
Nadira baru keluar dari kamarnya, wanita yang mengenakan daster tipis itu tak sengaja berpapasan dengan Fadia, pelayan yang ditugaskan membuat minuman untuk Darius.
Tentu saja Nadira menghampiri pelayan itu, karena ia hendak bertanya mengenai keberadaan suaminya yang hingga kini tak kunjung ada kabar, padahal ia sangat bosan terus-menerus berada di dalam rumah tanpa menjalani kegiatan.
"Eee mbak Fadia, saya mau tanya dong sebentar aja!" ucap Nadira menahan pelayan itu.
"Ya, ada apa non Dira?" tanya Fadia bingung.
"Eee begini mbak, tuan Albert udah pulang apa belum ya? Saya daritadi gak dengar suara dia tuh, apa dia masih di luar?" ujar Nadira.
"Ohh soal itu, tuan Albert sepertinya masih pergi keluar dengan non Chelsea, non. Memangnya kenapa ya non Dira? Apa non Dira kangen dengan tuan Albert?" goda Fadia.
"Enggak mbak, bukan gitu. Aku bingung aja, kalo tuan Albert emang belum pulang, terus ini minuman buat siapa dong yang dibawa mbak?" tanya Nadira.
"Ini mah bukan buat tuan Albert, non. Tapi buat pamannya tuan Albert yang ada di depan," jawab Fadia.
"Apa? Pamannya tuan Albert?" ujar Nadira kaget.
"Iya non, barusan aja pak Darius alias pamannya tuan Albert datang kesini non. Makanya saya buatkan minuman supaya beliau bisa menunggu tuan Albert pulang sambil minum," jelas Fadia.
"Oh gitu, saya kira tuan Albert yang udah pulang, eh ternyata ada pamannya!" ujar Nadira.
"Iya non, yaudah ya saya permisi dulu non mau anterin minuman ini buat pak Darius di depan!" ucap Fadia hendak pergi.
"Eh mbak, tunggu!" cegah Nadira.
"Ada apa lagi ya non?" tanya Fadia bingung.
"Aku harus temuin pamannya tuan Albert itu, siapa tahu kan dia bisa bantu aku!" batin Nadira.
"Umm, biar saya aja deh mbak yang anterin minuman itu buat pak Darius!" ucap Nadira.
"Beneran non?" ujar Fadia terkejut.
"Iya mbak, udah aku aja yang anterin minumannya! Mending mbak Fadia sekarang balik ke dapur sana lanjut kerja yang lain, supaya lebih gampang juga kerjaan mbak Fadia!" ucap Nadira.
"Iya sih non, tapiβ"
"Ah udah mbak, gausah tapi tapi! Sini saya yang bawain minumannya!" serobot Nadira.
Wanita itu langsung mengambil nampan berisi gelas minuman dari tangan Fadia, tentu saja pelayan itu membiarkan Nadira mengambilnya daripada nantinya minuman itu tumpah dan malah menambah kerjaan baginya.
"Nah, udah mbak Fadia ke dapur aja!" ucap Nadira tersenyum.
"Eee ini beneran non? Saya takut kalau sampe tuan Albert lihat, nanti saya bisa dimarahin sama tuan Albert!" ujar Fadia cemas.
"Gapapa mbak, tenang aja ya!" bujuk Nadira.
"I-i-iya deh non, non Dira hati-hati bawa minumnya!" ucap Fadia gugup.
"Oke mbak!"
Tanpa berlama-lama lagi, Nadira langsung berbalik dan melangkah menuju ruang tamu sambil membawa minuman di tangannya. Ia sudah amat penasaran dengan sosok paman dari Albert, dan ingin segera bertemu dengan beliau.
__ADS_1
Sesampainya di ruang tamu, terlihat Darius masih sibuk bermain ponsel. Nadira pun tersenyum dan menghampiri Darius untuk menyerahkan minuman itu padanya, walau ia masih agak gugup karena ini pertama kalinya ia bertemu dengan Darius.
"Permisi paman! Ini minumannya, silahkan diminum dulu paman!" ucap Nadira dengan nada lembut.
Sontak Darius terkejut melihat kemunculan gadis cantik di rumah itu, karena pelayan sebelumnya yang ia temui tak secantik ini.
"Kamu siapa?" tanya Darius heran.
"Eee sa-saya...."
β’
β’
Sementara itu di halaman rumah Albert, Keenan sang asisten baru kembali dari menjalankan tugas yang diperintahkan Albert untuk membasmi para manusia aneh itu.
Keenan pun turun dari mobilnya, ia heran melihat adanya sebuah mobil Fortuner hitam yang terparkir disana, karena penasaran ia menghampiri salah satu penjaga disana untuk bertanya.
"Heh! Kamu tahu ini mobil siapa?" tegur Keenan bertanya pada penjaga itu.
"Eee ini mobilnya pak Darius, bos Keenan!" jawab penjaga itu.
"Hah? Darius? Maksud kamu, Darius paman tuan Albert? Dia datang kesini sendirian?" tanya Keenan masih penasaran.
"Benar bos!" ucap penjaga itu mantap.
Keenan mulai cemas dengan itu, karena ia tahu di dalam sana hanya ada Nadira istri dari Albert. Ia khawatir jika Nadira akan bertemu dengan Darius dan sesuatu yang buruk bisa terjadi nantinya.
"Yasudah, terimakasih! Lanjut jaganya, saya mau cek ke dalam dulu!" ucap Keenan.
Akhirnya Keenan melangkah ke dekat pintu, namun ia mengurungkan niatnya dan lebih memilih menghubungi Albert lebih dulu untuk memberikan laporan terkait hal itu.
"Kayaknya saya harus hubungi tuan Albert, supaya beliau bisa cegah nona Nadira untuk keluar dari kamarnya!" gumam Keenan dalam hati.
Keenan pun mengambil ponsel, lalu mulai menghubungi nomor Albert disana.
π"Halo tuan!" ucap Keenan.
π"Ya, ada apa Keenan? Bagaimana tugas yang saya perintahkan ke kamu tadi? Apa sudah beres?"
π"Tenang aja tuan! Si pengancam itu sudah saya atasi, tapi maaf tuan karena saya belum tahu siapa yang udah suruh mereka!" ucap Keenan.
π"Yasudah, tidak apa. Kamu bisa cari tahu tentang itu dan saya percaya sama kamu!"
π"Baik tuan! Tapi, saya ingin memberikan informasi penting pada tuan saat ini!" ucap Keenan.
π"Apa itu?"
π"Ini saya baru sampai di rumah tuan, tapi ternyata di dalam sudah ada pak Darius yang datang ingin bertemu dengan tuan. Saya khawatir kalau pak Darius tak sengaja melihat nona Nadira dan mengetahui rahasia tuan!" jelas Keenan.
π"Apa? Om Darius ada di rumah?"
Terdengar jelas raut kepanikan dari suara Albert, yang dapat dimaklumi oleh Keenan karena bosnya itu memang ingin merahasiakan pernikahannya dari siapapun termasuk Darius.
__ADS_1
π"Benar tuan! Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang tuan supaya pak Darius bisa segera pergi dari sini?" tanya Keenan.
π"Eee tidak perlu kamu usir dia! Kamu hanya cukup temui dia dan buat dia sibuk, jangan sampai dia bertemu dengan Nadira! Kalau sampai itu terjadi, bisa runyam semua masalahnya!"
π"Baik tuan! Saya akan segera masuk ke dalam untuk menemui pak Darius!" ucap Keenan.
π"Ya cepatlah!"
Tuuutttt....
Keenan berbalik setelah mematikan telpon, ia kaget saat melihat Darius sedang bersandar di depan pintu dan memandang ke arahnya sambil tersenyum licik.
"Kenapa kamu kaget begitu Keenan? Habis lapor sama tuan kamu kalau saya ada disini? Baguslah, lalu dimana dia ha? Kenapa sampai sekarang belum pulang juga? Saya nungguin loh!" ujar Darius.
"Eee maaf pak! Tuan Albert sedang ada urusan dengan Chelsea, adiknya yang baru pulang!" ucap Keenan mencoba tenang.
"Oh gitu, yasudah saya permisi aja!" ucap Darius.
Pria dewasa dengan kumis tebal itu melangkah melewati Keenan sembari memakai kacamata miliknya, ia menuju mobil yang terparkir di depan dengan santainya.
"Kenapa ya Keenan sampai secemas itu, takut jika saya bertemu dengan Nadira? Mengapa Albert sampai harus merahasiakan pernikahannya dengan Nadira itu dari saya? Hahaha, untung saja saya sudah bertemu dengan Nadira sebelumnya dan gadis itu telah menceritakan semuanya ke saya!" batin Darius.
#Flashback
"Kamu siapa?" tanya Darius heran.
"Eee sa-saya...."
"Duduklah! Kita bicara dengan santai, supaya kamu tidak gugup!" ucap Darius tersenyum.
Nadira mengangguk setuju, lalu duduk di sofa yang agak jauh dengan Darius. Ia masih gugup dan terus merunduk sembari menaruh dua tangan di atas pahanya.
"Saya lihat-lihat penampilan kamu tidak seperti seorang pelayan, pasti kamu bukan pelayan disini kan?" ujar Darius.
"Bu-bukan paman," jawab Nadira.
"Sudah saya duga, siapa kamu sebenarnya? Belum pernah saya melihat kamu sebelumnya, dan mengapa kamu memanggil saya paman?' tanya Darius sangat penasaran.
Nadira mengambil nafas sejenak sambil memejamkan mata, ia memberanikan diri untuk berbicara demi kebebasan dirinya.
"Saya Nadira, paman. Dan saya istri sah dari tuan Albert, beliau sudah menikahi saya beberapa Minggu lalu! Itulah alasan mengapa saya memanggil bapak dengan sebutan paman, karena saya tahu bapak ini adalah paman dari tuan Albert suami saya!" jelas Nadira.
"Apa? Istri?" ujar Darius terkejut bukan main.
#Flashback end
"Hahaha, saya bisa jadikan Nadira sebagai alat untuk meruntuhkan kamu Albert!" batin Darius.
Darius pun masuk ke dalam mobilnya, lalu segera menancap gas dan pergi dari sana.
Sementara Keenan masih tetap pada tempatnya, ia mengamati mobil Darius dengan perasaan cemas. Ya ia khawatir Darius mendengar semua yang ia ucapkan dengan Albert di telpon tadi.
"Duh, pak Darius dengar apa enggak ya yang saya omongin sama tuan Albert tadi? Bisa gawat nih kalau sampai pak Darius tahu!" gumam Keenan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...