
"Hahaha, kamu gausah ketar-ketir gitu Liam! Masa cuma berhadapan dengan satu orang wanita seperti aku aja kamu takut?" ucap Vanesa.
"Saya tidak takut, saya hanya ingin menjaga kedamaian di rumah ini. Jadi, sebaiknya kamu pergi sebelum ada keributan disini!" ucap Liam.
"Kalau saya gak mau pergi gimana? Saya bakal tetap disini, sampai Albert atau siapapun di dalam keluar menemui saya." ucap Vanesa.
"Kamu—"
"Ada apa ini?"
Liam menghentikan ucapannya dan menoleh ke belakang saat sebuah suara terdengar begitu saja.
Mereka semua pun terkejut melihat Abigail muncul dari dalam rumahnya.
"Nyonya? Maaf nyonya besar! Tapi, mbak Vanesa ini memaksa masuk dan ingin bertemu dengan orang rumah." ucap Liam gugup.
"Vanesa?" ucap Abigail dengan tatapan mengarah pada Vanesa.
Vanesa langsung tersenyum dan membuka kacamatanya, ia membungkuk menyapa Abigail dengan sopan.
"Halo tante! Apa kabar?" ucap Vanesa.
"Tidak usah sok baik kamu! Cepat katakan apa mau kamu datang kesini!" ujar Abigail.
"Tenang tante! Aku kesini cuma mau jemput anak aku kok," jawab Vanesa sambil tersenyum.
Deg!
Sontak Abigail melotot lebar ke arah Vanesa akibat perkataan wanita itu tadi.
"Maksud kamu apa? Anak kamu itu gak ada disini, kamu mending pergi sana dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini!" ucap Abigail.
"Kenapa sih tante? Jelas-jelas anak aku ada di rumah ini dan diurus sama Albert, masa tante lupa sih? Oh atau jangan-jangan, tante ini sengaja ya lupain aku supaya anak aku juga gak ingat sama mama kandungnya sendiri?" ujar Vanesa.
"Cukup ya Vanesa! Kamu sebaiknya pergi dari sini, atau saya akan perintahkan Liam dan yang lainnya buat usir paksa kamu dari sini!" ucap Abigail.
"Walau aku diusir sekalipun, aku gak akan mau pergi dari sini, tante. Aku baru mau pergi, kalau aku bisa bawa Galen. Sekarang dimana Galen, tante?" ucap Vanesa.
"Galen gak ada di rumah, dia lagi pergi sekolah. Lagian kalaupun dia ada disini, dia juga gak akan mau ketemu sama kamu." ucap Abigail.
"Iya sih, itu juga karena ulah kalian semua yang udah mendoktrin anak aku supaya lupa sama aku. Kalian semua itu jahat banget tau, kalian gak punya hati nurani!" ujar Vanesa.
"Kamu kenapa jadi salahin keluarga saya? Kamu kan udah setuju dengan persetujuan yang dibuat sama Albert, jadi ini bukan sepenuhnya salah kami dong!" ucap Abigail.
"Aku setuju karena aku emang gak punya pilihan lain, waktu itu aku masih dalam keadaan sakit parah dan cuma tawaran dari Albert yang bisa bikin aku sembuh dari sakit aku." ucap Vanesa.
"Nah itu kamu tau, terus kenapa kamu mau minta Galen lagi sekarang? Galen itu udah bukan anak kamu lagi, paham?!" ucap Abigail.
Vanesa tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya dengan sesekali memegangi keningnya.
"Sampai kapanpun, Galen tetap akan jadi anak aku. Gak ada yang namanya mantan anak ya tante, jadi tante jangan bilang kalau Galen bukan anak aku!" ucap Vanesa.
"Kamu—"
"Nenek!" ucapan Abigail terpotong saat suara Galen terdengar dari arah depan.
Abigail dan Vanesa pun sama-sama menoleh ke asal suara, terlihat Galen baru datang bersama suster Alra disana.
•
•
Nadira datang ke tempat pemakaman putrinya dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Ia benar-benar tak mengira bahwa selama ini anaknya sudah meninggal dan Galen bukanlah putra kandungnya.
"Assalamualaikum, sayang!" ucap Nadira.
Nadira pun terduduk di samping makam putrinya sambil perlahan menaburkan bunga di atas makam itu.
"Mama minta maaf ya sama kamu! Mama gak nyangka kalau kamu ternyata anak mama, maafin mama ya karena selama ini mama gak pernah datangi makam kamu!" ucap Nadira.
"Bukannya mama gak sayang sama kamu, tapi mama beneran gak tahu kalau kamu anak mama yang sebenarnya. Kamu bahagia ya disana sayang, insyaallah mama akan selalu doakan yang terbaik buat kamu!" sambungnya.
Disaat Nadira sedang asyik berbicara dengan putrinya, tiba-tiba suara berat terdengar.
"Nadira!"
Sontak Nadira menoleh ke belakang, melihat seseorang yang ada disana tengah menatap ke arahnya sambil tersenyum.
Pria itu pun ikut duduk di sebelah Nadira, terus menatapnya tanpa berkedip. Nadira merasa sangat malas karena suaminya menyusul kesana.
"Saya tahu kamu kesini, pasti kamu sedih banget ya sayang?" ucap Albert.
"Kamu ngapain sih mas? Kenapa kamu kesini? Aku lagi mau sendiri, tolong kamu pergi!" ucap Nadira.
"Enggak, saya gak akan biarin kamu sendiri. Saya khawatir sama kamu sayang, saya mau selalu ada disisi kamu, supaya saya bisa jaga kamu." ucap Albert.
"Aku gak perlu dijaga sama kamu, aku bisa jaga diri aku sendiri kok. Kamu pergi aja mas, aku lagi gak mau lihat apalagi bicara sama kamu!" ucap Nadira terisak.
"Jangan begitu dong sayang! Saya—"
Nadira langsung berdiri dan mengusap air matanya, membuat Albert mendongak kebingungan.
"Hey hey sayang! Kamu kenapa berdiri? Udah doain putri kita nya?" ucap Albert ikut berdiri.
__ADS_1
"Aku gak mau lama-lama disini sama kamu, aku mending pergi aja dari sini." ucap Nadira.
Saat Nadira hendak pergi, Albert langsung menahan lengannya dengan kuat.
"Jangan pergi sayang! Kamu sama saya aja ya, saya gak bisa jauh-jauh dari kamu sayang! Tolong maafin saya, kamu jangan tinggalin saya ya!" ucap Albert memohon pada istrinya.
"Kamu terus aja bicara begitu mas, tapi nyatanya kamu gak pernah anggap aku sebagai istri kamu. Kamu selalu aja bohongin aku!" ucap Nadira.
"Saya gak bermaksud buat bohongin kamu dan bikin kamu kecewa, saya cuma gak pengen kamu sedih kalau tau yang sebenarnya!" ucap Albert.
"Udah lah mas, aku terlanjur benci sama kamu!" ucap Nadira tegas dan menyingkirkan tangan Albert dari lengannya.
"Nad, jangan pergi dong Nadira!" pinta Albert.
Namun, Nadira tak mendengarkan ucapan Albert. Ia pergi begitu saja dari pemakaman itu dan Albert tak dapat berbuat apa-apa.
"Nadira!" teriak Albert.
"Haish, kenapa susah banget sih? Saya gak nyangka hari ini akhirnya terjadi juga, kehidupan saya hancur dalam sekejap cuma gara-gara Vanesa!" geram Albert.
•
•
Keenan tengah mengantar adiknya pulang ke rumah setelah selesai kuliah.
Namun, kali ini Keenan masih merasa jengkel alias cemburu pada Celine akibat gadis itu sempat bicara dengan seorang pria di kampusnya.
"Kak, udah dong marahnya!" ucap Celine.
"Hm."
"Kak ayolah! Mau sampai kapan kakak kayak gini terus? Aku kan udah jelasin ke kakak, dia itu cuma teman aku gak lebih. Lagian tadi kita cuma ngobrol biasa kok, kakak jangan marah dong!" ucap Celine.
Lagi-lagi Keenan hanya diam tak menggubris ucapan Celine.
"Ish, kak udah dong jangan ngambek terus!" ucap Celine sembari menarik-narik lengan Keenan.
"Kamu apa sih? Aku lagi fokus nyetir, jangan ganggu! Emangnya kamu mau kita nabrak nanti?" ucap Keenan ketus.
"Ya makanya kakak jangan ngambek terus dong! Maafin aku ya!" ucap Celine memelas.
"Siapa juga yang ngambek? Udah deh, kamu duduk diem aja disitu jangan berisik!" ujar Keenan.
"Ih tuh kan ngambek, ayolah kak maafin aku!" ucap Celine.
"Aku gak ngambek, udah ya jangan ganggu aku yang lagi fokus nyetir!" ucap Keenan.
"Kak, katanya kemarin kakak mau bawa aku ke KUA buat daftar nikah. Tapi, kenapa sekarang kakak malah marah-marah sama aku?" ucap Celine.
"Masalah besar apa kak?" tanya Celine.
"Ada lah, kamu gak perlu tau. Tapi, kamu tetap gak boleh dekat sama cowok lain selain aku, walau kita belum jadi menikah Minggu depan. Jangan kayak tadi, kamu malah asik deket sama cowok lain!" ucap Keenan ketus.
"Iya kak, maafin aku ya! Sekarang kakak jangan marah lagi dong sama aku!" ucap Celine.
"Ya ya ya, aku gak marah lagi kok. Asalkan kamu juga mau ngertiin aku, kamu jangan pernah dekat-dekat sama laki-laki selain aku!" ucap Keenan.
"Iya kak, aku ngerti kok. Lagian tadi kan aku cuma ngobrol doang sama dia masalah tugas, aku gak ada hubungan kok sama dia." ucap Celine.
"Yaudah, aku percaya." ucap Keenan.
Celine tersenyum senang karena kakaknya mau percaya dengannya.
"Eh kak, ada es durian tuh di depan, aku mau dong!" ucap Celine menunjuk ke depan.
"Gak bisa, kamu lagi dihukum!" ujar Keenan.
"Dihukum apa sih kak? Aku kan cuma mau es durian, udah lama tau aku gak makan itu. Ayolah kak, berhenti sebentar ya!" ucap Celine.
"Gak gak gak! Kamu itu memang harus dihukum, supaya kamu bisa lebih menghargai aku sebagai calon suami kamu!" ucap Keenan.
"Ya ampun! Perasaan dari awal juga aku udah menghargai kakak kok," ucap Celine.
"Apanya yang menghargai? Buktinya kamu masih suka bicara sama laki-laki lain saat gak sama aku, dasar pengkhianat!" ujar Keenan.
"Ih aku bukan pengkhianat kak!" ucap Celine.
"Dah lah, aku malas berdebat!" ucap Keenan.
Akhirnya Celine terdiam dan tak bicara lagi, ia memasang wajah cemberut karena keinginannya tidak dipenuhi oleh kakaknya itu.
"Huh kak Keenan nyebelin!" batin Celine.
•
•
Nadira sampai di depan kediaman orangtuanya, ia turun dari taksi yang ia tumpangi itu dan segera berjalan menuju rumah tersebut.
Rojali yang kebetulan ada disana, tak sengaja melihat Nadira saat baru turun dari taksi. Tentu saja pria itu langsung menyapanya.
"Eh Nadira, akhirnya saya bisa ketemu kamu lagi! Kamu apa kabar? Pasti kamu kesini mau ketemu sama saya ya? Emang iya sih, saya ini orangnya ngangenin." ujar Rojali dengan pedenya.
"Enggak bang, aku mau ketemu ayah sama ibu. Permisi!" ucap Nadira singkat.
__ADS_1
"I-i-iya iya.." ucap Rojali gugup plus bingung.
Nadira pun melintasi Rojali begitu saja dan terus melangkah mendekat ke teras rumah orangtuanya.
"Itu Nadira kenapa ya? Dia kayak abis nangis. Jangan-jangan ada masalah sama suaminya yang galak dan nyeremin itu!" gumam Rojali.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, Bu, pak!" ucap Nadira.
"Waalaikumsallam!" balas Sulastri dari dalam.
Ceklek...
"Eh Nadira?" ucap Sulastri terkejut.
"Iya Bu," ucap Nadira sembari mencium punggung tangan ibunya itu.
"Kamu kesini sendiri nak? Suami kamu mana?" tanya Sulastri sambil celingak-celinguk.
"Eee mas Albert gak ikut, Bu." jawab Nadira.
"Loh kok gitu? Kamu ada masalah lagi sama suami kamu? Kamu cerita aja sama ibu nak, insyaallah ibu bisa bantu kamu!" ucap Sulastri.
"Gapapa Bu, aku cuma pengen ketemu sama ibu aja. Tapi, mas Albert lagi sibuk, jadinya aku kesini sendiri deh." ucap Nadira.
"Oh gitu, tapi kamu udah bilang kan sama Albert kalau kamu mau kesini?" tanya Sulastri.
"Eee iya udah kok Bu," jawab Nadira berbohong.
"Yaudah, yuk masuk ke dalam! Kita lanjut bicara di dalam sambil duduk dan minum," ucap Sulastri merangkul pundak putrinya.
"Iya Bu," ucap Nadira singkat.
Sulastri pun membawa Nadira masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.
Rojali yang masih terus memandangi Nadira sedari tadi, merasa kecewa karena Nadira sudah masuk.
"Huft, Nadira masuk lagi!" ujarnya.
Nadira kini sudah duduk di sofa bersama Sulastri yang baru selesai membuatkan minuman.
"Ini teh hangat buat kamu, yuk diminum dulu biar tubuh kamu enakan!" ucap Sulastri.
"Iya Bu, terimakasih!" ucap Nadira.
"Eh ya, kamu abis nangis ya sayang? Apa yang bikin kamu nangis begini? Katanya kamu gak ada masalah, tapi kok kamu nangis?" tanya Sulastri.
"Eee aku cuma sedih aja Bu, abisnya mas Albert sering banget bohongin aku." jawab Nadira.
"Maksud kamu gimana? Emangnya nak Albert bohong apa lagi sama kamu?" tanya Sulastri.
"Itu loh bu, mas Albert bohong soal meninggalnya Vanesa. Ternyata selama ini Vanesa masih hidup, aku kan kesel Bu!" jelas Nadira.
"Apa? Jadi, kamu sudah tahu tentang itu?" ucap Sulastri spontan.
Nadira terkejut mendengar ucapan ibunya, ia melirik ke arah Sulastri dengan tatapan heran.
Sementara Sulastri reflek menutupi mulutnya sendiri yang baru saja keceplosan.
•
•
Disisi lain, Albert merasa lega setelah mengetahui bahwa Nadira pergi ke rumah orangtuanya.
"Huh, syukurlah ternyata Nadira cuma pergi ke rumah pak Hendra! Sekarang saya sedikit lega dan gak perlu cemas lagi, untung aja saya sempat kasih kalung itu ke Nadira!" ucap Albert.
Tak lama kemudian, Keenan pun muncul di dekatnya dan langsung menghampiri Albert.
"Misi tuan!" ucap Keenan.
"Ah iya, akhirnya kamu datang juga. Ayo kita langsung berangkat ke tempat Vanesa! Saya udah gak sabar mau habisi dia!" ujar Albert.
"Sabar tuan! Ini sebenarnya ada apa? Kenapa tuan sangat marah dengan Vanesa?" tanya Keenan.
"Panjang ceritanya, saya akan jelaskan di mobil nanti. Ayo kamu ikut saja dengan mobil saya! Tinggalkan saja mobil kamu disini, nanti biar saya urus!" perintah Albert.
"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.
Albert dan Keenan pun masuk ke dalam mobil, kali ini Albert lah yang menyetir mobilnya.
"Tuan, kenapa bukan saya—"
"Kamu itu kan statusnya sekarang sudah bukan asisten saya lagi, jadi saya tidak bisa suruh-suruh kamu buat nyetir mobil ini. Orang saya minta bantuan kamu buat samperin Vanesa aja masih gak enak, maafin saya ya kalau saya ganggu kamu!" potong Albert.
"Gak kok tuan, saya selalu siap untuk membantu tuan walaupun saat ini saya tidak lagi bekerja dengan tuan!" ucap Keenan.
"Terimakasih Keenan! Kamu memang orang saya yang paling setia!" ucap Albert.
Albert segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sudah diambang emosi dan ingin segera memberi pelajaran pada Vanesa.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1