
Keesokan harinya, Albert tak sengaja bertemu dengan Darius saat ia hendak berangkat ke kantor. Tampak pamannya itu baru sampai di rumahnya dan tersenyum sembari berjalan ke arahnya.
Tentu Albert heran melihat kedatangan Darius disana, ia tak mengerti apa maksud Darius datang kesana pagi-pagi begini. Namun, Albert yakin sekali bahwa ada sesuatu yang sedang direncakan oleh pamannya itu.
"Halo Albert, good morning!" Darius menyapa dan menghampiri keponakannya itu sambil tersenyum.
"Pagi," jawab Albert singkat tanpa ekspresi.
"Mau apa paman datang kesini pagi-pagi begini?" sambungnya bertanya pada Darius.
"Oh ayolah Albert, kamu kenapa curiga begitu sama paman? Saya ini uncle kamu, wajar dong kalau saya datang ke rumah ponakan saya. Karena saya hanya ingin silaturahmi sekaligus memberi selamat sama kamu, katanya Nadira sudah kembali ke kamu kan?" ucap Darius.
"Ya benar. Lalu, apa urusannya dengan paman?" tanya Albert ketus.
"Eee memang tidak ada urusannya dengan saya, tapi saya ini kan tetap bagian keluarga kamu Albert. Jadi, gak ada salahnya dong kalau saya izin masuk ke dalam temui Nadira?" ucap Darius.
"Mau apa lagi sih om? Saya gak akan kasih izin om buat ketemu Nadira, titik! Terakhir kali om ketemu dia, Nadira langsung pergi dari rumah saya. Gak mungkin saya mengulangi kesalahan yang sama, jadi lebih baik om pergi dari sini!" geram Albert.
"Tenang aja Albert! Om gak akan begitu kok, lagian kamu itu cuma salah paham sama om. Mana mungkin om tega hasut Nadira buat pergi tinggalin kamu? Secara kamu kan ponakan kesayangan om, semuanya murni keinginan Nadira. Om gak ada bilang apa-apa kok ke dia waktu itu, kamu percaya dong sama om!" ucap Darius.
"Sudahlah om, saya lagi malas debat! Om mending cepat pergi dari sini sebelum kesabaran saya habis!" pinta Albert emosi.
Darius terdiam memalingkan wajahnya, memikirkan cara untuk bisa menerobos masuk ke dalam rumah itu. Sedangkan Albert juga terus menghalangi pamannya karena ia tak mau Darius sampai menghasut Nadira lagi.
"Hey, kenapa paman diam aja? Apa omongan saya tadi kurang jelas? Saya minta om pergi dari sini, atau saya akan perintahkan anak buah saya buat tangkap om." kata Albert tegas.
"Tenang dulu Albert! Kita kan bisa bicarakan ini baik-baik, saya yakin kamu gak mungkin tega usir paman kamu sendiri kan?" ujar Darius.
"Kata siapa?" Albert melangkah maju mendekati Darius dengan posisi tegak menatap tajam ke arah sang paman sembari mengepal dua tangannya.
"Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, paman! Dan saya juga tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap siapapun, apalagi anda yang hanya paman saya!" sambungnya.
"Hahaha... kamu memang pandai bergurau Albert," Darius tertawa dan menepuk pundak Albert.
Namun, dengan sigap Albert menarik tangan Darius dan memutarnya ke belakang hingga membuat Darius memekik kesakitan.
"Aaaakkkhh..."
"Jangan pernah datang lagi ke rumah saya! Mulai saat ini, paman tidak diterima lagi di rumah ini atau kantor saya. Sekali saja saya lihat paman menampakkan diri disana, maka saya tidak akan segan-segan untuk hajar paman dengan tangan saya sendiri!" ancam Albert.
"Aakkkhhh!! Iya iya saya mengerti! Tolong, lepaskan tangan saya Albert!" rintih Darius.
Albert mendorong tubuh Darius begitu saja hingga terperosok ke jalan. Pria itu tetap bersikap santai seolah tak terjadi apapun, ia bahkan hanya merapihkan jasnya dikala Darius terus memekik sembari memegangi tangannya.
Lalu, Albert pun memanggil salah seorang anak buahnya yang ia tugaskan untuk berjaga disana.
"Billy!" Albert berteriak, dan penjaga tersebut pun datang menghampirinya.
"Iya tuan, ada apa?" tanyanya.
"Kamu urus paman saya ini, jangan sampai dia masuk ke dalam! Oh ya, mulai sekarang saya blacklist om Darius dan dia tidak boleh masuk kesini apapun alasannya. Paham kamu?" jelas Albert.
"Siap, paham tuan!" ucap Billy dengan tegas.
"Yasudah, saya berangkat ke kantor dulu." Albert melangkahkan kakinya kembali mendekati Darius yang masih tersungkur disana.
"Dengar ya paman, jangan pernah main-main dengan seorang Alberto Hernandez! Atau paman akan tanggung resikonya sendiri," ucap Albert singkat lalu pergi begitu saja menuju mobilnya.
Darius menatap tajam ke arah Albert dengan tangan terkepal dan nafas menggebu.
"Kurang ajar! Dia sudah mulai berani sama saya, lihat saja saya akan bikin kamu menyesal Albert!" gumamnya.
•
__ADS_1
•
Chelsea yang hendak pergi keluar, tak sengaja melihat Darius sedang diseret paksa oleh Billy serta beberapa penjaga disana.
Sontak saja Chelsea keheranan dan langsung menghampiri pamannya untuk mencegah Billy membawa pergi Darius dari sana, ya Chelsea memang belum mengetahui alasannya karena ia baru saja keluar.
"Heh tunggu!" Chelsea berteriak kencang.
Para penjaga itu pun menghentikan langkahnya, menoleh ke asal suara lalu menaruh kedua tangan mereka di depan saat Chelsea mendekat.
"Iya non. Ada apa ya?" tanya Billy keheranan.
"Kalian ini apa-apaan sih? Kenapa kalian perlakukan om Darius kayak gitu? Dia ini paman aku, pamannya kak Albert juga. Harusnya kalian gak boleh begitu dong sama dia!" ujar Chelsea.
"Umm.. maaf non! Tapi, ini semua perintah langsung dari tuan Albert. Tadi beliau titip pesan juga ke saya untuk mengusir pak Darius pergi dari rumah ini, selain itu saya juga diperintahkan untuk menjaga rumah ini dari pak Darius!" ucap Billy.
"Apa? Kenapa kak Albert tega kayak gitu sama pamannya sendiri? Kamu pasti bohong kan? Gak mungkin kak Albert begitu!" ujar Chelsea.
"Tidak non, saya tidak bohong. Semua yang saya katakan benar adanya," ucap Billy.
Chelsea pun menoleh ke arah Darius dengan mata berkaca-kaca penuh kebingungan, ia mendekati pamannya itu dengan berjongkok dan menanyakan kondisi sang paman yang terluka.
"Om, om gapapa kan?" tanya Chelsea sedih.
"Om gapapa kok Chelsea, dan kamu juga gak perlu sedih begitu. Sudahlah, kakak kamu itu memang sudah tidak menganggap om sebagai pamannya. Dia bahkan dengan teganya mengusir om dari rumah ini, padahal om kan masih termasuk bagian keluarga ini." ucap Darius menahan emosinya.
"Om yang sabar ya! Biar nanti aku coba bicara sama kak Albert buat cabut semua kata-katanya! Aku gak mungkin tega kalau om diperlakukan seperti ini sama kak Albert!" ucap Chelsea.
"Terimakasih ya Chelsea! Tapi, sebaiknya tidak usah. Albert yang sekarang itu berbeda, dia sulit menerima masukan dari orang lain terkecuali orang yang dia cinta. Maka dari itu, Albert berubah drastis saat ini!" ucap Darius.
"Maksud paman apa?" tanya Chelsea tak mengerti.
"Iya, kamu pikir saja Chelsea! Semenjak Albert kenal dengan Nadira, sikapnya jadi berubah. Dia sepertinya memang sudah dipengaruhi oleh wanita gak jelas itu," jawab Darius.
"Nadira? Maksud om, gadis desa yang dinikahi kak Albert itu?" tanya Chelsea kaget.
"Hah??" Chelsea menganga lebar seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan pamannya, akan tetapi dirinya pun memang juga mencurigai Nadira selama ini.
•
•
Albert tiba di kantornya, ia langsung disambut oleh Vanesa yang sudah menunggu sedari tadi. Tentu saja hal itu sangat tidak diinginkan oleh Albert, ia pun semakin jengkel dibuatnya.
"Pak, akhirnya bapak datang juga. Saya sudah menunggu bapak sedari tadi disini," ucap Vanesa.
"Mau apa kamu kesini lagi?" tanya Albert dingin.
"Saya mohon pak! Tolong pekerjakan saya kembali di perusahaan ini! Saya sangat-sangat membutuhkan kerjaan ini, saya janji pak akan melakukan apapun yang bapak mau demi bisa bekerja disini!" ucap Vanesa memohon.
"Kamu kenapa keras kepala banget sih? Udah berapa kali saya bilang ke kamu? Kamu itu saya pecat, dan saya gak sudi terima kamu kembali di kantor ini! Kalau memang kamu butuh kerjaan ini, seharusnya kemarin-kemarin kamu mikir dahulu sebelum bertindak, Vanesa!" tegas Albert.
"Maaf pak! Saya benar-benar minta maaf sama bapak! Saya rela melakukan apapun agar saya bisa bekerja kembali disini! Bahkan saya ikhlas jika bapak mau setiap hari main dengan saya!" rengek Vanesa sembari memegang lengan Albert.
Albert langsung meliriknya sinis begitu Vanesa mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Maksud kamu apa bicara begitu? Memangnya kamu pikir, saya akan tertarik dengan wanita seperti kamu? Tidak akan Vanesa, justru saya merasa jijik sama kamu!" ujar Albert.
"Kenapa pak? Bukannya selama ini bapak juga sering jamah saya? Ayolah pak, mulai sekarang bapak bisa bebas kok sentuh saya!" ucap Vanesa.
"Cukup Vanesa!" Albert semakin emosi, ia mengangkat tangannya hendak menampar wanita itu, namun tertahan karena rasa tidak teganya jika harus menampar Vanesa di depan kantor.
"Kamu berhenti bicara seperti itu! Jaga harga diri kamu Vanesa!" sambungnya.
__ADS_1
"Buat apa pak? Saya sudah kehilangan semuanya sekarang, mahkota yang paling berharga dan juga pekerjaan saya. Untuk apa saya masih mementingkan harga diri? Sekarang ini yang saya butuhkan cuma uang, karena saya harus menebus obat untuk ayah saya!" ucap Vanesa.
"Kamu bisa mendapatkan uang darimana saja, Vanesa. Asalkan jangan dengan cara yang salah seperti itu, lagipula ini itu perusahaan otomotif bukannya club malam yang hobi memamerkan tubuh seksi pelayanannya." kata Albert.
Vanesa terdiam merunduk, Albert perlahan menyingkirkan tangan wanita itu dari lengannya lalu bergerak maju mendekati Vanesa.
"Satu lagi, kamu cepat pergi sekarang sebelum saya kehilangan kesabaran! Kamu gak mau kan saya emosi dan menendang kamu keluar dari perusahaan ini?" ujar Albert.
"Apa bapak tidak punya rasa belas kasihan pada saya? Ingat pak, saya saat ini sedang mengandung anak bapak. Anak hasil hubungan gelap bapak dengan saya, jadi seharusnya bapak tidak memecat saya hanya karena saya ingin memperjuangkan hak saya dan anak ini!" ucap Vanesa sembari mengusap perutnya.
"Kamu bicara apa? Memangnya anak itu masih ada di perut kamu?" tanya Albert bingung.
"Benar pak! Selama ini saya tidak melakukan apa yang bapak perintahkan, saya masih pertahankan bayi ini karena saya rasa menggugurkannya adalah sebuah kesalahan besar! Bayi ini tidak salah pak, dia cuma korban!" jawab Vanesa.
"Kurang ajar! Beraninya kamu menentang perintah saya! Sekarang cepat kamu gugurkan bayi itu, atau—"
"Vanesa!" belum sempat Albert menyelesaikan ucapannya, Keenan sudah muncul dan memotong obrolan mereka.
"Ngapain lagi kamu disini? Saya kan sudah bilang kemarin, jangan pernah datang lagi ke kantor ini! Eh sekarang kamu malah ganggu pak Albert, kamu itu mau apa sih sebenarnya..??!!" geram Keenan.
"Maaf pak Keenan! Saya hanya ingin perjuangkan yang menjadi hak saya," jawab Vanesa.
"Maksudnya...??" Keenan tak mengerti.
Vanesa hanya diam melirik ke arah Albert, pria itu masih tampak bingung dengan apa yang baru saja ia ketahui dari mulut Vanesa.
"Sialan! Ternyata bayi itu masih ada di perut Vanesa? Wah ini gawat! Dia bisa gunakan bayi itu sebagai senjata untuk menekan saya, memang kurang ajar kamu Vanesa!" batin Albert.
•
•
Singkat cerita, Albert yang kebingungan kini telah berada di ruangannya dan masih memikirkan mengenai bayi yang ternyata belum digugurkan oleh Vanesa itu. Albert sangat cemas, ia khawatir jika nantinya Vanesa kembali menekannya dan mengancamnya menggunakan bayi tersebut.
Keenan menyusul masuk mengikuti bosnya, ia merasa heran karena tiba-tiba Albert pergi begitu saja dan terlihat seperti orang yang sedang mencemaskan sesuatu.
"Maaf tuan saya lancang! Tapi, sebenarnya apa yang sedang tuan pikirkan sampai tuan secemas ini?" tanya Keenan penasaran.
"Gapapa Keenan, saya cuma lagi pusing aja. Kamu sudah usir kan wanita itu?" ucap Albert sembari memegangi dahinya.
"Tenang saja tuan! Saya sudah perintahkan security untuk mengusir Vanesa, dan saya juga meminta pada mereka untuk tidak mengizinkan Vanesa masuk ke area perkantoran ini lagi, tuan!" jelas Keenan.
"Baguslah! Saya benar-benar tidak habis pikir dengan Vanesa! Bisa-bisanya dia masih berani datang kesini, setelah apa yang dia perbuat terhadap perusahaan ini!" geram Albert.
"Entahlah tuan, saya juga bingung sama Vanesa itu. Dia sulit sekali diberitahu," ucap Keenan.
"Yasudah, lalu bagaimana dengan sekretaris saya yang baru? Kamu sudah berhasil mendapatkannya bukan?" tanya Albert.
"Eee maaf tuan! Untuk saat ini, saya masih belum mendapatkan sekretaris baru untuk tuan. Tapi, saya janji semuanya akan beres dalam waktu singkat!" jawab Keenan.
"Saya tidak butuh janji kamu! Yang saya butuhkan itu sekretaris baru untuk mempermudah urusan di kantor ini!" ujar Albert.
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan!" ucap Keenan.
"Oh ya, adik kamu bagaimana? Dia masih trauma dengan penculikan itu?" tanya Albert.
"Sudah tidak tuan. Bahkan adik saya saat ini sudah kembali bersekolah, dia memang anak yang kuat dan tidak cengeng tuan. Itu yang saya suka dari Celine," jawab Keenan.
"Syukurlah!" Albert tersenyum lalu duduk di kursinya dan mengusap-usap wajahnya seperti orang yang sedang tertimpa masalah besar.
"Sebenarnya tuan Albert ada masalah apa ya? Saya mau tanya gak enak, takut dikira ikut campur. Tapi, saya agak kasihan juga sama tuan Albert karena kelihatannya dia sedang dilanda masalah besar." gumam Keenan dalam hati.
Albert memang cukup kesulitan untuk melupakan perkataan Vanesa tadi, ia sungguh tak menyangka kalau selama ini bayi tersebut masih ada di dalam kandungan Vanesa.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...