
Dinikahi Ceo kejam
Bab 93. Kesal
Chelsea dan mamanya tiba di meja makan untuk melaksanakan makan siang bersama Albert serta Nadira yang sudah lebih dulu berada disana.
Terlihat kalau Chelsea masih gugup akibat hampir saja ia dipergoki oleh mamanya saat sedang melapor kepada pamannya mengenai identitas Vanesa yang sudah terkuak itu.
Tentu saja Albert merasa curiga melihat gelagat adiknya yang mencurigakan, ia heran karena tak biasanya Chelsea lebih banyak diam.
"Chelsea, kamu kenapa sih diam terus begitu? Ada yang lagi kamu pikirin? Atau masakan mbok Widya gak enak?" tanya Albert penasaran.
Dengan pertanyaan dari Albert itu, membuat Abigail serta Nadira turut menatap ke arah Chelsea untuk memastikan apa yang terjadi pada gadis tersebut.
Namun, Chelsea berusaha menutupi kegugupannya di depan mereka semua agar tak ada yang mencurigainya lagi.
"Gak kok kak, aku gapapa." jawab Chelsea singkat.
"Yakin? Cerita aja kali sama kakak kalau ada masalah! Siapa tahu kakak bisa bantu. Kamu tahu sendiri kan kakak ini lumayan ahli dalam segala hal, jadi kamu gak perlu cemas karena pasti kakak bakal bantu kamu!" ucap Albert.
"Enggak kak, aku baik-baik aja kok. Dugaan kakak itu salah!" ucap Chelsea.
"Ya bagus deh kalau memang benar begitu! Tapi, kalau kamu ada masalah jangan sungkan buat cerita ke kakak ya! Kakak pasti bakal bantu kamu kok!" ucap Albert tersenyum.
"Iya kak, aku ngerti kok!" ucap Chelsea.
"Yaudah, sekarang kalian lanjut aja dulu makannya jangan malah ngobrol! Albert, kamu bukannya harus balik ke kantor kan?" ucap Abigail.
"Iya dong mah, abis ini aku mau ke kantor lagi karena masih ada yang harus aku kerjain. Ya tapi mungkin agak lambat aja sih mah, soalnya aku mau berduaan dulu sama Nadira." kata Albert.
"Ish mas, kamu tuh gak pernah bosan apa ya berduaan mulu sama aku!" ujar Nadira.
"Hahaha... mana ada seorang Albert bisa bosan? Apalagi yang ada di sampingnya itu istrinya yang paling cantik jelita, udah pasti saya gak akan pernah bosan sampai kapanpun itu!" ucap Albert.
"Terserah kamu ajalah mas!" ujar Nadira.
Abigail tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat momen romantis antara sepasang suami-istri itu.
Sementara Chelsea justru menundukkan kepalanya dan terlihat tak suka ketika kakaknya dekat sekali dengan Nadira sampai seperti itu.
"Kak Albert segitunya sama Nadira, emang dia kayaknya udah dipelet deh!" batin Chelsea.
•
•
Vanesa tiba di tempat pertemuannya dengan Cakra, wanita itu langsung menyapa Cakra yang sudah terduduk disana sembari bersalaman dan tersenyum.
"Hai selamat siang! Maaf ya aku lama, di jalan ada halangan sebentar tadi!" ucap Vanesa.
"Gapapa kok, yang penting kamu udah datang sekarang. Yuk duduk dulu sini!" ucap Cakra.
"Thanks!" Vanesa tersenyum dan duduk di sebelah pria tersebut.
"Kamu udah nunggu berapa lama?" tanya Vanesa sembari menaruh tasnya di atas meja.
"Sebentar kok, tenang aja gausah cemas gitu!" jawab Cakra tersenyum tipis.
"Oh bagus deh!" ucap Vanesa singkat.
Vanesa pun memanggil pelayan disana dan memesan minum, sedangkan Cakra tampak salah fokus saat melihat gundukan milik Vanesa yang terpampang jelas walau dibalut pakaian itu.
Apalagi terdapat belahan yang membuat matanya seketika melotot seakan tak ingin beralih dari pemandangan indah itu, ya Cakra cukup terpesona dan penasaran ingin menyentuhnya.
Saat Vanesa kembali mengarahkan pandangan ke arah Cakra, wanita itu terkejut karena Cakra terlihat mencondongkan kepalanya dan terlihat jelas kalau pria itu sedang memandangi bagian dadanya.
"Heh! Kamu ngapain ngeliatin aku sampai kayak gitu?" tegur Vanesa yang langsung reflek menutupi bagian dadanya.
"Eee gak kok, sorry ya aku gagal fokus tadi!" ucap Cakra merasa malu dan spontan menjauhkan diri.
"I-i-iya gapapa. Kita langsung bahas ke intinya aja yuk! Aku itu lagi pusing gimana caranya buat deketin Nadira, soalnya dia selalu aja sama Albert dan kayak gak pernah sendiri gitu. Aku jadi gak punya cara deh buat deketin dia," ucap Vanesa.
"Oh soal itu, emangnya rencana kamu buat deketin orangtuanya Nadira udah berhasil? Kok kamu udah mau lanjut deketin Nadira aja?" tanya Cakra.
"Ya belum sih. Aku baru ceritain semuanya ke mereka waktu itu, dan kelihatannya mereka langsung syok sampai marah-marah juga. Tapi, aku gak tahu pasti mereka udah bicarakan soal itu ke Nadira atau belum." jawab Vanesa.
"Nah, mending kamu fokus dulu deketin orangtuanya Nadira! Dengan begitu, pasti mereka akan bantu kita buat jauhin Nadira dari Albert, karena mereka gak mau anak mereka itu dekat sama laki-laki yang gak bener!" usul Cakra.
"Ah aku gak yakin sama usul kamu itu! Takutnya mereka malah belain Albert dan gak percaya sama aku, aku kan gak punya bukti kalau ini anak kandung Albert." kata Vanesa.
__ADS_1
"Oh iya juga sih, emang sebenarnya anak yang kamu kandung ini anak siapa sih?" ujar Cakra.
"Hah?! Maksudnya apa kamu tanya kayak gitu? Kamu juga curiga kalau ini bukan anak Albert, iya?" ujar Vanesa kesal.
"Bu-bukan gitu... aku kan cuma nanya, abisnya kata-kata kamu tadi ambigu sih." ujar Cakra.
"Haish, itu kan cuma umpama. Aku gak yakin orang tua Nadira percaya sama kata-kata aku, karena aku gak punya bukti kalau anak ini tuh anak Albert. Tapi, ini memang anak Albert tau!" ucap Vanesa.
"Iya iya... nah, terus kamu tahu darimana kalau itu anaknya Albert?" tanya Cakra.
"Ya jelas tahu lah! Karena cuma Albert yang tidurin aku selama ini," jawab Vanesa.
"Masa sih? Kamu yakin?" tanya Cakra curiga.
"Ih kamu kenapa gitu sih? Kamu pikir emang aku perempuan apaan, ha? Aku gak pernah tidur sama cowok kecuali pak Albert!" tegas Vanesa.
"Hey hey pelanin suara kamu Vanesa! Emang kamu gak malu apa kata-kata kamu barusan didengar sama seluruh pengunjung disini? Aku tahu kamu emosi, tapi jangan begitu dong!" ucap Cakra.
"Ya abisnya kamu ngeselin banget sih! Gak percayaan banget jadi orang!" geram Vanesa.
"Iya Vanesa, aku percaya kok! Udah ya, aku minta maaf sama kamu!" bujuk Cakra.
Vanesa hanya membuang muka dengan wajah ketus, Cakra pun meraih tangan gadis itu dan kembali membujuknya sampai Vanesa mau memaafkan dirinya.
•
•
Sementara itu, Sulastri masih teringat akan perkataan Vanesa beberapa waktu lalu pada dirinya dan juga sang suami.
Ya Vanesa memang telah menjelaskan semuanya terkait kejadian yang dia alami, termasuk bagaimana dirinya bisa hamil diluar nikah.
Suhendra pun muncul dan sedikit heran ketika melihat istrinya sedang melamun seorang diri dengan memegang tampah di tangannya.
"Bu, ibu lagi ngapain sih?" ucap Suhendra menegur istrinya sembari mencolek pundaknya.
"Eh bapak! Maaf pak, ini ibu lagi milihin gabah. Bapak udah selesai nonton bolanya?" ucap Sulastri berpura-pura tenang.
"Sudahlah Bu, tidak perlu akting begitu! Bapak tahu kok kalau ibu lagi ada pikiran, cerita aja sama bapak!" ucap Suhendra duduk di samping istrinya.
"Iya pak, sebenarnya ibu emang lagi mikirin perkataan neng Vanesa waktu itu." kata Sulastri.
"Itu loh pak, tentang kehamilan dia." jawab Sulastri.
"Ohh soal itu. Buat apa sih ibu masih mikirin soal itu? Bapak kan sudah pernah bilang, kalau bapak ini sudah minta penjelasan tuan Albert dan tuan Albert pun memang mengakui perbuatannya itu." kata Suhendra.
"Nah justru itu pak, ibu khawatir kalau nantinya neng Vanesa akan melakukan cara yang gak baik supaya dia bisa dapat tanggung sendiri dari tuan Albert!" ucap Sulastri.
"Ibu tenang aja! Bapak yakin tuan Albert pasti bisa selesaikan semua masalah ini kok! Ibu tahu sendiri kan siapa tuan Albert itu?" ucap Suhendra.
"Iya sih pak, tapi tetap aja ibu khawatir! Nadira itu kan anak ibu pak, ibu gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama dia! Apalagi sekarang dia terlihat sudah mulai mencintai tuan Albert," ucap Sulastri.
"Iya Bu, bapak tahu. Bapak juga yakin kalau mereka gak mungkin goyah apalagi berpisah hanya karena ada masalah seperti ini, kita coba aja berdoa untuk kebaikan mereka ya Bu!" ucap Suhendra.
Sulastri mengangguk pelan masih dengan ekspresi cemasnya.
Lalu, Suhendra pun menarik kepala istrinya dan menaruhnya pada bahunya sambil mengusapnya lembut.
"Tenang ya Bu! Nadira juga kan lagi hamil, sebentar lagi kita akan jadi kakek nenek!" ucap Suhendra.
"Iya pak, semoga aja Nadira gak kenapa-napa dan kandungannya sehat terus sampai dia bisa melahirkan dengan selamat nanti! Ibu kepengen banget gendong cucu pertama kita itu, pasti seru deh pak!" ucap Sulastri tersenyum.
"Nah gitu dong Bu, senyum! Kalau ibu senyum kan kelihatan makin cantik dan manis. Jangan pernah cemberut lagi ya Bu!" ucap Suhendra.
"Ah bapak paling bisa deh gombalnya! Yaudah, ibu mau terusin cari gabah dulu." kata Sulastri.
"Iya Bu, kalo gitu bapak mau keluar lagi ya? Awas loh, jangan cemberut atau mikirin neng Vanesa lagi! Biar itu jadi urusan tuan Albert, bapak yakin tuan Albert bisa mengurus semuanya kok!" ucap Suhendra.
"Iya pak," ucap Sulastri mengangguk pelan.
Setelahnya, Suhendra melepas kepala Sulastri lalu bangkit dari duduknya untuk segera pergi keluar mengurus kebunnya.
Sementara Sulastri tetap disana melanjutkan memilih gabah, perasaannya juga masih sama cemas seperti tadi dan khawatir kalau Vanesa dapat melakukan apapun demi mendapat pertanggungjawaban dari Albert.
"Haduh, semoga aja yang dikatakan bapak tadi benar deh! Tuan Albert harus bisa urus semuanya, jangan sampai kejadian buruk terjadi dalam rumah tangganya dengan Nadira!" ucap Sulastri pelan.
Namun, Sulastri dengan segera menghapus air matanya dan tersenyum kembali.
•
__ADS_1
•
Keenan mampir sejenak ke sebuah minimarket untuk membeli minuman, entah mengapa ia tiba-tiba haus setelah melakukan perjalanan.
Pria itu pun turun dari mobil dan berniat masuk ke dalam minimarket tersebut, namun hal yang tak terduga terjadi disana.
Ya Keenan tanpa sengaja melihat Darius keluar dari minimarket itu, tentu saja Keenan langsung bersembunyi dibalik mobilnya untuk mengamati Darius dari jauh.
"Itu kan pak Darius, saya harus ikuti dia! Siapa tahu itu bisa berikan petunjuk untuk saya, agar dapat mengetahui alamat Vanesa!" ucap Keenan.
Akhirnya Keenan kembali masuk ke mobilnya, mengikuti kemana Darius pergi dengan sangat berhati-hati. Keenan tak mau jika nantinya Darius sadar kalau dia sedang diikuti.
"Mau kemana ya itu orang? Semoga aja dia mau ketemu Vanesa!" gumam Keenan.
Drrttt..
Drrttt...
Disaat ia sedang fokus mengikuti mobil Darius, tiba-tiba Celine justru menelponnya dan membuat fokus Keenan teralihkan.
Keenan terpaksa mengangkat telpon itu karena cukup mengganggu konsentrasinya, namun tentu ia tetap melajukan mobilnya.
📞"Halo adekku sayang! Ada apa sih cantik?" ucap Keenan dengan nada lembut, ia tak mungkin bisa memarahi adiknya walau saat ini ia agak jengkel padanya.
📞"Halo kak! Kok malah nanya ada apa? Emang lu lupa kalau sekarang udah waktunya gue pulang sekolah? Gue udah nunggu nih di depan halte, tapi lu gak ada-ada juga!" ucap Celine.
📞"Hah? Emang ya?" ujar Keenan terkejut.
Pria itu menepuk jidatnya saat melihat jam dan baru menyadari kalau sebelumnya ia memang berniat untuk menjemput adiknya itu.
"Aduh! Kok saya bisa lupa sih?" ujarnya.
📞"Bang, kenapa bang?" tanya Celine kebingungan.
📞"Eee enggak kok dek, ini gue juga lagi di jalan mau kesana. Lu tunggu aja sebentar ya, jangan kemana-mana okay?!" ucap Keenan.
📞"Iya, tapi cepetan ya bang! Gue pegel nih nunggunya!" ucap Celine.
📞"Iya sayang, gak lama kok. Lu kan bisa duduk kalo pegel, ini paling sebentar lagi gue sampe disana. Sabar ya adikku yang paling cantik!" ucap Keenan merayu adiknya.
📞"Huh iya iya..." keluh Celine.
Tuuutttt...
Gadis itu langsung memutus telponnya, membuat Keenan agak cemas mengira bahwa Celine marah padanya.
"Duh, ini gimana ya? Saya masih harus ikutin mobil pak Darius, karena saya ingin tahu dia mau pergi kemana! Tapi, saya juga gak bisa biarin Celine pulang sendiri saat ini!" gumamnya.
Keenan mulai kacau, ia tak bisa berpikir jernih untuk membuat keputusan saat ini.
Untungnya, otak Keenan kembali encer dan meminta pada salah satu anak buahnya untuk datang kesana dan melanjutkan perjalanan mengejar mobil Darius.
📞"Halo! Kamu kesini sekarang!" ucap Keenan di dalam telpon pada salah seorang anak buahnya.
***
Sementara itu, Celine masih terus cemberut kesal menanti kedatangan abangnya yang cukup lama itu.
Celine hanya sendirian di halte, karena sahabatnya sudah pulang lebih dulu.
"Ish, bang Ken kemana sih? Kalau tahu bakal lama kayak gini, gue tadi pesan ojek online aja deh!" ujarnya geram.
Gadis itu terus bolak-balik duduk dan berdiri sembari berjalan ke kanan dan kiri, ia juga melihat ke segala arah berharap abangnya segera datang.
Namun, tak kunjung juga ada mobil Keenan yang muncul disana sehingga Celine terpaksa duduk kembali dengan perasaan jengkelnya.
Tiba-tiba saja, seorang pria rapih mengenakan jas dengan kacamata hitam di matanya muncul menghampiri Celine.
"Permisi! Kamu belum dijemput ya?" ucapnya.
Celine terkejut mendengarnya, ia mendongak dan melihat pria tinggi berdiri di hadapannya sambil memicingkan senyum.
"Ka-kamu siapa...??" tanya Celine tampak gugup dan mulutnya sedikit terbuka.
Pria itu hanya tersenyum, membuat Celine makin ketakutan dan curiga kalau pria di hadapannya itu memiliki niat buruk padanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1