
Beberapa bulan kemudian...
Drrttt..
Drrttt...
Albert yang sedang sibuk di kantornya, mendapat telpon dari Vanesa dan sedikit membuatnya kesal.
Namun, Albert tetap mengangkat telepon itu karena penasaran apa yang terjadi pada Vanesa.
π"Halo! Kenapa kamu telpon saya?" ujar Albert.
π"Ha-halo Albert! Ka-kamu bisa gak kesini sekarang? Ini perut aku terasa sakit banget, kayaknya udah waktunya aku lahiran deh. Awhh sshh," ucap Vanesa menahan sakit.
π"Apa? Lahiran? Ya ampun, memangnya kamu lagi ada dimana sekarang?" tanya Albert.
π"Aku di apartemen seperti biasa, tolong ya Albert kamu cepetan kesini! Aku butuh banget bantuan kamu!" pinta Vanesa.
π"Okay okay, saya kesana sekarang! Kamu tahan sebentar ya, saya langsung on the way kesana!" ucap Albert.
π"Iya, makasih Albert!" ucap Vanesa lemas.
Tuuutttt...
Albert langsung menutup telponnya, ia berpikir sejenak haruskah dirinya memang datang menemui Vanesa atau tidak.
"Duh, saya temuin Vanesa gak ya? Takutnya ini cuma trik dia lagi buat deketin saya!" gumamnya.
"Ah yaudah deh, saya coba cek aja kesana dulu. Kalau Vanesa bohongi saya, saya gak akan pernah percaya sama dia lagi!" sambungnya.
Akhirnya Albert bangkit dari kursi, merapihkan semua berkas-berkas di mejanya lalu bergegas pergi keluar dari ruangan itu.
Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Carolina yang hendak menemuinya di ruangan, ia pun berhenti sejenak disana.
"Eh pak, bapak mau kemana?" tanya Carolina.
"Eee begini Lina, saya ada urusan penting di luar. Kamu tolong handle semuanya ya dan jangan lupa tunda semua pertemuan yang sudah dijadwalkan hadi ini!" jawab Albert.
"Tapi pakβ"
"Sudah, lakukan saja perintah saya! Urusan ini sangat penting, kamu jangan membantah!" potong Albert dengan tegas.
"Baik pak, saya akan lakukan semuanya!" ucap Carolina menurut.
"Yasudah, kalo gitu saya pergi dulu. Kalau kamu butuh bantuan, hubungi saja Keenan!" ujar Albert.
"Baik pak!" ucap Carolina.
Albert pun melangkah pergi dengan tergesa-gesa, Carolina menatapnya penuh keheranan karena tak biasanya Albert meninggalkan kantor dalam keadaan panik seperti itu.
"Pak Albert mau kemana ya? Urusan apa coba yang lebih penting dari kemajuan perusahaan?" gumam Carolina.
β’
β’
Sementara itu, Nadira tengah berbelanja di mall bersama Chelsea dan juga Abigail untuk persiapan bayi yang akan segera dilahirkan.
Nadira tampak tersenyum bahagia sembari memilih segala macam perlengkapan bayi yang akan ia beli.
"Mah, menurut mama bagusan yang ini atau ini?" tanya Nadira pada Abigail.
"Semuanya bagus sayang, kenapa gak kamu beli aja dua-duanya buat persediaan nanti?" usul Abigail sambil tersenyum.
"Hah? Apa gak boros mah?" tanya Nadira.
"Ya enggak dong sayang, Albert kan tadi sudah bilang beli apapun yang kamu mau dan sukai. Jadi, kamu gausah ragu sayang buat beli semuanya!" jawab Abigail.
"Yaudah deh mah, kalo gitu aku ambil aja dua-duanya." kata Nadira.
"Nah gitu dong, yuk lanjut pilih yang lainnya!" ucap Abigail.
Nadira mengangguk pelan, kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk membeli perlengkapan bayi lainnya disana.
Namun, Abigail menghentikan gerakannya saat melihat Chelsea alias putrinya yang tampak murung dan bersedih.
"Chelsea sayang, kamu kenapa nak? Masih kepikiran ya sama Keenan?" tanya Abigail lembut.
"Eh mama, enggak kok aku gapapa. Siapa juga yang mikirin Keenan?" jawab Chelsea berbohong.
"Serius? Terus kenapa kamu sedih gitu daritadi?" tanya Abigail.
"Aku gak sedih tuh, aku cuma lagi lihat-lihat barang disini siapa tau ada yang bagus." jawab Chelsea.
"Ah apaan? Tadi mama lihat kok kamu lagi bengong terus sedih gitu," ujar Abigail.
"Iya Chelsea, aku juga lihat kok." sahut Nadira.
"Tuh, udah deh kamu ngaku aja pasti kamu lagi mikirin Keenan kan!" ujar Abigail.
"Iya iya aku ngaku, aku emang lagi mikirin Keenan. Gak tahu kenapa tiba-tiba aku kepikiran dia lagi, padahal aku udah berusaha buat lupain tuh orang." kata Chelsea.
"Nah kan, mama udah tebak kalau kamu lagi mikirin Keenan. Dari bulan-bulan kemarin juga kan kamu masih terus mikirin Keenan, susah banget kayaknya kamu lupain dia!" ujar Abigail.
"Entahlah mah, aku juga gak tahu kenapa aku sudah lupain Keenan. Kayaknya aku udah terlanjur cinta banget deh sama dia," ucap Chelsea.
"Duh, sabar ya Chelsea! Aku juga masih gak nyangka sih kamu sama Keenan bakalan pisah kayak gini, padahal kalian kelihatan mesra banget dan saling mencintai." kata Nadira.
"Namanya udah takdir mbak, mau dipaksa gimana juga gak akan bisa nyatu lagi." ucap Chelsea.
"Oh iya, ngomong-ngomong emang siapa sih cewek yang dicintai Keenan? Kamu kan sempat bilang tuh, katanya Keenan putusin kamu karena dia udah berpaling ke lain hati." tanya Nadira penasaran.
"Eee kalau aku kasih tahu, mbak sama mama jangan ada yang kaget ya!" ucap Chelsea.
"Iya, kita gak akan kaget kok." ucap Abigail.
"Emang siapa sih orangnya?" tanya Nadira lagi.
__ADS_1
"Dia Celine mbak, mah." jawab Chelsea sambil menundukkan wajahnya.
"Celine? Celine yang adiknya Keenan itu?" tanya Abigail terkejut bukan main.
"Hah? Adik?" Nadira pun ikut terkejut.
"I-i-iya mah, Celine itu. Awalnya aku juga gak percaya, tapi setelah Keenan jelasin semuanya akhirnya aku bisa percaya deh." jelas Chelsea.
"Celine itu kan adiknya sendiri, gimana bisa Keenan jatuh cinta sama dia?" tanya Abigail keheranan.
"Bisa mah, karena ternyata Keenan dan Celine itu bukan saudara kandung. Waktu itu Keenan sempat jelasin kalau Celine cuma anak yang dipungut sama orangtuanya, karena kasihan." ucap Chelsea.
"Hah? Jadi, mereka bukan saudara kandung? Terus, apa Celine udah tau semuanya?" tanya Abigail.
"Keenan belum berani kasih tahu hal itu, tapi katanya sebentar lagi dia bakal jelasin semuanya ke Celine sebelum mereka nikah." jawab Chelsea.
"Mereka mau nikah? Kapan?" tanya Abigail.
"Aku juga gak tahu, mungkin setelah Celine lulus sekolah." jawab Chelsea asal.
"Kamu yang sabar ya Chelsea!" ucap Nadira.
Chelsea manggut-manggut saja, Nadira terus menepuk pundaknya seraya memeluknya lembut bermaksud menenangkan.
β’
β’
TOK TOK TOK...
"Vanesa, ini saya sudah datang. Ayo buka pintunya Vanesa!" teriak Albert dari luar.
Albert telah tiba di depan apartemen Vanesa, ia langsung mengetuk pintu dengan tergesa-gesa karena cemas memikirkan kondisi wanita itu.
"Kamu masuk aja Albert! Aku gak bisa jalan, perut aku sakit banget!" balas Vanesa dari dalam.
"Oke!" Albert menurut dan membuka pintu itu sesuai perintah Vanesa.
Ceklek...
Albert pun langsung masuk ke dalam, mencari dimana Vanesa dengan raut cemasnya.
Albert menemukan Vanesa tengah terduduk di sofa sambil memegangi perutnya.
"Vanesa!" ucap Albert panik.
Tanpa berlama-lama lagi, Albert bergerak cepat mendekati Vanesa dan duduk di samping wanita itu dengan cemas.
"Awhh sshh sakit banget Bert!" rintih Vanesa.
"Ka-kamu beneran udah mau lahiran? Hari ini?" tanya Albert cemas.
"Iyalah Albert, kamu gak lihat nih aku kesakitan begini? Cepetan dong bawa aku pergi dari sini!" ucap Vanesa sedikit kesal.
"I-i-iya, sebentar ya! Aku coba hubungi petugas disini dulu buat bantu bawa kamu, gak mungkin aku bisa tuntun kamu sendiri." kata Albert.
"Iya iya.." Albert langsung bangkit, merogoh sakunya dan mengambil ponsel lalu menelpon nomor petugas disana.
Setelahnya, Albert kembali menemui Vanesa lalu berusaha menenangkan Vanesa untuk tidak panik dan bersabar sembari menunggu bantuan datang.
"Vanesa, kamu sabar ya tahan sebentar! Jangan dikeluarin dulu, nanti gak bagus hasilnya!" ucap Albert.
"Iya iya, aku juga tahu. Tapi masalahnya, ini sakit banget loh Albert!" rintih Vanesa terus mencengkram tangan Albert dan bahkan mencakarnya.
"Awhh sakit tau!" ujar Albert.
"Ya begitu juga yang aku rasain, malah lebih!" ucap Vanesa.
"Eee yaudah, kamu boleh deh cakar aku." kata Albert.
"Awwsss sakit banget Albert...!!"
"Tahan Vanesa! Kamu tarik nafas, terus buang perlahan ya buat bantu redain rasa sakitnya!" ucap Albert.
Vanesa mengangguk, lalu melakukan apa yang diperintahkan Albert.
"Haish, ini petugasnya pada kemana sih? Lama amat perasaan mereka sampainya, jangan-jangan mereka pada makan gaji buta nih!" ujar Albert.
"Yaudah Bert, kamu bawa aku aja sekarang gausah tungguin mereka!" pinta Vanesa.
"Ta-tapiβ"
"Buruan Albert, aku udah gak kuat lagi!" teriak Vanesa seraya mencakar tangan Albert kasar.
"Aaaaa..." teriak Albert menahan sakit.
β’
β’
Di tempat yang berbeda, Nadira baru saja selesai berbelanja dan sudah hendak pulang bersama mama serta adik iparnya.
Akan tetapi, entah mengapa tiba-tiba Nadira merasakan sakit yang amat sangat di bagian perutnya yang membuat ia tak mampu berjalan.
"Awhh sshh.." Nadira merintih pelan seraya memegang dinding di dekatnya.
"Nadira, kamu kenapa sayang? Ada yang salah?" tanya Abigail cemas.
"Akh! Iya mah, ini tiba-tiba perut aku sakit banget. Aku gak tahu kenapa mah," jawab Nadira.
"Hah? Duh ya ampun! Perut kamu sakit sayang?" ucap Abigail langsung panik.
"I-i-iya mah.." ucap Nadira mulai tak tahan.
"Waduh! Jangan-jangan mbak Nadira mau lahiran lagi mah, makanya perutnya sakit begitu." ucap Chelsea menebak.
"Masa iya? Usia kandungannya kan belum sembilan bulan pas sayang, jadi harusnya bukan sekarang dong." kata Abigail.
__ADS_1
"Bisa aja mah, kan gak ada salahnya. Kita harus segera bawa mbak Dira ke rumah sakit, mah!" ucap Chelsea.
"Ah iya, kamu benar. Kalo gitu cepat kamu hubungi pak Liam buat siapin mobil!" ucap Abigail.
"Oke mah!" ucap Chelsea menurut.
Chelsea pun mulai menghubungi Liam selaku bodyguard bayaran Albert, sedangkan Abigail tetap disana menemani Nadira dan menenangkan wanita itu.
"Nadira, kamu tahan ya sayang! Kita bakal bawa kamu ke rumah sakit kok," ucap Abigail.
"Iya mah, tapi ini sakit banget mah!" ujar Nadira meringis.
"Tahan sebentar ya sayang! Mama mau minta bantuan dulu sama security, kamu duduk aja dulu sambil atur nafas kamu!" ucap Abigail.
"I-i-iya mah.." ucap Nadira menurut.
Abigail menghampiri dua orang security disana untuk membantunya membawa Nadira menuju mobil mereka di depan mall.
Sementara Chelsea juga sudah kembali menemui Nadira setelah menghubungi Liam.
"Gimana Chelsea?" tanya Abigail.
"Udah beres mah, pak Liam lagi siapin mobilnya di depan." jawab Chelsea.
"Yaudah, kalo gitu ayo kita sama-sama kesana! Pak, tolong bantu ya putri saya ini mau melahirkan!" ucap Abigail.
"Baik Bu!"
Akhirnya perlahan-lahan mereka membawa tubuh Nadira pergi dari sana, Nadira terus meringis menahan sakit yang membuat Chelsea serta orang-orang disana merasa ngilu.
"Ternyata sesakit itu ya pas mau lahiran, gue jadi gak pengen hamil." batin Chelsea.
β’
β’
Mereka sudah berada di mobil, Liam langsung menancap gas dan melaju menuju rumah sakit terdekat.
Nadira masih saja merintih kesakitan sembari mencengkram erat tangan Chelsea dan sesekali mencakarnya.
"Awwsss..." rintih Nadira.
"Eee mbak, sabar ya sebentar lagi kita sampai kok!" ucap Chelsea yang juga menahan sakit dari cakaran kakak iparnya itu.
"Akkhh sakit banget!" teriak Nadira cukup keras.
"Tahan ya sayang! Kamu tarik nafas, terus buang perlahan-lahan!" ucap Abigail.
Nadira mengangguk dan mengikuti instruksi mamanya itu.
"Chelsea, kamu hubungi Albert sekarang! Bilang sama dia kalau istrinya mau lahiran!" ujar Abigail.
"Iya mah," ucap Chelsea.
Chelsea langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Albert, namun tidak bisa.
"Gak aktif mah," ucap Chelsea.
"Aduh! Kemana sih itu anak? Disaat genting begini dia malah nonaktifin hp, jadi susah kan buat kita hubunginya!" geram Abigail.
"Terus gimana dong mah?" tanya Chelsea.
"Eee coba aja kamu telpon Keenan dulu! Siapa tau dia lagi sama Albert, jadi dia bisa kasih tahu ke Albert nanti." jawab Abigail.
"Hah? Telpon Keenan?" ujar Chelsea terkejut.
"Iya Chelsea, ayo cepat satu kali ini aja kok! Demi kakak kamu ini loh," ucap Abigail.
"I-i-iya mah..." ucap Chelsea menurut.
Chelsea tak memiliki pilihan lain, ia pun terpaksa menghubungi nomor Keenan walau sejujurnya ia sudah malas sekali harus berhubungan kembali dengan pria itu.
Telpon pun diangkat oleh Keenan, Chelsea mengambil nafas sejenak sebelum mulai berbicara dengan pria itu.
"Awhh sshh.." Nadira kembali berteriak dan membuat Chelsea ikut terkejut.
π"Halo! Hey Chelsea! Ada apa kamu telpon aku? Itu barusan suara teriakan siapa Chelsea?" tanya Keenan dari dalam telpon.
π"Eee i-i-iya ha-halo..." ucap Chelsea gugup.
π"Iya Chelsea, kenapa? Ada apa?" tanya Keenan langsung panik.
π"Begini Keenan, gue hubungin lu karena gue mau minta bantuan lu." jawab Chelsea.
π"Bantuan apa?" tanya Keenan penasaran.
π"Eee ini..."
"Ah kamu lama banget sih ngomongnya sayang, udah sini biar mama aja yang bicara sama nak Keenan!" potong Abigail geregetan.
Chelsea langsung memberikan ponselnya kepada Abigail, "Ini mah." ucapnya.
π"Halo Keenan! Ini saya Abigail," ucap Abigail di telpon.
π"Eee iya Bu, kenapa ya?" tanya Keenan heran.
π"Begini Keenan, ini kami lagi dalam perjalanan ke rumah sakit. Tadi Nadira tiba-tiba ngerasa sakit di perutnya, kayaknya dia mau lahiran deh. Kamu bisa gak hubungi Albert dan bilang ke dia buat susulin kita?" jelas Abigail.
π"Apa? Bu Nadira sudah mau melahirkan Bu? Iya iya, nanti saya akan coba hubungi pak Albert dan kasih tahu semuanya. Tapi, sekarang apa yang bisa saya bantu Bu?" ujar Keenan kaget.
π"Untuk sekarang itu saja dulu, tapi nanti kalau saya butuh bantuan lain pasti saya akan hubungi kami." kata Abigail.
π"Siap Bu!" ucap Keenan patuh.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1