
Keenan bersama sang adik kini telah berhasil keluar dari kamar tempat mereka dikurung, tak lupa juga Keenan mengunci pintu kamar tadi agar kedua preman di dalamnya tidak bisa keluar untuk mengejar mereka atau melapor pada Harrison.
Keduanya berjalan perlahan-lahan mencari arah jalan keluar, kebetulan saat ini mereka berada di lantai atas sehingga untuk bisa keluar dari sana mereka harus menuruni tangga terlebih dahulu.
Celine amat cemas dan ketakutan, ia khawatir jika nantinya mereka akan kepergok oleh salah satu anak buah Harrison disana, namun Keenan sang kakak terus berusaha menenangkannya dan tak melepaskan gandengan tangannya dari Celine.
"Bang, di bawah kayaknya banyak orang deh. Gue bisa dengar suara mereka," bisik Celine.
"Iya, gue juga denger kok. Lu tenang aja, kita terus melangkah perlahan-lahan kayak gini supaya gak ketahuan sama mereka!" ucap Keenan.
"Oke kak!" Celine menurut pada kakaknya.
Mereka terus melangkah menuruni satu persatu anak tangga itu hingga selesai, keduanya pun langsung bergerak cepat mencari tempat persembunyian ketika mendengar suara tapak kaki di sekitar sana.
"*Hahaha, iya tuh semalam sinetron mbak Andin seru banget! Gue jadi ketagihan nontonnya, nanti malam gue mau nonton lagi sama emak gue ah!"
"Betul lu! Gue sama anak-anak gue juga suka nonton tuh sinetron, emang seru sih gak kalah dari sinetron luar! Gimana kalau kapan-kapan kita nobar di rumah gue?"
"Wah boleh tuh setuju gua*!"
Ya suara-suara tersebut terdengar di telinga Keenan dan Celine, saat ini sepasang kakak-adik itu tengah bersembunyi di balik tembok. Mereka menyaksikan dua orang preman yang tadi mengobrol kini sudah menaiki tangga menuju ke atas, tentu saja Keenan langsung bernafas lega karena mereka tidak ketahuan.
"Huh aman! Yuk sayang kita lanjut ke depan!" ucap Keenan tersenyum.
"Ayo kak!" Celine mengangguk dan mengikuti kakaknya.
Akan tetapi, disaat mereka keluar dari persembunyian tiba-tiba tanpa mereka sadari sudah ada Harrison serta Zayn yang berdiri menatap mereka dengan tatapan tajam menjurus.
Sontak Celine menganga sekaligus ketakutan, ia memegang erat lengan abangnya dan bersembunyi dibalik punggung Keenan karena tak berani bertatapan langsung dengan Harrison, ia sangat takut saat ini mengingat keinginan Harrison untuk menikahinya secara paksa.
"Wah wah wah, lihat siapa yang mau coba kabur dari sini! Kau benar-benar tidak bisa diandalkan Zayn, bagaimana mereka bisa kabur!" ujar Harrison.
"Ampun bos! Tapi, saya juga tidak tahu menahu. Ini kan diluar tanggung jawab saya, karena yang bertugas menjaga mereka itu anak buah bos. Jadi, semuanya faktor kelalaian penjaga itu!" ucap Zayn.
"Halah ngeles aja kamu!" ujar Harrison.
"Maaf bos!" ucap Zayn singkat lalu menundukkan kepalanya dengan kedua tangan di depan.
"Sudahlah, sebaiknya sekarang kau tangkap mereka! Yang laki-laki urusanmu, kalau cewek itu biar saya yang urus!" titah Harrison.
"Baik bos!" ucap Zayn menurut.
Celine pun semakin ketakutan dan tanpa sadar kuku-kukunya sampai mencengkram erat bahu Keenan hingga terluka, untungnya pria itu masih bisa sabar dan tidak emosi.
"Bang, gue takut! Gue gak mau nikah sama dia bang!" ucap Celine gemetar.
"Iya iya tenang ya, gue bakal jagain lu kok! Gak mungkin juga gue biarin lu dinikahi sama orang kayak dia! Sekarang lu tenang, tetap sembunyi dibalik gue dan jangan kemana-mana!" ucap Keenan langsung sigap melindungi adiknya.
"I-i-iya bang, gue disini kok. Lawan mereka bang! Gue udah gak tahan lama-lama disini, gue mau pulang!" ucap Celine.
Keenan mengangguk dan mengecup pipi Celine sekilas, barulah ia kembali menatap Zayn yang kini sudah berada tepat di depannya dengan kedua tangan siap untuk menghajarnya.
Glekk...
"Udah siap buat mati?" ucap Zayn memancing amarah Keenan.
"Not yet," Keenan menjawab singkat disertai senyuman smirk andalannya.
•
•
Sementara itu, Albert yang sebelumnya melamun di balkon kini sudah kembali ke ruang tamu dan tampak bersiap untuk pergi dari rumah. Pria itu tak tahan terus-terusan berdiam diri tanpa ada kabar yang jelas mengenai Nadira, ia pun memilih untuk mencari Nadira seorang diri kali ini.
Namun, Abigail yang kebetulan ada di ruang tamu pun menahannya, wanita itu tak memperbolehkan Albert pergi keluar dalam keadaan emosi seperti sekarang ini, ia khawatir jika nantinya Albert akan mengalami sesuatu hal yang buruk dan malah berakibat fatal pada dirinya.
"Albert! Mau kemana kamu sayang?" ucap Abigail menegur sekaligus berdiri tepat di depan putranya.
__ADS_1
"Mah, aku mau cari Nadira. Sebaiknya mama jangan halangi jalan aku, karena aku gak suka dicegah kayak gini!" ucap Albert tegas.
"Dengar Albert, kamu boleh pergi cari Nadira, boleh kok. Justru kalau bisa emang kamu harus cari dia, dan temui dia! Tapi, mama gak pengen kamu pergi dalam keadaan kacau seperti ini! Kamu itu lagi emosi, jadi kamu tenangin diri kamu dulu sebelum kamu memutuskan buat pergi keluar! Itu bahaya buat kamu sayang!" ucap Abigail.
"Bahaya kenapa sih, mah? Aku gak akan kenapa-napa kok, udah mama tenang aja! Sekarang mama minggir, kasih aku jalan buat lewat!" ujar Albert.
"Mama baru akan kasih kamu jalan, kalau kamu benar-benar sudah tidak emosi!" tegas Abigail.
"Hadeh mah, mama ini sebenarnya dukung aku atau enggak sih? Aku tuh pengen cari Nadira, aku mau temuin istri aku! Masa mama malah halangin aku kayak gini sih? Katanya mama perduli sama hubungan aku dan Nadira, tapi kenapa mama malah begini?" ujar Albert.
"Bukan maksud mama halangi kamu nak, mama kan udah bilang, mama cuma gak mau kamu kenapa-napa nantinya!" ucap Abigail.
Albert tampak frustasi dan mengusap wajahnya kasar sembari mendengus kesal.
"Gini deh, kalau kamu perginya sama Keenan, mama bakal kasih. Tapi, mama gak akan kasih lewat kalau kamu tetap kekeuh mau pergi sendiri cari Nadira!" ucap Abigail.
"Apa sih mah? Keenan itu lagi fokus sama adiknya, mama kan tahu sendiri Celine diculik. Gimana cara Keenan bisa bantu aku coba?" ucap Albert.
"Oh iya ya, yaudah kalo gitu kamu diantar sama supir ya? Supaya kamu gak nyetir sendiri, karena itu bahaya buat kamu sayang!" ujar Abigail.
"Mama tuh lebay banget sih! Aku gak akan kenapa-napa kali walau nyetir sendiri, emangnya aku anak kecil apa? Udah deh mending sekarang mama minggir, jangan halangin aku!" ujar Albert.
Albert mencoba pergi melewati mamanya, namun lagi-lagi Abigail tidak membiarkan Albert lewat begitu saja.
"Gak bisa. Mama gak akan kasih jalan!" ujar Abigail.
"Haish, yaudah deh iya aku minta antar sama supir. Mama puas kan sekarang?" ucap Albert kesal.
"Nah gitu dong!" ucap Abigail tersenyum.
"Sekarang mama kasih jalan dong, aku kan udah mau dianterin sama supir!" ucap Albert.
"Iya iya, tapi mama temenin sampe depan. Mama gak mau kamu kadalin mama! Nanti bilangnya mau diantar supir, eh gak tahunya malah pergi sendiri!" ucap Abigail.
"Hadeh banyak maunya emang mama! Yaudah, ayo mama ikut sama aku ke depan kalo gak percaya!" ucap Albert.
Akhirnya Abigail pun ikut bersama putranya.
•
•
Bugghhh...
Perkelahian sengit masih terjadi diantara Keenan dengan Zayn, mereka tampaknya cukup seimbang karena Zayn juga dapat menangkis beberapa pukulan yang dilayangkan Keenan.
Sementara Harrison terus memandangi wajah Celine dari jarak yang tak jauh, pria itu tersenyum smirk dan membuat Celine agak ketakutan lalu mencoba untuk menjauh dari Harrison.
Akan tetapi, Harrison kini sudah berdiri tepat di depannya. Celine pun masih terus berusaha agar tidak disentuh atau dibawa oleh Harrison kembali ke kamarnya, karena ia ingin bersama Keenan disana.
"Hey, kamu itu kenapa ikut kabur sih cantik? Kan saya sudah bilang, kamu diam saja di kamar karena sebentar lagi waktu kita menikah akan tiba. Kenapa kamu gak mau nurut sih sama calon suami kamu ini? Nanti kamu bisa dosa loh sayang, udah yuk ikut sama saya dan kita kembali ke kamar supaya kamu gak dosa!" ucap Harrison.
Celine yang masih mengenakan seragam sekolah itu tak segan-segan menepis tangan Harrison yang hendak menyentuhnya itu.
"Ish, jangan macam-macam ya lu! Gue gak akan pernah sudi nikah sama lu!" bentak Celine.
"Hahaha, kamu kalau sedang marah seperti ini terlihat semakin lucu sayang! Saya suka dengan wanita seperti kamu, selain cantik kamu juga manis dan imut! Saya jadi tidak sabar ingin segera menikahi kamu, pasti kamu juga begitu kan?" ujar Harrison tersenyum tipis.
"Idih najis! Amit-amit gue punya suami kayak lu, mending gue jomblo terus daripada harus dapat suami tua bangkotan kayak lu!" ucap Celine mengumpat di hadapan Harrison.
"Saya memang sudah tua, tapi jiwa saya ini masih muda loh sayang. Saya bisa kok bikin kamu menjerit keras di atas ranjang," ucap Harrison.
"Hah?" Celine kaget mendengarnya.
Tanpa Harrison sadari, rupanya Keenan telah berhasil menjatuhkan Zayn dan membuat lelaki itu terluka. Keenan pun langsung berbalik, mendekat ke arah Harrison serta Celine.
"Awas bos!" Zayn berteriak memperingati bosnya ketika Keenan hendak melakukan serangan.
__ADS_1
Namun terlambat, Keenan sudah lebih dulu menendang punggung Harrison hingga pria tua itu hampir terjatuh ke lantai.
"Heh! Jangan pernah sentuh adik gue, atau lu bakal mati konyol di tangan gue!" ancam Keenan.
"Hahaha, calon kakak ipar kenapa galak banget sih? Padahal saya ini kan cuma mau mengajak Celine kembali ke kamar, apa salah seorang suami melakukan itu kakak ipar?" ucap Harrison tertawa jahat.
"Gue bukan ipar lu! Lagian adik gue juga gak akan mau nikah sama lu, jadi sebaiknya lu jangan mimpi ketinggian buat nikahin dia!" ujar Keenan.
"Saya tidak sedang bermimpi kakak ipar, karena ini kenyataan. Saya dan Celine akan segera menikah, dengan atau tanpa restu dari anda!" ucap Harrison dengan pedenya.
Keenan menggelengkan kepala dan hendak maju menyerang Harrison kembali, namun dicegah oleh Celine yang mencekal lengannya.
"Eh jangan kak! Dia udah tua, lu gak boleh lukai dia! Mending kita cabut sekarang, ayo kak!" pinta Celine.
"Iya iya..." Keenan segera membawa Celine kabur dari tempat itu.
"Woi jangan kabur kalian!" Zayn berusaha bangkit mengejar mereka, tapi Harrison justru mencegahnya dengan memberi kode untuk diam.
"Kamu membela saya Celine, rupanya kamu juga sudah perduli dengan saya. Tapi, kenapa kamu malah pergi dari saya cantik?" batin Harrison.
•
•
Vanesa yang baru keluar kamar, merasa heran mendengar suara keributan dari arah bawah rumahnya. Ia pun penasaran apa sekiranya yang membuat keributan itu terjadi.
Tanpa disengaja, Vanesa berpapasan dengan dua orang preman anak buah papanya saat hendak menuju tangga, tentu saja Vanesa memanfaatkan itu untuk bertanya pada mereka.
"Eh eh tunggu tunggu!" ucap Vanesa mencegah mereka.
"Iya non, ada apa?"
"Itu ada keributan apa ya di bawah? Saya tadi gak sengaja dengar kayak ada yang lagi berkelahi, emangnya ada apa sih?" tanya Vanesa penasaran.
"Eee anu non, tahanan bos Harrison lepas. Sekarang lagi coba dikejar sama orang di bawah," jawab Dion menjelaskan.
"Hah? Maksudnya si Celine adiknya Keenan itu? Kok bisa lepas sih? Kalian kerjanya ngapain aja emang? Masa cuma jagain satu orang cewek aja gak bisa, dasar gak becus!" ujar Vanesa.
"Bukan begitu non, tapi tadi kita dihajar sama Keenan, abangnya Celine. Sewaktu kita lagi mau kasih sarapan buat mereka di kamar, terus abis itu kita malah gantian dikurung disana. Untung aja ada si Terry yang bebasin kita," ucap Dion.
"Iya non, ini semua gara-gara bos Harrison maksa buat kurung Keenan di tempat yang sama bareng adiknya. Jadi aja kayak gini deh!" sahut Benjol.
"Maksudnya apa? Kamu salahin papa saya atas kesalahan kamu sendiri?" tegur Vanesa.
"Maaf non! Bukan begitu maksud saya!" ujar Benjol menundukkan kepalanya.
"Sudahlah tidak usah diperpanjang! Sekarang kalian kejar mereka dan bawa mereka kembali kesini, cepat!" tegas Vanesa.
"Baik non!" ucap kedua preman itu bersamaan.
Setelahnya, Dion dan Benjol pun pergi tergesa-gesa menuruni tangga untuk mengejar tawanan mereka. Sementara Vanesa tetap disana menggigit jari sekaligus mengacak-acak rambutnya bingung.
"Haduh, bisa berantakan deh semua rencana yang udah disusun papa sama pak Darius!" ujar Vanesa.
Vanesa pun memilih pergi dari sana dan menghampiri papanya di bawah, ia hendak menenangkan sang papa yang tengah bersedih akibat kehilangan tawanannya itu.
"Papa!" ucap Vanesa memanggil papanya.
"Eh sayang, kamu kenapa malah keluar kamar sih? Papa kan sudah bilang sama kamu, di rumah ini ada Keenan. Gimana nanti kalau kamu kelihatan sama dia? Yang ada dia bisa tahu kalau papa ini papa kamu!" ujar Harrison.
"Gapapa lah pah, toh sekarang Keenan sama adiknya juga udah kabur. Ini semua gara-gara ide bodoh papa! Coba aja papa gak nurutin ego papa buat culik Keenan dan satukan dia sama Celine, pasti semua ini gak bakal terjadi!" ucap Vanesa.
"Kamu apaan sih Vanesa? Kok jadi papa yang disalahin? Padahal sudah jelas-jelas ini karena kelalaian anak buahnya Zayn, bukan papa!" ujar Harrison membela diri.
"Iya iya, papa gak salah kok iya! Yaudah, kita duduk dulu yuk biar papa bisa tenang!" ucap Vanesa.
Harrison mengangguk saja menyetujui perkataan putrinya, kemudian ia pun melangkah dituntun oleh Vanesa menuju sofa ruang keluarga.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...