasaran


__ADS_3

Vanesa turun ke bawah menemui sosok pria yang ingin bertemu dengan Albert, ya sebelumnya Vanesa diberi kabar oleh Zee alias resepsionis disana kalau ada seseorang yang mencari Albert.


Tanpa berlama-lama lagi, Vanesa segera menghampiri lelaki yang tengah terduduk di kursi tunggu itu. Ia menatapnya secara intens penuh penasaran, karena baru kali ini Vanesa melihat sosok lelaki tersebut di kantornya.


"Permisi pak! Bapak yang ingin bertemu dengan pak Albert kan?" ucap Vanesa.


Pria itu mendongak kaget, ia menyingkirkan ponselnya lalu berdiri menghadap Vanesa sambil tersenyum dan mengenalkan dirinya pada sosok wanita cantik nan seksi itu.


"Ah ya benar! Kenalkan saya Rionaldo, saya sudah ada janji dengan pak Albert. Apa saya bisa bertemu dengan beliau sekarang?" ucap pria itu.


"Oh iya, saya Vanesa sekretaris pak Albert." Vanesa pun turut mengenalkan dirinya pada pria bernama Rionaldo itu, mereka berjabat tangan sebentar lalu Vanesa kembali berbicara padanya.


"Anda bisa kok bertemu dengan pak Albert, kebetulan juga pak Albert sedang free. Mari pak, saya antar ke ruangan pak Albert!" ucap Vanesa.


"Boleh," pria itu mengangguk setuju.


Vanesa pun mempersilahkan Rionaldo selaku tamu dari bosnya itu untuk pergi bersamanya menuju ruang kerja Albert, mereka jalan berdampingan dan sepanjang perjalanan Vanesa selalu mengajukan pertanyaan pada Rionaldo karena dirinya masih penasaran siapakah laki-laki itu dan ada urusan apa dia sampai datang kesana.


"Maaf pak! Tapi, hubungan bapak dengan pak Albert itu apa ya? Eee bukan maksud saya ingin tahu atau banyak tanya, saya cuma penasaran aja. Soalnya baru kali ini saya lihat bapak datang kesini!" ucap Vanesa bertanya pada Rionaldo.


"Tidak apa, saya justru suka kalau diajukan pertanyaan seperti itu!" ucap Rionaldo tersenyum.


Vanesa pun merasa senang karena Rionaldo mau menjawab pertanyaannya dan tidak merasa tersinggung atau marah padanya.


"Saya ini cuma temenan kok sama pak Albert, dan saya datang kesini ya karena diundang oleh dia. Kalau kamu baru pertama kali lihat saya, sama kok saya juga baru kali ini lihat kamu! Dulu itu sekretaris pak Albert bukan kamu, mungkin kala itu kamu belum bekerja disini!" jawab Rionaldo.


"Eee maaf pak! Saya tidak tahu kalau bapak teman dekat pak Albert, mohon maaf karena saya sudah lancang sama bapak tadi!" ucap Vanesa menunduk.


"Gapapa, saya gak ngerasa kamu lancang kok! Wajar aja kamu bertanya seperti itu, justru saya suka dengan sifat kamu yang ramah dan sopan ini! Albert memang pandai memilih sekretaris, selain cantik kamu juga baik lagi!" ucap Rionaldo.


"Terimakasih pak!"


Vanesa sebenarnya masih agak penasaran dengan tujuan Rionaldo datang kesana, namun ia tepis semua itu mengingat pria di sampingnya adalah teman bosnya dan ia tak mau membuat pria itu merasa risih jika terus-menerus diajukan pertanyaan yang tidak penting.


"Kira-kira apa ya tujuan pak Albert minta temannya datang kesini? Kayaknya sih cowok ini bukan orang sembarangan, bisa jadi pak Albert mau minta bantuan sama dia untuk mengatasi masalah yang kerap terjadi di perusahaan ini!" batin Vanesa.


Keduanya terus melangkah hingga tiba di depan pintu lift, mereka langsung masuk ke dalamnya begitu lift tersebut terbuka.


"Silahkan pak!" ucap Vanesa mempersilahkan Rionaldo melangkah lebih dulu.


"Terimakasih!" ucap Rionaldo singkat.




Singkat cerita, Vanesa dan Rionaldo telah tiba di depan ruangan Albert, wanita itu pun meminta pada Rio untuk menunggu disana sejenak selagi ia menemui Albert di dalam sana.


"Maaf pak! Mohon tunggu sebentar ya, biar saya bicara dengan pak Albert lebih dulu!" ucap Vanesa.


"Ya, silahkan!" ucap Rionaldo.


TOK TOK TOK....


"Masuk!"


Vanesa langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan itu setelah mendengar jawaban dari Albert, ternyata disana sudah ada Keenan yang tengah berbincang dengan Albert dan tampak cukup serius.


"Misi pak! Mohon maaf saya mengganggu obrolan bapak dengan pak Keenan!" ucap Vanesa dengan sedikit membungkuk dan kedua tangan di depan.


"Ya, tidak apa. Ada apa Vanesa?" tanya Albert dingin tak seperti biasanya.


"Eee itu pak, di depan ada yang ingin bertemu dengan bapak!" jawab Vanesa.


"Siapa?" tanya Albert penasaran.


"Namanya pak Rionaldo. Beliau mengaku sebagai sahabat bapak dan sudah memiliki janji, maka dari itu saya bawa pak Rio kemari, pak!" ucap Vanesa menjawab pertanyaan dari bosnya itu.

__ADS_1


"Rio? Ternyata dia sudah datang, yasudah kamu suruh dia masuk kesini ya Vanesa!" ucap Albert.


"Baik pak!" Vanesa menurut lalu berbalik dan keluar menemui Rionaldo.


Tampak Rio masih berdiri di depan pintu dengan sesekali melihat-lihat atap bangunan tersebut dan menatap berbagai lukisan yang ada disana.


"Pak, bapak diperbolehkan masuk!" ucap Vanesa pada pria di hadapannya tersebut.


"Oh iya iya, terimakasih ya Vanesa!" ucap Rio tersenyum lalu melangkah ke dalam ruangan Albert meninggalkan wanita itu.


Setelah Rio memasuki ruangan bosnya itu, Vanesa masih tetap berada di luar dan sangat penasaran dengan apa kiranya yang hendak dibahas oleh Albert bersama temannya itu, apalagi di dalam juga terdapat Keenan sang asisten pribadi Albert.


"Aku jadi makin penasaran! Apa aku nguping aja kali ya disini?" gumam Vanesa.


Ya Vanesa pun memutuskan untuk menguping di depan pintu, ia menyelipkan rambutnya di sela-sela telinga lalu menempelkan telinganya pada pintu agar dapat mendengar apa yang dibicarakan di dalam sana oleh Albert serta temannya.


❤️


Ceklek...


Albert dan Keenan langsung mengarahkan pandangan ke pintu begitu mendengar suara tersebut, mereka tersenyum lalu berdiri menyambut kedatangan Rionaldo disana.


Rio yang memang merupakan seorang detektif tampan itu melangkah maju mendekati kedua pria di depannya sambil ikut tersenyum, mereka saling sapa dan bersalaman sebelum kembali duduk di tempat masing-masing.


"Selamat datang pak Rio di kantor sederhana saya!" ucap Albert merendah.


"Ahaha, anda ini bisa saja pak Albert. Kantor sebesar ini dibilang sederhana, lalu bagaimana dengan kantor saya? Seperti gubuk kali ya?" sarkas Rionaldo disertai tawa pelan.


"Hahaha..." Keenan dan Albert ikut tertawa.


"Oh ya, omong-omong ada apa nih anda minta saya datang kesini? Pasti ada sesuatu yang penting dan gawat banget kan?" tanya Rionaldo.


"Ya seperti itulah, tapi sebelumnya kenalkan dulu ini asisten saya namanya Keenan! Dia yang sudah banyak membantu saya, sehingga saya bisa sukses seperti sekarang!" ucap Albert mengenalkan Keenan pada Rio.


"Waw keren juga anda bisa memiliki asisten seperti pak Keenan ini!" puji Rionaldo.


"Iya pak, saya Keenan!" ucap Keenan.


Setelah keduanya saling bersalaman, Albert pun bersiap untuk memulai obrolan mereka kali ini mengenai kasus teror serta rencana penculikan terhadap Celine, adik Keenan itu.


"Yasudah, ada baiknya kalau kita segera ke intinya saja! Karena saya masih ada kerjaan lain, anda tahu lah saya ini bagaimana!" pinta Rionaldo.


"Iya pak, saya tahu kok! Tapi sebentar ya, firasat saya sepertinya tidak enak! Saya mau cek di depan dulu apa ada orang atau enggak, karena pembicaraan ini cukup penting dan gak boleh ada satupun karyawan saya yang mendengarnya!" ucap Albert meminta Rio menunggu sejenak.


"Baik, silahkan saja dicek dulu biar tenang dan gak panik!" ucap Rionaldo.


Albert mengambil sebuah remote kecil dari atas meja, lalu memencet tombol yang ada pada remote tersebut dan seketika bagian dinding serta pintu depan ruangan tersebut berubah transparan sehingga Albert bisa melihat kondisi di luar sana.


Benar saja dugaan Albert, rupanya memang masih ada seorang wanita yang berdiri di depan pintunya dan tengah berusaha menguping pembicaraan mereka bertiga, pria itu tersenyum smirk kemudian bangkit dari duduknya.


"Mau kemana tuan?" tanya Keenan bingung.


"Saya harus temui Vanesa! Dia tidak boleh ada disitu, bisa-bisa nanti dia mendengar obrolan kita dan akan menjadi masalah baru lagi di kantor ini!" jawab Albert.


"Iya sih tuan, tapi bukannya tuan juga punya alat yang bisa bikin ruangan ini jadi kedap suara dalam waktu sekejap? Kenapa tuan gak pakai alat itu aja untuk mempersingkat waktu?" ujar Keenan.


"Nah, usul asisten kamu ini bagus tuh! Daripada kamu susah-susah kan keluar buat tegur sekretaris kamu itu, lebih baik kamu rubah saja ruangan ini jadi kedap suara! Supaya orang-orang dari luar tidak bisa mendengar suara kita!" ucap Rionaldo.


"Itu memang benar, tapi saya juga harus ajarkan sopan santun ke wanita itu. Dia gak bisa seenaknya berdiri disana dan menguping pembicaraan kita!" ucap Albert tegas.


"Ya baiklah, terserah anda aja pak Albert!" ucap Rio tersenyum tipis.


Albert pun berjalan pergi menemui Vanesa yang ada di depan pintu, sedangkan Keenan tetap disana bersama Rionaldo dan berusaha untuk mengobrol walau mereka masih sama-sama canggung karena ini kali pertama mereka bertemu.


❤️


"Kok gak kedengaran apa-apa lagi ya? Masa sih mereka cuma diem-diem aja di dalam sana?" gumam Vanesa kebingungan.

__ADS_1


Karena penasaran akhirnya wanita itu terus coba menempelkan telinganya lebih dekat lagi dengan pintu, ia benar-benar ingin tahu apa yang menjadi pembahasan Albert serta Rio di dalam sana.


Namun, Vanesa justru hampir terjungkal akibat pintu yang dibuka dari dalam oleh Albert. Ya beruntung wanita itu ditahan saat hendak terjatuh, dan tentu saja yang menahannya ialah Albert.


"Pak Albert?" Vanesa tampak gugup dan cemas.


"Ya Vanesa, kamu ngapain berdiri disini?" tegur Albert dengan nada tegas.


"Eee a-anu sa-saya...."


"Saya apa? Kamu lain kali jangan begitu ya, Vanesa! Kalau saya minta kamu pergi, itu artinya kamu memang harus pergi dari sini dan kembali ke ruangan kamu! Bukannya kamu malah berdiri disini dan berusaha menguping pembicaraan saya, itu tidak sopan namanya Vanesa!" potong Albert.


"Ma-maaf pak! Saya janji gak akan mengulangi lagi kesalahan saya ini, tolong jangan pecat saya pak karena saya masih butuh kerjaan ini!" ucap Vanesa memohon pada bosnya itu.


"Saya tidak punya niatan untuk pecat kamu kok, saya cuma ingin menegur kamu supaya lain waktu kamu gak seperti ini lagi!" ucap Albert.


"I-i-iya pak, saya minta maaf!" ucap Vanesa.


"Yasudah, gapapa. Sekarang kamu tolong pesankan minuman untuk saya dan dua orang di dalam itu! Minta ob antarkan minuman itu kesini, sama cemilan juga!" titah Albert.


"Baik pak! Kalau begitu, saya mohon izin permisi pak! Sekali lagi saya minta maaf!" ucap Vanesa.


"Ya, silahkan!"


Setelahnya, Vanesa berlalu pergi dengan langkah tergesa-gesa meninggalkan Albert disana. Wanita itu merasa sangat malu bercampur kesal, tentu saja karena ia gagal mendapatkan informasi mengenai apa yang sedang dibahas oleh Albert.


"Aaarrgghh sial!" umpat Vanesa dalam hati.




Disisi lain, Celine bersama kedua temannya masih harus berhadapan dengan dua orang pria berbadan besar yang menyeramkan itu. Ketiga gadis tersebut pun tampak ketakutan, karena rupa lelaki yang ada di dekat mereka itu cukup menyeramkan disertai otot dan juga tatto yang menambah kesan seram.


"Kalian ini siapa? Kenapa kalian cari-cari gue?" tanya Celine dengan nada kesal.


"Oh, jadi benar kamu yang namanya Celine?" pria itu justru balik bertanya pada Celine.


"Iya gue Celine, emangnya kenapa?" tegas Celine.


Dua pria itu saling menatap satu sama lain, membuat Celine makin curiga dengan gerak-gerik mereka dan terus waspada agar tidak salah langkah seperti kemarin ketika ia hampir diculik oleh preman-preman di angkot.


"Kenalin saya Daffa, dan ini teman saya namanya Alif. Kami ini orang suruhan abang kamu, dia meminta kami untuk menjaga kamu dan jemput kamu sewaktu pulang sekolah!" jelas pria itu.


"Hah? Jadi kalian disuruh sama bang Ken? Serius?" ujar Celine yang terkejut dan masih tak percaya.


"Iya benar non! Maaf kalau tadi kami membuat non Celine takut, kita gak bermaksud begitu kok! Kami cuma mau memastikan aja, apa benar kamu ini Celine adiknya pak Keenan atau bukan, karena kan kalau salah orang bisa gawat juga! Udah susah-susah kita kawal, eh ternyata malah adik orang lain bukan pak Keenan!" ujar pria itu.


Celine masih terdiam tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria tersebut, namun dari penuturan serta ekspresi mereka memang terlihat cukup meyakinkan, hanya saja sulit bagi Celine meyakini mereka adalah orang suruhan Keenan.


Lilis serta Rani pun merasakan hal yang sama, mereka tak yakin kalau dua orang pria itu adalah orang suruhan Keenan yang diminta menjaga Celine, justru mereka berpikir bahwa orang-orang itu berniat menculik Celine kembali.


"Cel, lu jangan percaya gitu aja sama mereka! Lu harus minta mereka buat buktiin, kalau emang mereka ini suruhan abang lu!" bisik Lilis.


"Iya Cel, soalnya gerak-gerik mereka itu mencurigakan banget!" sahut Rani.


Celine hanya diam, lalu kembali beralih menatap kedua pria di hadapannya tersebut dengan tajam.


"Heh! Kalau kalian emang suruhan abang gue, coba tunjukin ke gue bukti chat kalau bang Ken udah nyuruh kalian buat jagain gue!" ucap Celine meminta bukti dari orang-orang itu.


"Non Celine minta bukti? Baik non, buruan Lif kasih lihat ke non Celine kalau kita emang orang suruhan pak Keenan!" ujar pria bernama Daffa itu.


"Oke Dap!"


Alif yang bertubuh lebih kekar itu melangkah maju, memperlihatkan chat dari Keenan yang menyatakan bahwa mereka adalah orang suruhannya itu kepada Celine, seketika gadis itu terperangah dan semakin dibuat bingung.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2