
Nadira berada di mobil bersama pria yang sudah menolongnya sebelumnya, ia merasa sedikit lega walaupun belum sepenuhnya karena saat ini pun ia masih belum pulang ke rumah.
"Nadira, kamu mau makan apa enggak? Pasti kamu lapar kan?" tanyanya pada Nadira.
Akan tetapi, Nadira tak mendengarnya karena ia sedang asyik melamun memikirkan Albert alias suaminya.
Nadira sangat ingin bertemu dengan Albert saat ini, ia tak mau membuat suaminya itu cemas karena ia belum pulang ke rumah.
"Nadira!" pria itu menegurnya dengan suara yang sedikit lebih keras dan membuat Nadira terkejut.
"Ah iya, maaf maaf aku gak dengar kamu ngomong apa!" ucap Nadira agak kaget.
"Iya gapapa kok, tadi aku ajakin kamu makan malam. Kamu mau apa enggak Nadira?" ucapnya dengan lembut.
"Oh kayaknya gausah deh, kamu tolong antar aku pulang ke rumah aja ya! Ini udah terlalu malam, aku khawatir suamiku udah nungguin." kata Nadira.
"Kamu segitunya ya sama suami kamu itu? Sampai gak mau makan malam dulu sama aku, padahal kamu kan lapar." ujarnya.
"Aku kan bisa makan di rumah, lagipun emang udah seharusnya seorang istri itu makan sama suaminya di rumah bukan dengan orang lain di luar." ucap Nadira.
"Yaudah lah, aku gak bisa paksa kamu lagi. Oke, kali ini aku bakal antar kamu pulang." ucapnya.
"Makasih ya Cakra!" ucap Nadira tersenyum.
"Sama-sama sayang," ucap pria yang tak lain ialah Cakra sembari menoleh ke arah Nadira.
#Flashback
"Hah? Balikin hp aku!" teriak Nadira berusaha mengambil ponselnya kembali.
Pria itu hanya tersenyum, Nadira yang melihatnya amat terkejut dan mulai terbelalak disertai mulut menganga.
"Kamu...??" Nadira syok saat menyadari bahwa yang ada di depannya adalah Cakra.
"Iya, ini aku Nadira. Kamu gak perlu takut lagi ya! Sekarang kamu udah aman kok, jadi kamu mending ikut aku dan kita segera pergi dari sini! Karena ada orang yang lagi incar kamu sayang," ucap Cakra.
"Siapa?" tanya Nadira penasaran.
"Nanti aku ceritain ke kamu di mobil, sekarang yang penting kita pergi dulu!" jawab Cakra.
"Iya iya.." ucap Nadira mengangguk setuju.
Nadira pun mau ikut bersama Cakra karena tidak ada pilihan lain baginya saat ini, ya tak mungkin Nadira menolak dan tetap disana karena itu bisa sangat membahayakan dirinya.
Mereka berdua pun masuk ke mobil Cakra yang berada di dekatnya, Cakra menatap Nadira dan memasangkan sabuk pengaman di tubuh wanita itu sembari sesekali mengelus wajahnya.
"Jangan sentuh-sentuh aku ya! Kamu tahu kan aku sekarang udah punya suami?" ucap Nadira menjauh dari Cakra.
"Iya, maaf ya Nadira! Aku tadi cuma reflek, abisnya wajah kamu itu enak buat dielus." kata Cakra.
"Eee yaudah, bisa gak kita lanjut jalan sekarang? Aku penasaran sama siapa orang yang lagi incar aku, katanya kamu tahu kan?" ucap Nadira.
"Iya, aku tahu kok." ucap Cakra.
"Jadi, siapa orangnya?" tanya Nadira penasaran.
Cakra tersenyum, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang pergi dari daerah itu.
"Kamu beneran mau tahu siapa orang yang ngincer kamu?" tanya Cakra pada Nadira.
"Jelas lah, cepetan kasih tahu!" jawab Nadira.
"Sabar dong sayang! Jadi tuh gini, sebenarnya aku udah tahu rencana orang ini yang sengaja pancing kamu buat pergi keluar dari rumah. Dan supir taksi tadi yang kamu tumpangi, itu juga dibayar sama orang yang pengen culik kamu." jelas Cakra.
"Apa? Terus, siapa sebenarnya orang itu Cakra? Kasih tahu aku dong!" ujar Nadira.
"Chelsea, adiknya Albert alias suami kamu. Dia yang udah rencanain ini semua, jadi kamu harus hati-hati sama dia!" ucap Cakra.
"Hah??" Nadira terkejut mendengarnya.
#Flashback end
•
•
Albert keluar begitu mendengar suara mobil yang datang, ternyata bener dugaannya bahwa mobil itu adalah milik Chelsea alias adiknya yang ia tunggu sedari tadi.
Chelsea turun dari mobilnya, wajahnya seketika berubah terkejut saat mengetahui ada Albert yang sudah menunggu disana.
"Eh kakak.." ujar Chelsea sambil tersenyum.
"Iya, darimana aja kamu? Kenapa ajak pergi Nadira gak bilang-bilang dulu sama kakak?" ucap Albert.
"Kak, tenang dulu ya jangan emosi!" pinta Chelsea.
__ADS_1
"Kakak gak akan emosi, kalau kamu kasih tahu ke kakak sekarang dimana Nadira! Dan kenapa Nadira gak ikut pulang sama kamu?" tegas Albert.
"Eee itu dia kak, tadi tuh mbak Dira minta pulang duluan pas kita sampe di salon. Aku juga gak tahu alasannya apa, tapi kayaknya sih dia bete gitu." jawab Chelsea.
"Apa? Pulang duluan gimana? Orang daritadi Nadira juga belum sampai kok!" ujar Albert.
"Belum sampai, masa sih kak? Tapi, dia udah pulang daritadi loh. Malahan pas banget kita baru sampai di salon, mbak Dira tuh langsung minta pulang. Aku udah berusaha tahan dia, tapi dia tetap kekeuh mau pulang dan akhirnya dia naik taksi buat pulang kesini." ucap Chelsea.
"Kamu ini gimana sih Chelsea? Pokoknya kakak gak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas ini semua! Nadira sekarang belum pulang juga, itu semua gara-gara kamu yang ajak dia pergi tanpa seizin kakak!" tegas Albert.
"Kak, iya iya aku minta maaf karena aku gak izin dulu sama kakak! Tapi, dia pulang duluan itu kan bukan kesalahan aku dong!" ucap Chelsea.
"Bukan kesalahan kamu gimana? Jelas-jelas itu salah kamu! Harusnya kamu bisa tahan dia supaya gak pergi sendirian, gimana sih?! Pokoknya kamu harus tanggung jawab!" bentak Albert.
"Tanggung jawab gimana kak?" tanya Chelsea.
Albert langsung mencengkeram tangan Chelsea dan menariknya menuju mobil.
"Ayo kamu ikut kakak!" paksa Albert.
"Awhh kak sakit kak, pelan-pelan dong jangan kasar kayak gini! Kakak mau bikin tangan aku patah ya?" ujar Chelsea.
"Udah diem kamu! Kamu itu harus tanggung jawab!" tegas Albert.
"Albert!" tiba-tiba saja Abigail muncul disana dan coba menghentikan perlakuan Albert terhadap adiknya itu.
"Kamu ini apa-apaan? Mau dibawa kemana adik kamu, ha?" tanya Abigail sedikit kesal.
"Mah, aku harus minta dia buat tanggung jawab! Karena gara-gara dia, sekarang Nadira gak tahu ada dimana. Jadi, tolong mama jangan belain Chelsea untuk saat ini!" jawab Albert.
"Maksud kamu? Bukannya tadi Nadira itu pergi sama Chelsea? Kenapa bisa sekarang Chelsea pulang sendirian?" tanya Abigail heran.
"Itu dia mah, anak ini udah ngebiarin Nadira buat pulang sendiri. Makanya aku mau bawa dia buat cari Nadira ke luar sana!" jawab Albert tegas.
"Iya iya Albert, mama ngerti kamu marah sekarang. Tapi, ya kamu jangan kasar gitu lah sama adik kamu! Kalian kan bisa cari Nadira bareng-bareng tanpa harus pakai kekerasan, kasihan juga Chelsea sayang!" pinta Abigail.
"Tuh kak, dengerin kata mama!" rengek Chelsea.
"Diam kamu!" tegas Albert.
"Yaudah, ayo sekarang kamu masuk ke mobil kakak! Kita cari Nadira sampai ketemu!" sambungnya sembari menarik Chelsea ke dalam mobilnya.
Chelsea pasrah saja saat dipaksa masuk ke mobil oleh Albert, begitupun Abigail yang hanya bisa berdiam diri disana.
"Iya mah," ucap Albert singkat kemudian masuk ke dalam mobilnya dan segera melaju pergi.
•
•
Sementara itu, Nadira dan Cakra telah tiba di depan rumah Albert.
Cakra sengaja menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah tersebut agar ia dapat berbicara dengan Nadira walau sebentar.
"Nadira, kita udah sampai. Kamu ingat ya sama pesan aku tadi, kamu harus hati-hati dengan Chelsea! Dia itu bisa jadi musuh dalam selimut buat kamu, dan dia bisa lukain kamu kapanpun dia mau." kata Cakra.
Nadira menoleh ke arah Cakra dan berkata, "Iya Cakra, aku bakal ingat kok. Makasih ya karena kamu udah tolongin aku dan antar aku pulang sampai kesini."
"Sama-sama sayang," ucap Cakra.
"Yaudah ya, aku harus turun sekarang. Aku takut mas Albert udah keburu pulang dan cemas kalau aku gak ada di rumah," ucap Nadira.
"Oke! Salam ya buat suami kamu itu!" ucap Cakra.
"Iya, pasti aku salamin kok!" ucap Nadira tersenyum.
"Hati-hati!" ucap Cakra singkat.
Nadira mengangguk pelan, kemudian turun dari mobil itu dan segera melangkah menuju ke dalam halaman rumah.
Namun, belum sempat Nadira masuk ternyata pintu gerbang sudah terbuka dan tampak mobil sang suami yang keluar dari dalam sana.
Sontak saja Nadira terheran-heran melihatnya, ia penasaran hendak kemana Albert pergi malam-malam begini.
Sementara Chelsea yang melihat keberadaan Nadira langsung saja mengatakan itu kepada Albert sembari menunjuk ke arah Nadira di luar sana.
"Kak, itu mbak Dira kak!" ucap Chelsea pada Albert di dalam mobil.
"Oh iya, yaudah kita turun dulu disini! Baru abis itu nanti kakak bakal hukum kamu!" ujar Albert.
"Loh, mbak Dira kan udah pulang tuh. Dia juga gak kenapa-napa, masa aku masih mau dihukum juga sih kak?" ucap Chelsea.
"Biarin aja. Udah yuk ikut turun!" ucap Albert.
"Iya iya.." ucap Chelsea pasrah.
__ADS_1
Mereka pun turun dari mobil, Albert langsung menghampiri Nadira begitu juga dengan Nadira yang mendekat ke arah suaminya.
"Nadira!" Albert yang panik langsung saja memeluk Nadira erat seakan tak mau melepasnya. "Ya ampun sayang! Kamu itu darimana aja sih? Saya khawatir loh sama kamu sayang!" sambungnya.
Albert melepas pelukannya, menangkup wajah Nadira dan mengecupnya berkali-kali.
"Mas, maafin aku ya udah bikin kamu khawatir! Tadi aku pergi gak bilang dulu sama kamu, aku bener-bener nyesel!" ucap Nadira merasa bersalah.
"Gapapa sayang, aku udah tahu ceritanya kok. Chelsea kan yang paksa kamu buat ikut sama dia ke salon?" ucap Albert.
"I-i-iya mas, tapi itu juga karena aku yang emang pengen bikin kamu senang. Selama ini aku kan jarang ke salon mas, siapa tahu kalau aku nyalon kamu bisa lebih senang sama aku." kata Nadira.
"Hey sayang! Kamu salah bilang begitu! Biarpun kamu gak pergi ke salon, saya udah senang kok sama kamu. Karena penampilan kamu itu beda dari yang lain, dan saya suka itu!" ucap Albert.
Nadira tersenyum disertai wajah yang memerah, Albert kembali memeluknya erat dan mengusap punggungnya.
"Jangan pernah begini lagi ya!" ucap Albert.
"Iya mas, aku janji!" ucap Nadira.
Chelsea merasa lega setelah melihat Nadira pulang dengan keadaan baik-baik saja, karena sebelumnya ia sempat cemas mengingat Nadira hampir dibawa oleh Harrison dan Vanesa.
Tanpa disadari oleh mereka, Cakra keluar dari mobilnya dan menghampiri sepasang suami-istri itu sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Wah wah, so sweet nya! Aku jadi iri lihat kemesraan kalian," ujar Cakra.
Sontak Albert reflek melepas pelukannya, lalu mengarahkan pandangan ke tempat Cakra berdiri dan menatapnya tajam.
"Anda lagi, mau apa sih anda ini?!" ujar Albert.
"Mas, jangan marah-marah dulu! Cakra ini yang udah tolong aku di jalan tadi!" ucap Nadira.
"Hah? Tolong gimana maksud kamu? Emangnya kamu kenapa sayang?" tanya Albert cemas.
"Eee iya mas, jadi tadi tuh aku kan pulang duluan dari salon. Terus aku cegat taksi tuh, eh ternyata supir taksinya malah mau begal aku. Untung aja aku bisa kabur dari dia! Abis itu, aku ketemu Cakra dan dia yang anterin aku sampe kesini." jelas Nadira.
"Dengar kan? Makanya lain kali tuh jangan suudzon dulu sama orang, gini-gini saya juga perduli kali sama Nadira!" ucap Cakra.
"Baiklah, terimakasih karena sudah menolong istri saya! Sekarang anda bisa pergi, sudah tidak ada keperluan lagi kan?" ucap Albert.
"Mas, jangan begitu dong sama Cakra! Dia kan udah bantu aku," bisik Nadira.
"Apa sih sayang? Aku kan cuma minta dia pulang, emang salah?" tanya Albert bingung.
"Enggak kok, tapi jangan gitu juga! Itu sama aja kamu usir dia tau!" jawab Nadira.
Albert menggelengkan kepalanya, sedangkan Cakra justru tersenyum smirk dan merasa senang karena Nadira membelanya kali ini.
•
•
Keenan dan Andri mendatangi tempat Darius disekap oleh Albert di sebuah gudang yang kosong alias tak ada pemiliknya itu.
Terlihat kalau Darius tengah terpuruk dalam sebuah alat pasung yang sudah dipasang sebelumnya oleh anak buahnya.
"Hahaha, apa kabar pak? Baik-baik aja kan? Gak digerayangi tikus atau kecoak?" ujar Keenan.
Darius langsung melirik tajam ke arah Keenan dengan emosi yang sudah menggebu-gebu akibat perbuatan pria itu.
"Mau apa kamu Keenan?!" ucap Darius lemah.
"Tenang saja pak! Saya datang kesini justru ingin memberi keringanan untuk anda, supaya anda tidak perlu lagi terikat di papan yang lebar ini." kata Keenan sambil tersenyum.
"Apa maksud kamu?" tanya Darius bingung.
"Iya pak, saya ingin memberi keringanan buat bapak. Tapi, tentunya dengan satu syarat." ucap Keenan.
"Apa itu?" tanya Darius penasaran.
"Paman harus katakan kepada saya, dimana keberadaan Vanesa dan Harrison!" jawab Keenan.
Darius terkejut, membelalakkan matanya disertai mulut yang terbuka.
"Kamu sudah gila ya? Saya tidak akan pernah beritahu kamu dimana mereka tinggal!" ujar Darius.
"Oh begitu, berarti bapak gak mau bebas dong? Apa bapak mau disini terus sampai ajal menjemput?" ujar Keenan.
"Sudahlah pak, katakan saja pada saya sekarang! Dengan begitu, bapak akan aman dan diantara kita tidak ada masalah lagi nantinya." sambungnya.
Darius terdiam dan mulai berpikir.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1