
Nadira pulang ke rumah dengan perasaan sedih, ia bahkan menangis saat turun dari mobil memasuki rumahnya.
Nadira masih tak habis pikir dengan tingkah Albert yang sudah berbohong padanya, kini dirinya pun sangat kecewa pada Albert dan merasa kalau Albert hanya mempermainkannya.
Abigail yang kebetulan berada di ruang depan, tak sengaja melihat Nadira datang dalam keadaan menangis. Ia pun menghampirinya dan bertanya mengenai penyebab wanita itu menangis.
"Nadira, kamu kenapa nangis sayang? Siapa yang udah bikin kamu nangis? Bilang sama mama!" ucap Abigail dengan wajah paniknya.
"Mah, mama gak perlu khawatir! Aku nangis bukan karena siapa-siapa kok, aku cuma sedih aja karena tuan Albert ternyata bohong sama aku selama ini. Aku ngerasa tuan Albert emang gak anggap aku sebagai istrinya, karena dia gak pernah jujur ke aku!" jawab Nadira.
"Sabar sayang, tenang dulu ya! Kita duduk dulu, kamu ceritakan semuanya secara rinci ke mama! Yang paling penting kamu jangan kebawa emosi, itu cuma bikin kamu tambah sakit nantinya!" ucap Abigail merangkul Nadira.
"Enggak mah, aku mau ke kamar aja. Aku pengen tenangin diri aku dulu!" ujar Nadira.
"Oh gitu, yaudah kalau emang itu mau kamu ya terserah kamu aja. Mama antar kamu ke kamar ya?" pinta Abigail.
"Gak perlu, mah. Aku bisa jalan sendiri kok. Aku kan gak kenapa-napa," tolak Nadira.
"Udah gapapa sayang, mama anterin kamu sampai ke kamar supaya kamu baik-baik aja! Mama khawatir kalau kamu jalan sendirian dalam keadaan emosi seperti ini," ucap Abigail memaksa.
"Iya mah," ucap Nadira akhirnya menurut.
Mereka pun jalan bersamaan menuju kamar Nadira, Abigail terus berpikir apa kiranya yang menyebabkan Nadira sampai menangis seperti itu.
"Aduh Albert Albert! Kamu apakan lagi istri kamu ini? Kenapa kamu selalu aja sakiti Nadira? Padahal mama lihat kalau Nadira tulus sama kamu, tapi kamu gak pernah anggap dia!" batin Abigail.
Setibanya di kamar, Abigail pun membantu Nadira berbaring di atas ranjangnya dengan perlahan.
"Sayang, kamu yakin mau istirahat sendiri? Gak pengen mama temenin kamu disini?" tanya Abigail sembari mengusap punggung Nadira.
"Aku yakin mah! Aku cuma mau istirahat sebentar kok, supaya aku gak semakin emosi karena ingat ulah tuan Albert." kata Nadira.
"Yasudah, nanti begitu kamu sudah membaik, mama siap kok buat dengar cerita kamu." ujar Abigail.
"Makasih mah!" ucap Nadira singkat.
"Kalo gitu mama keluar ya? Istirahat yang cukup!" ucap Abigail mengelus puncak kepala Nadira.
Nadira mengangguk pelan, Abigail kembali memberikan kecupan hangat pada kening Nadira dan mengusapnya lembut. Lalu, Abigail juga menarik selimut menutupi tubuh Nadira dan tersenyum singkat sebelum meninggalkannya.
Setelah dipastikan Nadira baik-baik saja, Abigail keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Ia berdiri sejenak di depan pintu memikirkan perkara apa yang membuat Nadira sesedih itu.
"Apa yang kamu lakukan Albert?" gumamnya.
"Mama? Mama lagi ngapain?" Chelsea tiba-tiba muncul mengagetkan Abigail yang sedang termenung.
"Ya ampun Chelsea, kamu itu kagetin mama aja deh!" geram Abigail.
"Maaf mah! Aku kan cuma penasaran. Lagian mama ngapain sih berdiri di depan kamar kak Albert? Ada masalah apa lagi?" tanya Chelsea terheran-heran.
"Itu loh, barusan ipar kamu pulang sambil nangis-nangis. Mama yakin ini ulah kakak kamu, mama heran sama dia kenapa sih selalu aja sakiti Nadira!" jawab Abigail.
"Oalah Nadira lagi Nadira lagi, ngapain sih mama urusin Nadira terus? Malah kayaknya mama lebih perduli sama Nadira dibanding aku, sebenarnya yang anak mama itu aku atau Nadira sih?" geram Chelsea.
"Sudahlah Chelsea, mama lagi malas berdebat sama kamu! Sekarang mama harus hubungi kakak kamu dan tanya langsung ke dia!" ujar Abigail.
Abigail pun pergi begitu saja meninggalkan Chelsea untuk menghubungi Albert, Chelsea pun tampak geram dan menginjak-injak lantai dengan ekspresi kesalnya.
•
•
Disisi lain, Albert masih sibuk dengan urusan kerjaan di kantornya, ia merasa cukup kewalahan setelah tidak adanya sang sekretaris disana.
Biarpun begitu, Albert tampak mampu mengerjakan semuanya walau ia harus lembur sampai sore hari seperti ini.
TOK TOK TOK...
__ADS_1
"Masuk!" Albert memerintahkan siapapun yang ada di luar itu untuk masuk ke dalam ruangannya.
Ceklek...
"Permisi pak!" pintu terbuka lalu muncullah sosok Keenan yang baru tiba di perusahaan itu, Keenan melangkah mendekati Albert dengan perlahan dan kedua tangan ia tempatkan di depan tubuhnya.
"Keenan? Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan sosok pengganti Vanesa?" tanya Albert pada asistennya.
"Sudah tuan. Saya juga sudah membawa berkas milik calon sekretaris baru di perusahaan ini, yang akan saya serahkan ke bagian HRD setelah melapor pada tuan. Saya cukup yakin tuan, kalau anak ini bisa membantu kita memulihkan kembali kondisi perusahaan!" jawab Keenan.
"Baguslah! Mana coba saya mau lihat berkas calon sekretaris saya itu!" pinta Albert.
"Baik tuan, ini dia berkasnya!" ujar Keenan.
Keenan pun menyodorkan sebuah berkas yang berisi data diri calon sekretaris disana, tentu saja Albert langsung membukanya karena ia sudah sangat penasaran.
"Waw! She's very beautiful!" Albert seketika terkagum-kagum saat melihat foto wanita yang ada di cv tersebut.
"Sudahlah, ini sudah fix tidak perlu kamu laporkan lagi ke bagian HRD! Saya yakin dia memang pantas bekerja disini!" sambungnya.
"Tapi tuan, tuan kan baru melihat fotonya saja. Bagaimana bisa tuan menyimpulkan seperti itu? Apa tuan adalah orang yang bisa menilai kemampuan seseorang melalui fotonya?" ucap Keenan terheran-heran.
"Ya itu kamu tahu. Sudah, jangan bantah saya! Sekarang kamu hubungi wanita ini dan bilang ke dia, kalau besok dia sudah bisa datang kesini untuk bertemu dengan saya!" titah Albert.
"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.
"Oh ya, nama dia siapa?" tanya Albert bingung.
"Eee disitu kan lengkap tuan, namanya ada tanggal lahirnya ada, sampai nomor teleponnya juga ada kok." jawab Keenan.
"Iya iya... saya lupa kalau berkasnya sedang saya pegang," ujar Albert nyengir.
Keenan geleng-geleng kepala melihat tingkah bosnya itu, ia tak mengira Albert masih bersikap seperti itu padahal beliau sudah memiliki seorang istri yang cantik dan seksi.
"Carolina Angeline?" Albert bergumam sambil menggigit bibir bawahnya saat menyebutkan nama calon sekretarisnya itu.
Drrttt..
Drrttt...
Getaran ponselnya membuyarkan lamunan Albert mengenai Carolina, pria itu pun tampak geram sembari melirik ke arah ponselnya.
Terpampang nama mamanya disana yang membuat Albert bergegas mengangkat telpon itu walau ia sedang sibuk.
📞"Halo mah! Ada apa telpon Albert?" tanya Albert penasaran.
📞"Halo! Kamu dimana sekarang? Kenapa belum pulang juga?" ucap Abigail dengan nada panik.
📞"Albert masih di kantor, mah. Ini banyak kerjaan yang harus aku urus. Emangnya ada apa sih, mah? Mama kok kedengaran panik begitu suaranya?" ucap Albert sangat penasaran.
📞"Iya Albert, barusan Nadira pulang ke rumah sambil nangis. Dia sebut-sebut soal kebohongan kamu, tapi mama juga gak ngerti kebohongan apa. Mending kamu pulang sekarang, terus bujuk dia supaya gak nangis terus!" jelas Abigail.
📞"Apa? Nadira pulang nangis-nangis? Kok bisa sih mah?" Albert terkejut bukan main mendengarnya.
•
•
"Kenapa kamu begitu tega, Albert? Kamu bukan hanya menyakiti fisik aku, tapi juga batin ku. Bisa-bisanya kamu berbohong soal kehamilan Vanesa!" gumam Nadira dalam hati.
"Hiks hiks..." wanita itu terus menangis sesenggukan dengan selimut yang ia gunakan sebagai lap.
Seketika Nadira teringat dengan perlakuan Albert selama ini padanya, dari situ ia belajar bahwa Albert memang tidak pernah sekalipun menyayanginya, karena semua yang Albert lakukan semata-mata hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.
"Apa keputusan aku untuk tetap bertahan disini itu salah? Memang seharusnya aku tidak kembali ke tempat ini, tempat yang bisa dikategorikan sebagai neraka bagiku!" batinnya.
Tiba-tiba saja sebuah balon berwarna biru muncul di jendela kamarnya, membuat Nadira keheranan dan penasaran siapa yang mengirim balon itu ke kamarnya.
__ADS_1
Nadira pun beranjak dari kasur, mendekat ke arah jendela untuk melihat balon apakah itu.
Wanita itu membuka jendela, melihat ke bawah serta kanan dan kiri untuk memastikan apakah ada orang atau tidak, namun di sekelilingnya kosong tidak ada siapapun.
"Siapa sih yang iseng terbangin balon beginian?" ujarnya penasaran.
Akhirnya Nadira mengambil balon tersebut, ia melihat sepucuk surat menempel pada balon itu. Karena penasaran, Nadira mengambil surat itu dan berniat membacanya untuk mencari tahu siapa pengirim balon itu.
Nadira cantik, aku minta maaf ya sama kamu! Bukan maksud aku buat bohongi kamu, aku hanya ingin bisa terus bersama kamu tanpa ada kendala apapun. Kalau kamu mau maafin aku, pasti aku bakal berusaha buat sayangi kamu sepenuhnya! Jangan nangis lagi ya cantikku!
Begitu membaca isi surat tersebut, Nadira pun sudah yakin bahwa itu adalah pemberian dari Albert.
"Ngapain sih tuan Albert pake kirim surat segala? Harusnya kalau mau minta maaf, kan dia temuin aku langsung! Buat apa pake balon segala kayak gini? Kuno banget!" ujarnya heran.
Tak lama kemudian, segerombolan balon memasuki kamarnya melalui jendela dengan beragam hadiah yang terikat pada balon tersebut, seperti coklat, es krim, kue, bahkan sebungkus seblak.
Nadira tampak keheranan saat balon-balon itu muncul di kamarnya.
"Hah? Ini kenapa banyak banget balon sih? Bawain makanan juga lagi, dan semuanya makanan kesukaan aku. Oh pasti ini ulah tuan Albert juga, dikiranya aku bakal kebujuk apa!" gumamnya.
Ceklek...
"Kalaupun kamu gak kebujuk, saya mau coba minta maaf lagi secara langsung sama kamu!" Nadira terkejut bukan main saat pintunya terbuka dan terlihat sosok Albert masuk ke dalam kamarnya membawa sebuah balon berbentuk love.
"Tuan?" Nadira berdiri menatap ke arah Albert dengan wajah heran yang seketika berubah menjadi kebencian.
"Saya tahu kamu marah sama saya, karena saya sudah bohong mengenai kehamilan Vanesa. Tapi, itu semua saya lakukan untuk bisa kembali bersama kamu Nadira. Lagipun, awalnya saya juga belum mengetahui bahwa Vanesa masih mengandung, bahkan baru tadi pagi wanita itu jujur sama saya." kata Albert.
"Kamu pikir aku bisa percaya lagi sama kata-kata kamu tuan? Enggak lah, seseorang yang sudah dibohongi tidak akan mudah untuk percaya lagi dengan orang yang membohonginya!" ujar Nadira.
"Saya tidak bohong Nadira! Memang itu semua yang terjadi saat ini. Tolong kamu percaya dan maafkan saya! Saya akan lakukan apapun untuk bisa mendapat maaf dari kamu, silahkan kamu katakan saja apa yang kamu inginkan Nadira!" ucap Albert.
"Enggak tuan, aku gak pengen apa-apa. Aku cuma minta kamu jujur sama aku, jangan bohongi aku kayak gini! Aku juga gak akan marah kok kalau tahu Vanesa masih hamil, tapi kamu malah bohong begitu!" ujar Nadira kesal.
"Iya Nadira, saya minta maaf ya sama kamu! Tapi jujur, saya juga belum tahu kebenaran itu. Saya kira Vanesa sudah benar-benar menggugurkan bayi di kandungannya, tapi ternyata enggak. Tolong kamu percaya sama aku kali ini!" ucap Albert.
"Sudahlah tuan, aku lagi malas berdebat sekarang!" ucap Nadira membuang muka.
"Kamu jangan begini lah!" Albert maju menarik tangan Nadira dan menggenggamnya. "Kita bicarakan ini baik-baik ya! Terima juga balon dari saya ini!" sambungnya.
"Buat apa sih kamu kasih aku banyak balon? Aku gak suka balon!" ujar Nadira.
"Balon ini melambangkan perasaan saya ke kamu, Nadira. Kamu lihat kan bentuk balon ini? Ya, ini balon cinta yang artinya saya cinta sama kamu. Saya sayang sama kamu. Sudah dari lama sebetulnya saya ingin mengatakan ini, tapi saya terlalu gengsi." kata Albert.
Nadira terdiam memandangi balon cinta yang kini sudah berada di tangannya, ia tak percaya kalau Albert akan menyatakan cintanya disaat seperti ini.
"Bisa-bisanya kamu bohong lagi sama aku! Aku lagi marah loh sama kamu, tapi kamu malah bohongi aku dan berharap kalau aku bisa percaya sama kamu. Dengar ya tuan, aku gak mudah percaya lagi sama tuan!" geram Nadira.
"Apa sih Nadira? Saya jujur kok, saya cinta sama kamu! Dan saya tahu, kamu juga sudah mencintai saya kan? Sekarang kita sama-sama mengaku aja, kalau kita saling mencintai." ucap Albert.
"Hah? Aku gak cinta sama kamu, jangan kege'eran deh!" ujar Nadira mengelak.
Albert tersenyum smirk, menarik wajah Nadira untuk menatapnya dan mengelus bibirnya yang manis itu dengan lembut.
"Saya tahu kok, wajah kamu gak bisa bohong kalau kamu juga mencintai saya. Kamu mau gak ikut sama saya keluar? Saya ingin mengulang lagi semuanya dari awal, karena saya ingin membahagiakan kamu!" ucap Albert.
"Maaf tuan! Aku—"
"Sssttt! Saya mau kamu ikut dengan saya! Untuk urusan Vanesa hamil, kamu lupakan dulu itu! Saya mau kita memulai lembaran baru sebagai sepasang suami-istri yang saling mencintai, bukan lagi sebagai tuan dan pelayan! Kamu pasti juga mau begitu kan?" potong Albert.
"Gimana bisa aku lupain masalah Vanesa? Dia itu lagi hamil tuan, kasihan dia! Kamu gak bisa semena-mena begitu dong sama Vanesa, yang dia kandung itu kan anak kamu!" tegas Nadira.
"Iya, saya tahu. Tapi, itu kita bahas nanti aja! Sekarang saya mau fokus bahagiakan kamu dulu, karena kamu istri saya. Oh ya satu lagi, mulai saat ini jangan panggil saya tuan lagi! Panggil saya mas, dan anggap saya sebagai suami kamu!" ujar Albert.
Nadira terperangah mendengarnya, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...