Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Semuanya tewas


__ADS_3

"Cukup ya Vanesa! Kamu sebaiknya pergi dari sini, atau saya akan perintahkan Liam dan yang lainnya buat usir paksa kamu dari sini!" ucap Abigail.


"Walau aku diusir sekalipun, aku gak akan mau pergi dari sini, tante. Aku baru mau pergi, kalau aku bisa bawa Galen. Sekarang dimana Galen, tante?" ucap Vanesa.


"Galen gak ada di rumah, dia lagi pergi sekolah. Lagian kalaupun dia ada disini, dia juga gak akan mau ketemu sama kamu." ucap Abigail.


"Iya sih, itu juga karena ulah kalian semua yang udah mendoktrin anak aku supaya lupa sama aku. Kalian semua itu jahat banget tau, kalian gak punya hati nurani!" ujar Vanesa.


"Kamu kenapa jadi salahin keluarga saya? Kamu kan udah setuju dengan persetujuan yang dibuat sama Albert, jadi ini bukan sepenuhnya salah kami dong!" ucap Abigail.


"Aku setuju karena aku emang gak punya pilihan lain, waktu itu aku masih dalam keadaan sakit parah dan cuma tawaran dari Albert yang bisa bikin aku sembuh dari sakit aku." ucap Vanesa.


"Nah itu kamu tau, terus kenapa kamu mau minta Galen lagi sekarang? Galen itu udah bukan anak kamu lagi, paham?!" ucap Abigail.


Vanesa tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya dengan sesekali memegangi keningnya.


"Sampai kapanpun, Galen tetap akan jadi anak aku. Gak ada yang namanya mantan anak ya tante, jadi tante jangan bilang kalau Galen bukan anak aku!" ucap Vanesa.


"Kamu—"


"Nenek!" ucapan Abigail terpotong saat suara Galen terdengar dari arah depan.


Abigail dan Vanesa pun sama-sama menoleh ke asal suara, terlihat Galen baru datang bersama suster Alra disana.


"Nenek, aku udah pulang sekolah. Tadi di sekolah aku belajar menggambar loh nek," ucap Galen.


Abigail diam saja saat Galen cucunya mendekat ke arahnya dan memeluk pinggangnya, ia nampaknya masih terus fokus menatap Vanesa disana.


"Nek, kok nenek diem aja sih?" tanya Galen heran.


"Halo Galen sayang!" ucap Vanesa.


Galen pun terkejut dan reflek menoleh ke arah Vanesa dengan wajah terheran-heran.


"Eh iya, tante siapa ya?" tanya Galen.


"Bukan tante sayang, tapi—"


"Eee Galen, kamu masuk aja ya ke dalam! Suster, tolong kamu antarkan Galen ke kamarnya ya!" potong Abigail.


"Baik nyonya!" ucap suster Alra.


"Tapi nek, tante itu siapa sih?" tanya Galen.


"Kamu jangan banyak tanya ya Galen! Udah masuk aja ke dalam! Nurut sama nenek!" ujar Abigail.


"Iya nek," ucap Galen.


"Yuk den kita ke kamar!" ucap suster Alra.


Galen menurut saja, lalu masuk ke dalam rumah bersama suster Alra.


Sementara Abigail kembali menatap Vanesa dengan tatapan tak suka.


"Kamu tadi mau bilang apa sama Galen?" ujar Abigail.


"Hanya ingin memberitahu siapa aku yang sebenarnya kepada Galen, apa itu salah?" jawab Vanesa dengan santai.


"Kamu itu benar-benar ya! Galen bukan anak kamu, jadi stop bilang kalau dia itu anak kamu!" ucap Abigail dengan keras.


"Kenapa sih tante? Sepertinya tante takut sekali kehilangan Galen, apa tante sayang banget ya sama dia?" ucap Vanesa.


"Tidak usah banyak bicara kamu! Sekarang cepat kamu pergi dari sini!" ujar Abigail.


"Aku gak mau pergi, kalau gak sama Galen!" tegas Vanesa.


Abigail menggelengkan kepalanya, merasa bingung harus melakukan apa lagi untuk bisa mengusir Vanesa dari sana.


"Aku harus hubungi Albert!" batin Abigail.




Nadira kini sudah duduk di sofa bersama Sulastri yang baru selesai membuatkan minuman.


"Ini teh hangat buat kamu, yuk diminum dulu biar tubuh kamu enakan!" ucap Sulastri.


"Iya Bu, terimakasih!" ucap Nadira.


"Eh ya, kamu abis nangis ya sayang? Apa yang bikin kamu nangis begini? Katanya kamu gak ada masalah, tapi kok kamu nangis?" tanya Sulastri.


"Eee aku cuma sedih aja Bu, abisnya mas Albert sering banget bohongin aku." jawab Nadira.


"Maksud kamu gimana? Emangnya nak Albert bohong apa lagi sama kamu?" tanya Sulastri.


"Itu loh bu, mas Albert bohong soal meninggalnya Vanesa. Ternyata selama ini Vanesa masih hidup, aku kan kesel Bu!" jelas Nadira.


"Apa? Jadi, kamu sudah tahu tentang itu?" ucap Sulastri spontan.


Nadira terkejut mendengar ucapan ibunya, ia melirik ke arah Sulastri dengan tatapan heran.


Sementara Sulastri reflek menutupi mulutnya sendiri yang baru saja keceplosan.

__ADS_1


"Ibu kok bilang gitu? Emangnya ibu udah tahu ya kalau Vanesa belum meninggal? Apa ibu kerjasama dengan mas Albert buat bohongin aku?" tanya Nadira terkejut.


"Kamu bicara apa sih sayang? Ibu gak mungkin lah begitu, masa ibu bohongi kamu sayang?" jawab Sulastri sambil tersenyum.


"Terus, kenapa ibu bilang gitu tadi?" tanya Nadira.


"Eee ibu.." Sulastri terlihat kebingungan.


"Ibu ngaku aja deh! Ibu emang udah tahu semua ini kan?" ujar Nadira.


"Dengerin ibu dulu sayang! Ibu—"


"Bu, aku ini anak ibu loh. Harusnya ibu jujur sama aku dong kalau ibu udah tahu Vanesa belum meninggal! Terus, apa lagi yang ibu ketahui?" potong Nadira.


"Gak ada sayang, cuma itu." ucap Sulastri.


"Ibu bohong lagi kan? Pasti ibu juga udah tahu, kalau Galen itu bukan anak aku!" ucap Nadira.


"Hah?? Ternyata Albert juga udah kasih tahu soal itu ke kamu?" ujar Sulastri terkejut.


"Tuh kan, ibu juga udah tahu soal itu. Kenapa sih Bu? Kenapa semua orang pada bohongin aku? Aku kira ibu selaku ibu kandung aku sendiri gak akan mungkin bohongin aku, tapi nyatanya ibu malah udah sekongkol sama mas Albert!" ucap Nadira.


"Sabar dulu ya sayang! Semua ini kita lakukan demi kebaikan kamu, kita gak mau lihat kamu sedih dan menderita sayang." ucap Sulastri.


"Apapun alasannya, tetap aja aku gak suka dibohongin. Lebih baik ibu tuh jujur sama aku, aku pasti bisa terima semuanya kok. Daripada kayak gini, malah bikin aku tambah sakit!" ucap Nadira.


"Iya sayang, ibu minta maaf ya! Ibu gak berpikir panjang sewaktu nak Albert merencanakan ini semua, yang ibu pikirin waktu itu cuma kebaikan kamu. Ibu gak mau kamu sedih," ucap Sulastri.


"Udah lah Bu, ibu gak perlu minta maaf sama aku! Ini bukan salah ibu kok, tapi ini semua karena mas Albert." ucap Nadira.


"Kamu jangan salahin suami kamu juga sayang! Nak Albert gak ada niatan buat bohongin kamu kok, dia cuma bingung dan gak mau lihat kamu sedih nak." ucap Sulastri.


Nadira menghela nafasnya, meminum teh hangat yang sudah diberikan ibunya untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


Sulastri pun langsung merangkul pundak Nadira, mengusapnya lembut sambil mencium kening putrinya.


"Kamu jangan sedih lagi ya sayang!" ucap Sulastri.


Nadira tak menjawab, ia justru meneteskan air mata akibat mengingat sosok putrinya.




Albert dan Keenan tiba di rumah tempat Vanesa serta Harrison bersembunyi.


Mereka langsung turun dari mobil, bergerak masuk ke dalam rumah itu dengan tergesa-gesa.


Disaat mereka hendak masuk lebih dalam, tanpa sengaja Albert melihat tubuh James dan para penjaga lainnya tergeletak di atas lantai.


"Hah? James??" ucap Albert terkejut.


Albert dan Keenan pun reflek menghampiri tubuh James yang berdarah-darah itu.


"James, kamu kenapa James? Hey sadarlah!" ucap Albert dengan wajah panik.


Sementara Keenan mengecek denyut nadi James untuk memastikan apakah pria itu masih bernyawa atau tidak.


"Bagaimana Keenan?" tanya Albert.


"James sudah gak ada tuan," jawab Keenan.


"Apa??" Albert langsung bangkit dan berdiri seperti semula, ia bergerak memeriksa nyawa para bodyguard yang lainnya.


Namun, naasnya semua bodyguard disana sudah tidak bernyawa.


"Aaarrgghh sial! Ada apa ini? Kenapa mereka semua bisa terbunuh seperti ini?!" teriak Albert sembari menjambak rambutnya sendiri.


Keenan menemukan sebuah peluru di atas lantai, ia melihat ke sekeliling dan memang seperti terdapat bekas tembakan di sekitarnya itu.


"Tuan, sepertinya ada yang menyerang tempat ini. Mereka membunuh James dan yang lainnya menggunakan senjata api, itu sebabnya James tidak dapat melakukan perlawanan." ucap Keenan menunjukkan peluru itu kepada Albert.


"Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini semua? Saya gak bisa diam aja, saya harus balas perbuatan mereka! Ini sama saja mereka menginjak-injak harga diri saya!" geram Albert.


"Sabar tuan! Lebih baik kita cek dulu Vanesa dan papanya untuk memastikan apakah mereka masih ada disini atau tidak," usul Keenan.


"Ya, baiklah!" ucap Albert menurut.


Mereka bergegas menuju kamar tempat Vanesa dirawat, tapi lagi-lagi tidak ada siapapun disana dan kondisi kamar itu pun sangat berantakan.


"Apa-apaan ini? Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" ujar Albert.


"Entahlah tuan, tapi sepertinya Vanesa dan pak Harrison sudah melarikan diri." ucap Keenan.


"Kamu benar! Tempat ini sudah kosong, barang-barang milik Vanesa juga tidak ada disini. Memang kurang ajar mereka! Pasti ini semua ulah Harrison si sialan itu!" ucap Albert.


"Mungkin saja tuan, karena pak Harrison adalah kriminal kelas kakap. Dia pasti sudah merencanakan ini semua jauh-jauh hari, karena apa yang dia lakukan ini cukup berhasil." ucap Keenan.


Braakkk..


"Aaarrgghh kurang ajar!" umpat Albert sembari menendang pintu hingga copot.


"Lalu, dimana om Darius? Apa mungkin dia juga terlibat dalam rencana pelarian diri Harrison?" ucap Albert keheranan.

__ADS_1


"Bisa saja tuan, tapi alangkah baiknya kita telusuri dulu tempat ini dan cari pak Darius. Mungkin saja beliau juga ikut tertembak," ucap Keenan.


"Ya, saya akan cek ke belakang. Kamu periksa halaman samping!" perintah Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan.


Mereka berpisah jalan, Albert melangkah ke belakang rumah untuk mencari Darius, sedangkan Keenan bergerak menuju halaman samping.


Drrttt..


Drrttt...


Tiba-tiba saja ponsel milik Albert berdering, ia pun berhenti sejenak dan mengangkat telpon tersebut.


📞"Halo mah! Ada apa?" ucap Albert.


📞"Halo Albert! Kamu dimana?" ucap Abigail.


📞"Eee ini aku masih di luar, mah. Emangnya ada apa ya? Kok mama kedengarannya kayak lagi panik gitu?" tanya Albert penasaran.


📞"Iya Albert, Vanesa datang ke rumah. Dia maksa mau ambil balik Galen, kamu cepat kesini ya!" jelas Abigail.


📞"Apa? Iya iya mah, aku pulang sekarang." ucap Albert.


Tuuutttt tuuutttt...


"Sial! Ini gak bisa dibiarin!" ucapnya.


Setelah mematikan teleponnya, Albert langsung kembali ke depan dan bergegas pergi dari sana.


Tak lama kemudian, terdengar suara orang minta tolong di area belakang rumah itu.


"To-tolong...!!"




Setelah telponnya dimatikan oleh Albert, kini Abigail kembali ke halaman rumahnya menemui Vanesa yang tak kunjung pergi dari sana.


"Abis telpon siapa sih tante? Masa tante sampe panik banget kayak gitu cuma gara-gara aku datang kesini pengen ambil anak aku? Udah lah tante, mending tante serahin aja Galen ke aku! Setelah itu aku janji deh, aku bakal pergi dari sini dan aku gak akan ganggu keluarga tante lagi!" ucap Vanesa sambil tersenyum.


"Kamu gak bisa melakukan itu Vanesa! Galen sudah sah menjadi anak Albert dan Nadira, jadi dia bukan anak kamu lagi. Sebaiknya kamu pergi, sebelum Albert datang kesini!" ucap Abigail.


"Oalah, jadi tante abis telpon Albert dan minta dia datang kesini? Ya gapapa deh, aku bakal tunggu sampai Albert datang supaya aku bisa bicara langsung sama dia nanti." ucap Vanesa.


"Kamu benar-benar ya Vanesa! Susah sekali dibilanginnya!" geram Abigail.


"Tante tuh yang susah dikasih taunya, aku kan udah bilang tadi, aku cuma mau ambil anak aku. Tapi, tante malah terus-terusan halangi aku. Ayolah tante, serahin Galen sama aku sekarang!" ucap Vanesa.


"Gak akan! Saya gak akan pernah serahin Galen sama kamu! Sekarang terserah kamu aja, kalau kamu masih mau disitu, yaudah silahkan!" ucap Abigail kesal.


Abigail pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Tante, tante tunggu dong!" teriak Vanesa.


Liam dan yang lainnya dengan sigap langsung menghalangi Vanesa agar tidak masuk ke dalam.


"Maaf! Tapi, kamu tidak boleh masuk!" ucap Liam.


"Huh menyebalkan! Kenapa aku tidak boleh masuk? Anakku itu ada di dalam, dia butuh aku dan aku juga butuh dia." ucap Vanesa.


"Kami tidak perduli, kami hanya menjalankan perintah dari nyonya besar." ucap Liam.


"Dasar kalian para cecunguk murahan! Cepat kalian minggir, atau aku akan memaksa masuk ke dalam sana!" ucap Vanesa.


"Kamu tidak bisa memaksa kami, lagipun kami juga tidak takut dengan ancaman mu itu!" ucap Liam.


"Baiklah, kalian benar-benar membuat emosiku meningkat. Jangan salahkan aku jika kalian semua akan mati di tanganku!" ucap Vanesa.


Liam dan yang lainnya tampak saling pandang satu sama lain, mereka tak mengerti mengapa Vanesa mengucapkan kalimat seperti itu.


Tanpa diduga, Vanesa mengeluarkan senjata api miliknya dari dalam tas yang ia bawa dan menodongkan itu ke arah Liam.


Sontak saja Liam serta para penjaga disana langsung terkejut dengan itu.


"Hey! Apa yang kamu lakukan? Darimana kamu mendapatkan senjata itu? Tidak sembarang orang bisa memilikinya, apa kamu sudah mempunyai izin?!" ucap Liam.


"Apa perduliku? Aku tidak butuh izin itu, yang terpenting sekarang kalian semua akan mati di tanganku!" ucap Vanesa tersenyum smirk.


"Ja-jangan Vanesa!" pinta Liam ketakutan.


"Kenapa? Takut ya?" ujar Vanesa.


Liam dan yang lainnya sudah pasrah, mereka hanya bisa mengangkat kedua tangan mereka dan berharap agar Vanesa tidak menembak.


"Tunggu Vanesa!" suara teriakan itu membuat Vanesa mengurungkan niatnya untuk memantik senjata api di tangannya itu.


"Albert? Keenan?" ucap Vanesa lirih.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2