Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Keenan panik


__ADS_3

"Lepasin gue, lepasin! Gue gak mau ikut sama kalian semua!!" Celine masih terus berontak dari genggaman preman-preman itu dengan sekuat tenaganya.


Tapi apa daya, Celine hanya seorang wanita yang tentu tak sebanding dengan para preman itu, ditambah ia sendirian sedangkan mereka bertiga dan tentunya Celine sulit jika harus melawan mereka semua atau melepaskan diri.


"Diem lu bangs*t! Kalau lu gak diem juga, gue bakal pukul lu sampe pingsan!" ancam pria itu.


"Lepasin gue!" Celine tak mau mendengar ucapan mereka, ia terus berteriak dan berontak walau usahanya sia-sia.


Plaaakk...


Pria itu menampar wajah Celine dengan kasar hingga gadis itu terdiam sejenak, pipinya memerah akibat tamparan tersebut dan air mata pun mulai keluar membasahi wajahnya. Celine sangat bingung sekarang, ia tak mengerti juga mengapa orang-orang itu ingin menculiknya.


"Lepasin gue! Kalian ini sebenarnya siapa sih dan mau apa kalian culik gue? Apa untungnya buat kalian? Gue ini cuma orang miskin, gue gak punya apa-apa!" ucap Celine diiringi isak tangis.


"Heh! Gue bilang diem ya diem! Kalo lu masih aja ngomong, jangan salahin gue kalo gue berbuat kasar sama lu bocil!" bentak pria itu.


Celine terdiam merunduk, ia tak berani lagi bersuara karena takut dengan ancaman pria itu.


"Ya Tuhan, tolong Celine!" batin Celine.


"Sekarang lu masuk cepet!" ucap si pria memaksa Celine masuk ke dalam mobil yang sudah tersedia disana.


Bughh...


Tanpa diduga, Celine menginjak kaki salah seorang preman itu dan membuatnya kesakitan hingga dua orang temannya hilang fokus, ia pun memanfaatkan itu untuk melepaskan diri dan menyikut perut mereka.


"Awhh anj*ing lu! Dasar bangs*t!" umpat si preman yang kakinya diinjak.


"Kurang ajar! Awas lu sialan!"


"Haahh haahhh... gue harus kabur dari sini!" ujar Celine dengan nafas terengah-engah.


Gadis itu berlari sekuat tenaga menjauhi para preman yang masih kesakitan itu.


"Woi jangan diam aja, kejar dia!" ujar si preman emosi.


"Iya iya.."


Dua preman itu pun berlari mengejar Celine, mereka terus berusaha mengejarnya sembari memegangi perutnya yang kesakitan akibat sikutan Celine tadi.


Sementara Celine masih terus berlari, ia berulang kali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah preman-preman tadi masih mengikutinya atau tidak, dan untungnya jarak ia dengan preman tersebut cukup jauh sehingga ia masih bisa berpikir sejenak hendak pergi kemana.


"Duh, gue ambil jalan mana ya? Sepi banget sih nih tempat, kan gue jadi bingung mau minta tolong sama siapa!" ujarnya kebingungan.


"WOI BERHENTI LU!"


Suara teriakan itu mengagetkan Celine, ia bergegas pergi ke dalam sebuah hutan yang ada disana. Pikirannya sudah kalut, sehingga ia tak memiliki pilihan lain selain berlari kesana walau ia tahu itu sangat beresiko untuknya.


"WOI JANGAN LARI!"


Celine semakin panik, jantungnya sudah tak karuan lagi saat ini. Namun, ia masih terus berlari walau tenaganya telah mulai terkuras dan nafasnya pun hampir habis.


Keadaan tak mendukung bagi Celine, karena di depannya saat ini ada sebuah jurang yang curam dan dalam. Gadis itu terdiam sejenak memegangi keningnya, keringat sudah bercucuran membasahi seluruh bagian wajahnya akibat berlari tadi.


"Aduh sialan sialan! Gue harus gimana ini? Ah sialan! Kenapa sih pake ada jurang disini, sialan!" umpatnya karena panik.


"Hahaha, mau lari kemana lagi lu? Sekarang lu udah gak bisa kemana-mana!" ucap si preman yang sudah berhasil menyusulnya.


Ya kedua pria itu mengepung Celine, mereka tersenyum puas mengira kalau mereka sudah berhasil menangkap Celine. Perlahan keduanya melangkah maju mendekati gadis itu dan berusaha menangkapnya, akan tetapi Celine justru mengangkat tangannya menyuruh mereka untuk berhenti mendekat ke arahnya.


"Stop!" ucap Celine.


"Hah? Maksud lu apaan nyuruh kita stop, ha? Emang lu siapa?" ujar si preman.


"Lu yang siapa, dasar peak!" ujar Celine.


Dua preman itu saling menatap bingung, tanpa aba-aba Celine berlari maju dan menyerang mereka dengan tendangan keras hingga keduanya terjengkang ke belakang.


Bughh...


"Aakkkhhh!! Sakit tau kalo mau nendang bilang-bilang dong!" ujar si preman.


"Dasar payah lu berdua!" ucap Celine tersenyum.


Gadis itu pun beranjak pergi meninggalkan dua pria yang masih tergeletak disana tanpa perduli, ia berjalan santai karena mengira sudah tak mungkin lagi mereka dapat mengejarnya.


"Huh selamat! Ternyata ada gunanya juga bang Keenan ajarin gue bela diri!" ucap Celine tersenyum lega.


"Mmppphhh..."


Tiba-tiba saja seseorang membekap mulutnya dari belakang, membuat Celine panik dan berusaha melepaskan diri, ia terus memukul-mukul tangan serta dada orang tersebut tetapi sia-sia.

__ADS_1




Bruuukkk...


Sementara itu, Lilis dan Rani dilempar begitu saja keluar dari angkot saat sudah tidak dibutuhkan oleh preman-preman tersebut. Akibatnya, mereka pun tersungkur di jalan dan tangan serta wajah mereka dipenuhi luka.


"Awhh sshhh perih!" rintih Lilis memegangi siku serta bagian tubuhnya yang lain.


"Sama, gila kali ya tuh orang seenaknya aja lempar kita! Emang dikira kita sampah apa? Dasar preman kurang ajar!" umpat Rani.


"Untung aja kita mendaratnya di atas rumput, ya walau tetap sakit sih tapi masih mending lah daripada di aspal! Bisa-bisa muka gue yang glowing ini jadi memar semua!" ujar Lilis.


"Iya, emang sialan tuh orang!" umpat Rani.


Lilis baru teringat dengan kondisi sahabatnya yang dibawa oleh tiga orang preman tadi, ia sangat mengkhawatirkan Celine.


"Duh, gimana ya kondisi Celine? Dia dibawa kemana ya sama preman-preman tadi?" ujar Lilis.


"Oh iya ya, tapi gue heran deh kenapa tuh preman cuman culik Celine? Apa gitu yang istimewa dari tuh anak sampe bisa menarik perhatian para penculik tadi? Sedangkan kita malah dilempar gitu aja, udah kayak sampah masyarakat! Harusnya koruptor yang diginiin, bukan kita!" ujar Rani.


"Iya juga ya, kira-kira apa alasan mereka culik Celine? Apa karena Celine cakep? Terus mereka mau pacarin Celine gitu kayak di film-film?" ujar Lilis menebak-nebak.


"Ah ngaco lu mikirnya! Mending sekarang lu telpon bang Keenan deh, abangnya si Celine! Kasih tahu ke dia kalo Celine diculik, soalnya gue khawatir nih takutnya Celine keburu diapa-apain sama penculik tadi!" ucap Rani memberi saran.


"Oh iya bener lu! Sebentar, gue ambil hp gue dulu di dalam tas!" ucap Lilis.


"Oke!"


Lilis mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, untuk bisa menghubungi Keenan dan melaporkan mengenai kejadian yang menimpa adiknya itu.


📞"Halo bang! Ini gue Lilis, teman sekolahnya Celine yang cantik itu!" ucap Lilis.


📞"Ah iya, ada apa ya?"


📞"Begini bang, gue cuma mau ngabarin ke lu kalau Celine tadi diculik sama tiga orang preman gitu dan dia dibawa kabur!" ucap Lilis dengan nada cemasnya.


📞"Hah? Apa? Serius? Jangan bercanda deh, gue lagi nyetir nih!"


📞"Beneran bang! Ngapain juga gue bercanda soal beginian? Tadi tuh kita lagi naik angkot, tapi isinya semua cowok preman! Kita gak tahu kalau mereka punya niat buat culik Celine, ini gue juga panik banget bang!" ucap Lilis meyakinkan Keenan.


📞"Sialan! Lu dimana sekarang?"


📞"Yaudah cepet! Gue langsung otw kesana, gue butuh penjelasan dari lu tentang kejadian ini!"


📞"Oke bang!" ucap Lilis.


Tuuutttt...


Lilis memutus telponnya, lalu mengirim lokasi ke nomor Keenan sesuai ucapannya tadi.


"Gimana Lis? Apa kata bang Ken?" tanya Rani.


"Dia syok banget, Ran! Terus katanya dia mau kesini susul kita buat tanya langsung kejelasan tentang penculikan itu, jujur deh Ran gue takut banget Celine kenapa-napa!" ucap Lilis.


"Iya sama, gue juga gitu kok! Cuma kan sekarang kita gak tahu Celine ada dimana, jadi kita berdoa aja sambil nunggu bang Ken sampe!" ujar Rani.


"Iya Ran, lu bener!" ucap Lilis dengan nada sedih.


Lilis dan Rani pun berusaha bangkit walau dengan keadaan yang cukup memprihatinkan, cukup banyak kendaraan lewat di depan mereka tetapi tak ada yang perduli dengan kondisi dua gadis itu.




Albert yang baru keluar dari kantor, coba menghubungi Keenan asistennya untuk meminta dijemput seperti biasa, karena tak biasanya Keenan belum datang ke kantornya sore ini.


"Hadeh, Keenan ini kemana sih? Bukannya udah stay disini malah ngilang!" ujar Albert bingung.


"Saya telpon aja deh!" Albert mengambil ponsel miliknya, lalu menghubungi nomor Keenan.


Cukup lama ia menunggu sampai Keenan mengangkat telepon darinya, untung saja Keenan menyempatkan diri mengangkatnya kalau tidak mungkin Albert akan mengamuk dan memecat Keenan dari kerjaannya.


📞"Halo Ken! Kamu ini lagi dimana sekarang? Kenapa belum sampai ke kantor? Saya udah mau pulang nih!" ucap Albert sedikit kesal.


📞"Eee iya halo tuan, maaf banget karena saya sekarang gak bisa ke kantor buat jemput tuan! Saya ada kepentingan mendadak tuan, yang harus segera saya urus!"


📞"Kepentingan apa?" tanya Albert penasaran.


📞"Celine tuan, dia diculik sama orang gak dikenal. Sekarang saya lagi mau cari dia, saya cemas sekali tuan karena dia itu satu-satunya keluarga saya yang tersisa sekarang setelah kepergian papa dan mama saya tuan!"

__ADS_1


📞"Apa? Celine adik kamu diculik? Gimana bisa?" Albert terkejut mendengar cerita Keenan.


📞"Itu yang belum saya tahu, tuan. Makanya sekarang saya lagi coba cari tahu tentang itu, sekali lagi maaf tuan kalau saya tidak bisa jemput tuan ke kantor kali ini!"


📞"Ya gapapa, saya paham kok! Cepat kamu cari adik kamu yang diculik itu, selamatkan dia! Kalau kamu butuh bantuan, hubungi saja saya!" ujar Albert.


📞"Terimakasih tuan! Nanti akan saya kabari bila saya membutuhkan bantuan tuan, sekali lagi makasih ya tuan!"


📞"Ya yasudah, semoga cepat ketemu adik kamu itu!" ucap Albert.


📞"Aamiin tuan! Kalau begitu saya mohon izin tuan, saya mau melanjutkan pencarian Celine tuan!"


📞"Oke!" ucap Albert singkat.


Tuuutttt...


Albert memutus telponnya, lalu menemui salah satu satpam yang ada disana untuk mengambilkan mobil di basemen yang biasa ia gunakan jika terdapat kendala seperti sekarang ini.


Setelahnya, Albert pun melangkah ke jalan bersiap untuk pulang sembari menunggu mobil yang sedang diambil oleh satpam tadi. Kebetulan hari ini Albert memang tidak memiliki urusan lagi di kantor, sehingga ia bisa pulang lebih cepat.


Tak lama kemudian, Vanesa sekretarisnya justru muncul disana dan tampak tergesa-gesa.


"Vanesa!" Albert memanggil wanita itu, seketika Vanesa terdiam dan menoleh ke asal suara lalu mendekati Albert disana.


"Ya pak, ada apa?" tanya Vanesa panik.


"Kamu mau pulang juga?" ucap Albert bertanya pada sekretarisnya itu sambil tersenyum.


"Eee iya pak, kebetulan kerjaan saya juga udah selesai dan saya gak perlu lembur hari ini."


"Oke! Kalo gitu bareng aja sama saya!"


Vanesa amat terkejut sekaligus senang ketika Albert menawarkan tumpangan padanya, tentu ia bisa menjadikan ini sebagai permulaan untuk menjauhkan Nadira dari Albert.


"Maaf pak! Tapi, saya naik taksi aja! Lagian gak enak lah kalau ada yang lihat saya bareng sama bapak, nanti mereka mikir yang enggak-enggak lagi pak!" ucap Vanesa berpura-pura menolak.


"Gak perlu dipikirin soal itu mah! Udah ayo kamu bareng saya aja!" ucap Albert memaksa.


"Eee yasudah pak, saya gak bisa nolak lagi kalau sudah dipaksa begitu sama bapak. Nanti yang ada saya malah dapat sp!" ucap Vanesa.


"Hahaha, ya baguslah!" ucap Albert tertawa kecil.


Saat mobil tiba, Albert bersama sekretarisnya itu langsung melangkah masuk ke dalam mobil.


"Ayo Nesa!" ujar Albert.


"Iya pak,"


"Yes!" batin Vanesa.




Keenan sampai di titik lokasi yang diberikan oleh Lilis sebelumnya, ia turun dari mobil menoleh ke kanan dan kiri menanti keberadaan dua sahabat adiknya itu.


"Bang Ken! Kita disini!" sebuah teriakan dari arah sebrang membuat Keenan sadar kalau Lilis serta Rani tengah terduduk di pinggir jalan sana.


Keenan pun bergerak menghampiri mereka berdua dengan perasaan cemas, pikirannya saat ini tak bisa tenang mengingat adiknya sedang dalam bahaya dan diculik oleh orang-orang yang belum ia tahu siapa.


"Hey, kalian kenapa? Kok pada lecet-lecet gitu?" tanya Keenan cemas.


"Eee ini tadi gara-gara si preman itu, bang. Gue sama Rani dilempar gitu aja dari angkot kesini, untungnya kita mendarat di rumput jadi gak terlalu sakit!" jawab Lilis menjelaskan.


"Ya ampun! Terus ini gak ada yang nolongin kalian sama sekali apa gimana? Tega banget sih biarin gitu aja!" ujar Keenan heran.


"Entahlah bang, emang t*i mereka semua!" umpat Rania kesal.


"Yaudah tenang! Gue kan udah ada disini, gue bakal bantu kalian dan bawa kalian ke klinik terdekat ya! Baru abis itu kalian ceritain ke gue kronologi penculikan Celine, udah yuk langsung aja ke mobil gue!" ucap Keenan.


"Eh jangan bang! Nyawa Celine lebih penting, luka kita ini mah kecil bukan masalah! Celine harus segera diselamatkan, bang!" ucap Lilis.


"Benar bang! Kita gak mau sesuatu terjadi sama Celine, dia butuh bantuan sekarang bang!" sahut Rani ikut mencemaskan Celine.


"Kalian benar juga! Tapi, apa kalian gapapa?" ujar Keenan bingung.


"Kita gapapa kok bang, mending sekarang kita susul Celine ke tempat dia dibawa turun sama preman-preman tadi! Kebetulan gue masih inget tempatnya kok bang!" ucap Lilis.


"Oh gitu, oke ayo gue bantu kalian ke mobil!" ucap Keenan.


Pria itu pun menggendong dua gadis itu secara bergantian, membawanya ke dalam mobil sebelum berangkat menuju tempat Celine berada.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2