Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Keinginan bayi


__ADS_3

Albert dan Nadira sampai di rumah, mereka turun dari mobil dengan saling bergandengan tangan. Terlihat Albert begitu hati-hati sekali menuntun Nadira keluar dari mobilnya, ya pria itu tak mau jika Nadira sampai kenapa-kenapa dan berakibat juga pada calon anaknya yang ada di dalam kandungan wanita itu saat ini.


Nadira pun dibuat tersenyum bahagia dengan perlakuan manis Albert padanya saat ini, ia sangat berharap Albert dapat terus memperlakukan dirinya seperti ini sepanjang waktu, karena ia juga sudah tak tahan terus-terusan dianggap sebagai wanita pemuas bukan sosok istri oleh Albert.


"Tuan, aku bisa sendiri kok ke dalamnya. Mending tuan langsung ke kantor aja, kan kantor tuan lagi kena masalah besar!" ucap Nadira.


"Enggak! Saya antar kamu sampai ke kamar, pokoknya saya mau pastikan sendiri kamu selamat dan gak kenapa-kenapa! Sekarang ini kamu lagi ngandung anak saya, jadi kamu harus nurut dan patuh sama saya!" tegas Albert.


"Iya tuan, tapi kan ada penjaga juga yang bisa bantu aku ke kamar!" ucap Nadira.


"Penjaga? Hey Nadira, dengar ya saya tidak akan biarkan siapapun selain saya menyentuh tubuh kamu! Walaupun itu penjaga sekalipun, saya gak rela milik saya disentuh orang lain!" ujar Albert.


"Maaf tuan!" ucap Nadira merunduk.


"Sudahlah, kamu mau saya gendong atau masih kuat jalan sendiri? Bilang aja kalau kamu udah gak bisa buat lanjut jalan, jadi biar saya gendong kamu sampai ke kamar! Bukannya apa-apa, saya cuma gak mau kandungan kamu terluka!" ucap Albert.


"Tenang aja tuan! Tuan gak perlu khawatir berlebihan gitu, aku baik-baik aja kok! Lagian jalan segini doang mah kecil buat aku!" ucap Nadira.


"Ya bagus deh! Tapi, kalau udah mulai pusing bilang ya! Soalnya kan kamu tahu sendiri, jarak dari halaman depan rumah saya ke kamar itu cukup jauh, dan sekarang kondisinya kamu lagi mengandung! Jadi, pasti tenaganya bakal berbeda Nadira!" ucap Albert tegas.


"Iya aku tahu, tuan! Aku masih kuat kok, makasih ya atas perhatiannya!" ucap Nadira tersenyum.


"Gak perlu senyum-senyum begitu! Saya perhatian ke kamu karena saya perduli dengan calon anak saya yang lagi kamu kandung, bukan sama kamu!" ucap Albert ketus.


"Gapapa kok tuan, mungkin sekarang tuan cuma khawatir sama calon anak tuan, tapi kan gak ada yang tahu kalau sewaktu-waktu tuan juga mulai khawatir sama aku! Lagian nih ya, belakangan ini sifat tuan ke aku juga udah beda! Tuan yang dulu selalu kasar dan keras ke aku, perlahan mulai berubah jadi lembut dan manis! Malahan tuan udah dua kali panggil saya sayang, itu kan artinya..." ucap Nadira menggantung, matanya melirik ke arah Albert yang sedang salah tingkah itu.


"Artinya apa?" tanya Albert malu-malu.


"Artinya...."


"Udah gausah diterusin! Kita fokus aja jalan ke kamar, jangan sambil ngobrol nanti malah jatuh lagi!" potong Albert dengan cepat.


"Loh kenapa tuan? Tuan gak mau saya terusin kata-kata saya barusan?" tanya Nadira menggoda.


"Enggak! Udah ya Nadira, saya lagi gak pengen diajak bercanda atau apalah itu saat ini! Semua sikap manis yang saya berikan ke kamu, itu semata-mata karena saya tidak tega sama kamu! Tapi, bukan berarti saya mulai ada rasa dengan kamu ya! Jadi, gausah ge'er!" ujar Albert.


"Iya tuan, aku tahu kok tuan gak ada rasa sama aku! Lagian aku juga gak bilang begitu kan? Tuan aja yang kepedean pengen saya bilang kayak gitu, orang saya cuma mau bilang kalau tuan itu artinya mulai perhatian ke saya kok!" ucap Nadira.


"Sudahlah, gausah dibahas lagi! Kamu lapar gak? Mau langsung istirahat, atau makan siang dulu?" ucap Albert mengalihkan pembicaraan.


"Eee aku—"


"Makan aja kali, ya? Ini udah masuk waktu makan siang juga, kamu harus makan yang banyak biar dedek bayi di kandungan kamu juga bisa tumbuh sehat! Gak kayak ibunya, yang kurus kering begini!" ucap Albert memotong ucapan Nadira.


"Iya iya tuan, nyuruh mah nyuruh aja kali! Nadira, kamu makan siang dulu ya! Gitu aja, gausah pake sok nanya mau makan atau istirahat!" ucap Nadira mencibirkan bibirnya.


Deg!


Jantung Nadira seakan berhenti berdetak saat Albert menghentikan langkahnya dan kini menekan pundaknya cukup keras.


"Hey, kamu ledek saya?" tegas Albert.


"Enggak tuan, aku cuma bercanda! Biasalah ibu hamil kan suka begitu, tuan jangan marah-marah dong nanti dedek bayinya takut loh sama tuan!" ucap Nadira dengan nada manja sembari mengusap perut ratanya.


"Iya, maafin saya! Yasudah, ayo kita ke meja makan!" ucap Albert.


Nadira mengangguk dengan senyum manis terpampang di wajahnya, lalu lanjut berjalan bersama Albert yang terus saja mendekapnya cukup erat seakan tak mau melepaskannya.

__ADS_1




Saat di meja makan, bahkan Albert dengan tanpa ragu menyiapkan semua keperluan makan Nadira dari mulai piring hingga gelas minum untuk wanita itu, pria tersebut juga menuangkan nasi serta lauk pauk yang tersedia di meja ke dalam piring, lalu menyerahkannya pada Nadira.


Melihat apa yang dilakukan Albert padanya, membuat Nadira semakin salah tingkah. Bagaimana tidak? Seorang pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu, akhirnya mau bersikap baik kepadanya walau dengan alasan bayi di dalam kandungannya.


"Nah, ini makanan buat kamu! Dimakan ya sampai habis, awas loh kalau ada sisa walau sebiji nasi pun! Saya bakal kasih hukuman buat kamu, paham?!" ucap Albert.


"Hah? Tuan tuh kenapa sih sukanya ngancem terus? Masa urusan sepele aja harus segala ngancam aku kayak gitu? Kalau dedek bayi udah kenyang, aku bisa apa tuan? Kan semuanya tergantung si dedek di perut aku!" ucap Nadira.


"Iya juga ya..." ujar Albert kebingungan.


Pria itu sampai menggaruk keningnya saat mendengar ucapan Nadira, ia sendiri tak tahu mengapa dirinya suka sekali mengancam Nadira.


"Yaudah, kamu makan aja sesuka kamu! Kalau gak habis dan masih sisa, ya gapapa!" ucap Albert.


"Makasih tuan! Tuan itu emang suami yang baik banget deh, aku sayang sama tuan yang kayak gini! Tapi, kalau sama tuan yang tempramen dan kasar itu aku mah gak suka!" ucap Nadira dengan manja sambil mengalungkan tangannya pada sela-sela lengan Albert.


Albert hanya diam menelan saliva, tingkah Nadira saat ini benar-benar berhasil membuat miliknya berdiri dan ingin segera memasuki Nadira, namun ia sadar sekarang bukan waktu yang tepat.


"Udah, jangan kebanyakan ngomong! Cepat dimakan tuh makanannya!" ujar Albert menyingkirkan tangan Nadira dari lengannya, lalu juga memalingkan wajah untuk menetralisir rasa gairah yang tengah menggelora di tubuhnya.


"Tuan kenapa sih? Gak suka ya dekat-dekat sama aku? Padahal ini permintaan dedek bayi tau tuan, dia mau aku pegang tangan tuan!" rengek Nadira.


"Hah? Masa sih? Memangnya di usia kandungan kamu yang sekarang, itu sudah bisa merasakan yang namanya ngidam? Bukannya nanti masih lama?" tanya Albert heran.


"Tuan jangan salah! Ini tandanya anak kita pintar tau, buktinya dia udah bisa minta ini itu ke aku walau masih tiga Minggu!" ucap Nadira tersenyum.


"Hadeh ya terserah kamu ajalah!" ujar Albert pasrah sembari mengusap wajahnya kasar.


Albert pun pasrah membiarkan Nadira menaruh tangannya di sela-sela lengan miliknya, sambil sesekali mengusapnya dan membuat Albert makin bergairah. Nadira juga mulai nakal, dia bersandar di dada bidang Albert dan tanpa sengaja tangannya menyentuh milik Albert yang sedang mengeras.


"Awwhhh sshhh! Hati-hati dong Dira, jangan suka nyentuh sembarangan! Lagian kamu kan lagi makan, kenapa malah manja manja kayak gini sih? Saya gak suka ya!" ujar Albert emosi.


"Ternyata punya tuan baperan banget ya? Pasti sekarang dia udah tegang tuh, padahal cuma disenggol gitu doang!" goda Nadira.


"Nadira!" bentak Albert kesal.


Wanita itu malah cekikikan, namun untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan akhirnya Nadira melepas tangannya dan fokus memakan makanan miliknya. Sedangkan Albert juga merasa lega karena terbebas dari siksaan itu.


"Kamu makan sampai kenyang! Setelah itu, ikut saya ke kamar! Saya akan hukum kamu, karena kamu udah berani goda saya begitu!" ujar Albert.


"Loh kok gitu sih tuan? Itu tadi kan permintaan anak kamu, bukan aku! Lagian nih ya, bukannya tuan harus ke kantor buat cek masalah yang lagi terjadi disana?" ucap Nadira.


"Oh iya ya, kok saya bisa lupa sih ya? Aaarrgghh ini semua gara-gara kamu tahu gak!" ujar Albert.


"Kok jadi aku sih? Kan tuan yang maksa mau anterin aku kesini, aku juga udah nyuruh tuan buat ke kantor tadi! Yaudah gini deh, tuan pergi aja sekarang supaya gak terlambat! Biasanya kalau ada demo begitu, suka terjadi kerusuhan loh tuan! Mending tuan cepat-cepat datang kesana cegah itu, kan gak enak kalo kantor tuan dirusak sama karyawan tuan sendiri!" usul Nadira.


"Iya sih, tapi kamu gimana?" tanya Albert cemas.


"Aku ya gak gimana-gimana, tuan! Aku bakal tetap disini dan baik-baik aja! Lagian disini juga ada mbok Widya dan yang lain, mereka bisa bantu aku kok! Udah, tuan pergi aja sana urus urusan tuan sampai selesai!" jawab Nadira.


"Yaudah deh, kamu hati-hati ya! Jangan sampai terjadi sesuatu dengan kandungan kamu!" ucap Albert mengingatkan Nadira.


"Iya tuan, udah tuan pergi aja! Tuan gak perlu cemasin aku atau anak tuan, kita pasti baik-baik aja kok! Abis makan aku bakal langsung istirahat, supaya tuan gak khawatir!" ucap Nadira.

__ADS_1


"Oke! Saya pergi ya?" ucap Albert pamit pada istrinya itu.


"Iya..."


Cupp!


Tak diduga, pria itu menarik tengkuk Nadira dan mengecup bibirnya singkat, kemudian beralih ke jenjang leher Nadira untuk memberi tanda disana sebelum akhirnya Albert beranjak dari kursi setelah puas memandangi mahakaryanya.


"Eh tuan tunggu!" Nadira menahan Albert yang baru hendak pergi.


"Kenapa?" tanya Albert dingin.


"Aku mau cium tangan tuan dong! Kan aku istri tuan, jadi sebaiknya emang harus begitu kata ibu dulu!" jawab Nadira.


"Oh yaudah..."


Albert menjulurkan tangannya ke arah Nadira, dengan cepat wanita itu menciumnya selayaknya seorang istri pada suami, barulah kini Albert bebas pergi tanpa ada yang mengganggunya lagi.




Disisi lain, Keenan pun tengah bersusah payah menghentikan amarah dari para pendemo yang menuntut bayaran mereka, ia bersama Chelsea dan beberapa karyawan lainnya termasuk Vanesa masih mencoba memadamkan api yang berkobar di dalam jiwa orang-orang itu.


Keenan sangat tahu bagaimana perasaan para karyawan itu, mereka butuh uang dan tak seharusnya memang perusahaan juga tidak mengeluarkan gaji untuk mereka, walau Keenan belum tahu apa alasan perusahaan menahan gaji karyawan-karyawan itu, setahunya itu adalah perbuatan yang salah dan memang tidak dibenarkan.


"Kalian semua tenang dulu! Kita tunggu sampai tuan Albert datang, dan dia dapat menjelaskan semuanya ke kalian! Saya yakin, gaji kalian yang ditunggak itu pasti akan dibayar!" teriak Keenan.


"Ah omong kosong! Kami tidak perlu kata-kata, kami hanya ingin gaji kami! Iya gak?" teriak salah seorang demonstran itu.


"Betul!" sahut yang lain.


Keenan pun semakin ditambah kebingungan, ia mengusap wajahnya kasar dan sesekali menggaruk dagunya mencari cara untuk bisa menenangkan mereka, nampaknya memang sulit karena karyawan-karyawan itu dipenuhi oleh amarah yang luar biasa.


"Pak, maaf nih sebelumnya! Tapi, apa pak Albert sudah dalam perjalanan menuju kesini? Kalau terus begini, bisa-bisa mereka semakin emosi dan ngamuk disini pak!" bisik Vanesa panik.


"Biar coba saya telpon tuan Albert dulu, kamu cari cara apa kek gitu supaya bisa tenangin mereka yang lagi emosi itu! Daritadi saya lihat kamu ini kebanyakan diam, bukannya cari solusi!" ucap Keenan.


Vanesa mendengus kesal, ia merasa Keenan sepertinya sudah semakin curiga padanya.


"Sayang, kamu sabar jangan emosi gitu sama mbak Vanesa! Kita semua disini kan lagi berusaha cari cara buat meredam amarah mereka, tapi ya emang mereka nya aja yang susah buat ditenangin! Kayaknya mereka cuma bisa tenang kalau kak Albert udah datang kesini deh, sekarang cepat kamu telpon gih kak Albert!" ucap Chelsea.


"Iya, sebentar ya!" ucap Keenan.


Keenan pun pergi menjauh dari keramaian untuk coba menghubungi Albert, sedangkan Chelsea tetap disana bersama Vanesa dan juga pengamanan yang ada di kantor.


Chelsea yang merupakan adik dari Albert selaku pemimpin perusahaan itu, memilih untuk coba berbicara pada seluruh karyawan yang sedang melakukan demo disana.


"Maaf semuanya! Mohon bersabar jika kalian ingin bertemu dan berbicara langsung dengan kakak saya, alias bos kalian itu! Sebentar lagi dia bakal datang kok kesini, sekarang kalian tenang dan jangan melakukan tindakan yang anarkis! Saya yakin kok, pasti kak Albert mau dengarkan semua permintaan kalian!" ucap Chelsea menenangkan.


"Kami semua tidak akan anarkis, asal perusahaan mau memenuhi tuntutan kami! Sudah tiga bulan gaji kami tidak turun, apa kami harus diam saja? Jangan mentang-mentang kalian orang kaya, terus seenaknya aja menindas kami yang miskin!" teriak salah satu pendemo.


"Gak ada yang tindas kalian! Saya pastikan seluruh gaji kalian akan dibayar oleh perusahaan, kita tunggu saja sampai kak Albert datang!" ujar Chelsea.


Para pendemo itu terdiam saling melirik, mereka menghentikan sejenak teriakan-teriakan tuntutan yang sebelumnya terus menggelora dan memilih beristirahat disana, sehingga Chelsea serta yang lain pun merasa lega.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2