Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
It's over


__ADS_3

"Eh eh eh ya ampun Dira!" Sulastri langsung panik melihat Nadira hampir terjatuh.


Beruntung Sulastri berhasil menahan tubuh putrinya itu, ia langsung memegangi kedua tangan Nadira yang terasa sangat dingin dan coba membujuk Nadira untuk ke rumah sakit.


"Nadira, kamu ini sebenarnya kenapa? Tangan kamu dingin sekali, wajah kamu juga keliatan pucat gitu. Kamu sakit ya sayang?" tanya Sulastri.


"Gak tahu Bu, kepala aku pusing banget. Perutku juga mual lagi, rasanya benar-benar lemas banget tubuh aku." jawab Nadira.


"Duh, tuh kan kamu sakit! Yaudah, kita ke rumah sakit aja ya sayang?" ucap Sulastri.


"Enggak bu, aku gak bawa uang. Aku gak bisa bayar biaya rumah sakit nanti, mending aku istirahat di kamar aja ya Bu?" ucap Nadira.


"Jangan nak! Ibu khawatir sama kamu, ibu gak mau kamu kenapa-napa! Masalah biaya kamu gausah khawatir, ibu masih ada uang kok!" ucap Sulastri.


"Tapi bu—"


"Sudahlah sayang, jangan membantah!" potong Sulastri.


Suhendra yang mendengar keributan itu pun datang menghampiri mereka.


"Ada apa ini Bu?" tanya Suhendra bingung.


"Nadira sakit pak, ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" jawab Sulastri dengan cemas.


"Apa??!!" Suhendra langsung panik dan buru-buru membawa putrinya ke rumah sakit.


Setelah mendapat penanganan dari dokter, kini Nadira sudah merasa lebih baik walau tubuhnya masih sedikit lemas dan pusing.


"Dok, sebenarnya saya sakit apa? Kok saya bisa tiba-tiba pusing begini?" tanya Nadira.


"Selamat ya Bu! Ini karena ada janin di rahim ibu," jawab dokter itu sambil tersenyum.


Deg!


Nadira melotot terkejut mendengar jawaban si dokter, ia menatap tak percaya ke arah dokter itu dan mengiranya salah memeriksa.


"Apa sok? Saya hamil? Enggak dok, dokter pasti salah periksa kan?! Saya gak mungkin hamil dok, sebelumnya saya sudah dinyatakan tidak bisa mengandung lagi." ucap Nadira.


"Ini yang dinamakan keajaiban Bu, apapun itu jika Tuhan sudah berkehendak maka bisa terjadi. Buktinya sekarang ini Bu Nadira bisa hamil, ya kan?" ucap dokter itu.


Nadira terdiam memikirkan semua itu, ia bingung bagaimana bisa dirinya dinyatakan hamil saat ini.


"Gimana ini? Disaat seperti ini seharusnya aku bahagia karena diberi karunia oleh Tuhan berupa seorang anak, tapi kenapa aku malah gak senang kayak gini ya?" gumam Nadira dalam hati.


Sang dokter pun merasa bingung melihat Nadira diam saja dan tampak tak menyukai kabar itu.


"Bu, kenapa ya? Apa ibu tidak senang mendapat kabar gembira ini?" tanya dokter itu.


"Ah eee bukan gitu dok, saya cuma masih gak percaya aja. Saya gak nyangka kalau saya ternyata masih bisa hamil," jawab Nadira.


"Oh gitu, yasudah Bu saya tinggal ke depan dulu ya? Ibu lanjut aja istirahatnya disini!" ucap dokter.


"Iya dok, terimakasih ya!" ucap Nadira.


"Sama-sama Bu, permisi!" ucap dokter itu.


Dokter itu pun keluar meninggalkan Nadira sendirian disana.


Nadira kembali dibuat bingung memikirkan nasib anaknya di dalam kandungan itu.


"Aih, kalau begini keadaannya, aku makin susah dong buat pisah dari mas Albert! Aku gak mungkin juga jauhin anak aku dari ayahnya nanti. Terus gimana ya kira-kira?" gumam Nadira.




Saat dokter yang memeriksa Nadira keluar dari ruangan itu, Sulastri dan Suhendra pun langsung bangkit dan menghampirinya.


Mereka berdua sangat mencemaskan kondisi putri mereka di dalam sana, mereka tidak mau terjadi sesuatu pada Nadira nantinya.


"Dok, gimana keadaan putri saya dok? Dia baik-baik aja kan? Dia gak kenapa-napa kan dok?" tanya Sulastri dengan wajah cemas.


"Iya dok, putri kami gak punya penyakit yang serius kan?" sahut Suhendra.


"Tenang ya pak, bu! Pasien baik-baik saja kok, beliau itu hanya mengalami gejala-gejala di masa awal kehamilannya. Itulah sebabnya mengapa Bu Nadira merasa pusing dan mual-mual tadi," jelas sang dokter.


"Hah? Apa dok? Dokter serius? Maksud dokter, putri kami ini lagi hamil?" ujar Sulastri terkejut.


"Benar Bu! Putri ibu dan bapak sekarang sedang mengandung anak, usianya sudah memasuki Minggu ketiga. Tapi, tadi saya lihat pasien sepertinya tidak senang mendengar ini, kira-kira ada apa ya Bu? Apa sedang terjadi masalah pada pasien?" ucap dokter itu.


"Eee gak ada kok dok, mungkin putri saya itu cuma kaget aja kali. Terimakasih ya dok atas infonya! Kalau gitu, apa kami boleh masuk ke dalam buat temui putri kami?" ucap Sulastri.


"Boleh Bu, silahkan!" jawab sang dokter.


"Makasih ya dok!" ucap Sulastri.


Tanpa berlama-lama, mereka berdua langsung masuk ke dalam sana untuk menemui Nadira.


"Nadira!" sapa Sulastri begitu melihat putrinya yang sedang berbaring disana.


Namun, Sulastri merasa heran saat mengetahui Nadira tengah menangis saat ini.


"Nadira, kamu kenapa sayang? Kok kamu malah nangis sih? Harusnya kamu bahagia dong, kamu kan lagi hamil nak!" ucap Sulastri.

__ADS_1


"Iya Dira, memangnya kamu gak senang dengan kehamilan ini? Bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu dari dulu?" sahut Suhendra.


"Aku senang kok pak, Bu! Tapi, anak ini anak mas Albert, itu dia yang bikin aku sedih." jawab Nadira.


"Maksud kamu apa? Emangnya kamu pengen punya anak dari siapa, Rojali? Yang suami kamu itu Albert sayang, bukan Rojali." ujar Suhendra.


"Gak gitu pak, ah bapak mah gak pernah ngerti perasaan aku! Bapak cuma mau menang sendiri!" ucap Nadira kesal.


Nadira semakin deras menangis, membuat Suhendra merasa bersalah.


"Maafin bapak ya sayang! Bapak udah bikin kamu nangis seperti ini, maafin bapak!" ucap Suhendra sembari mendekati putrinya itu.


"Gapapa pak, aku udah biasa kok dibikin sedih kayak gini. Itu kan yang bapak mau?" ucap Nadira sinis.


"Kamu bilang apa sih nak? Mana mungkin bapak mau lihat kamu menangis? Orang tua mana yang suka melihat anaknya nangis kayak gini?" ujar Suhendra.


"Emang benar kan pak? Buktinya bapak malah maksa aku buat kembali sama mas Albert, padahal bapak tahu sendiri kalau aku gak bahagia dalam pernikahan ini!" ucap Nadira.


Suhendra terdiam tak berkutik, sedangkan Sulastri kini mencoba menenangkan Nadira agar tidak menangis kembali.


"Sudah ya nak, sudah! Kamu jangan menangis terus seperti ini! Sekarang kamu kan lagi hamil, syukuri saja anugerah dari Tuhan untuk kamu sayang! Masalah dia anak Albert, itu jangan dulu dipikirin saat ini ya!" bujuk Sulastri.


"Iya Bu.." ucap Nadira lirih.




"Akh apa yang kau—" belum selesai Vanesa bicara, Albert sudah mengambil pistol miliknya dan menodongkan itu ke belakang kepala Vanesa.


"Menyerah lah Harrison! Kamu tidak mau putrimu ini mati di tanganku, bukan?" ucap Albert.


"Sial! Sudah papa bilang jangan terlalu lama, kenapa kamu tidak mau menurut dengan papa sayang?! Lihatlah akibatnya saat ini, Albert berhasil melepaskan diri dan berbalik mengancam kita!" ucap Harrison kesal.


"Maaf pah! Tapi, sekarang bukan waktunya untuk debat. Ayo papa tolong aku!" ucap Vanesa.


"Hahaha, kamu tidak bisa lepas dari saya Vanesa! Papa kamu juga tidak mungkin bisa menolong kamu, dia terlalu takut untuk itu!" ucap Albert.


"Kurang ajar kamu Albert!" umpat Vanesa.


"Ya ya ya, katakan saja apa yang mau kamu katakan Vanesa! Ayo katakan sepuasnya sekarang! Mungkin di lain waktu, kamu tidak akan bisa mengatakan itu lagi!" ucap Albert.


"Hey Albert! Lepaskan putri saya! Kamu jangan main-main dengan saya!" bentak Harrison.


"Kenapa ha? Anda memangnya bisa apa? Sekali saja anda berani mendekat, kepala putri anda ini akan langsung saya bolongi!" ucap Albert.


"Hah? Pah, jangan mendekat pah! Aku gak mau mati pah, aku masih mau hidup!" rengek Vanesa.


"Sialan! Kamu benar-benar keterlaluan Albert!" ucap Harrison.


"Aaarrgghh kurang ajar!!" geram Harrison yang langsung melempar senjatanya ke sembarang arah.


"Saya sudah lakukan yang kamu mau, sekarang lepaskan Vanesa!" pinta Harrison.


"Hahaha, tidak semudah itu Harrison! Saya sudah pernah memberi kalian berdua kesempatan, tetapi kalian malah mengkhianati saya. Untuk kali ini, saya tidak akan mengampuni kalian lagi!" ucap Albert.


"Apa maksud kamu Albert?" tanya Harrison.


"Saya yakin kamu pasti mengerti apa yang saya maksud Harrison!" jawab Albert sambil tersenyum smirk.


Harrison menatap tak mengerti, sedangkan Vanesa juga terus berontak untuk bisa melepaskan diri dari cengkraman Albert, walau selalu gagal.


"Diam Vanesa!" bentak Albert yang semakin mengencangkan pegangannya.


Dor!


Diluar dugaan, Albert langsung menembakkan pistolnya ke arah kepala Vanesa dan seketika itu juga darah berserakan dimana-mana, membuat Vanesa terkapar tak berdaya di bawah sana.


"Hah?? Vanesaaa....!!" Harrison berteriak histeris menyaksikan kematian putrinya di depan mata kepalanya sendiri.


"Look at that Harrison! This is what happens when you mess with me!" ucap Albert dengan senyuman seringai di bibirnya.


"Tidaaakkk!! Vanesa putriku tidak boleh mati, dia harus tetap hidup!" teriak Harrison dengan keras.


"Anda mau apa? Sekali saja anda mendekat, saya tidak akan segan-segan untuk membunuh anda sekalian!" ancam Albert.


"Aaaaaa..." Harrison tak perduli dengan ancaman Albert, ia maju dan berteriak penuh emosi coba menghampiri mayat putrinya disana.


Dor!


Langkahnya terhenti saat tiba-tiba Albert menembak dada sebelah kirinya.


Dor!


Tembakan kembali dilayangkan oleh Albert, kali ini tepat pada bagian dada kanan Harrison.


"Akh!" pekikan terakhir Harrison sebelum jatuh dan memejamkan matanya.


"it's over, Harrison!" ucap Albert singkat.


Albert melempar senjatanya begitu saja, lalu berjalan meninggalkan mayat sepasang ayah dan anak itu disana.


__ADS_1



Keenan dan Devano yang hendak menyusul, justru tak sengaja berpapasan dengan Albert disana.


Keduanya amat panik melihat Albert terluka dan tampak lemas saat ini.


"Ya ampun, tuan!!" ucap Keenan panik, ia reflek memegangi tubuh Albert untuk mencegah Albert terjatuh akibat lukanya.


"Awhh! Keenan, syukurlah kamu tidak apa-apa! Saya sangat khawatir akan terjadi sesuatu padamu!" ucap Albert.


"Saya baik-baik saja tuan! Sekarang tuan sebaiknya segera pergi ke rumah sakit, luka tuan ini perlu diobati!" ucap Keenan.


Albert menepis tangan Keenan dan menggeleng.


"Tidak Keenan, saya gak mau ke rumah sakit. Saya harus temui Nadira dan minta maaf padanya! Saya gak mau masalah ini berlarut-larut, saya gak bisa jauh atau pisah dari istri saya!" ucap Albert.


"Aduh Albert Albert! Kamu mau sampai kapan bucin terus kayak gini? Luka kamu itu loh udah parah banget, darahnya gak berhenti-henti ngalir. Ada baiknya kamu dibawa ke rumah sakit dulu, baru deh kamu temuin Nadira." usul Devano.


"Enggak Van, saya gak mau! Luka saya ini gak seberapa, masih jauh lebih sakit luka di hati Nadira! Untuk itu saya harus mengobati lukanya sekarang juga!" ucap Albert.


Setelah mengatakan itu, Albert langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua pria itu.


"Bagaimana ini pak Devano? Apa yang harus saya lakukan?" tanya Keenan pada Devano.


"Yasudah lah Keenan, kamu ikuti saja kata-kata tuan kamu ini! Dia kalau sudah kemauannya begitu, ya gak bakal bisa dirubah lagi." jawab Devano.


"Tapi, saya cemas dengan kondisi tuan Albert! Saya khawatir tuan Albert tidak kuat pergi menemui Bu Nadira saat ini!" ucap Keenan.


"Ya, saya pun begitu. Tapi mau gimana lagi? Albert itu keras kepala, dia gak bisa dilarang atau dinasehati." ucap Devano.


Keenan terdiam bingung, ia sangat khawatir dengan kondisi Albert saat ini. Namun, ia juga tak bisa menahan Albert untuk tidak pergi menemui Nadira.


"Kita ikuti Albert sekarang! Jangan sampai pria itu nekat pergi sendiri!" perintah Devano.


"Baik pak!" ucap Keenan patuh.


Keduanya pun pergi mengikuti langkah kaki Albert ke depan rumah itu.


Mereka sama-sama tidak mau jika Albert memaksa pergi menemui Nadira sendirian.




Nadira baru kembali dari rumah sakit, ia dan kedua orangtuanya itu pulang menaiki taksi online.


Begitu turun dari mobil, mereka langsung disambut oleh Rojali dengan wajah cemasnya.


"Nadira, kamu sudah pulang? Gimana periksanya? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Rojali pada Nadira.


"Nanyanya nanti aja ya Jali! Saat ini Nadira masih lemas, dia butuh istirahat. Kamu tolong maklumi dia ya, kan dia baru keluar dari rumah sakit!" pinta Sulastri.


"Oh iya sih, saya mah selalu memaklumi orang-orang kok teh." ucap Rojali sambil nyengir.


"Ya baguslah!" ucap Sulastri singkat.


"Pak, Bu, aku mau langsung ke kamar! Kepala aku kayaknya mulai terasa pusing lagi deh," keluh Nadira pada kedua orangtuanya.


"Waduh! Neng Nadira pusing ya? Sini deh neng, biar abang bantu!" ujar Rojali.


"Eh eh eh, kamu diam disitu Rojali! Jangan dekati putri saya!" cegah Suhendra pada Rojali yang hendak mendekati putrinya.


"Yah elah mang, masa gitu aja gak boleh sih? Saya kan cuma mau bantu Nadira," ujar Rojali.


"Iya gak boleh, kalian itu kan bukan mahram. Lagian kamu ngapain masih disini sih? Sudah sana kamu pulang ke rumah kamu!" ucap Suhendra.


"Iya mang iya.." ucap Rojali merengut.


"Neng, abang pulang dulu ya? Kalau neng Dira kangen sama abang, tinggal telpon aja ke nomor abang ya!" sambungnya pamit pada Nadira.


Namun, Nadira cuek saja seakan tak perduli dengan kata-kata Rojali.


"Udah udah, sana pergi!" ucap Suhendra mengusir Rojali.


Karena tak mau berdebat lagi, akhirnya Rojali pun pergi menjauh walau sebenarnya ia masih ingin melihat Nadira dari dekat.


"Yaudah, yuk Dira kita masuk!" ucap Suhendra.


"Iya pak," ucap Nadira tersenyum tipis.


Disaat mereka hendak melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja sebuah mobil muncul dan membunyikan klakson.


Tin tin...


Sontak mereka bertiga kompak berhenti, menatap ke arah mobil itu dengan bingung.


"Pak, itu mobil siapa ya?" tanya Sulastri.


"Gak tahu Bu, bapak baru lihat." jawab Suhendra.


Tak lama kemudian, si pengemudi pun turun dari mobil. Melihat itu, Nadira langsung melongok lebar dan mulai kembali merasa geram.


"Mas Albert?" ucapnya lirih.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2