
"Baik pak! Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Carolina sambil tersenyum.
"Silahkan!" ucap Albert singkat.
Carolina pun berbalik dan pergi dari sana, Keenan menatap bingung ke arah Albert karena bosnya itu meminta Carolina untuk menemaninya.
"Tuan, kenapa harus Carol yang ikut bersama tuan? Saya kan bisa temani tuan seperti biasa," tanya Keenan heran.
"Saya ingin sesuatu yang beda, bosan kalau harus sama kamu terus." jawab Albert santai.
Keenan hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar jawaban bosnya, sedangkan Albert langsung mengalihkan pandangan ke berkas laporan itu.
Tiba-tiba Albert menutup berkas tersebut dan kembali menatap Keenan dengan wajah serius hingga membuat Keenan keheranan.
"Oh ya, saya sampai lupa kalau saya juga ingin tanya hal lain sama kamu Keenan." kata Albert.
"Loh, tanya soal apa lagi ya tuan?" ucap Keenan tampak penasaran.
"Saya mau tahu, perasaan kamu ke adik saya Chelsea itu gimana? Kamu masih sayang atau enggak sama dia? Soalnya belakangan ini saya dengar-dengar hubungan kalian lagi renggang ya," tanya Albert.
Keenan langsung menundukkan kepala begitu mendengar pertanyaan Albert, ia sendiri bingung dengan perasaannya terhadap Chelsea saat ini.
"Kenapa kamu diam? Kamu jawab saja yang jujur sama saya, kamu masih suka atau udah enggak sama Chelsea?! Saya hanya butuh kejujuran dari kamu, Keenan!" ujar Albert tegas.
"I-i-iya tuan, saya..."
"Kamu apa? Jangan bertele-tele dong kalo ngomong! Tinggal bilang aja masih sayang atau udah enggak gitu!" potong Albert.
"Maaf tuan! Saya sendiri juga bingung apa saya masih cinta sama Chelsea atau enggak," jawab Keenan tampak gugup.
"Loh, kenapa gitu? Apa ada perempuan lain yang bikin kamu tertarik?" tanya Albert.
"Enggak ada tuan, saya cuma belum yakin kalau saya ini mencintai Chelsea. Tolong jangan hukum saya karena itu tuan!" jawab Keenan gemetar.
"Hahaha, tidak mungkin saya pecat kamu hanya karena kamu putus dengan Chelsea. Ya walaupun saya sedikit kecewa sama kamu, tapi saya tidak akan menyangkut pautkan masalah pribadi ke dalam urusan kerjaan." kata Albert.
"Huh syukurlah! Tadinya saya kira tuan akan marah dan memecat saya," ucap Keenan merasa lega.
"Memangnya kamu benar-benar akan putus dengan Chelsea?" tanya Albert.
"Eee saya belum tahu, tuan." jawab Keenan.
"Kenapa? Sebaiknya kamu segera beri keputusan, supaya Chelsea tidak terus-terusan berharap dan merasa dipermainkan! Biar gimanapun dia adik saya, dan saya tidak terima jika dia disakiti oleh lelaki termasuk kamu!" tegas Albert.
"Tenang tuan, saya tidak akan menyakiti hati Chelsea! Saya cuma butuh waktu untuk mencari tahu apakah saya masih mencintai Chelsea atau tidak," ucap Keenan agak ketakutan.
"Kalau saya minta kamu untuk menikahi Chelsea, apa kamu bersedia?" tanya Albert.
Deg!
Keenan dibuat terkejut saat tiba-tiba Albert bertanya seperti itu padanya, tentu saja ia bingung harus menjawab apa saat ini.
"Kenapa Keenan? Kamu dan Chelsea itu sudah pacaran cukup lama, masa iya kamu belum tahu kamu cinta sama dia apa enggak?" ujar Albert.
"Bukan begitu tuan, perasaan saya ke Chelsea ini sudah berubah. Saya gak sepenuhnya merasa bahagia saat berada di samping Chelsea, tidak seperti dulu tuan." jawab Keenan.
"Bilang saja kamu sudah tidak cinta sama adik saya, karena kamu memiliki wanita lain yang kamu cintai. Bukan begitu Keenan?" ujar Albert.
"Eee ti-tidak tuan.." jawab Keenan berbohong.
"Kamu gausah bohong! Katakan saja yang sejujurnya pada saya, siapa wanita itu!" ucap Albert.
"Bukan siapa-siapa tuan, saya tidak sedang jatuh cinta dengan siapapun." jawab Keenan gugup.
"Baiklah, kalau begitu kamu perbaiki saja hubungan kamu dengan Chelsea. Jangan sampai kamu bikin dia menangis atau terluka! Saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi kamu, kalau kamu berani meninggalkan dia!" ancam Albert.
Keenan melongok lebar, jantungnya berdebar kencang dengan perasaan takut yang amat sangat setelah mendengar ucapan Albert barusan.
•
•
Celine bersama Lilis dan Rania tengah duduk di halte depan sekolah mereka menunggu jemputan, ya seperti biasa dua gadis itu hanya menemani Celine menunggu disana.
Tampak Celine sedang menceritakan mengenai sikap dan perlakuan abangnya itu kepada dua sahabatnya, ia hanya ingin berbagi beban kehidupan pada mereka berdua.
"Hah? Lu serius Cel? Abang lu yang tampan dan macho itu ngomong begitu?" ujar Rania kaget.
"Iya guys, emang benar begitu. Bang Ken bilang dengan tegas di depan gue, kalau gue ini milik dia. Terus, belakangan ini juga sikap dia ke gue berubah banget. Dia jadi lebih perhatian dan posesif sama gue, malahan gue gak dibolehin pergi keluar rumah." ucap Celine.
"Waduh, jangan-jangan abang lu itu punya rasa sama lu! Dia jatuh cinta sama lu dan gak pengen lu direbut cowok lain," tebak Rania.
"Iya tuh, gue setuju sama Rania! Bisa jadi abang lu emang jatuh cinta sama lu," sahut Lilis.
"Ish, masa iya sih? Gue sama bang Ken itu kan saudara kandung, yakali dia cinta sama gue?" ucap Celine terheran-heran.
"Ya itu cuma dugaan kita sih, yang tahu kebenarannya itu cuma abang lu sama Tuhan." kata Rania.
__ADS_1
"Tapi, gue juga curiga begitu sih. Soalnya dia pernah bilang mau nikahin gue setelah gue lulus sekolah, kan gila banget tau!" ujar Celine.
"What? Nikah?" Lilis sampai terkejut luar biasa.
Celine mengangguk pelan, sedangkan dua sahabatnya itu sama-sama menggeleng pelan tak habis pikir dengan kelakuan abang Celine.
"Yaudah Cel, nanti lu coba tanya aja sama abang lu itu! Kira-kira bener apa enggak dia cinta sama lu dan pengen nikahin lu, siapa tau dia cuma bercanda." kata Lilis.
"Umm, kalau ternyata beneran gimana? Gue belum siap dengernya guys," ucap Celine.
"Berdoa aja supaya gak bener!" usul Rania.
"Nah iya tuh, kalaupun bener juga gapapa dong Cel kan abang lu ganteng. Gue aja mau kok nikah sama dia," ujar Lilis.
"Haish, ngomong apaan sih lu? Seganteng apapun dia, tetap aja dia itu abang gue. Masa dari sekian banyak pria, gue malah nikah sama abang kandung gue sendiri? Apa kata nyokap bokap gue coba di alam sana?" ucap Celine.
Lilis dan Rania hanya menggaruk kening mereka sambil cengengesan kecil.
Tak lama kemudian, Frendi muncul disana mendekati Celine seraya memberikan segelas es kopi di tangannya kepada gadis itu.
"Hai Celine!" ucap Frendi sambil tersenyum.
Sontak Celine mendongak menatap wajah Frendi dengan bingung.
"Ngapain lu kesini?" tanya Celine ketus.
"Gue mau kasih minuman buat lu," jawab Frendi.
"Oh, thanks!" ucap Celine singkat.
"Sama-sama," ucap Frendi tersenyum renyah.
Celine mengambil saja gelas itu dari tangan Frendi, kemudian meminumnya karena kebetulan ia juga sedang haus.
"Eee gue boleh kan ikut nimbrung disini?" tanya Frendi.
"Oh boleh boleh, lu duduk aja disini nih bareng kita!" ucap Rania penuh semangat.
"Iya, ayo ayo duduk sini!" sahut Lilis.
"Hus! Kalian apa-apaan sih? Ngapain kalian ngomong gitu coba?" tegur Celine.
"Ya gapapa dong Cel, kasihan juga Frendi berdiri terus begitu!" ujar Rania nyengir.
"Boleh kan Cel?" tanya Frendi sekali lagi.
•
•
Keenan masih dalam perjalanan menuju sekolah Celine untuk menjemput adiknya itu, tapi entah kenapa ia belum dapat melupakan perkataan Albert di kantor pagi tadi.
Keenan merasa menyesal karena telah berbohong pada Albert, sehingga kini ia harus bingung berbuat apa karena Albert memaksanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Chelsea.
"Aaarrgghh!! Kamu bodoh banget sih Keenan! Buat apa tadi kamu pake bohong coba?" ujar Keenan.
Keenan sampai memukul-mukul setir mobilnya untuk melampiaskan amarah di dalam tubuhnya.
"Sekarang saya harus gimana? Saya udah gak cinta sama Chelsea, tapi saya gak mungkin tinggalin dia karena tuan Albert sudah mengancam akan membunuh saya jika itu terjadi. Di lain hal, saya juga cinta sama Celine dan saya tidak mau kehilangan dia." gumam Keenan.
"Ah ini semua benar-benar memusingkan! Saya bingung harus melakukan apa saat ini, semuanya karena kebohongan saya tadi!" sambungnya.
Akhirnya Keenan tiba di depan sekolah Celine, ia menghentikan mobilnya dan masih terdiam duduk di dalam sana sembari mengacak-acak rambutnya penuh emosi.
Disaat Keenan menoleh, ia semakin dibuat emosi karena terlihat kalau adiknya tengah duduk berdekatan dengan seorang pria di halte tersebut dan tampak mesra.
"Hah? Si Celine ngapain sih pake dekat-dekat sama tuh cowok disana?" ujar Keenan.
"Wah gak bisa dibiarin nih, saya harus segera turun dan samperin Celine?" geramnya.
Keenan pun bergegas keluar dari mobilnya, dan langsung menghampiri Celine yang berada disana dengan perasaan jengkel.
"Celine!" teriak Keenan cukup keras.
"Abang?" Celine langsung beranjak dari duduknya, ia tampak panik saat melihat abangnya sudah tiba disana dengan wajah marah.
"Celine, gue bilang apa sama lu soal dekat sama cowok lain?!" tegas Keenan yang langsung menarik tangan Celine ke dekatnya.
"Awhh sshh sakit bang!" rintih Celine.
"Gausah lebay lu! Sekarang jelasin ke gue, ngapain lu pake dekat-dekat sama dia?!" bentak Keenan.
"Apa sih bang? Gue kan gak cuma berdua sama Frendi, tapi ada Lilis sama Rania juga." elak Celine.
"I-i-iya bang, ada kita kok." sahut Lilis.
Keenan menatap tajam ke arah Frendi penuh emosi, ia melepas tangan Celine lalu mendekati Frendi.
__ADS_1
"Bang, jangan bang!" ucap Celine berusaha menahan Keenan, namun tak digubris olehnya.
"Hey! Saya peringati kamu ya, mulai sekarang kamu gak boleh dekati adik saya lagi! Kalau saya masih lihat itu terjadi, jangan salahkan saya jika kamu kenapa-napa nantinya!" ucap Keenan.
"Bang, lu apa-apaan sih? Ngapain pake kayak gini coba?" ujar Celine.
"Diam kamu!" bentak Keenan.
"Maaf nih sebelumnya bang, tapi apa salahnya ya kalau saya dekati Celine? Toh Celine juga masih single belum punya pacar," tanya Frendi.
"Kata siapa? Celine udah punya pasangan dan lebih tepatnya calon suami, jadi kamu gak berhak dekat-dekat dengan adik saya ini!" jawab Keenan.
"Oh ya? Celine gak pernah bilang sebelumnya kalau dia udah punya calon suami, jadi saya kira dia ini masih single." kata Frendi.
"Sekarang kamu kan udah tahu kalau Celine punya pasangan, jadi kamu jangan pernah lagi dekati dia!" ujar Keenan.
"I-i-iya bang.." ucap Frendi menurut dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Ayo kita pergi!" ucap Keenan kembali menggandeng tangan Celine dan mengajaknya pergi.
"Bang, gausah pake digenggam segala dong tangan gue sakit tau!" ujar Celine.
"Lu nurut aja sama gue, ayo cabut!" tegas Keenan.
Tanpa basa-basi lagi, Keenan langsung menarik tangan Celine dan membawa gadis itu ke dalam mobilnya dengan paksa.
•
•
Singkat cerita, mereka telah tiba di rumah dan Keenan langsung saja menyeret paksa Celine masuk ke rumahnya.
Pria itu mengunci pintu dan menghempaskan tubuh Celine begitu saja hingga gadis itu memegangi bahunya.
"Awhh sakit bang!" rintih Celine.
"Heh! Lu itu maunya apa sih? Susah banget disuruh nurut sama gue!" bentak Keenan.
"Ampun bang! Gue juga gak sengaja tadi, si Frendi duluan yang deketin gue pas gue lagi nunggu lu di halte. Lagian lu juga datangnya lama sih, jadinya keburu dia duluan deh yang datang." kata Celine.
Keenan mendekat ke arah Celine, lalu meraih dua tangan Celine dan mencengkramnya erat seraya menekan tubuh gadis itu di dinding.
Keenan pun menaruh dua tangan Celine di atas kepala gadis itu, lalu tak lupa turut mencengkram rahang Celine dengan kuat penuh emosi.
"Hey! Asal lu ingat ya, lu itu milik gue dan lu gak boleh dekat-dekat sama cowok selain gue! Udah berapa kali sih gue bilang kayak gitu sama lu? Kenapa lu masih belum bisa ngerti juga?" ucap Keenan emosi.
"Akh iya bang ma-maaf! Udah dong bang, sakit tau tangan sama rahang gue!" rintih Celine.
"Sakit? Ya itu dia yang gue rasain waktu gue lihat lu dekat sama cowok lain tadi, lu paham gak sih?!" ucap Keenan.
"I-i-iya bang, gue paham kok. Gue janji gak akan dekat-dekat sama cowok lain lagi! Cuma sama lu deh gue maunya," ucap Celine.
"Okay, gue pegang kata-kata lu! Awas aja kalo lu masih gak mau nurut dan tetap dekat sama cowok lain!" ujar Keenan.
"Iya bang iya..." ucap Celine memelas.
Akhirnya Keenan melepas cengkeramannya, Celine langsung merasa lega dan mengusap-usap rahangnya yang terasa perih itu.
"Jangan pernah lu kecewain gue!" tegas Keenan.
"Iya bang, gue kan udah janji." kata Celine.
"Yaudah, sekarang lu jangan ngomong pake lu-gue lagi kalo bicara sama gue! Paham?" pinta Keenan.
"Paham."
Keenan tersenyum lebar, menarik dagu Celine agar menghadap ke arahnya.
Cupp!
Ia langsung mencuri satu kecupan di bibir ranum gadis itu, membuat Celine melongok lebar.
"Kamu ganti baju ya, terus kita makan siang bareng!" perintah Keenan.
"Emangnya ada makanan bang?" tanya Celine.
"Ada kok, udah aku pesan tadi lewat online." jawab Keenan.
"Oh oke, kalo gitu gue— eh maksudnya aku, mau ke kamar dulu ya bang?" ucap Celine.
"Iya, cepetan ya!" ucap Keenan.
Celine mengangguk pelan, lalu melangkah menuju kamarnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1