
Darius menghentikan mobilnya, ia sampai di sebuah tempat yang tak lain adalah markasnya. Disana lumayan sepi dan hanya ada dirinya serta beberapa anak buahnya, kali ini sepertinya ia sedang menunggu seseorang.
Tak lama kemudian, dua mobil turut tiba disana dan berhenti tepat di dekat Darius berada.
Tentu saja Darius langsung tersenyum smirk, membuka pintu mobilnya dan turun dari sana menghampiri kedua mobil di depannya itu.
Lalu, tampak lima orang bertubuh besar yang keluar dari dua mobil itu dan berjalan mendekati Darius sambil senyum-senyum.
"Gimana? Kalian berhasil kan dapatin barang itu?" tanya Darius pada mereka.
"Tenang aja bos! Tugas kita udah beres kok, tuh barangnya ada di belakang!" jawab salah seorang dari mereka sambil tersenyum.
"Bagus! Emang gak salah saya pilih orang buat lakuin tugas ini, kalian memang bisa diandalkan!" ucap Darius tersenyum puas.
"Ya iyalah bos, kita ini kelompok perampok elit. Kita sudah terbiasa melakukan hal-hal yang kayak gini, jadi gak mungkin gagal." kata orang itu lagi.
"Baiklah, ini sisa bayarin untuk kalian berlima! Terimakasih karena sudah membantu saya!" ucap Darius menyerahkan sebuah amplop kepada mereka.
"Nah mantap nih! Jangan kapok ya bos minta bantuan kita, kalau ada apa-apa lagi kasih tahu aja ke kita!" ucap orang itu.
"Siap!" ucap Darius.
"Yaudah, ini barang mau diapain lagi bos?" tanya orang itu.
"Biarin aja dia disitu, nanti biar anak buah saya yang bawa ke dalam. Kalian semua boleh pergi sekarang, nikmati hasil kerja keras kalian dan berpesta lah!" jawab Darius.
"Baik bos! Kalo gitu sekarang kita permisi dulu!" ucap orang itu pamit pada Darius.
"Oke!" ucap Darius singkat.
Setelahnya, kelima orang itu pun pergi dari sana membawa uang pemberian Darius dan bersiap untuk melaksanakan pesta.
Sementara Darius memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan kotak tersebut dari atas mobil dan membawanya masuk ke dalam markas.
Ya di markas tersebut cukup luas, terdapat banyak sekali alat-alat misterius yang tentunya sudah ia persiapkan untuk merencanakan sesuatu.
"Hahaha... Albert pasti marah besar karena barang yang dia butuhkan ini berhasil saya curi, kemungkinan dia juga bakal cari tahu siapa pencurinya dan saya harus siasati itu!" ucapnya.
"Bos, barangnya sudah kita bawa masuk ke dalam. Lalu, kita apakan mobil ini?" tanya anak buahnya.
"Coba kalian cek di seluruh body mobil itu, apa disana ada semacam kamera pelacak atau tidak!" titah Darius.
"Siap bos!" mereka langsung bergerak melakukan apa yang diperintahkan Darius.
Selang beberapa menit, mereka kembali menemui Darius dan membawa sebuah alat semacam gps yang berbentuk kecil di tangannya.
"Lapor bos! Kami menemukan alat ini di bagian bawah mobil itu, sepertinya ini gps bos." kata salah seorang anak buahnya sembari memberikan alat itu kepada Darius.
"Benar dugaan saya, Albert pasti sudah memasang alat itu di mobilnya. Dan kemungkinan dia juga sudah melacak keberadaan kita, jadi kalian buang alat itu atau hancurkan saja sekalian!" titah Darius.
"Baik bos!" ucap mereka serentak.
Orang-orang itu kembali melakukan apa yang diminta Darius, ya mereka menghancurkan alat itu hingga tak berbentuk lagi.
Darius tersenyum smirk, merasa puas dan sudah tidak sabar ingin melanjutkan rencana selanjutnya untuk menghancurkan Albert.
"Ini baru awal dari sebuah rencana besar yang sudah saya siapkan untuk kamu, Albert. Kamu tidak akan bisa menang melawan saya, karena kamu itu hanya orang lemah!" ujarnya.
β’
β’
Tanpa disadari oleh Darius atau anak buahnya, rupanya seseorang pria tengah mengamati markas mereka dari luar.
Pria tersebut adalah Andri, orang suruhan Keenan yang sebelumnya telah dihubungi oleh Keenan untuk mengikuti mobil Darius sampai ke tujuan.
"Jadi, disini tujuan akhir orang itu. Saya harus ambil foto dan kirim ke bos Keenan," ucapnya seraya mengeluarkan ponsel lalu memotret mobil serta tempat ia berada sekarang.
Cekrek...πΈπΈ
Andri pun mengirim foto tersebut ke handphone Keenan dan masih terus berada disana untuk memantau apakah Darius akan pergi lagi atau tidak.
"Kira-kira siapa ya lima orang yang tadi ditemuin sama tuh bapak-bapak?" ujarnya kebingungan.
...β’β’β’...
Keenan telah tiba di lokasi adiknya berada, ia langsung turun dari mobil dan bergegas menghampiri Celine disana.
"Celine!" Keenan tampak panik, tanpa aba-aba ia pun memeluk Celine dengan erat untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
"Lu baik-baik aja kan dek? Ada yang luka apa enggak, ha? Bilang aja sama gue!" ujarnya cemas.
Keenan terus memegangi seluruh bagian tubuh Celine bermaksud memastikan apakah adiknya memiliki luka atau tidak.
"Ih lepasin ah! Gue gak kenapa-napa tau, justru kalo lu pegang-pegang gue terus kayak gini yang ada gue bisa jadi kenapa-napa!" ujar Celine berontak dan melepaskan diri dari pegangan abangnya.
"Haish, kok lu malah marah-marah sama gue sih? Gue ini panik loh, gue khawatir lu kenapa-napa sayang! Tapi, bagus deh kalau emang lu baik-baik aja!" ucap Keenan sedikit jengkel.
"Iya, gue baik-baik aja kok!" ucap Celine.
"Yaudah, kita pulang yuk! Si Harrison itu udah enggak ngejar lu lagi kan?" tanya Keenan.
__ADS_1
"Tenang aja bang! Daritadi gue nunggu disini, gak ada kelihatan tuh orang." jawab Celine.
"Syukurlah! Kalo gitu ayo masuk ke mobil gue!" ucap Keenan kembali menggandeng tangan Celine.
"Gausah gandengan kenapa sih!" ujar Celine.
"Sssttt! Udah nurut aja lu sama gue!" bentak Keenan.
"Iye iye.." ucap Celine pasrah.
Keenan pun membawa masuk adiknya ke dalam mobil, memakaikan sabuk pengaman padanya dan lalu menutup pintu.
Pria itu berjalan mengitari mobil dan hendak masuk melalui pintu lainnya, namun ponselnya berdering membuat ia mengurungkan niatnya.
Tliingg...
"Aduh! Siapa coba yang kirim pesan disaat seperti ini?" geram Keenan.
Keenan langsung membuka ponselnya, terdapat nama Andri disana yang membuat Keenan penasaran lalu melihat isi pesan yang dikirimkan oleh orang suruhannya itu.
[Foto]
Bos, ini gue udah ikutin orang yang lu curigai itu sampai ke sebuah tempat. Dan tadi juga gue lihat dia interaksi sama lima orang gitu, tapi sorry karena gue gak sempat foto mereka!
Itulah isi pesan dari Andri, begitu membacanya Keenan pun semakin curiga pada Darius.
Terlebih, Keenan juga menemukan mobil yang mirip dengan mobil milik orang suruhannya untuk melakukan interaksi tadi.
"Kok ini mobilnya mirip banget ya sama mobil yang biasa digunain orang-orang saya buat ambil barang? Apa jangan-jangan ini emang mobil mereka, dan pak Darius dalang dibalik pencurian ini? Tapi, apa niat dia coba?" ujarnya heran.
Celine yang sudah tidak sabar, membuka kaca mobil dan berbicara pada abangnya.
"Bang, ayo buruan pulang! Lu ngapain sih malah diem aja disitu?" ujar Celine kesal.
"Eee iya iya, sabar dong cantik!" ucap Keenan lembut disertai senyum manisnya.
Keenan pun masuk ke dalam mobil, menatap wajah Celine dan mencubitnya sambil tersenyum.
"Lu gemesin banget sih dek!" ujarnya.
"Apaan sih! Buruan ah pulang, gue udah lapar nih!" ujar Celine emosi.
"Hahaha... siap tuan putri!" sarkas Keenan.
Mereka pun melaju pergi dari sana.
β’
β’
Sontak Albert pun merasa geram dan marah-marah sendiri sembari memukul setir serta dashboard mobilnya.
"Aaarrgghh sial!" geramnya emosi.
"Kenapa Bert?" tanya Rio yang ada di sampingnya.
"Saya kehilangan jejak. Sepertinya alat pelacak itu sudah berhasil ditemukan dan dihancurkan oleh si pencurinya," jawab Albert.
"Waduh! Terus gimana dong? Bakal sulit buat kita temuin lokasi tempat si pencuri itu berada!" ucap Rio ikut cemas.
"Itu dia Rio, saya juga bingung sekarang harus ngapain lagi. Mana tadi alamatnya belum sempat saya hafalkan lagi, saya benar-benar gak nyangka kalau mereka bisa tahu di mobil itu ada alat pelacaknya!" ujar Albert.
"Sepertinya mereka bukan pencuri sembarangan, mereka mungkin sudah mempersiapkan ini secara matang, jadi ketika mereka bertindak semuanya sudah sesuai dalam rencana." kata Rio.
"Iya Rio, terus kamu ada ide gak buat kita bisa temuin mereka?" tanya Albert.
"Eee untuk sekarang sih belum, tapi mungkin nanti saya akan terpikirkan idenya." jawab Rio.
"Oke! Saya coba susuri jalan ini aja dulu, siapa tahu kita bisa temukan petunjuk. Karena tadi sih lokasinya gak jauh dari daerah sini," ucap Albert.
"Yaudah, saya ngikut aja." kata Rio.
Tliingg...
Tiba-tiba saja ponsel milik Albert berbunyi, pria itu pun langsung mengeceknya karena penasaran siapa yang mengirim pesan untuknya.
"Sebentar ya!" ucap Albert pada Rio sembari meminggirkan mobilnya.
"Santai aja!" ucap Rio tersenyum.
Albert pun membuka pesan dari Keenan, terdapat sebuah foto yang cukup membuatnya terheran-heran.
"Foto apaan nih? Maksud Keenan apa sih kirim foto beginian? Mending kalau cewek seksi, lah ini foto tempat kagak jelas!" batin Albert.
Tliingg...
Kembali ada pesan masuk ke nomornya.
Keenan
Maaf tuan kalau saya ganggu! Barusan yang saya kirim itu foto dari anak buah saya, dia saya tugaskan untuk mengikuti pak Darius karena saya curiga sama beliau. Dan betul aja tuan, ternyata tuan Darius pergi ke tempat misterius di foto itu. Bahkan, terlihat juga tuan kalau disana terdapat mobil yang sering digunakan anak buah tuan untuk mengambil barang.
__ADS_1
Begitu membaca isi pesan dari Keenan, Albert baru menyadari kalau benar adanya bahwa mobil di dalam foto tersebut memang mirip seperti mobil yang digunakan anak buahnya.
"Wah iya benar nih mirip banget!" ujar Albert spontan.
"Hah? Apanya yang mirip, Bert?" tanya Rio keheranan.
"Ini loh, mobil yang ada di foto ini tuh mirip banget sama mobil yang dipakai anak buah saya buat ambil barang tadi." jawab Albert sembari memperlihatkan foto di hp nya kepada Rio.
"Berarti ada kemungkinan si pencurinya itu ada disana," kata Rio.
"Iya, tapi saya belum tahu ini tempatnya dimana. Sebentar deh, saya mau hubungi asisten saya dulu buat kasih tahu detail tempatnya." ujar Albert.
"Oke!" ucap Rio mengangguk singkat.
Albert pun menghubungi Keenan sesuai dengan perkataannya tadi.
Namun, cukup lama Albert menunggu karena Keenan tak langsung mengangkat telpon darinya.
"Haish, lagi apa sih Keenan ini? Telpon saya kok gak dijawab-jawab," geram Albert.
"Sabar Albert! Mungkin Keenan masih sibuk dengan adiknya," ucap Rio menenangkan.
β’
β’
Keenan menuntun Celine masuk ke dalam rumah dengan berhati-hati, tampaknya Keenan begitu perhatian pada adiknya dan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
"Ish, lu ngapain sih bang pake gandeng tangan gue segala? Gue bisa jalan sendiri tau, lagian gue gak pincang!" ujar Celine kesal.
"Udah lu jangan banyak omong deh! Mau lu, gue kurung di kamar seharian gara-gara gak mau nurut sama gue?" ancam Keenan.
"Dih mainnya ngancem!" cibir Celine.
Keenan tersenyum puas, kemudian lanjut melangkah bersama Celine ke dalam rumah.
Drrttt..
Drrttt...
Tiba-tiba ponsel Keenan berdering, Celine pun merasa senang karena ini kesempatan baginya untuk bisa lepas dari genggaman Keenan.
"Nah, angkat dulu tuh bang telponnya siapa tahu penting!" ucap Celine tersenyum.
"Heh! Ngapain lu senyum-senyum kayak gitu? Gue bakal angkat ini telpon, tapi lu tetap disini jangan kemana-mana!" ujar Keenan seraya mengambil ponselnya dari saku celana.
Namun, Keenan masih tetap mencengkram erat lengan Celine menggunakan tangannya yang lain.
"Haish, bang Ken nyebelin banget sih!" batin Celine.
Keenan pun mengangkat telpon dari Albert, ia tentu tak mau membuat Albert marah atau kesal.
π"Halo tuan! Ada apa ya?" tanya Keenan.
π"Halo! Kamu lagi ngapain sih, ha? Kok lama banget angkat telpon dari saya?" geram Albert.
π"Maaf tuan! Ini saya lagi sama adik saya. Emangnya ada apa ya tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?" ujar Keenan penasaran.
π"Tentu saja. Tadi kan kamu kirim foto itu ke saya, sekarang kamu coba kasih tahu dimana lokasi foto itu! Supaya saya dan Rio bisa langsung datangi lokasi itu," pinta Albert.
π"Oh gitu, iya iya tuan saya bakal shareloc ke tuan sebentar lagi." kata Keenan.
π"Oke, saya tunggu!" ucap Albert.
Tuuutttt...
Albert memutus telponnya, Keenan pun mengetik pesan kepada Andri alias anak buahnya itu untuk mengirim lokasi tempatnya berada.
"Nah urusan gue udah selesai, sekarang ayo kita masuk dan makan bareng-bareng!" ujar Keenan.
"Bang, lu lagi ada masalah ya? Kok muka lu kelihatan cemas gitu?" tanya Celine.
Keenan mendekat dan menangkup wajah Celine dengan dua tangannya.
"Gue gak ada masalah apa-apa, tapi tuan Albert yang lagi punya masalah. Jadi, lu gak perlu ikut cemas ya sayang! Kita masuk aja terus makan, katanya udah lapar!" ucap Keenan.
"Iya sih, tapi kalo lu mau pergi buat bantu tuan Albert yaudah sana pergi aja! Gue bisa masak sendiri kok buat makan," ucap Celine.
"Gak ada kayak gitu! Gue bakal temenin lu terus disini sampai keadaan benar-benar aman! Gue gak mau lu kenapa-napa, Celine!" tegas Keenan.
"Tapi bang, kalo lu dipecat gimana?" tanya Celine.
"Gak mungkin lah gue dipecat! Gue kan tetap bantu tuan Albert selesain masalahnya, walau gak secara langsung. Contohnya kayak tadi, gue suruh anak buah gue buat bantu tuan Albert." jawab Keenan.
"Ohh yaudah terserah lu aja deh bang!" ucap Celine tak mau ambil pusing.
Keenan tersenyum, lalu kembali menggandeng tangan Celine dan mereka pun melangkah bersamaan ke dalam rumah itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1