Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Mimpi atau bukan?


__ADS_3

Albert keluar dari kamar mandi, melihat Nadira yang masih merengut di atas ranjang dengan mengenakan baju tidurnya.


Albert pun langsung bergerak menghampiri istrinya itu, ia sudah mendengar semua cerita dari mamanya mengenai alasan mengapa Nadira ngambek seperti ini.


"Sayang.." ucap Albert lirih seraya duduk di pinggir ranjang mendekati Nadira.


"Kamu jangan ngambek terus dong! Saya bisa jelasin semuanya ke kamu, apa yang dibilang sama mama tadi siang itu gak bener kok. Galen bukan anak pelakor, dia itu anak kandung kamu. Galen darah daging kita, sayang!" ucap Albert.


"Bohong! Kamu bohong mas! Kenapa sih kamu selalu bohongin aku? Apa aku ini emang gak ada artinya ya di mata kamu? Asalkan kamu tahu mas, aku udah capek terus-terusan dibohongin sama kamu kayak gini!" bentak Nadira.


"Enggak sayang, saya gak bohong. Semua yang saya katakan itu benar adanya, tolong kamu percaya dong sama saya!" ucap Albert.


"Percaya? Gimana bisa aku percaya sama pembohong besar seperti kamu?" ujar Nadira.


Albert terdiam bingung, ia tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap Nadira yang sedang emosi itu.


Sementara Nadira kini bangkit dari tidurnya, beranjak turun ke lantai dan membuat Albert kebingungan.


"Kamu mau kemana?" tanya Albert pada istrinya.


"Kamu gak perlu tau! Buat apa kamu tau? Toh kamu juga selalu bohongin aku!" ucap Nadira.


"Ta-tapi sayang..."


Nadira tak menghiraukan perkataan suaminya itu, ia pergi begitu saja keluar kamar meninggalkan Albert yang masih terdiam membisu disana.


Ceklek..


"Galen?" Nadira terkejut saat melihat Galen tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mah, mama sama papa lagi berantem ya gara-gara aku? Aku minta maaf ya mah, aku udah bikin salah karena aku mecahin guci kesayangan nenek!" ucap Galen.


"Enggak sayang, ini bukan salah kamu. Sekarang kamu masuk ke kamar ya! Ini sudah malam, kamu harus istirahat biar besok gak telat bangunnya!" ucap Nadira sambil tersenyum.


"Tapi mah, aku mau tanya deh. Aku ini anak mama sama papa apa bukan sih?" tanya Galen penasaran.


"Eee..." Nadira terlihat bingung menjawabnya.


"Sayang!" Albert muncul keluar dari kamarnya menghampiri Nadira, ia juga terkejut melihat Galen berada disana.


"Loh Galen, kamu kok disini?" tanya Albert pada Galen dengan wajah bingungnya.


"Iya pah, aku pengen minta maaf sama papa dan mama. Soalnya aku udah bikin papa mama berantem gara-gara aku pecahin guci kesayangan nenek, maafin aku ya pah!" ucap Galen pelan.


"Kamu kenapa bicara begitu? Ini bukan salah kamu kok sayang, kamu jangan mikir kayak gitu ya!" ucap Albert mengusap kepala putranya.


"Terus, aku ini anak papa sama mama atau bukan? Aku penasaran banget, karena tadi nenek bilang kalau aku tuh anak pelakor. Sebenarnya pelakor itu apa sih, pah?" tanya Galen penasaran.


"Eee nanti papa jelasin ke kamu ya, tapi sekarang kamu ke kamar dulu!" ucap Albert.


"Tapi pah—"


"Galen, kamu mau jadi anak yang penurut kan? Masuk ke kamar ya!" potong Albert.


"Iya pah," ucap Galen menurut.


"Anak pintar! Yaudah, kamu masuk kamar gih sana! Istirahat yang cukup dan jangan mikirin soal ini dulu ya!" ucap Albert.


"Iya pah," ucap Galen singkat.


Galen pun berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya dengan cepat.


Sementara Albert kini menatap Nadira, meraih satu tangan wanita itu dan menggenggamnya.


"Sayang, kita bicara di dalam ya!" pinta Albert.


"Lepasin!" bentak Nadira.


Nadira pun masuk kembali ke dalam kamarnya meninggalkan Albert.


Sontak Albert langsung menyusul Nadira dan mengunci pintu rapat-rapat.




Albert mendekati Nadira yang sedang berdiri melipat kedua tangannya di depan.


"Cantik.." ucap Albert lirih seraya melingkarkan tangannya di pinggang Nadira dan mengendus leher wanita itu.


"Kamu wangi banget sih!" ucap Albert.


"Gausah sok romantis deh mas! Aku tuh masih kesel sama kamu!" ucap Nadira.


"Kesal kenapa sih? Gara-gara ucapan mama ke Galen tadi siang?" tanya Albert.

__ADS_1


"Ya iya, makanya kamu jelasin dong sama aku sekarang! Apa maksud mama bilang begitu sama Galen? Emangnya Galen itu anak Vanesa? Dia bukan anak aku, mas?" ujar Nadira.


"Kamu bicara apa sih? Galen itu anak kamu, yakali dia anak Vanesa. Kamu kan lihat sendiri kuburan anaknya Vanesa waktu itu, jadi mana mungkin kalau Galen anaknya Vanesa?" ucap Albert.


"Cukup mas! Kamu kenapa selalu bohong sama aku sih? Tolong dong, sekali aja gitu kamu jujur sama aku!" ucap Nadira kesal.


"Ini saya udah jujur sayang, kamu maunya jujur kayak gimana lagi? Apa kamu mau saya bilang kalau Galen itu anaknya Vanesa? Oke kalau emang itu yang kamu mau, tapi itu sama aja kamu suruh saya bohong dong." ujar Albert.


Nadira terdiam seraya memalingkan wajahnya.


"Ayolah sayang, kamu percaya dong sama saya! Galen itu anak kamu, dia darah daging kamu. Masa kamu gak percaya kalau Galen anak kamu?" ucap Albert sembari merapatkan tubuh Nadira padanya.


"Bukannya gitu mas, tapi ucapan mama kamu tadi tuh bikin aku bingung tau." ucap Nadira.


"Iya, saya ngerti. Udah lah kamu gausah mikirin ucapan mama! Mama mungkin cuma kebawa emosi, jadi kamu jangan anggap serius dong!" ucap Albert.


"Walaupun mama cuma kebawa emosi, gak seharusnya dong dia bilang kalau Galen itu anak pelakor. Aku yakin pasti ada maksudnya kenapa mama bilang begitu!" ucap Nadira.


"Yaudah deh mas, kalau kamu emang gak mau kasih tahu ke aku, aku bisa kok cari tau sendiri." sambungnya.


Nadira pun menyingkirkan tangan Albert dari pinggangnya, lalu pergi ke ranjangnya dan berbaring disana.


"Sayang, kamu kok gitu sih? Kamu masih belum percaya sama saya?" tanya Albert.


Tak ada jawaban dari Nadira, membuat Albert sedikit kesal dan mengepalkan tangannya.


"Saya makin bingung kalo gini jadinya, susah banget sih bujuk Nadira! Aaarrgghh lagian mama kenapa pake bilang begitu sih sama Galen?!" gumam Albert dalam hati.


Albert bergerak mendekati istrinya, naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di sebelah Nadira.


Perlahan Albert menggerakkan tangannya untuk mendekap tubuh Nadira.


Namun, Nadira lebih dulu menepisnya dan menaruh guling di tengah-tengah mereka.


"Jangan sentuh-sentuh aku, mas! Malam ini kamu gak boleh lewatin pembatas ini, kalau sampai lewat, pokoknya aku bakal marah besar sama kamu!" ucap Nadira.


"Lah kok gitu sih? Mama yang bilang Galen anak pelakor, kenapa jadi saya yang kena omel? Saya kan gak tahu menahu sayang," ujar Albert.


"Halah bohong! Gak mungkin kamu gak tahu, aku yakin kamu pasti tahu! Tapi, kamu emang sengaja buat enggak kasih tahu aku!" ucap Nadira.


"Astaga! Kamu kok—"


"Udah ah mas, aku males debat sama kamu! Aku pengen tidur sekarang, udah kamu gausah ngomong lagi!" potong Nadira.


"I-i-iya iya.." ucap Albert pelan.


Sementara Albert masih tetap membuka matanya, menatap punggung Nadira sambil melamun.




Esok harinya, sekumpulan orang-orang berbaju hitam dengan topi berwarna sama tengah berkumpul di sebuah tempat yang cukup besar.


Salah seorang dari mereka berdiri di paling depan, bersiap menyambut kedatangan seseorang yang sudah mereka tunggu.


Tak lama kemudian, seorang pria tua berkacamata muncul disana. Dialah Harrison, sang ayah dari Vanesa yang merupakan pemimpin mereka.


"Bos sudah datang, bersiaplah!"


"Siap!"


Harrison mendekat ke arah mereka, berdiri tepat di hadapan si pria berpakaian hitam itu.


Harrison melepas kacamatanya, menatap pria tersebut dengan senyum seringainya.


"Bagaimana?" tanya Harrison singkat.


"Kita sudah berhasil mengamankan semua senjata yang bos pesan, sekarang semuanya juga sudah kami simpan di gudang. Jadi, kita siap untuk melakukan penyerangan!" jelas orang itu.


"Bagus Javier! Saya suka kerja kamu, gak salah saya andalkan kamu dalam misi balas dendam saya ini. Tapi, Albert gak tahu kan tentang ini semua?" ucap Harrison.


"Tenang bos! Albert sampai sekarang masih mengira kalau saya ini orangnya, dan dia percaya sama saya." jawab orang yang tak lain ialah Javier.


"Bagus!" ucap Harrison tersenyum lebar.


"Sekarang kamu jaga terus tempat ini! Saya akan kabari kamu, bila sudah tiba waktunya bagi kita untuk melakukan penyerangan." ucap Harrison.


"Baik bos! Saya sudah minta cukup banyak orang untuk membantu kita nantinya, mereka ini orang-orang terlatih yang saya bawa dari divisi tempat saya bekerja dulu." ucap Javier.


"Ya, saya percaya dengan kamu. Kalau begitu saya permisi dulu, saya hanya ingin memastikan bahwa semuanya sudah siap." ucap Harrison.


"Baik bos! Mari saya antar sampai depan!" ucap Javier.


Harrison mengangguk setuju, kemudian memakai kembali kacamata dan maskernya lalu berjalan keluar dari tempat itu ditemani oleh Javier.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Harrison sudah ditunggu oleh Darius serta James disana yang menatap ke arahnya dengan raut tajam.


"Terimakasih pak!" ucap Harrison setelah memberikan uang pada supir taksinya.


"Wah wah wah, bagus banget ya anda Harrison! Anda ini mau cari mati apa gimana sih? Bukannya saya sudah peringati anda untuk tetap disini ya? Kenapa anda masih saja ngeyel dan pergi sesuka hati anda, ha?" ucap Darius.


"Kamu gak perlu urusi kehidupan saya! Terserah saya dong saya mau pergi kemana, itu bukan urusan kamu! Lagipun, kamu jangan sok jadi orang paling setia untuk Albert! Ingat Darius, dulu itu kamu juga pengkhianat dan kamu bekerjasama dengan saya!" ucap Harrison.


"Ya memang, tapi itu dulu. Sekarang ini saya bukan orang seperti itu lagi, saya sudah berubah. Tapi, kamu justru masih saja ingin mengulangi kesalahan kamu yang dulu itu!" ucap Darius.


"Sudahlah, saya mau masuk!" ucap Harrison.


Darius menahan Harrison yang hendak masuk ke dalam dengan tubuhnya.


"Kamu gak bisa masuk gitu aja! Jawab dulu pertanyaan saya, darimana kamu dan apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan di luar sana?!" ujar Darius.


"Apapun yang saya rencanakan, itu bukan urusan kamu! Sekarang kamu minggir dan jangan ganggu saya!" ucap Harrison.


"Baiklah, tapi anda jangan menyesal nantinya kalau Albert tahu dan dia akan menghukum anda lebih buruk daripada sebelumnya!" ucap Darius.


"Saya tidak takut!" tantang Harrison.


Harrison melangkah maju, mendorong bahu Darius dengan sengaja dan masuk ke dalam tempat itu meninggalkan keduanya.




"Nadira!"


Suara teriakan seorang wanita membuat Nadira terkejut dan spontan menoleh mencari asal suara yang memanggilnya.


Nadira langsung menyipitkan matanya, menatap secara intens ke arah wanita di hadapannya dengan wajah bingung.


"Hai Nadira! Kamu apa kabar? Kamu pasti masih ingat kan sama aku?" ucap wanita itu.


"Ka-kamu..." ucap Nadira merasa syok dan membuka mulutnya lebar-lebar.


"Iya Nadira, ini aku Vanesa. Aku masih hidup, selama ini Albert udah bohongin kamu. Dia itu bukan laki-laki yang baik Nadira, kamu jangan percaya sama dia!" ucap wanita itu.


"Maksud kamu apa? Gak mungkin kamu masih hidup, ini pasti cuma mimpi kan!" ujar Nadira.


"Bukan Nadira, ini bukan mimpi. Coba kamu buka hp kamu dan lihat jam disana! Kalau memang ini mimpi, kamu tidak mungkin bisa menemukan itu." ucap Vanesa.


Nadira pun langsung melakukan apa yang dikatakan Vanesa, ia mengambil ponselnya dan mengecek jam di layar ponsel itu.


"Benar! Berarti ini bukan mimpi! Tapi, gimana bisa aku bertemu dengan Vanesa disini? Bukankah dia sudah meninggal? Aku lihat sendiri makamnya, apa yang terjadi sebenarnya?" batin Nadira.


Vanesa tersenyum dan mengitari tubuh Nadira sambil sesekali membelai rambutnya.


"Kamu gak perlu bingung Nadira! Aku ini memang masih hidup, aku belum meninggal. Semua itu hanyalah rekayasa Albert, makanya aku peringati kamu untuk tidak terlalu percaya dengan suami kamu yang sok manis itu!" ucap Vanesa.


"Maksudnya apa? Gimana bisa mas Albert merekayasa kematian kamu? Dia gak mungkin sejahat itu Vanesa, aku kenal dia!" ujar Nadira.


"Gak Nadira, kamu belum kenal Albert dengan baik! Albert itu pria yang selalu memaksakan kehendaknya, dia tidak pernah mau ditolak atau dibantah!" ucap Vanesa.


"Aku gak percaya sama kamu! Aku yakin ini semua rencana kamu kan?! Kamu sengaja memalsukan kematian kamu, supaya kamu bisa leluasa mendekati suami aku!" ujar Nadira.


"Kamu salah Nadira! Bukan aku yang merencanakan semua ini, tapi suami kamu. Dia itu benar-benar licik Nadira, dia bikin aku gak berdaya dan setuju dengan rencananya ini." ucap Vanesa.


"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Nadira.


"Albert sengaja menukar bayi kita, dia gak mau kamu sedih kalau tau ternyata anak yang kamu lahirkan itu sudah meninggal." jawab Vanesa.


Deg!


Nadira tersentak kaget mendengar ucapan Vanesa, dadanya terasa sesak dan air mata lolos begitu saja membasahi pipinya serta tubuhnya langsung terasa lemas saat itu juga.


"Kamu bohong Vanesa! Jangan coba-coba pengaruhi aku! Galen itu anakku, bukan kamu!" bentak Nadira.


"Ya ya ya, itu dia Nadira. Albert sudah berhasil mencuci otak kamu, dia itu benar-benar jahat dan licik!" ucap Vanesa.


"Cukup Vanesa! Kamu pergi sekarang juga dan jangan ganggu aku!" pinta Nadira.


"Okay! Kali ini aku akan pergi, tapi kamu pikirkan kata-kata aku tadi ya Nadira! Yang kamu kira baik, gak selamanya baik, begitupun sebaliknya." ucap Vanesa sambil tersenyum.


Nadira hanya diam memalingkan wajahnya, Vanesa pun melangkah pergi menjauh dari Nadira.


"Maksudnya apa sih?" batin Nadira.


Pukkk...


"Nadira!"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2