Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Selingkuh


__ADS_3

"Nadira!" Abigail duduk mendekati menantunya yang sedang menangis sendirian di ruang tamu.


Begitu melihat kehadiran sang mama, Nadira langsung cepat-cepat menghapus air mata di pipinya berharap agar Abigail tidak melihatnya. Namun, tentu itu semua terlambat mengingat Abigail telah melihat ketika Nadira menangis sendirian tadi.


Abigail langsung merangkul dan memeluk tubuh Nadira dengan lembut, Nadira akhirnya tak bisa lagi menutupi kesedihannya di depan Abigail karena mamanya itu sudah terlanjur mengetahuinya.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang bikin kamu sampai menangis kayak gini? Cerita dong sayang, supaya mama bisa bantu!" tanya Abigail.


"Eee enggak, mah. Aku gak kenapa-napa, aku baik-baik aja loh mah. Mama gausah khawatir kayak gitu sama aku, mama lihat sendiri kan aku segar bugar begini?" ucap Nadira berbohong pada mama mertuanya itu.


"Kamu gak bisa bohongin mama sayang, mama tahu barusan kamu lagi menangis. Bahkan kesedihan itu masih terlihat di wajah kamu sekarang, apa yang terjadi Nadira? Kamu cerita aja ke mama dan gak perlu malu, mama ini kan mama kamu juga!" ucap Abigail.


"Iya mah, aku ngerti mama khawatir sama aku, tapi aku gak kenapa-napa kok, mah. Soal kenapa aku nangis, itu aku cuma kelilipan sewaktu di taman tadi dan bukan karena ada masalah," ucap Nadira.


"Kamu ini paling bisa ya nutupin masalah dari mama, tapi mama gak percaya sama kamu sayang! Ayolah Nadira, cerita sama mama ada apa! Jangan bikin mama penasaran! Mama tahu kamu lagi ada masalah, cerita aja gak perlu cemas! Soal Albert suami kamu itu? Dia sakitin kamu, iya?" ujar Abigail masih tak percaya pada Nadira.


Nadira terdiam dan justru kembali menangis di pelukan mamanya, ia tak bisa menahan kesedihan setelah mengetahui apa yang dilakukan Albert di luar sana bersama wanita lain, walau dirinya juga tahu sedari awal Albert memang tak mencintainya.


"Hiks hiks... mama benar! Aku emang gak bisa bohong dari mama, aku lagi sedih mah! Hatiku sakit!" ucap Nadira diselingi isak tangis.


Abigail pun berusaha menenangkan Nadira dengan cara menepuk-nepuk punggung wanita itu.


"Sudah sayang, sudah! Kamu boleh menangis semau kamu sampai kamu puas, gak perlu ditahan lagi hanya karena kamu ingin menyembunyikan rasa sedih kamu itu dari mama! Justru mama akan senang kalau kamu jujur sama mama, bukannya malah menutupi semuanya seperti tadi!" ucap Abigail.


"Makasih mah!" ucap Nadira.


Setelah dirasa bahwa Nadira agak lega, Abigail kini melepas pelukannya dan menangkup wajah Nadira sembari mengusap air matanya. Abigail tersenyum menatap wajah sayu menantunya itu.


"Sekarang kamu bisa cerita sama mama, apa yang bikin kamu menangis seperti ini? Mama pasti akan dengarkan cerita kamu sayang!" ucap Abigail.


"I-i-iya mah, sebenarnya aku...."


Belum sempat Nadira menyelesaikan ucapannya, Abigail sudah terlebih dahulu melihat sebuah amplop tergeletak di atas meja, sontak Abigail yang penasaran langsung mengambil amplop tersebut dan bertanya pada Nadira.


"Ini amplop apa sayang?" tanya Abigail sembari menunjukkan amplop itu pada Nadira.


"Eee i-itu...."




Albert dan Keenan masih kesulitan mencari tahu dimana keberadaan Celine saat ini, mereka sudah mengitari hampir seluruh tempat di kota tersebut, tapi hasilnya nihil dan belum juga ada tanda-tanda kalau anak buah yang diperintahkan oleh Albert itu berhasil menemukan Celine.


Kini keduanya berhenti di suatu tempat karena lelah setelah mencari cukup lama, Keenan pun tampak sangat frustasi dan terus berteriak emosi karena adiknya belum juga dapat ditemukan.


"Aaarrgghh!! Lo payah banget sih Keenan! Harusnya lu gak kecolongan kayak gini, lu emang abang yang bodoh!" teriak Keenan.


"Heh! Keenan cukup Keenan! Kamu jangan salahkan diri kamu sendiri atas apa yang terjadi sama Celine ini, karena itu bukan kesalahan kamu! Saya tahu kamu sedih Celine diculik, tapi salahin diri sendiri itu bukan suatu hal yang benar! Lagipun, dengan begitu juga kamu gak akan bisa temui adik kamu!" ucap Albert menenangkan.


"Maaf tuan! Saya udah kehilangan kendali, saya gak tahu lagi harus bagaimana! Saya sangat menyayangi Celine, dia keluarga yang saya miliki satu-satunya dan saya gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama dia tuan!" ucap Keenan.


"Iya saya ngerti, saya pun ikut sedih dengan diculiknya adik kamu ini. Tapi, kita gak boleh nyerah gitu aja dan kita harus terus berusaha buat cari Celine sampai dapat!" ucap Albert.


Keenan mengangguk setuju dan terlihat menghela nafasnya sembari mengerutkan kening.


"Yasudah, sebaiknya kita mampir dulu ke restoran atau cafe dekat-dekat sini. Sudah waktunya makan siang dan kamu juga butuh tenaga supaya kita bisa lanjutkan pencarian ini, saya juga ada janji dengan pak Rio siang nanti untuk membahas tentang proses penyelidikan kita," ucap Albert.


"Baik tuan! Semoga saja ada kabar bagus dari pak Rio mengenai Vanesa, saya benar-benar sudah yakin sekali kalau Vanesa memiliki niat tidak baik kepada tuan dan perusahaan tuan! Akan sangat berbahaya jika itu terus dibiarkan," ucap Keenan.


"Ya, kamu benar Keenan!" ucap Albert.


Tliingg...


Ponsel Albert berdering, ia pun mengambilnya dan mengecek pesan masuk dari Rionaldo sahabat masa kecilnya dulu.


"Ini pak Rio udah kirim pesan ke saya, dia katanya ajak ketemuan kita di Laura cafe. Kita langsung kesana aja sekarang ya? Kali ini biar saya yang nyetir, kondisi kamu sedang tidak baik!" ujar Albert.

__ADS_1


"Tidak apa tuan, saya masih bisa kok kalau cuma menyetir mobil." Keenan menolak tawaran Albert.


"Jangan membantah Keenan! Saya tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, itu akan sangat berbahaya jika kamu memaksa untuk menyetir! Jadi, sebaiknya saya yang menyetir dan kamu istirahat sejenak!" tegas Albert.


"Siap tuan, maaf!" ucap Keenan menunduk.


Mereka pun bertukar posisi, Albert kini yang duduk di kursi kemudi sedangkan Keenan berada di sampingnya. Baru kali ini Keenan merasa canggung saat Albert yang akan menyetir mobil.


❤️


Singkat cerita, mereka telah tiba di lokasi tujuan tempat Rio berada, ya Laura cafe.


Albert memarkir mobilnya di tempat parkir, lalu meminta Keenan segera turun karena mereka akan bertemu Rionaldo di dalam sana.


"Ayo turun!" pinta Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan dengan sigap.


Keduanya pun turun dari mobil, belum sempat melangkah mereka justru berpapasan dengan Rionaldo yang juga baru tiba di cafe tersebut.


"Eh pak Albert, pak Keenan, selamat siang! Ternyata kita datangnya barengan ya?" ujar Rio sembari tertawa kecil.


Mereka bertiga pun berjabat tangan dan saling menyapa disana.


"Ahaha, suatu kebetulan yang menguntungkan. Jadi, tidak ada dari kita yang perlu menunggu lama di dalam sana. Yasudah pak Rio, mari kita langsung masuk saja ke dalam!" ucap Albert.


"Iya pak, silahkan!" ucap Rio.


Ketiga pria tampan berjas itu memasuki area cafe secara bersamaan, lalu memilih tempat duduk yang masih kosong dan cocok untuk dijadikan sebagai tempat mereka mengobrol, membahas mengenai kecurigaan Keenan pada Vanesa.


"Nah, kalian pesan saja apa yang kalian mau! Saya yang akan bayar nanti," pinta Rionaldo.


"Waduh pake repot-repot segala! Makasih loh pak Rio, saya sama asisten saya jadi gak enak nih!" ucap Albert malu-malu kucing.


"Ah gapapa, kan saya yang undang kalian kesini. Jadi saya juga yang harus traktir kalian!" ujar Rio.


"Hahaha..." mereka saling tertawa.


Setelah memesan dan pesanan mereka tiba, Albert yang sudah sangat penasaran itu langsung bertanya pada Rio berita atau informasi apa yang baru didapat oleh pria tersebut mengenai Vanesa.


"Eee maaf sebelumnya, pak Rio! Tapi, saya daritadi ini penasaran sekali, apa kira-kira informasi yang sudah didapat oleh anda?" ucap Albert.


"Hahaha, sepertinya anda sudah tidak sabar ya pak Albert? Baiklah, saya akan langsung ceritakan saja kepada anda mengenai informasi yang saya dapat dari anak buah saya. Sebentar, saya ambil dulu barang buktinya!" ucap Rionaldo.


Rio pun membuka tasnya, mengambil sebuah alat perekam dari sana lalu menunjukkannya pada Albert serta Keenan yang kompak terperangah saat melihat alat tersebut.


"Itu apa pak?" tanya Keenan bingung.


"Ini pulpen, tapi bukan pulpen sembarangan."


"Maksudnya?" tanya Albert tak mengerti.


"Iya, ini adalah satu dari sekian banyak alat di dunia detektif. Saya biasa menggunakan ini untuk merekam pembicaraan seseorang atau kelompok agar tidak ketahuan, cukup menekan tombol ini maka otomatis semua suara yang ada di dekatnya akan terdengar, termasuk suara dari Vanesa, sekretaris anda itu." Rio menjelaskan secara detail.


"Ohh luar biasa, anda memang benar-benar hebat pak Rio! Lalu, bisakah kita segera dengarkan rekaman suara itu?" ucap Albert.


"Hahaha, jelas bisa dong! Kita dengarkan secara seksama kata-kata yang diucapkan Vanesa ketika menumpangi taksi anak buah saya tadi, mari pak!" ucap Rio yang kemudian menyetel rekaman itu.


Albert dan Keenan pun memasang telinga mereka, lalu mulai mendengarkan rekaman itu bersama.




"Lepasin gue!" teriak Celine pada seorang pria dewasa yang menghampirinya, ya sosok itu tak lain ialah Harrison.


Harrison hanya tersenyum smirk, lalu mendekat ke arah Celine berdiri sembari mengangkat satu tangannya dan memberi kode pada kedua anak buahnya untuk keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Setelah anak buahnya pergi, kini Harrison kembali bergerak mengikis jarak antara dirinya dengan Celine, hingga membuat Celine merasa cemas dan semakin ketakutan.


"Lu mau apa?" ucap Celine yang gemetar.


Gadis itu terus memundurkan langkahnya ketika Harrison coba untuk mendekatinya, namun ia tidak bisa kemana-mana lagi setelah tubuhnya menyentuh tembok yang ada di kamar itu, tentu saja Harrison tersenyum puas melihatnya dan langsung menjadikan kesempatan itu untuk mengungkung Celine.


"Mau kemana cantik? Kamu gak bisa lari dari saya, karena kamu milik saya sekarang!" ucap Harrison.


"Maksud lu apa? Gue bukan milik lu, emang lu kira gue barang apa!" ucap Celine. ketus.


"Hahaha, kamu itu semakin lucu kalau lagi marah seperti ini. Saya suka itu, karena saya bertambah gemas dan ingin mencubit pipi kamu itu manis!" ucap Harrison tersenyum.


"Stop ya! Jangan macam-macam sama gue! Lu belum tahu kan kalo gue jago beladiri? Gue bisa aja patahin tulang rusuk lu itu kalo gue mau, jadi mending lu bebasin gue sekarang dari tempat gak jelas ini!" ucap Celine.


Bukannya takut, pria itu justru terkekeh mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Celine dan membuat wanita itu kebingungan.


"Dih, kenapa lu ketawa? Gue ini serius dan gak lagi bercanda!" ucap Celine terheran-heran.


"Hahaha, kamu lucu banget sih Celine! Gak salah saya culik kamu dan bawa kamu kesini, karena kamu selain cantik juga lucu. Saya suka dengan tipe gadis seperti kamu," ucap Harrison tersenyum.


"Ish, jangan dekat-dekat!" geram Celine cemas.


"Iya iya, kamu tidak perlu khawatir begitu! Saya gak akan dekati kamu kok, saya cuma pengen lihat wajah kamu aja!" ucap Harrison.


"Lu itu mau apa sih? Kemarin anak buah lu bilang ke gue, kalo lu cuma jadiin gue sebagai umpan supaya bang Ken datang kesini. Tapi, kenapa lu sampe sekarang gak hubungin bang Ken? Gue udah gak betah ada disini!" ujar Celine.


"Sabar cantik! Nanti ada waktunya kok kamu bisa bebas dari sini, lalu kita pergi bersama ke sebuah rumah mewah yang sudah aku persiapkan sesudah kita menikah nanti," ucap Harrison.


"Hah? Menikah??" Celine menganga lebar.


Gadis itu terus terperangah dibuatnya, ia tak bisa membayangkan seperti apa dirinya jika harus menikah dengan sosok om-om di depannya itu.




Abigail merasa sangat geram begitu selesai melihat apa yang ada di dalam amplop itu, ia mengepalkan tangannya menatap lurus ke depan dengan rahang bergetar menahan emosi.


Nadira yang menyadari emosi mamanya meluap, berusaha menahan Abigail agar tidak terbawa emosi dan tetap tenang, ia memegangi tubuh Abigail berharap mamanya bisa lebih tenang.


"Mah, tenang mah jangan emosi dulu! Kita belum tahu penjelasan dari tuan Albert," ucap Nadira.


"Penjelasan kayak gimana lagi sayang? Ini semua udah jelas loh, Albert selingkuh dari kamu! Bahkan ada bukti fotonya juga, sama surat kehamilan ini. Suami kamu itu benar-benar keterlaluan, dia sudah merusak hidup kamu terus sekarang dia malah selingkuh di belakang kamu! Mama harus beri dia pelajaran!" geram Abigail.


"Mah, mah tunggu mah!" Nadira menahan Abigail yang hendak pergi dari sana, ia mencengkram lengan Abigail berharap mamanya tetap disana.


"Mama jangan gegabah gitu! Kita tunggu sampai tuan Albert pulang nanti, terus baru kita tanya ke dia apa maksud semua ini. Aku gak mau ada salah paham antara mama dan tuan Albert, yang nantinya malah berujung keributan!" ujar Nadira.


"Ini bukan salah paham lagi, Nadira. Kamu kan lihat sendiri foto-foto di amplop ini, semuanya jelas dan terbukti kalau suami kamu selingkuh dengan sekretarisnya sendiri!" tegas Abigail.


"Iya mah, aku juga lihat. Tapi, kita gak bisa ambil kesimpulan hanya karena melihat gambar. Ini udah zaman modern, semua bisa diedit mah. Bisa aja wanita itu cuma mau adu domba aku sama tuan Albert, iya kan mah?" ucap Nadira.


Abigail terdiam menatap Nadira sembari menghela nafasnya, lalu perlahan mengulum senyum dan mengusap tangan menantunya dengan lembut.


"Kamu memang wanita yang luar biasa baik sayang! Bahkan disaat seperti ini, kamu bisa sabar dan tidak terpancing emosi. Mama salut sama kamu, kamu luar biasa!" ucap Abigail.


"Terimakasih, mah!" ucap Nadira singkat.


Mereka berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain, tentunya Abigail tahu bahwa perasaan Nadira saat ini juga tengah terkoyak.


Sementara dari sisi lain, Chelsea rupanya mengintip dan memperhatikan mamanya. Ia penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh mamanya serta Nadira di depan sana, apalagi terdengar bahwa mamanya menyebut nama Albert alias kakaknya dengan penuh emosi.


"Mama bilang kak Albert selingkuh, masa iya sih? Tapi kalau emang benar, bagus dong!" batinnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2