
5 tahun kemudian...
Sudah lima tahun berlalu, kini Galen Ivander alias putra dari Albert dan Nadira itu sudah semakin besar dan usianya pun telah menginjak lima tahun lebih sedikit.
Nadira juga sudah melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah, ya Albert lah yang memintanya berkuliah untuk menambah aktivitas Nadira agar tidak bosan di rumah.
"Galen, Galen sayang!" Nadira berteriak sembari mengelilingi rumah mencari putranya.
Akan tetapi, Nadira tak berhasil menemukan Galen dimanapun. Padahal ia sudah mengelilingi hampir setiap sudut rumah itu, dari mulai taman bermain sampai kamarnya.
"Duh, Galen kemana ya? Aku kan harus berangkat kuliah sekarang, kok dia gak muncul juga?" gumam Nadira.
"MAMA!!"
Tiba-tiba saja suara teriakan Galen terdengar dari belakangnya, Nadira pun reflek berbalik lalu tersenyum lebar saat menyaksikan putranya tengah berlari ke arahnya.
Hugg...
Galen langsung menubruk tubuh mamanya dan memeluknya erat
"Galen? Ya ampun, kamu darimana aja sih sayang? Mama nyariin kamu loh!" ucap Nadira.
"Maaf ya mama! Tadi aku lagi main sama suster Alra di kolam, jadinya mama gak bisa temuin aku deh." jelas Galen.
"Oalah, kamu itu bikin mama panik aja deh!" ucap Nadira sambil mencolek hidung putranya.
"Den, den Galen!" suster Alra alias baby sitter yang membantu mengurus Galen pun tampak cemas dan terus meneriakkan nama putra Nadira itu.
"Aku disini suster!" teriak Galen.
"Eh den Galen udah sama mama ternyata? Syukurlah, suster pikir tadi den Galen itu pergi kemana!" ucap Alra merasa lega.
"Iya sus, Galen tadi yang nyamperin saya. Tapi, lain kali kamu tolong jagain dia yang benar ya! Jangan sampai dia bisa bebas lari-lari sendiri kayak tadi! Untung aja dia ketemu saya, kalau dia pergi keluar rumah gimana?!" ucap Nadira menegur Alra.
"I-i-iya nyonya, saya minta maaf! Saya janji deh gak akan begitu lagi!" ucap Alra.
"Yasudah gapapa, saya titip Galen ya. Saya mau pergi kuliah dulu sekarang, tapi gak lama kok." ucap Nadira pada suster Alra.
"Siap nyonya!" ucap Alra.
Nadira pun beralih menatap Galen dan menangkup wajah putranya itu.
"Galen sayang, kamu yang anteng ya di rumah bareng sama suster Alra! Kamu jangan nakal atau ngerepotin suster Alra ya! Ingat kata mama sama papa, kamu itu harus jadi anak yang baik!" ucap Nadira.
"Iya mah, aku ingat kok. Aku janji sama mama, aku gak akan jadi anak yang nakal!" ucap Galen mengacungkan jari telunjuknya.
"Pinter kamu sayang!" ucap Nadira memuji putranya.
"Iya dong kan aku anak mama," ucap Galen sembari mengecup hidung mamanya.
"Ohh, jadi cuma anak mama aja nih? Papa enggak dianggap?" Albert tiba-tiba datang dan langsung berkata demikian kepada Galen.
"Eh papa? Enggak dong pah, maksudnya aku ini anak mama sama papa. Masa iya aku gak anggap papa?" ucap Galen menjelaskan.
"Uluh uluh, kalo gitu sini dong peluk papanya!" pinta Albert sambil berjongkok disana.
Galen mengangguk pelan, kemudian melangkah ke dekat Albert dan langsung memeluknya dengan erat.
Nadira tampak bahagia melihatnya, ia tersenyum dan merasa senang karena Galen serta papanya dapat akrab seperti yang ia inginkan.
"Yaudah, papa sekarang mau anterin mama dulu ya sayang? Kamu di rumah aja ya sama suster Alra, jangan bandel loh sayang!" ucap Albert sembari mencubit hidung putranya.
"Siap papa!" ucap Galen sambil tersenyum.
"Ahaha, bagus!" ujar Albert.
•
•
Singkat cerita, Albert telah tiba di kampus tempat Nadira kuliah seperti biasa.
Albert pun menghentikan mobilnya, menatap Nadira sembari mengusap wajahnya.
"Kamu jangan genit-genit loh!" ucap Albert.
"Apa sih mas? Dari awal aku kuliah, mana pernah aku genit sama cowok-cowok disini? Ya emang sih mereka itu pada ganteng semua, bahkan lebih ganteng dari kamu. Tapi, aku gak tertarik sama mereka mas." ucap Nadira.
"Kalau gak tertarik, kenapa kamu bilang mereka pada lebih ganteng dari saya? Harusnya kamu itu lebih memuji saya dong Nadira!" ucap Albert.
"Bukannya gitu, aku kan cuma bicara fakta. Masa aku disuruh bohong sih, mas?" ucap Nadira.
"Yeh kamu mah parah banget kalo ngomong! Yaudah, saya anterin ya sampe ke dalam? Saya gak mau aja nantinya ada cowok-cowok yang godain kamu, kalau kamu jalan sendiri." ujar Albert.
"Buat apa mas? Biasanya juga aku jalan sendiri kok ke dalam, dan gak ada tuh yang godain aku. Kamu gausah lebay deh mas, aku mau turun sendiri aja!" ucap Nadira.
"Masa sih? Kamu yakin gak ada yang godain kamu? Atau jangan-jangan, kamu malah senang ya digodain mereka. Jadinya kamu gak mau saya antar ke dalam, biar kamu bisa leluasa digodain sama cowok-cowok itu." ucap Albert.
__ADS_1
"Ih mas, kamu itu kenapa cemburuan banget sih? Udah dibilang gak ada yang godain aku, kamu percaya dong sama aku! Aku ini setia sama kamu mas, mana mungkin aku berkhianat?!" ucap Nadira cemberut.
"Huh iya deh iya, saya percaya!" ujar Albert.
"Kalo gitu kamu lanjut kerja aja ya mas! Aku bisa jalan sendiri kok, nanti kamu telat loh ke kantornya." ucap Nadira sambil tersenyum.
"Gak, saya akan tetap antar kamu!" ucap Albert.
"Hah? Tadi katanya mau percaya, tapi kenapa kamu maksa buat antar aku?" tanya Nadira.
"Ya iya saya percaya, tapi gak salah kan kalau saya mau antar istri saya yang cantik jelita ini sampai ke dalam kampus?" ucap Albert sambil tersenyum.
"Terserah kamu aja deh mas!" ucap Nadira sembari membuang muka.
Albert pun tersenyum renyah, kemudian mengecup pipi Nadira serta merangkulnya sekilas.
Mereka bersama-sama turun dari mobil, tampak Nadira masih cemberut karena Albert memaksa untuk mengantarnya sampai ke dalam.
"Mas, udah sampe sini aja ya!" pinta Nadira.
"Enggak sayang, nanggung itu." ucap Albert.
Disaat mereka hendak kembali melangkah, tiba-tiba mereka didatangi oleh tiga orang wanita muda yang cantik.
"Eh Nadira!" ketiganya menyapa Nadira sembari menepuk pundak Nadira dan berdiri di sampingnya.
"Sabrina? Alea? Caca?" ucap Nadira.
"Wih lu diantar sama siapa nih Dira? Kok ganteng banget sih dilihat-lihat?" tanya Sabrina dengan genit.
"Eee.." Nadira tampak kebingungan, ia melirik ke arah Albert seakan meminta bantuan.
"Saya suaminya, nama saya Albert." ucap Albert mengenalkan diri.
"Ohh, jadi ini suami lu Nadira? Maaf ya, gue gak tahu hehe!" ucap Sabrina merasa bersalah.
"Gapapa, kalian kenalan ya sama suami aku! Mas, mereka ini teman-teman aku di kampus, namanya Sabrina, Alea dan Caca." ucap Nadira.
"Sabrina!" ucap Sabrina sembari menyodorkan tangan ke arah Albert.
"Albert," balas Albert seraya menjabat tangan Sabrina.
Alea dan Caca pun melakukan hal yang sama, lalu mereka sempat berbincang sejenak sebelum Albert memutuskan pergi dari sana.
•
•
"Eh Nad, suami lu kok bisa ganteng banget gitu sih? Gue aja yang baru pertama kali ngeliat langsung terpesona tadi, pantes lu sampe mau diajak nikah muda sama dia." ujar Sabrina.
"Apaan sih? Lebay kamu ah!" ucap Nadira.
"Gak lebay dong Dira, emang suami lu cantik banget kok. Tanya aja sama Alea dan Caca!" ucap Sabrina.
"Bener tuh, gue juga kaget tadi pas pertama kali lihat wujud suami lu." sahut Alea.
"Udah udah guys, jangan bahas suami aku terus dong! Kasihan nanti dia kupingnya kepanasan kalo kita omongin dia! Lagian emangnya kalo dia ganteng kenapa? Kalian pada naksir sama mas Albert?" ucap Nadira.
"Hehe, enggak lah Nad... yakali kita naksir sama suami sohib kita sendiri, kita tuh cuma kagum aja karena suami lu ganteng. Apalagi gantengnya itu beda dari yang lain," ucap Sabrina.
"Beda dari yang lain gimana maksudnya?" tanya Nadira tak mengerti.
"Ya pokoknya beda aja gitu, muka suami lu itu lebih enak dipandang." jawab Sabrina.
"Udah lah, kita kesini kan mau beli alat makeup. Kenapa malah jadi bahas suami aku terus sih? Ayo buruan kita cari barangnya!" ucap Nadira.
"Tau, kayaknya bener deh si Sabrina naksir sama suami lu Nad. Makanya dia ngomongin suami lu terus daritadi, ya kan Sabrina?" ujar Alea.
"Hus sembarangan aja lu kalo ngomong! Gini-gini gue masih waras kali, gak mungkin lah gue naksir laki orang!" elak Sabrina.
"Alah ngeles aja lu!" cibir Alea.
"Yeh bukan gitu, emang gue gak naksir kok sama suaminya Nadira. Lu jangan kompor deh Lea, gue sembelih juga lu lama-lama!" ucap Sabrina.
"Hahaha..." Alea dan Caca kompak tertawa disaat Sabrina tampak kesal pada mereka.
"Gausah tawa lu berdua! Hobi banget sih jadi kompor, kalo Nadira marah sama gue gimana?" ujar Sabrina cemberut.
"Yah elah dia ngamuk, santai aja kali Sab! Kita kan cuma bercanda, jangan dibawa serius dong!" ucap Alea.
"Tau ih, santai dong Sabrina!" sahut Caca.
"Stop guys, jangan pada ribut disini! Malu tau daritadi dilihatin orang-orang!" ucap Nadira.
"Tuh mereka tuh yang mulai duluan!" ujar Sabrina.
"Yaudah, ayo ah kita ke tempat makeup sekarang! Katanya kalian mau pada beli skincare yang aku pake, kita harus cepat kesana nya sebelum kehabisan. Soalnya skincare ini tuh cepat habisnya karena banyak yang mau beli," ucap Nadira.
__ADS_1
"Wah iyakah? Berarti emang ajaib banget ya tuh skincare, pantes aja kulit lu jadi putih mulus kayak gini!" ujar Sabrina.
"Iya dong, makanya ayo buruan kita kesana!" ucap Nadira.
"Iya iya.." ucap Sabrina mengangguk kecil.
Disaat mereka hendak melangkah, tanpa sengaja Caca justru bertabrakan dengan seorang wanita yang sedang membawa belanjaannya.
Bruuukkk...
"Aduh! Mbak, gimana sih mbak jalannya gak lihat-lihat?! Ini saya sakit tau ketabrak begini!" protes Caca sembari memegangi lengannya.
"Eee ma-maaf ya mbak! Saya tadi gak sengaja, saya gak lihat ke depan!" ucap wanita itu.
"Haish, makanya mbak kalo jalan tuh lihat-lihat dong!" ujar Caca.
"Iya mbak, maaf ya!" ucap wanita itu.
"Yaudah," ucap Caca ketus.
"Saya permisi ya mbak, sekali lagi saya minta maaf!" ucap wanita itu berlalu pergi.
Caca pun tampak kesal dengan sikap si wanita yang menabraknya dan malah pergi begitu saja tanpa membantunya.
"Kurang ajar tuh cewek! Bukannya bantuin malah pergi gitu aja!" umpat Caca.
"Ca, lu ngapa sih? Sabar dong jangan marah-marah!" ucap Alea.
"Tau lu, malu tau di mall marah-marah kayak gitu!" sahut Sabrina.
"Ish, abisnya tuh mbak-mbak tadi nabrak gue terus gak mau tanggung jawab udah bikin gue jatuh!" ujar Caca.
"Sabar aja ya Caca! Mungkin dia lagi buru-buru kali," ucap Nadira.
"Iya deh iya," ucap Caca.
Entah mengapa Nadira merasa heran dengan wanita tadi, apalagi suara si wanita terdengar tidak asing di telinganya.
"Suara itu kayak pernah aku dengar, tapi dimana ya? Siapa sih wanita itu? Gerak-geriknya juga mencurigakan banget," batin Nadira.
•
•
"Om, ayo cepat kita pergi dari sini om!" ucap wanita yang sebelumnya menabrak Caca.
Seorang pria keluar dari mobilnya, itu adalah Darius alias paman Albert.
Darius nampak menghampiri wanita yang terlihat panik tersebut, ia membantu memasukkan barang-barang belanjaan miliknya ke dalam bagasi agar mereka bisa cepat pergi.
"Ini ada apa Vanesa? Kenapa kamu kelihatan buru-buru sekali? Ada masalah atau apa?" tanya Darius bingung.
"Nanti aja aku ceritain di mobil, sekarang ayo om kita pergi dulu dari sini!" ucap Vanesa.
"Haish, iya iya.." Darius menurut dan mempercepat memasukkan barang-barang itu ke dalam mobilnya.
Setelahnya, mereka pun kembali masuk ke mobil dan Darius segera menancap gas melaju pergi dari mall tersebut.
"Vanesa, sebenarnya ada apa sih tadi di mall? Kenapa kamu kelihatan panik gitu?" tanya Darius.
Vanesa membuka sejenak masker dan kacamata hitam yang dikenakannya, ia mengambil nafas lega setelah berjam-jam harus mengenakan masker itu.
"Gimana aku gak panik om? Tadi aku ketemu Nadira di mall itu, dia lagi sama teman-temannya disana. Aku juga gak tahu dia mau apa, tapi untung aja aku bisa menghindar dan gak ketahuan sama dia tadi." jelas Vanesa.
"Hah? Apa? Nadira ada di mall itu dan dia hampir ketemu sama kamu? Waduh, berarti mulai sekarang kamu harus benar-benar hati-hati! Jangan sampai Nadira tahu kalau kamu ini masih hidup, itu bahaya loh!" ucap Darius.
"Iya om, aku juga paham. Ini semua terpaksa aku lakukan demi kebaikan putraku, jadi aku memang harus sembunyi walau dalam keadaan sakit seperti ini." ucap Vanesa bersedih.
"Ya, mulai saat ini kamu gak boleh banyak keluar-keluar lagi dari rumah! Jangan sampai Albert marah nantinya kalau tahu kamu hampir ketahuan sama Nadira!" ucap Darius.
"Iya om iya," ucap Vanesa menurut.
"Yaudah, sekarang kita langsung pulang aja!" ucap Darius.
"Kok pulang sih? Obat buat aku gimana om? Kan di rumah obatku udah pada habis om, sedangkan aku masih harus rutin minum obat sesuai petunjuk dokter." ucap Vanesa.
"Itu mah masalah gampang, om bisa suruh orang buat beli obat untuk kamu. Yang penting sekarang kita harus pulang dulu, supaya kamu aman dan gak ketahuan sama Nadira!" ucap Darius.
"Iya om, aku ngerti." ucap Vanesa menurut.
"Bagus!" ucap Darius.
"Sampai kapan aku harus terus sembunyi kayak gini? Rasanya aku udah gak tahan, aku pengen hidup bebas seperti dulu lagi. Selain itu, aku juga pengen ketemu sama putraku. Seperti apa dia sekarang? Pasti dia sudah besar dan tampan," gumam Vanesa dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1