Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Nakal


__ADS_3

Akhirnya Chelsea masuk ke dalam rumahnya bersama dengan Keenan yang berniat menemani dirinya untuk menemui Albert, tentu Keenan juga tak tega membiarkan kekasihnya pergi sendiri bertemu dengan Albert yang tengah emosi.


Sepasang kekasih itu memasuki ruang tamu, mereka melihat sosok Albert sudah bersiap di atas sofa menatap ke arah keduanya dengan sorot mata yang tajam seakan hendak membunuh mereka, bahkan Chelsea sampai memegang erat lengan Keenan karena rasa takut di tubuhnya.


Albert berdiri dari kursinya dan melangkah ke dekat Chelsea, ia memandangi tubuh gadis itu dari atas sampai bawah secara rinci tanpa ada yang terlewati sedikitpun.


"Kak Albert, ada apa cari aku?" tanya Chelsea gugup.


"Chelsea, kakak mau bicara sama kamu! Berdua aja tanpa Keenan!" ucap Albert dingin.


Chelsea melongok, lalu melirik ke arah Keenan dengan bibir bergetar. Keenan mau tidak mau terpaksa harus pergi dari sana meninggalkan gadisnya, daripada ia dimarahi oleh Albert dan suasana akan semakin keruh.


"Baik tuan! Kalau begitu, saya mohon izin pulang! Kebetulan sekarang juga sudah malam, jam kerja saya pun sudah habis!" ucap Keenan merunduk.


"Ya, cepat pergi dan tinggalkan saya berdua dengan Chelsea disini!" ujar Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.


Pria itu tersenyum ke arah Chelsea, ia menangkup wajah gadisnya dengan kedua tangan lalu berpamitan sebelum pergi dari sana meninggalkannya.


"Sayang, aku pulang dulu ya? Sampai ketemu lagi besok!" ucap Keenan.


"Iya sayang, kamu hati-hati ya di jalan! Makasih udah mau temenin aku jalan-jalan tadi, aku sayang kamu!" ucap Chelsea.


"Aku lebih sayang sama kamu!" ucap Keenan.


Chelsea menunduk malu disertai pipinya yang mulai merah merona akibat perkataan Keenan, sedangkan pria itu tampak tersenyum senang melihat wajah Chelsea yang lebih menggemaskan saat ini.


Cupp!


Satu kecupan mendarat di kening Chelsea, Keenan mengusap bekas air liurnya yang menempel disana lalu melepas tangannya dari wajah sang kekasih dan bersiap pergi.


"Yaudah, aku pergi ya? Jangan kangen sama aku!" ucap Keenan.


"Iya sayang, nanti kita call-an ya?" ujar Chelsea.


"Oke sayang!" ucap Keenan.


"Ehem ehem..." Albert berdehem kesal.


Sontak Keenan dan Chelsea terkejut, mereka tidak lagi mesra-mesraan di depan Albert karena takut membuat Albert semakin emosi.


"Yaudah, bye sayang! Permisi tuan!" ucap Keenan agak gugup.


"Dadah sayang! Mmuuaachh..." ucap Chelsea.


Keenan langsung berbalik, lalu melangkah pergi dari rumah tuannya itu. Sedangkan Chelsea masih terus memandangi punggung kekasihnya dari jauh sambil senyum-senyum sendiri.


"Heh! Udah jangan lihatin si Keenan terus, sini duduk bicara sama kakak!" tegur Albert.


Chelsea pun beralih menatap abangnya dengan wajah gugup serta tubuh yang mulai bergetar akibat ketakutan saat melihat tatapan mata Albert.


"I-i-iya kak," ucap Chelsea gugup.


Gadis itu makin ketakutan, ia tak berani menatap wajah abangnya secara langsung dan memilih merunduk saat berjalan mendekati sang kakak lalu duduk di dekatnya.


Sementara Albert sudah memasang wajah emosi serta raut marah akibat perbuatan adiknya yang benar-benar keterlaluan, biar bagaimanapun Albert tetap tak terima jika ada orang yang berani menyakiti wanitanya termasuk Chelsea, adiknya sendiri.


"Kak, ada apa sih sebenarnya? Kenapa kakak kelihatan marah gitu sama aku?" tanya Chelsea.


"Kamu tanya sama kakak ada apa? Hey Chelsea, harusnya kakak yang tanya ke kamu! Ada masalah apa kamu sama Nadira, ha? Kenapa kamu sampai tega bikin wajah dia jadi kayak gitu?" ujar Albert.


"Hah? Maksud kakak apa sih? Aku gak ngerti deh kakak ngomong apa!" ujar Chelsea pura-pura.


Braakkk...


Albert yang terbawa emosi langsung menggebrak meja di depannya dengan keras, membuat Chelsea terkejut dan reflek mengelus dadanya.


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu! Kakak udah lihat semuanya melalui cctv yang kakak pasang di kamar Nadira, kamu tadi pagi masuk ke kamar itu dan tukar bedak milik Nadira dengan bubuk gatal! Kenapa kamu ngelakuin itu semua, ha? Ada salah apa Nadira sama kamu sayang?" bentak Albert.


Chelsea makin panik dibuatnya, ia bingung harus mencari alasan apa lagi agar dapat meredam emosi Albert, karena ia sudah benar-benar ketahuan dan tak mampu berkutik.


"Duh, gue harus bicara apa nih? Kak Albert ternyata pasang cctv di kamar itu! Sialan!" batin Chelsea.


Melihat adiknya memasang wajah panik, justru membuat Albert semakin yakin kalau Chelsea memang pelakunya.


"Chelsea! Jawab kakak!" bentak Albert.


"I-i-iya kak, emang aku yang udah ngelakuin itu dan bikin wajah Nadira jadi rusak! Aku cuma gak mau kak Albert menikahi wanita yang salah, karena aku yakin banget dia gak cinta sama kakak! Dia cuma mengincar harta kakak!" jawab Chelsea.

__ADS_1


"Apa? Jadi karena itu, kamu melakukan hal buruk itu ke Nadira? Ya ampun Chelsea sayang, sebenarnya kamu belajar apa aja sih di tempat kuliah kamu? Bisa-bisanya kamu tega ngelakuin itu ke orang yang gak punya salah apa-apa sama kamu!" ujar Albert.


"Maaf kak! Aku tuh pengen singkirin dia dari rumah ini, dia gak pantas ada disini dan jadi istri kakak! Kenapa sih kakak gak pernah sadar? Ayolah kak, turutin aja kemauan aku!" ucap Chelsea.


"Chelsea! Apapun alasan kamu, hal itu sama sekali tidak dibenarkan! Dan kakak juga sudah bilang ke kamu waktu itu, kalau kamu tidak usah ikut campur ke dalam urusan pribadi kakak! Sekarang kakak minta ke kamu untuk minta maaf secara langsung sama Nadira, karena dia sangat menderita akibat ulah kamu sayang!" tegas Albert.


"What? Minta maaf? Kak, kakak gak lagi bercanda kan? Masa iya aku minta maaf ke dia?" ujar Chelsea.


"Buat apa kakak bercanda? Kalau kakak suruh kamu minta maaf, itu artinya kamu harus melakukan itu ke Nadira!" jawab Albert.


"Duh kak, jatuh dong harga diri aku kalau minta maaf ke dia! Aku gak mau ah!" tolak Chelsea.


Albert langsung melotot ke arah Chelsea dengan telapak tangan yang dikepal, sontak gadis itu panik dan ketakutan melihatnya. Chelsea tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa menuruti kemauan kakaknya.


"Oke oke, aku bakal minta maaf ke Nadira! Udah, jangan marah lagi ya kak!" ucap Chelsea gugup.


"Good!" ucap Albert singkat.


β€’


β€’


Albert mengajak adiknya menemui Nadira di kamar, Chelsea memang sudah bersedia meminta maaf pada Nadira walau dengan paksaan dari Albert.


"Cepat masuk! Kamu harus dapat maaf dari Nadira, kalo enggak kakak bakal hukum kamu!" ancam Albert sembari mencengkeram lengan Chelsea.


"Awhh iya iya, kak!" rintih Chelsea.


Ceklek...


Albert membuka pintu, ia menarik lengan Chelsea secara paksa masuk ke dalam kamar itu.


Nadira yang terkejut langsung bangkit dari duduknya, ia saat ini tak memakai apapun untuk menutupi wajahnya karena merasa tak ada yang perlu ditutupi lagi saat ini.


"Tuan? Chelsea? Ada apa?" tanya Nadira bingung.


Albert menyenggol lengan Chelsea, ia memberi kode pada adiknya itu untuk segera mendekati Nadira dan meminta maaf.


Gadis itu pun menurut saja, ia melangkah maju secara perlahan dengan kedua tangan terlipat di depan, lalu menatap wajah Nadira dan mengambil nafas panjang sebelum berbicara.


"Heh! Gue minta maaf sama lu, karena gue udah bikin muka lu jadi kayak gitu!" ujar Chelsea.


"Awhh kak sshhh sakithh..." rintih Chelsea.


"Kakak suruh kamu minta maaf, bukan malah ngegas kayak gitu! Cepat ulangi kata-kata kamu dan minta maaf yang benar ke Nadira!" bentak Albert.


"I-i-iya kak, ampun!" ucap Chelsea.


Nadira hanya menganga menyaksikan kejadian itu, ia tak menyangka Albert bisa sampai semarah itu hanya karena membela dirinya, ada rasa senang tersendiri di dalam hatinya saat ini.


"Nadira, gue minta maaf ya sama lu! Gue benar-benar nyesel udah ngelakuin itu ke lu tadi, maaf banget ya Nadira! Gue janji deh gak akan begitu lagi sama lu, tapi please maafin gue ya Nadira! Beneran kok gue gak akan ganggu lu lagi!" ucap Chelsea.


"Iya Chelsea, aku udah maafin kamu kok! Buat apa juga kita musuhan kan?" ucap Nadira tersenyum.


"Nah iya tuh, makasih banyak ya Nadira! Gue bakal bantu obatin muka lu deh, sampai muka lu bisa sembuh kayak semula!" ucap Chelsea.


"Makasih Chelsea!" ucap Nadira.


Nadira melangkah maju kemudian memeluk Chelsea, tak ada penolakan dari gadis itu karena ia tahu hidupnya terancam jika tidak mau berpelukan dengan Nadira saat ini.


"*Haish, dasar cewek kampung! Ini sih gue harus mandi kembang tujuh rupa gara-gara sentuhan sama dia!" gumam Chelsea dalam hati.


"Lihat aja, rencana gue belum berhenti sampai disini! Gue bakal bikin lu tersingkir dan kak Albert gak akan pernah bela lu lagi, cewek kampung*!"


Sementara Albert tersenyum menyaksikan momen Chelsea dan Nadira berpelukan, ia senang karena saat ini tidak akan ada kericuhan lagi di rumahnya dan ia bisa menggunakan jasa servis dari Nadira dengan tenang.


β€’


β€’


Beberapa hari kemudian....


Kondisi wajah Nadira telah kembali seperti semula, ia nampak cantik dan mulus lagi tanpa ada satupun bekas noda atau bintik-bintik merah pada wajahnya, ya itu semua juga berkat perawatan yang diberikan oleh Albert untuknya.


Wanita itu berdiri di depan cermin, ia mencoba baju dinas yang baru dibelikan Albert untuknya dan melihat dirinya sendiri pada cermin tersebut, Nadira memang tampak anggun nan cantik saat mengenakan baju dinas itu, lekuk tubuhnya yang indah juga terpampang jelas disana.


"Waw! Pantas aja tuan Albert paksa aku pakai baju ini, pasti dia pengen minta jatah sama aku malam ini deh!" ucap Nadira tersenyum.


Nadira mengambil ponselnya, lalu memotret tubuh indahnya di depan cermin.

__ADS_1


Cekrek...πŸ“ΈπŸ“ΈπŸ“Έ



"Bagus juga! Kirim ke tuan Albert kali ya? Biar dia makin senang lihat aku udah pake baju pemberian dia ini, iya deh aku kirim aja!" ucap Nadira.


Nadira pun mengirim foto dirinya saat mengenakan baju dinas tersebut kepada Albert, ia tak sabar menantikan reaksi atau balasan dari suaminya itu ketika melihat foto dirinya.


Tliingg...


"Ah ada balasan dari tuan Albert!" ujarnya.


Nadira membuka pesan tersebut.


...πŸ’Œ...


^^^Nadira : [Foto]^^^


Tuan Albert : Hey, apa maksud kamu kirim foto begitu ke saya ha? Kamu mau menggoda saya?


^^^Nadira : Enggak kok, tuan! Aku cuma pengen tuan tahu kalau aku udah pake baju itu!^^^


Tuan Albert : Oke nice! Tunggu saya sebentar lagi di rumah, karena saya akan datang dan segera menerkam kamu Nadira yang nakal!


^^^Nadira : Duh, aku takutπŸ˜‹^^^


Begitulah isi percakapan antara Nadira dengan Albert melalui sebuah aplikasi chatting, sepanjang mengetik pesan balasan tersebut Nadira terus saja tertawa sampai ia juga heran mengapa belakangan ini dirinya seperti merasakan hawa yang berbeda saat bersama tuan Albert.


"Aku kenapa ya? Apa aku mulai jatuh cinta sama tuan Albert?" ujar Nadira bingung.


β€’


β€’


Sementara itu, Albert merasa miliknya mengeras hanya karena melihat foto yang dikirimkan oleh Nadira ke ponselnya. Ia terlihat sangat gusar dan bingung harus melakukan apa saat ini.


"Nadira udah mulai nakal! Beraninya dia goda saya seperti itu di waktu kerja, sekarang kan saya jadi harus repot sendiri!" batin Albert.


Akhirnya karena tak memiliki pilihan lain, Albert pun menelpon sekretarisnya. Ia hendak pulang ke rumah dan segera menikmati tubuh indah Nadira istrinya itu dengan penuh kepuasan, memang saat ini Albert sudah tidak mau lagi bermain dengan wanita lain selain Nadira.


πŸ“ž"Halo Vanesa! Saya akan pulang lebih cepat hari ini, saya minta kamu tunda semua jadwal saya untuk meeting hari ini karena saya sedang ada urusan penting di rumah! Kamu bisa diandalkan bukan Vanesa?" ucap Albert.


πŸ“ž"Baik pak, akan saya jadwalkan ulang semua jadwal meeting bapak hari ini!" ucap Vanesa.


πŸ“ž"Bagus! Yasudah, itu saja yang ingin saya sampaikan!" ucap Albert.


πŸ“ž"Iya pak,"


Tuuutttt...


Albert langsung mematikan telpon dan membereskan semua barang-barangnya di kantor, ia bersiap untuk pulang ke rumah karena sudah tak tahan lagi.


Bahkan Albert terus terbayang akan bentuk tubuh indah Nadira saat ini, ia tidak sabar untuk segera menerkam Nadira dan membuat wanita itu tak berdaya di atas ranjang.


"Awas kamu Nadira!" gumamnya.


Pria itu pun berjalan tergesa-gesa menuju parkiran kantornya, lalu masuk ke dalam mobil yang ia kendarai seorang diri karena Keenan juga sedang mengurus urusannya.


Namun, seseorang menepuk pundaknya dari belakang saat hendak masuk ke dalam mobil.


Pukkk...


Albert terkejut dan reflek menoleh, terlihat seorang pria agak tua berambut putih tersenyum ke arahnya sembari melepas kacamata hitamnya.


"Ya? Anda siapa?" tanya Albert tak mengerti.


"Halo pak Albert! Perkenalkan, saya Harrison Cardoso pebisnis gelap yang paling terkenal di kota ini! Seluruh orang di sekitar sini pasti mengenali saya, mereka pun memesan barang-barang melalui anak buah saya!" jawab pria itu mengenalkan diri.


"Ohh lalu ada urusan apa anda menemui saya? Dengar ya, saya tidak tertarik dengan barang apapun yang anda jual! Dan saya juga sedang buru-buru, jadi cepat katakan apa maksud anda!" ujar Albert.


"Ya ya ya, saya sebenarnya kesini hanya ingin sekedar berkenalan dengan anda! Kalau memang anda sedang sibuk, silahkan pergi saja! Kita bicara lain kali kalau anda tidak sibuk dan memiliki waktu luang, tak mengapa kok!" ucap Harrison.


"Yasudah, ini kartu nama saya! Hubungi saja saya kalau anda ingin bertemu, permisi!" ucap Albert.


Albert masuk ke dalam mobilnya setelah menyerahkan kartu itu, ia tergesa-gesa pergi dari sana karena sudah tak tahan lagi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2