
"HEY!"
Nadira sontak kaget melihat sosok suaminya muncul disana dengan perasaan marah dan kesal, ia tahu betul bahwa saat ini posisinya dalam bahaya karena Albert bisa melakukan apa saja pada dirinya.
Sedangkan Cakra yang tak tahu apa-apa, hanya diam menatap seperti patung ke arah Albert. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan siapa pria tersebut, ia pun mengarahkan pandangan ke Nadira lalu bertanya pada wanita itu.
"Ra, dia siapa? Kenapa datang-datang mukanya kayak gak suka gitu lihat aku?" tanya Cakra.
"Eee..."
Nadira terlihat gugup saat hendak menjelaskan semuanya pada Cakra, bahkan ia terlambat untuk berbicara karena Albert langsung menarik kerah baju Cakra dan mengangkat tubuh pria itu dari kursinya.
"Heh! Lancang sekali anda coba mendekati wanita saya, apa anda ingin bermain-main dengan saya?" ujar Albert penuh emosi.
"Apaan sih? Lu ngomong tuh jangan ngelantur gitu deh! Wanita lu gimana? Maksud lu si Nadira ini wanita lu, iya gitu? Bangun bro, mimpi jangan di tengah hari kayak gini deh! Lagian mana mungkin Nadira mau sama om-om?" cibir Cakra.
Bughh...
"DASAR KURANG AJAR!!"
Tanpa aba-aba, Albert langsung meninju wajah Cakra dengan keras hingga pria kecil itu terjungkal ke lantai sambil memegangi pipinya yang terluka. Albert kembali hendak menghampiri Cakra dan memukulnya, namun segera dicegah oleh Nadira yang tak ingin ada keributan disana.
"Tuan! Saya mohon, jangan lakukan itu lagi ke Cakra! Dia gak salah, saya yang salah tuan!" ucap Nadira.
Albert melirik tajam ke arah Nadira, seketika gadis itu langsung menunduk karena tak berani menatap wajah Albert yang mengerikan itu saat sedang emosi.
Sementara Cakra terkejut mendengar Nadira memanggil pria itu dengan sebutan tuan, ia pun menatap wajah Nadira dan kembali bertanya pada wanita itu terkait siapa pria tersebut.
"Nadira, dia siapa? Kenapa kamu panggil dia tuan?" tanya Cakra penasaran.
"Eee di-dia... dia tuanku, tuan Albert! Maaf ya Cakra, mulai sekarang aku gak bisa lagi ketemu sama kamu! Ini demi keselamatan kamu juga, jangan pernah temui aku walau kamu melihat aku nantinya!" jawab Nadira dengan sedikit gugup.
"Apa maksud kamu Nadira?" ujar Cakra.
"Sudahlah, kamu tidak perlu tahu terlalu dalam tentang aku! Cukup ikuti saja kemauan aku, supaya kamu selamat!" tegas Nadira.
"Ta-tapi—"
"Tuan, ayo kita pergi! Aku tahu aku salah, aku siap menerima hukuman apapun dari kamu!" potong Nadira langsung mengalihkan pandangan ke arah Albert.
Albert kembali menegakkan tubuhnya, ia menghela nafas untuk menghilangkan rasa emosi yang ada di dalam hatinya saat ini pada Cakra.
"Baiklah!" ucap Albert singkat.
__ADS_1
Pria itu langsung menarik tangan Nadira dengan kasar pergi ke luar dari cafe tersebut, terlihat Nadira cukup kesakitan dan masih sesekali menoleh ke arah Cakra yang sedang terduduk di lantai itu.
"Maaf Cakra! Sekarang semuanya sudah berbeda, aku sudah jadi milik dari seorang pria kejam yang haus akan s*x ini! Semoga kamu bisa bahagia dengan wanita yang lebih baik dari aku, selamat tinggal Cakra!" batin Nadira.
Setelah kepergian Nadira dari sana, Cakra pun merasa sedih dan bingung tentang apa yang baru saja terjadi padanya.
"Ini sebenarnya ada apa sih? Kok Nadira bilang begitu? Siapa ya itu cowok tadi?" gumam Cakra.
Saat Cakra hendak pergi, seorang pelayan cafe mencegahnya dan menyerahkan tagihan padanya atas kerusakan yang terjadi di dalam cafe tersebut akibat dari pertengkaran tadi.
"Maaf mas! Ini semua total biayanya, sudah termasuk kursi dan meja kami yang rusak!" ucap pelayan itu sambil tersenyum.
Cakra syok mendengarnya, ia celingak-celinguk dan memang benar terjadi cukup banyak kerusakan di dalam sana.
"Loh kok dikasih ke saya? Yang bikin rusak kan cowok tadi, harusnya mbaknya kasih ini ke cowok itu! Saya disini korban loh mbak, emang mbak gak lihat muka saya sampe ungu kayak gini?" protes Cakra.
"Iya mas, tapi kami tidak mau tahu! Masnya harus tanggung jawab atau kami akan perpanjang masalah ini di kepolisian!" ucap pelayan itu.
"Haish pria sialan!" umpat Cakra.
•
•
Suasana cukup hening tanpa adanya obrolan atau apapun itu, Nadira berkali-kali menatap wajah Albert dari samping seperti hendak mengatakan sesuatu, namun ia menahannya karena takut Albert marah.
"Hey, siapa pria yang tadi bicara dengan kamu di cafe itu? Coba jelaskan ke saya!" tanya Albert.
Nadira pun terkejut, ia kembali menatap wajah Albert dengan mulut terbuka serta mata yang lebar. Ia tak tahu bagaimana harus memberitahu Albert mengenai Cakra, ia khawatir justru Albert akan semakin emosi jika tau bahwa Cakra adalah pria yang ia cintai selama ini.
"Umm, dia namanya Cakra. Dia teman aku waktu di sekolah dan sampai sekarang juga masih sih, aku tadi gak sengaja ketemu dia waktu sehabis belanja dari minimarket. Terus dia ajak aku ngobrol di cafe itu, yaudah aku setuju aja!" jawab Nadira.
"Kamu tahu gak? Itu namanya perbuatan yang jahat, kan kamu sekarang sudah bersuami! Kenapa kamu masih mau ngobrol berdua dengan pria lain, sambil pegangan tangan lagi? Apa kamu benar-benar ingin membuat saya marah, iya? Lalu kenapa juga kamu pergi keluar gak pamit atau izin sama saya, ha?" tegur Albert emosi.
Nadira menunduk ketakutan saat ditatap seperti itu oleh Albert dari jarak lumayan dekat.
"Saya tidak suka dengan wanita pembangkang seperti kamu! Untuk memberi kamu pelajaran, saya akan berikan hukuman yang paling setimpal untuk kamu Nadira!" ucap Albert.
"Hah? Tu-tuan, saya minta maaf tuan! Saya tadi cuma mau keluar sebentar cari angin, kan selama ini tuan selalu mengurung saya di dalam rumah! Saya bosan tuan, maka dari itu saya minta ikut dengan mbok Widya! Lagian saya juga gak keluar sendiri, ada pengawal juga yang nemenin saya!" ucap Nadira.
"Sudah jangan membangkang terus! Terima saja konsekuensinya, karena kamu tidak mau patuh dengan kata-kata saya!" bentak Albert.
"Tapi tuan, saya—"
__ADS_1
Ucapan Nadira terhenti lantaran Albert menatapnya dengan tajam serta meremass pergelangan tangan wanita itu cukup kuat, bahkan sampai Nadira harus meringis menahan sakit karena Albert seperti hendak meremukkan tulang pada lengannya itu.
"Awhh sa-sakit tuan, tolong lepas!" rintih Nadira.
"Diamlah!" bentak Albert.
Akhirnya Nadira terdiam dan tak lagi bicara, ia takut membuat Albert semakin marah. Nadira pun harus menerima apapun yang akan dilakukan Albert nantinya, walau ia tahu pastinya semua itu tak jauh dari yang namanya berhubungan badan.
❤️
Singkat cerita, mereka sudah sampai di rumah dan Albert langsung saja menyeret Nadira menuju kamar untuk memberikan hukuman pada wanita itu seperti yang sudah ia katakan ke Nadira tadi.
Nadira tampak ketakutan, bahkan ia tak berani melawan Albert saat pria itu menariknya cukup kuat dan hampir membuat lengannya putus, ia hanya bisa memejamkan mata pasrah akan keadaan yang sedang ia rasakan saat ini.
Benar saja pria itu membawanya ke dalam kamar khusus, sebuah tempat yang sengaja ia sediakan untuk mengeksekusi Nadira bila wanita itu melakukan kesalahan atau apalah.
Setelah menutup dan mengunci pintu, Albert memojokkan tubuh Nadira ke tembok lalu menatapnya tajam dengan terus mencengkeram kedua tangan Nadira yang ia letakkan di atas kepala sambil menarik dagunya.
"Tuan, apa yang mau tuan lakukan ke saya? Tolong jangan apa-apakan saya tuan!" ucap Nadira.
"Hey, jangan sok manis di hadapan saya! Semua yang tadi kamu lakukan itu, adalah sebuah kesalahan besar! Kamu sudah membuat saya marah Nadira, sekarang terimalah hukumannya!" ujar Albert.
Sraakkk...
Pria itu merobek pakaian yang dikenakan Nadira dengan mudahnya, sehingga gunung kembar milik wanita itu langsung menyembul keluar walau masih ditutupi oleh kain penutup, namun tentu hal itu sudah berhasil membuat Nadira gemetar.
"Tu-tuan, saya minta maaf!" ucap Nadira memelas.
Albert yang sudah diselimuti rasa amarah, tak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Nadira. Ia terus saja melucuti seluruh pakaian Nadira hingga wanita itu telanjang sepenuhnya, Albert pun merasa puas karena sudah menelanjangi wanitanya.
Kemudian, pria itu mendorong tubuh Nadira ke atas kursi berwarna hitam yang berada disana. Ia mendudukkan Nadira disana dan mengikat kedua tangan dari gadis itu, Nadira hendak berontak namun tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Albert.
Tak hanya mengikatnya, Albert juga menutup mata Nadira dengan sebuah kain merah yang ia ambil dari laci disana. Setelahnya, ia pun melebarkan kedua kaki Nadira sehingga goa milik wanita itu terpampang dengan jelas di matanya.
"Sempurna!" ujarnya.
Nadira yang tak bisa melihat apa-apa, hanya dapat mendengar suara Albert membuka laci kembali. Ia tak tahu kali ini apa yang diambil oleh pria itu, namun tak lama ia merasakan sesuatu yang bergetar di dalam area miliknya.
"Aaahhh ssshhh..."
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1