Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Keenan dan para preman


__ADS_3

"WOI GOBL*K!!" teriak Keenan sembari melangkah ke arah preman-preman yang masih tergelatak di atas tanah dalam hutan itu.


Sontak ketiga preman tersebut terkejut dengan kehadiran Keenan disana bersama Celine dan juga kedua temannya, ya mereka tak menyangka bisa bertemu Celine kembali setelah dihajar oleh gadis yang jago beladiri tersebut.


Begitu Keenan dan yang lainnya sampai di dekat mereka, ketiga preman itu langsung tersenyum dan perlahan bangkit berdiri tegak dengan sorot mata tajam mengarah ke Celine.


"Heh! Lu siapa?" tanya si preman sebut saja namanya gembul.


"Harusnya gue yang tanya sama kalian, siapa kalian dan kenapa kalian mau culik adik gue! Apa dia punya salah sama kalian, atau emang kalian ini aja yang beg*? Bisa-bisanya kalian pengen culik adik dari seorang Keenan Pattinson, itu sama aja kalian bertiga cari mati!" ujar Keenan.


"Cih! Jadi lu yang namanya Keenan? Hahaha, bagus deh biar sekalian aja gue bantai lu dan juga adek lu itu!" ujar si gembul.


"Apa? Bantai? Heh peak, lu aja ngelawan adek gue gak mampu, gimana mau ngelawan gue? Yang ada lu semua bakalan ketemu malaikat maut lebih cepat!" ucap Keenan sombong.


"Kita buktiin aja sekarang!" ujar si gembul.


Si gembul yang tidak tahu malu itu, malah menantang Keenan dan ingin bertanding dengan pria tersebut. Tentu saja Keenan menerimanya karena ia datang kesana untuk memberi mereka semua pelajaran karena sudah berusaha menculik adiknya, sekaligus mencari tahu siapa yang sudah menyuruh mereka melakukan itu.


"Dek, lu tunggu disini aja! Biar gue sendiri yang hadapin mereka!" ucap Keenan pada Celine.


"Iya bang, tapi hati-hati ya!" ucap Celine.


"Santai! Yang begini mah sekali geprek juga mokat!" ucap Keenan tersenyum.


Celine membalas senyuman abangnya, lalu mundur perlahan memberi ruang bagi Keenan untuk bertarung dengan para preman tersebut. Ia dan kedua temannya hanya menonton dari sana sesuai permintaan Keenan tadi.


"Cel, lu yakin abang lu bisa ngelawan preman-preman itu? Mereka ada tiga loh dan badannya juga besar-besar!" bisik Lilis.


"Udah gausah cemas! Abang gue itu jago beladiri, dia pasti bisa kok tumbangin tiga preman lemah itu! Lagian mereka cuma badan doang gede, tapi gak ada apa-apanya!" ucap Celine.


"Oh gitu, ya semoga aja deh!" ujar Lilis.


Sementara Keenan kini sudah bersiap untuk menghadapi ketiga preman tersebut, si gembul berdiri paling depan dengan gayanya karena ia memang pemimpin pasukan ini yang ditunjuk langsung oleh Johan alias kaki tangan Harrison.


"Udah siap buat mati?" tanya Keenan sengaja memancing emosi mereka.


"Gausah banyak bacot lu! Langsung aja lawan gue!" teriak si gembul emosi.


Keenan tersenyum sinis, merasakan kepuasan karena berhasil memancing emosi para preman tersebut, yang tentunya akan memudahkan baginya untuk bisa memenangkan pertarungan itu.


"Mati lu b*jingan!" si gembul yang sudah terbawa emosi pun bergerak maju menyerang Keenan secara membabi buta.


Dua preman lainnya juga ikut menyerang secara bersamaan, ya bisa dibilang mereka mengeroyok Keenan saat ini. Namun, Keenan masih bisa santai menangkis semua serangan dari preman suruhan Johan tersebut.


Bughh...


Karena hilangnya fokus, pukulan si gembul itu berhasil mengenai wajah Keenan.


"Abang!" teriak Celine histeris.


Keenan pun melirik sekilas ke arah Celine sambil memegangi wajahnya, ia tersenyum memberi arti bahwa dirinya baik-baik saja.


Barulah ia kembali menatap si gembul di depannya dengan senyuman sinis.


"Boleh juga, tapi pukulan lu masih lemah! Sekarang giliran gue yang serang kalian!" ujar Keenan.


Ya sesuai yang dikatakannya tadi, Keenan pun menyerang tiga preman itu dengan pukulan serta tendangan berkali-kali yang sulit untuk ditangkis atau ditahan oleh mereka.


Braakkk...


Satu persatu dari tiga preman itu jatuh tergeletak di tanah setelah terkena serangan dari Keenan, mereka tak mampu lagi berdiri.


"Hahaha, cuma segini kemampuan lu lu pada? Dasar lemah!" ujar Keenan menyombongkan diri.


Celine pun tersenyum lebar melihat kemenangan abangnya, ia maju mendekati Keenan dan berdiri tepat di sampingnya.


"Lu hebat bang!" puji Celine.


"Iya dong, siapa dulu? Keenan gitu loh!" ujar Keenan merangkul sang adik.


"Bang, udah yuk kita balik!" pinta Celine.


"Bentar dulu! Gue perlu tahu siapa yang udah suruh bajing*n ini buat culik lu, karena gue juga harus habisin bos mereka itu!" ucap Keenan.


"Huft, ya serah lu deh bang!" ujar Celine.


Keenan tersenyum sembari mengusap rambut Celine, lalu maju mendekati si gembul dan berjongkok di depannya.


"Heh! Sekarang cepat lu kasih tahu gue, siapa yang udah suruh lu pada buat culik adek gue! Kalo lu gak mau kasih tahu, gue bakal kirim lu semua ke neraka!" bentak Keenan.

__ADS_1


"Gue gak perduli! Pokoknya gue gak akan bilang siapa yang suruh kita!" ujar si gembul tegas.


"Oh gitu, lu nantang gue lagi?" ucap Keenan.


Si gembul terdiam menatap kedua temannya, sedangkan Keenan berdiri mengangkat satu kakinya dan menaruhnya perlahan di atas perut si gembul yang kesakitan itu.


"Sekali lagi gue peringatin sama lu, kasih tahu siapa yang udah nyuruh kalian atau gue injak perut lu sampai semua isi di dalamnya keluar!" ucap Keenan mengancam si gembul.


"Ja-jangan! Oke oke, gue bakal kasih tahu ke lu siapa yang udah suruh kita! Tapi, tolong jangan injak perut gue! Gue masih mau hidup!" ujar si gembul memelas.


"Yaudah, cepat kasih tahu!" bentak Keenan.


"I-i-iya iya... yang nyuruh kita itu bos Johan, dia minta kita buat culik adek lu dan bawa ke tempat dia sekarang!" jawab si gembul.


"Bos Johan? Siapa dia?" tanya Keenan heran.


"Gue juga gak tahu dia siapa, yang gue tahu bos Johan ini masih bawahan orang lain. Tapi, sampai sekarang gue gak tahu siapa bos besarnya! Lu bisa percaya sama gue, cuma itu yang gue tahu!" jawab si gembul dengan mimik wajah ketakutan.


Keenan terdiam sesaat, ia berpikir apakah mungkin si gembul berkata sejujurnya atau tidak. Awalnya ia memang tahu dan mengira si gembul berbohong, namun begitu Celine mendekatinya pikirannya mendadak berubah.


"Bang, dia jujur kok! Dia emang gak tahu siapa itu bos Johan, kita bisa cari tahu lagi nanti!" ucap Celine berbisik di telinga abangnya.


"Lu yakin?" tanya Keenan memandang ke arah Celine.


"Iya bang, kan lu tahu gue ini bisa mendeteksi kejujuran seseorang. Sekarang dia lagi jujur bang, percaya aja sama gue!" jawab Celine.


"Oke!" ucap Keenan mengangguk.


"Bawa gue ke markas bos lu!" pinta Keenan pada si gembul.




Disisi lain, Albert masih menikmati waktu berdua dengan Vanesa sang sekretaris di sebuah taman yang sepi dan dipenuhi pepohonan lebat. Keduanya kini duduk berdampingan dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.


"Apa yang mau kamu bicarakan dengan saya, Vanesa? Mengapa kamu hanya diam saja daritadi?" tanya Albert terheran-heran.


"Eee jujur aja pak, saya malu ditatap begitu sama bapak!" ucap Vanesa menunduk.


Albert tersenyum dan menarik dagu wanita itu ke atas agar ia bisa menatapnya dengan leluasa.


"I-i-iya pak," ucap Vanesa mengangguk pelan.


"Jadi, ada apa Vanesa? Kamu memerlukan bantuan saya?" tanya Albert.


"Tidak pak, bukan itu. Saya ingin bicara dengan bapak mengenai kandungan saya yang bapak minta untuk digugurkan beberapa waktu lalu itu, bapak masih ingat kan?" ucap Vanesa.


"Eee ya, tentu saja saya ingat! Biar gimanapun itu kan juga anak saya, memangnya kenapa cantik?" ujar Albert masih tak mengerti.


Vanesa justru terdiam dan berpikir sejenak.


"Gak gak gak! Kalo aku bicara ke pak Albert sekarang, yang ada dia bakalan maksa gue lagi buat gugurin nih kandungan! Mending gue tunda aja deh, sekalian gue kasih tahu ke Nadira tentang kehamilan gue ini! Gue yakin dia pasti syok berat, kalau tahu suaminya udah hamilin wanita lain!" gumam Vanesa dalam hati.


Melihat sekretarisnya terdiam cukup lama, Albert pun dibuat semakin bingung olehnya. Pria itu bahkan sampai harus mendekati wajah Vanesa dan mengecup bibirnya untuk menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


Cupp!


"Eh?" Vanesa terkejut saat mendapati bibir bosnya menempel di bibirnya.


"Hahaha, maaf Vanesa! Abisnya kamu malah bengong aja, mau bicara apa kamu?!" ujar Albert.


"Oh ya, begini loh pak... saya punya saran buat bapak supaya perusahaan kita bisa kembali berkembang, pak!" jawab Vanesa.


"Bagaimana itu?" tanya Albert penasaran.


"Ada baiknya kalau bapak menjalin kerjasama dengan PT hari sentosa. Dari yang saya dengar, perusahaan itu benar-benar cukup maju dan sang pemiliknya juga dikenal dengan ide-ide brilian yang bisa membantu perusahaan kita nak kembali pak! Bagaimana? Apa bapak tertarik?" jelas Vanesa.


"PT hari sentosa? Ya ya ya, saya pernah dengar itu! Kalau gak salah pusat mereka beroperasi di daerah Kalimantan, bahkan cabang mereka sudah tersebar cukup luas di luar negeri. Apa mungkin mereka mau bekerjasama dengan kita, Vanesa?" ucap Albert pesimis.


"Serahkan saja semua pada saya, pak! Saya pasti bisa melobi mereka!" ucap Vanesa.


"Oh ya? Baiklah, kalau begitu saya percayakan hal ini ke kamu Vanesa! Semoga kamu berhasil, saya juga yakin kamu ini orang yang cerdas dan jago melobi orang!" ucap Albert memuji Vanesa.


"Terimakasih pak!" ucap Vanesa tersenyum.


"Lalu, apa masih ada lagi yang kamu ingin bicarakan dengan saya?" tanya Albert.


"Sudah tidak ada, pak. Sekarang kita bisa lanjut lagi pulang! Maaf ya pak, saya jadi mengganggu perjalanan pulang bapak!" ucap Vanesa.

__ADS_1


"Tidak kok, justru saya senang bisa lebih lama berduaan sama kamu!" goda Albert.


"Ah bapak bisa aja!" ujar Vanesa tersipu.


"Eh ya, saya butuh tangan kamu. Kamu mau kan memuaskan saya dulu disini sebelum kita lanjut pulang?" ujar Albert.


"Eee..." Vanesa tampak bingung harus menerima permintaan Albert atau tidak, sejujurnya ia memang sangat jijik harus melakukan itu apalagi dengan tangan dan mulutnya.


"Baik pak, saya bersedia!" jawab Vanesa.


"Bagus!" ucap Albert merasa senang.


Pria itu langsung membuka resleting celananya dan mengarahkan tangan Vanesa ke pusaka miliknya yang sudah menegang itu, tentu saja Vanesa dengan cepat melakukan apa yang diminta Albert dan memuaskan pria itu.


"Haish, dasar otak mesum!" batin Vanesa.




Nadira dibawa pergi oleh Abigail untuk menemui kedua orangtuanya, ya Abigail nampaknya ingin bersilaturahmi sekaligus meminta maaf atas kesalahan putranya yang sudah melakukan tindakan kriminal terhadap Nadira.


Selain itu, tentu saja Abigail ingin mengenal dan bertemu dengan besannya.


"Mah, apa mama yakin tuan Albert gak akan marah kalau tahu kita pergi diam-diam begini ke rumah orang tua ku?" tanya Nadira cemas.


"Kamu gausah khawatir sayang! Mama kan udah bilang sama kamu tadi, Albert gak mungkin marahin kamu karena mama yang ajak kamu pergi sayang! Lagian kita cuma ketemu sebentar kok sama orang tua kamu, memangnya kamu gak pengen ketemu mereka?" jawab Abigail.


"Ya pengen sih mah, banget malah! Tapi ya gitu, aku takut aja tuan Albert marah. Soalnya tuan Albert kalo udah marah tuh susah banget buat dibujuk, mah!" ucap Nadira.


"Hahaha ya dia memang begitu, tempramen. Tapi, untuk sekarang kamu gak perlu cemas ya! Karena mama akan belain kamu kalau sampai Albert berani marahin kamu, karena kamu juga berhak ketemu sama orang tua kamu!" ucap Abigail.


"Iya mah, makasih ya!" ucap Nadira tersenyum.


Tak lama kemudian, mereka tiba di halaman rumah Suhendra yang terletak di tengah-tengah kampung itu. Abigail cukup terkejut karena kondisi rumah orang tua menantunya tersebut cukup memprihatinkan, bahkan jalanan sekitarnya juga belum di aspal dan masih bebatuan.


"Nah, ini dia rumah ayah sama ibu aku, mah!" ucap Nadira menunjuk ke depan.


"Ohh jadi disini orang tua kamu tinggal? Tempatnya bagus ya, nyaman gitu gak kayak di kota yang udah penuh polusi!" ucap Abigail.


"Iya mah, itu salah satu kelebihan tinggal di kampung!" ucap Nadira.


"Yaudah, yuk kita turun dan temuin ayah sama ibu kamu! Mama juga penasaran banget, gak sabar pengen ketemu besan mama!" ucap Abigail memeluk Nadira dari samping.


"Sama mah, aku juga gak sabar!" ujar Nadira.


"Eee pak Roso, bapak tunggu sebentar ya disini jangan kemana-mana! Nanti saya sama Nadira balik lagi kok!" perintah Abigail.


"Baik nyonya!" ucap supir bernama Roso itu.


Setelahnya, Abigail dan Nadira pun turun dari mobil lalu berjalan perlahan menuju rumah Suhendra.


"Wah ternyata pas di luar makin nyaman suasananya! Udah sejuk, bikin seger, terus gak ada asap sama sekali disini! Kayaknya mama bakal betah sih lama-lama tinggal di tempat begini!" ucap Abigail.


"Ahaha, jadi mama mau pindah tinggal kesini gitu?" tanya Nadira.


"Ya kalau bisa, dan memang ada rumah yang dijual pasti mama langsung beli! Tapi, tergantung suami juga sih!" jawab Abigail.


"Yaudah, mama pikir-pikir aja dulu!" ujar Nadira.


"Iya sayang, yuk kita ke rumah ayah kamu!" ucap Abigail menarik tangan menantunya.


"Yuk mah!" ucap Nadira tersenyum manis.


TOK TOK TOK...


Nadira mengetuk pintu cukup keras begitu tiba di depan rumah sang ayah.


"Nadira, kenapa gak dipanggil?" tanya Abigail.


"Gapapa mah, biar surprise!" jawab Nadira.


"Ohh hahaha..." Abigail tertawa kecil.


Ceklek...


"Nadira?" ucap Sulastri dari balik pintu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2