Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Bonus chapter (spesial Albert & Nadira)


__ADS_3

Jauh sebelum peristiwa mengenaskan itu terjadi, Albert serta Nadira sempat melakukan bulan madu ke negara Swiss sesuai permintaan sang wanita.


Tentu Albert tak bisa menolaknya, dia tidak mau membuat wanitanya bersedih. Apalagi saat itu Nadira memang tengah mengandung calon anaknya.


Ya mereka pun berangkat ke bandara Jakarta pagi-pagi sekali, Nadira sangat bersemangat dan tidak sabar ingin segera sampai di Swiss.


Bahkan, semalaman Nadira tidak bisa tidur karena terus memikirkan apa yang akan dia lakukan bersama Albert saat di Swiss nanti.


"Mas, disana nanti kita foto-foto yang banyak ya? Terus jangan lupa juga kamu ajakin aku jalan-jalan ke tempat wisata yang ada disana! Aku pengen kasih lihat ke ibu sama ayah, mereka pasti bakal suka banget deh!" ucap Nadira.


"Iya iya, udah kamu gausah bawel deh Nadira! Saya juga ngerti kali yang kamu mau," ketus Albert.


"Ih kamu kok ketus gitu sih? Kamu gak senang ya lihat istri kamu bahagia?" tanya Nadira.


"Bukan gitu, saya cuma pusing dengar ocehan kamu Nadira!" jelas Albert.


"Ohh, jadi kamu maunya aku diem aja gitu? Oke deh kalau itu yang kamu mau, aku bakal nurut sama kamu!" kesal Nadira.


Karena kesal, Nadira pun membuang muka dengan kedua tangan ia lipat.


"Eh eh, ya jangan ngambek juga kali sayang! Kalau kamu ngambek begitu, gak seru dong bulan madu kita kali ini!" ucap Albert berusaha membujuk istrinya.


Hanya keheningan yang terjadi, Nadira tetap tak mau berbicara karena terlanjur kesal pada Albert.


Albert tak menyerah sampai disitu, ia mencoba mendekati Nadira dan menggoda wanita itu.


"Uhh sayang, kamu cantik banget sih! Wangi juga lagi, saya jadi pengen nganu sama kamu di mobil deh!" ucap Albert seraya mengendus leher Nadira.


Seketika kedua mata Nadira membulat mendengarnya.


"Kamu bicara apa sih mas?! Jangan ngada-ngada deh, di depan ada pak Liam tau, malu!" ucap Nadira sangat kaget dengan ucapan suaminya.


"Nah gitu dong, akhirnya rencana saya berhasil juga buat bikin kamu bicara! Saya suka dengar suara kamu sayang, jangan diam lagi ya!" ucap Albert sembari mengusap rambut Nadira.


"Abisnya kamu ngeselin sih! Masa aku cuma ngomong begitu aja dibilang bawel? Padahal aku kan cuma antusias tau diajak jalan-jalan ke luar negeri sama kamu," ucap Nadira.


"Iya iya, maafin saya ya! Udah dong jangan cemberut terus! Bisa-bisa saya makan nih bibir kamu kalau kamu gak mau senyum," ujar Albert.


"Makan aja kalo bisa!" tantang Nadira.


Merasa tertantang, Albert pun menahan tengkuk Nadira dan langsung meraup bibir merah muda sang istri dengan penuh gairah.


Liam yang sedang menyetir sampai tidak fokus saat menyaksikan kejadian itu, namun ia berusaha tetap tenang dan tak memperdulikannya.

__ADS_1


"Mmppphhh!!" Nadira berusaha melawan dengan memukul-mukul bahu Albert, tetapi gagal.


Karena Nadira yang tak mau membuka mulut, pria itu akhirnya sengaja menekan bukit Nadira hingga wanita itu tanpa sengaja membuka mulutnya.


Albert tersenyum seringai, kemudian menelusupkan lidahnya menari-nari di dalam rongga mulut Nadira.


Setelah dirasa Nadira mulai kehabisan nafas, barulah Albert mengakhiri ciuman itu. Tampak Nadira langsung terengah-engah disana.


"Haaahhh haaahhh... kamu mau bunuh aku ya mas?" kesal Nadira.


"Hahaha, tadi kan kamu yang nantang saya buat makan bibir kamu! Yaudah karena saya gak suka ditantang, jadi saya makan aja bibir kamu sampai puas!" kekeh Albert.


"Ish dasar nyebelin!" Nadira yang kesal terus memukuli tubuh Albert berkali-kali.




Swiss, 16.00


Akhirnya mereka tiba di Swiss, Nadira yang sangat gembira terus tersenyum renyah dan berlari kecil kesana-kemari mengelilingi bandara.


Albert menggeleng sambil menarik dua koper miliknya dan Nadira, berulang kali ia menegur wanita itu untuk berhenti tetapi tak didengar.


"Iya dong, disini emang segar dan bersih banget. Tapi kalau kelamaan, yang ada dompet saya bisa kering Nadira," sarkas Albert.


"Hahaha.." Nadira tertawa dengan riang.


"Hey, udah udah ah jangan lari-larian terus, kayak bocah aja! Gak malu tuh dilihatin orang-orang sekitar?" tegur Albert.


"Biarin! Kenapa harus malu coba? Aku tuh turis disini, jadi gapapa dong," ujar Nadira.


"Ah terserah kamu aja deh! Saya mah mau duduk aja disini sambil nunggu orang saya datang buat jemput kita," ucap Albert.


"Orang kamu? Maksudnya?" tanya Nadira heran.


"Iya orang saya, kan saya punya beberapa anak buah disini. Mereka nantinya yang akan bantu kita selama di Swiss sayang," jawab Albert.


"Hah??" Nadira amat terkejut, dia terus melongok dan menyusul duduk di sebelah suaminya.


"Kamu kenapa sih? Kok kayak kaget banget gitu?" tanya Albert heran.


"Aku heran aja sama kamu mas, kamu sebenarnya orang apa sih? Masa iya kamu bisa punya anak buah di Swiss?" ujar Nadira.

__ADS_1


"Salahnya dimana? Toh saya juga mau bangun cabang perusahaan disini, dan mereka saya tugasin buat memantau daerah sini," ucap Albert.


"Hadeh, sultan banget emang suami aku ini dah!" ucap Nadira.


"Bisa aja kamu, saya mah bukan sultan sayang. Masih kalah jauh sama orang-orang di Arab sana, mereka itu the real sultan. Lah saya mah gak ada apa-apanya sama mereka," ucap Albert.


"Iya deh iya terserah kamu aja! Bosan aku dengar kalau kamu lagi merendah gitu, pasti ujung-ujungnya nanti ceramahin aku!" ujar Nadira.


"Hahaha, duh gemesnya istriku ini!" Albert mencubit pipi Nadira berkali-kali karena gemas dengan ekspresi istrinya itu.


Saat mereka tengah asyik bermesraan, tiba-tiba seorang pria tampan menghampiri mereka.


"Permisi tuan!" sapa pria itu dengan kedua tangan terlipat di depan.


"Ya, ada apa ya?" tanya Albert tampak bingung. "Eh tunggu-tunggu, kok situ bisa bahasa Indonesia? Ini kan di Swiss," lanjutnya terheran-heran.


"Eee saya Janson, tuan. Saya yang tuan minta untuk berjaga-jaga disini dan menyiapkan semua keperluan bulan madu tuan dan istri," jelas pria itu.


"Hah?? Oalah, jadi anda yang namanya Jason? Maaf maaf, saya gak sadar!" ucap Albert langsung berdiri dan berjabat tangan dengan Janson.


"Tidak apa-apa tuan, wajar kan kita baru pertama kali ketemu," ucap Janson.


"Oh ya, kenalin ini istri saya namanya Nadira!" ucap Albert mengenalkan Nadira dengan Janson.


Nadira hanya diam dan terus menatap wajah Janson dengan mulut terbuka, hal itu membuat Albert heran sekaligus kesal.


"Hey Nadira!" tegur Albert.


"Ah eee i-i-iya mas iya... halo mister Janson! Aku Nadira, salam kenal ya!" ucap Nadira gelagapan sembari menyodorkan tangan ke Janson.


"Ya nyonya, saya Janson!" balas pria bernama Janson itu.


Nadira tak henti-hentinya memandangi wajah pria itu, sampai membuat Albert menggeram kesal dengan kelakuan sang istri.


"Ganteng banget sih!" ucap Nadira spontan.


"Nadira!" sentak Albert yang semakin emosi.




Oke itu aja bonusnya, tapi kalau ada yang minta lagi sih gapapa, bisa lah dibikin lagi sama author.

__ADS_1


Jangan lupa like+komen ya ges ya!


__ADS_2