
Albert dan Nadira masih sama-sama asyik memakan donat di kamar, mereka tampak saling suap menyuapi layaknya pasangan suami-istri pada umumnya, sikap Albert kali ini memang benar-benar romantis sehingga membuat Nadira merasa seperti diperhatikan oleh suaminya itu.
Lalu, tiba-tiba saja Albert terdiam bengong memandangi sisi wajah dari dengan tatapan tak asing bagi Nadira, ya wanita tahu bahwa biasanya Albert akan marah jika sudah memberikan tatapan seperti itu padanya.
"Tu-tuan, kenapa tuan tatap saya begitu? Apa saya ada salah sama tuan? Oh atau karena saya udah lancang suapin donat ke mulut tuan?" tanya Nadira sangat ketakutan dan gugup.
"Enggak, itu di bibir kamu ada coklat bekas meses! Kamu makan belepotan gitu kayak anak kecil, saya jadi gemas ngeliatnya!" jawab Albert sambil terkekeh kecil.
"Hah? Duh, maaf ya tuan! Tapi, kan tuan yang suapin donatnya ke saya tadi!" ucap Nadira.
"Iya sih, berarti saya yang salah ya?" ujar Albert.
"Enggak kok, bukan salah tuan! Saya aja yang gak bisa makan dengan benar, begini aja pake belepotan segala!" ucap Nadira tersenyum.
Nadira pun mengambil tisu di atas meja dan hendak membersihkan noda itu, akan tetapi Albert mencekal lengannya seakan tak mengizinkan wanita itu untuk membersihkan bibirnya.
"Jangan!" tegas Albert seraya mencengkeram kuat lengan Nadira hingga wanita itu meringis.
"Awhh kenapa tuan?" tanya Nadira tak mengerti.
"Biar saya yang lakukan itu, taruh lagi tisu nya di meja!" jelas Albert.
"Tu-tuan serius?" tanya Nadira heran.
"Emangnya muka saya kelihatan lagi bercanda? Ayo cepat taruh tisu itu di meja, biar saya yang bersihin mulut kamu!" tegas Albert.
"Ba-baik tuan! Tapi, lepasin dulu!" ucap Nadira.
"Good girl!" Albert tersenyum seringai.
Nadira meletakkan kembali tisunya di meja, lalu menatap wajah Albert dengan sedikit menunduk karena bingung, ia tak mengerti mengapa Albert tiba-tiba ingin membersihkan mulutnya.
"Sekarang biarkan saya yang bersihin mulut kamu, dengan lidah saya!" ucap Albert.
Pria itu mendekat, membuat detak jantung Nadira semakin tak karuan. Wanita itu seakan tak percaya jika Albert ingin menyentuh bibirnya, tangan Albert mulai menarik dan menahan dagu Nadira, lalu perlahan memajukan wajahnya mendekati bibir Nadira yang sensual itu.
Cupp!
Ia mengecupnya lembut, menyesap setiap area bibir yang indah itu dengan lidahnya, membersihkan segala macam noda yang ada disana sambil menikmatinya, ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi semakin panas.
Nadira hanya bisa diam memejamkan mata, ia tak bisa berbohong kalau dirinya sangat menikmati tiap kali Albert mencium bibirnya, walau ia selalu berusaha untuk menghindar karena tidak mau bibirnya disentuh oleh pria itu.
Albert pun menekan tengkuk Nadira, memperdalam ciumannya dengan tangan yang lain terus menggerayangi tubuh Nadira, meremass dada hingga bagian bawah wanita itu.
Suara decakan bibir mereka mulai terdengar, perlahan Nadira juga membalas ciuman Albert dan kini suasana di kamar itu berubah menjadi panas, walaupun AC sudah menyala.
"Saya menyukai ini, ini enak Nadira!" batin Albert.
Semakin lama lumatann itu semakin panas dan menggairahkan, Albert kini menaruh tubuh istrinya di atas ranjang tanpa melepaskan pagutannya.
"Oh akhirnya saya bisa merasakan kenikmatan ini lagi...."
Albert melepas bibirnya, mengakhiri ciuman panas itu karena ia merasa Nadira membutuhkan oksigen setelah nafasnya mulai tak karuan, ia pandangi terus wajah istrinya yang kini berada dalam kungkungan nya itu seraya mengusap lembut kening serta wajah Nadira.
Cupp!
Satu lagi kecupan di bibir manis Nadira, membuat pria itu tersenyum dibalas oleh Nadira yang juga merasa senang karena ia sangat merindukan sentuhan dari sang suami.
"Mau lanjut?" tanya Albert dengan nada menggoda.
Ya sebenarnya pria itu hanya pura-pura saja bertanya seperti itu, karena walaupun Nadira menolak pastinya ia akan tetap menancap gas menyetubuhi Nadira yang seksi itu.
Nadira pun mengangguk disertai senyum yang terpampang di bibirnya, ia tak ada pilihan lain karena memang dirinya pun merindukan sentuhan Albert yang telah lama tidak ia rasakan itu.
Tanpa sengaja tangan Nadira menyenggol junior Albert yang sudah mengeras di bawah sana, hingga membuat pria itu mengulum senyum.
"Kamu mulai nakal ya?" goda Albert.
"Ma-maaf tuan! Saya gak sengaja, saya cuma mau tarik tangan saya!" ucap Nadira gugup.
"Gapapa, saya suka kok!" ucap Albert tersenyum.
Cupp!
Albert mengecup leher Nadira, menggigit dan menjilatinya dengan penuh gairah. Ia tinggalkan banyak bekas disana, sehingga leher Nadira kini dipenuhi oleh tanda merah miliknya.
Tangan-tangannya juga terus bergerak mencari apa yang bisa mereka genggam, mulai dari dua gundukan kenyal sampai inti sensitif Nadira di bawah sana sudah berhasil dijelajahi oleh tangan nakal Albert itu.
Sreekkk...
__ADS_1
Dengan cepat Albert merobek baju yang dikenakan Nadira tanpa ampun, hingga hanya menyisakan dalaman yang menutupi bagian dada serta bawah Nadira.
Albert kembali melumatt bibir Nadira dengan rakus, tangan-tangannya juga meremass gundukan Nadira yang masih terbungkus itu.
Albert melepas penutup pada dada Nadira, hingga dua gunung itu terekspos dengan jelas di mata Albert, ya tentu saja ia langsung meraup nya dengan ganas seperti bayi kelaparan.
"Eeuungghh..." desahh Nadira saat mendapati suaminya sangat lihai memainkan titik tengah di dadanya itu.
Saat hendak berganti posisi, kaki Albert tak sengaja menyenggol meja kecil yang ada di samping ranjangnya, hingga membuat sesuatu terjatuh dari sana.
Braakkk...
Karena penasaran, Albert pun menghentikan kegiatannya sejenak walau ia sangat kesal. Ia melihat sebuah testpack tergeletak di atas lantai.
"Apa itu?" ujarnya.
Nadira yang menyadarinya, berusaha untuk membuat Albert tetap bersamanya.
"Tuan, udah biarin aja! Mending kita lanjut yuk!" ucap Nadira.
"Sebentar!" ucap Albert singkat.
Upaya Nadira mencegah Albert gagal. Pria itu bangkit dan mengambil testpack tersebut, tentu saja Nadira sangat panik seraya menepuk jidatnya khawatir Albert akan marah padanya.
"Testpack dengan hasil positif ini punya kamu?" tanya Albert menoleh ke arah Nadira.
"I-i-iya tuan..." jawab Nadira gugup.
Albert terdiam, tiba-tiba saja ia langsung bergerak sejenak kembali menindih Nadira dan menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya.
"Hey, kamu hamil? Kenapa kamu gak bilang sama saya? Apa maksud kamu merahasiakan semua ini dari saya, ha? Itu anak saya juga, harusnya kamu kasih tahu dong ke saya Nadira!" ujar Albert.
"Ma-maaf tuan!" ucap Nadira.
"Ah yasudah, kali ini saya maafkan kamu karena kamu sedang mengandung anak saya! Tapi, kamu tetap harus memuaskan saya sampai besok pagi Nadira!" ucap Albert tersenyum seringai.
"I-i-iya tuan, tapi apa tuan gak marah karena saya hamil anak tuan?" tanya Nadira.
"Loh kenapa saya harus marah? Ingat Nadira, kamu itu istri saya loh! Masa iya saya marah kalau istri saya hamil?" jawab Albert.
"Eee..."
"Sudah jangan kebanyakan ngomong! Saya udah gak tahan nih mau masukin kamu!" ujar Albert.
Albert pun langsung melepas seluruh pakaiannya hingga ia resmi telanjang, dengan cepat ia kembali melanjutkan permainannya yang sempat tertunda tadi, kali ini ia tambah bergairah karena perasaannya sedang senang setelah mengetahui Nadira istrinya tengah mengandung anaknya.
•
•
Keesokan paginya, Albert terbangun dengan tangan kesemutan. Dilihatnya Nadira masih tertidur pulas di atas lengan kekarnya itu, ya mau tidak mau Albert pun terpaksa membiarkan Nadira tidur dengan nyaman disana dan tak mau mengganggunya.
Albert tersenyum memandangi wajah Nadira, ia mengusap wajah mulus itu menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya dan kemudian mengecup kening serta bibir istrinya itu dengan lembut dan manis.
"You are mine, Nadira! Sekarang di dalam rahim kamu terdapat benih saya, dengan begitu saya bisa pastikan kalau kamu tidak akan berani coba-coba kabur dari sini! Biarpun saya tidak tahu apa yang kamu rencanakan dengan paman Darius, tapi saya yakin kalau kamu berniat untuk kabur dari sini dengan bantuan paman Darius!" batin Albert.
Cupp!
Ia kembali mengecup bibir wanitanya, lalu mendekap tubuh Nadira sangat erat dan posesif seakan hanya dirinya lah yang boleh memiliki Nadira, tidak ada yang lain.
"Kamu milik saya seutuhnya, tidak akan ada pria lain yang bisa merebut kamu dari saya! Walau saya tidak yakin kalau ini namanya cinta, tapi saya tetap tidak mau kehilangan kamu Nadira! Kamu harus terus bersama saya, selamanya!" batin Albert.
Ya sikap Albert yang seperti itu berawal dari ketidaksengajaan dirinya mendapati Nadira tengah bicara berdua dengan Darius di rumahnya, saat itu memang Albert sedang di kantor dan kondisi rumah hanya ada Nadira serta Chelsea, namun ia masih bisa memantau wanitanya itu dari jauh melalui kamera cctv di rumahnya.
Tak lama kemudian, Nadira mulai bergerak perlahan saat merasakan sesak dan panas pada tubuhnya, ya tentu karena dekapan erat dari Albert yang seakan tak memberinya ruang untuk bergerak bebas atau sekedar menghirup udara segar.
"Eemmhh..." erang Nadira seraya membuka matanya dan menatap sosok Albert di dekatnya.
"Tu-tuan? Kenapa tuan peluk saya kayak gini?" ucap Nadira bertanya keheranan.
"Saya gak mau kamu jauh-jauh dari saya, Nadira! Tidak ada siapapun yang boleh sentuh kamu kecuali saya, camkan itu!" tegas Albert.
"Maksud tuan apa?" tanya Nadira tak mengerti.
"Kamu pikir saya tidak tahu? Kemarin kamu bertemu dengan paman saya bukan? Bicara apa saja kalian saat saya sedang tidak berada di rumah? Apa kamu merencanakan sesuatu untuk bisa kabur dari rumah ini?" ujar Albert tegas.
Nadira menganga terkejut, ia tak menyangka suaminya mengetahui kejadian tersebut.
"Sa-saya...."
__ADS_1
"Sudahlah, tidak perlu dibahas! Ada raut kecemasan di wajah kamu, itu artinya dugaan saya benar! Yasudah, kalaupun kamu memang ingin kabur dari rumah ini silahkan saja! Tapi, berarti namanya kamu tidak sayang dengan kandungan di perut kamu itu!" potong Albert.
Nadira melirik ke arah perutnya yang sekarang sudah diisi oleh janin itu, benar juga apa yang dikatakan Albert karena Nadira tak mungkin bisa pergi dengan kondisi mengandung.
"Ayo bangun! Kita mandi sama-sama!" ucap Albert.
"Saya bisa mandi sendiri!" ucap Nadira menolak.
"Tidak ada penolakan! Atau kamu mau saya kasih hukuman di pagi ini?" ancam Albert.
"Tidak tuan, maaf!" jawab Nadira menggeleng.
"Yasudah, diam saja dan ikuti kemauan saya!" tegas Albert.
"Ba-baik tuan!" ucap Nadira menurut.
Pria itu segera menggendong tubuh Nadira dan membawanya ke dalam bathtub di kamar mandi yang sudah dipenuhi oleh air hangat itu.
•
•
Disisi lain, Vanesa masih sibuk melakukan pekerjaannya di kantor, sampai ponsel miliknya berdering dan mengharuskan ia menerima telpon tersebut lebih dulu.
"Papa ngapain sih nelpon di waktu kerja? Kalau ada yang dengar gimana?" ujarnya heran.
Namun, ia tetap mengangkatnya karena tak mau membuat papanya kesal.
📞"Halo pah! Ada apa sih telpon aku di waktu kerja begini? Papa kan tahu, sekarang aku masih di kantor!" tanya Vanesa dengan wajah cemas.
📞"Hahaha, tenang aja Vanesa! Papa pastikan tidak akan ada yang mendengar obrolan kita! Kamu sekarang hanya perlu lakukan tugas terakhir kamu untuk menghancurkan Albert, setelah itu kamu bebas pergi kemanapun!"
📞"Iya pah, ini juga aku lagi lakuin itu! Makanya papa jangan telpon aku dulu, sebentar lagi juga bakal ada demo besar-besaran di luar kantor! Aku yakin Albert akan semakin terpuruk, pah!" ucap Vanesa disertai senyum pada area wajahnya.
📞"Baguslah! Papa gak sabar menanti kehancuran dia, kamu memang bisa diandalkan sayang! Papa gak salah udah pilih kamu buat jadi orang dalam di perusahaan itu!"
📞"Pasti dong pah! Aku sudah berhasil memanipulasi seluruh keadaan di kantor ini, sehingga Albert gak mungkin bisa memperbaiki semua masalah ini lagi, pah! Kita tinggal tunggu waktu aja sampai dia bangkrut dan hidup menderita!" ucap Vanesa.
📞"Bagus Vanesa! Yasudah, teruskan pekerjaan mu! Papa masih ada urusan lain!"
📞"Iya pah, baik!" ucap Vanesa terakhir kalinya.
Tuuutttt....
Telpon pun dimatikan, gadis itu tampak senyum-senyum puas karena kelicikannya telah berhasil membuat Albert terpedaya.
"Lihat saja Albert, aku bakal bikin kamu menderita! Suruh siapa kamu sudah tabrak mamaku sampai meninggal? Sekarang rasakan pembalasan dendam ku, Albert!" gumam Vanesa dalam hati.
Ceklek...
Prokk..
Prokk..
Prokk...
Vanesa terkejut saat pintu ruangannya dibuka dari luar, sosok pria berkumis tipis masuk ke dalam menghampirinya sambil bertepuk tangan.
"Waw rencana yang hebat, Vanesa!" ucapnya memuji gadis itu.
Wanita itu pun dibuat ketakutan saat melihat sosok yang tak lain adalah Darius, paman dari bosnya itu. Ya tentu saja ia takut jika Darius mendengar semuanya dan melaporkan itu pada Albert.
"Pak Darius? Selamat pagi!" ucap Vanesa mencoba tetap tenang.
"Ya, pagi juga! Kamu tidak perlu takut Vanessa, saya ini ada di pihak kamu! Saya juga ingin menghancurkan Albert, sama seperti niatan kamu itu Vanessa! Jadi, kita bisa bekerjasama untuk melakukan itu!" ucap Darius pelan.
"Maaf! Maksud anda apa ya? Saya tidak mengerti!" ucap Vanessa berpura-pura.
"Kamu tidak perlu berakting begitu lagi di hadapan saya, Vanessa! Saya sudah mengetahui semuanya, saya mendengar obrolan kamu di telpon tadi dengan papa kamu, ya kan? Apa sebenarnya yang menyebabkan kamu begitu dendam pada Albert?" ucap Darius.
"Anda tak perlu tau!" ucap Vanesa singkat.
"Oh, ya baiklah tidak apa-apa! Tapi, kalau kamu butuh bantuan saya, maka saya siap bantu kamu apapun itu asal Albert tersingkir dari sini! Karena jujur saya juga tidak suka pada pria sok pintar itu, dia memang harus diberi pelajaran!" ucap Darius.
Vanesa terdiam bingung, ia bahkan tak menyangka kalau Darius tega ingin berbuat seperti itu pada keponakannya sendiri.
"Oh ya, saya sungguh tak percaya ternyata selama ini sekretaris kepercayaan Albert itu seorang pengkhianat! Memang anak itu tidak tau apa-apa, dia terlalu bodoh sehingga bisa memilih kamu hanya karena kecantikan dan lekuk tubuh kamu!" ucap Darius geleng-geleng kepala.
Vanesa menunduk tak berbicara apa-apa, ia pun tak tahu apakah Darius benar-benar ingin bekerjasama sama dengannya ataukah hanya akting saja untuk menjebak dirinya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^