
"Kamu gak bisa tolak keinginan saya, kamu harus layani saya setiap kali saya mau!" ucap Albert.
"Ta-tapi mas.."
TOK TOK TOK...
Baru saja Albert hendak menerkam istrinya, namun suara ketukan pintu membuyarkan rencananya dan membuat Albert menggeram kesal.
"Aaarrgghh!! Siapa sih itu? Ganggu aja, gak tahu apa orang lagi mau enak-enak?!" geram Albert.
"Mas, udah kamu bukain sana! Kamu lepasin tangan aku, terus ke depan dan temui orang yang datang itu!" perintah Nadira.
"Haish.."
Albert tak memiliki pilihan lain, akhirnya ia melepas tangan Nadira.
"Kamu diam disini, jangan kemana-mana!" ucap Albert dengan tegas pada Nadira.
"Iya mas iya..." ucap Nadira pasrah.
Setelahnya, Albert pun melangkah menuju pintu untuk menemui seseorang yang datang kesana.
Ceklek...
Pintu terbuka, pria itu cukup kaget melihat Chelsea sudah berada di depan kamarnya.
Chelsea langsung tersenyum renyah dan menarik tangan Albert keluar dari kamar itu.
"Ayo kak, sini sini!" ucap Chelsea.
"Eh eh eh, kamu apa-apaan sih? Kamu mau bawa kakak kemana Chelsea?" tanya Albert keheranan.
"Sebentar kak!" ucap Chelsea.
Albert yang tidak sabaran, menghentakkan tangannya lepas dari genggaman Chelsea dan mendorong gadis itu hingga mepet tembok seraya menaruh kedua tangan di atas kepalanya.
"Awhh kak sakit!" rintih Chelsea.
"Lagian kamu apa-apaan sih? Kamu mau culik kakak? Kamu gak tahu apa kalau kakak lagi mau enak-enak sama Nadira?!" geram Albert.
"Hah? Eee iya iya maaf, aku gak tahu kalau kakak lagi begituan!" ucap Chelsea ketakutan.
"Yaudah, terus kamu mau ngapain tarik-tarik tangan kakak tadi? Kamu kok cepet banget sih pulangnya? Vanesa udah kamu antar sampai ke apartemen kan?" tanya Albert.
"Tenang aja kak, si Vanesa udah sampe kok tadi! Aku cepet pulang karena aku mau tanya sesuatu sama kakak, ini penting!" jawab Chelsea.
"Tanya apa?" ucap Albert penasaran.
"Tadi pas di jalan, Vanesa itu bilang sama aku kalau Cakra meninggal. Emangnya benar ya kak?" ucap Chelsea mendongakkan wajahnya.
"Iya, itu benar. Terus, kenapa kamu pengen banget tau soal itu? Kamu sedih karena Cakra meninggal?" tanya Albert heran.
"Bukan begitu, pertanyaan aku masih ada lagi yang lain kak." kata Chelsea.
"Oh oke, yaudah cepet ngomong!" ujar Albert.
"Iya kak, tadi Vanesa juga bilang kalau meninggalnya Cakra itu ada sangkut pautnya sama kakak. Dia bilang, Cakra meninggal karena dibunuh sama Keenan atas perintah kakak. Apa itu benar kak?" ucap Chelsea tampak gugup.
Sontak Albert langsung dibuat terdiam oleh pertanyaan Chelsea itu, ia memalingkan wajahnya dan melepas cengkraman tangan Chelsea untuk berpikir sejenak.
"Kak, kenapa kakak diam? Omongan Vanesa gak benar kan kak?" tanya Chelsea penasaran.
"Eee kamu jangan salah paham dulu! Kakak emang suruh Keenan buat tangkap Cakra, tapi kakak gak pernah sama sekali minta dia bunuh Cakra. Jadi, itu semua gak benar sayang!" jawab Albert.
"Huh syukurlah! Aku tadi udah cemas banget tau kak, aku kira emang beneran kakak yang udah suruh Keenan bunuh Cakra." kata Chelsea.
"Ya gak mungkin lah kakak begitu, Cakra meninggal karena kecelakaan dan emang udah takdirnya begitu. Tapi..." ucapan Albert terjeda karena ia ragu untuk mengatakan itu.
"Tapi apa kak?" tanya Chelsea.
"Bukan apa-apa, udah kamu masuk kamar sana terus istirahat! Kakak mau lanjutin enak-enak sama Nadira, kamu jangan ganggu lagi!" tegas Albert.
"I-i-iya kak, yaudah aku permisi ya!" ucap Chelsea.
Albert mengangguk pelan, Chelsea pun melangkah dengan gelisah karena takut Albert marah padanya setelah apa yang dia lakukan tadi.
Albert masih tetap diam disana, ia semakin dibuat bingung dan cemas pada Keenan. Ia khawatir jika masalah meninggalnya Cakra akan merembet lebih dalam ke jalur hukum.
"Gimana ini ya? Saya takut orang tua Cakra gak terima dan malah tuntut Keenan, pasti saya bisa kebawa-bawa juga!" batin Albert.
•
•
Ceklek...
__ADS_1
Albert kembali ke kamarnya dengan perasaan murung, Nadira yang semula tertidur kini bangkit kembali untuk mendekati suaminya karena ia takut Albert marah padanya.
Akan tetapi, Albert justru mengacuhkan Nadira dan terus saja berjalan ke arah ranjang. Ia terduduk disana sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan dua tangan sebagai bantalan kepala.
"Mas, kamu kenapa sih? Kok abis dari luar, kamu malah sedih begitu?" tanya Nadira heran.
"Gak kok, saya gapapa. Kamu ngapain bangun lagi sayang? Tadi kamu kan udah tiduran, kenapa pas saya masuk kamu malah bangun?" ujar Albert.
"Eee aku..."
"Kamu takut ya kalau saya bakal marahin kamu, karena kamu gak nurut sama kata-kata saya tadi?" potong Albert menatap Nadira.
"I-i-iya itu dia mas, maafin aku mas tapi aku tadi pegel kalo harus berdiri terus disitu! Abisnya kamu kelamaan sih di luarnya," ucap Nadira.
"Iya, gapapa sayang. Lagian saya juga gak mungkin bisa marah sama kamu kok," ucap Albert seraya meraih tangan Nadira dan mengelusnya.
"Yaudah, kamu duduk sini samping saya!" titah Albert sambil menepuk ranjang sebelahnya.
Nadira mengangguk pelan, lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping sang suami sambil tersenyum manis.
"Mas, tadi siapa yang datang?" tanya Nadira.
"Itu Chelsea, dia tanya ke saya tentang meninggalnya Cakra." jawab Albert santai.
"Ohh, aku sebenarnya juga masih cemas sih dengan kejadian itu. Yang aku tahu, ayahnya Cakra itu kan polisi. Dia pasti bisa lakuin segala cara untuk menyelidiki kasus kematian anaknya! Gimana kalau Keenan dituntut buat masuk penjara nanti, mas?" ucap Nadira.
"Saya juga lagi mikirin itu sayang, makanya gairah saya yang tadi menggebu-gebu langsung hilang setelah Chelsea datang. Saya khawatir Keenan ditangkap dan saya pun bisa dibawa-bawa juga nantinya," ucap Albert.
"Kamu itu kan orang pintar, masa kamu gak punya cara buat atasi semuanya? Bukannya kamu bisa melakukan apapun ya?" tanya Nadira.
Albert menoleh ke wajah Nadira, ia taruh tangannya disana dan menariknya perlahan.
"Hey! Kamu jangan tatap saya kayak gitu dong Nadira! Si junior di bawah sana jadi tegang lagi nih, kamu bikin ulah aja deh!" ujar Albert.
"Ya ampun mas, aku lagi bahas soal Cakra loh kamu malah sempat-sempatnya bilang kayak gitu!" ucap Nadira keheranan.
"Mau gimana lagi sayang? Kamu kan tahu junior saya ini lemah kalau sama kamu, dia selalu tegang walau cuma disenyumin kamu." ujar Albert.
"Jadi kamu mau apa?" tanya Nadira menggoda.
"Pake tanya lagi, ya saya mau lanjutin kegiatan kita yang tertunda tadi lah. Tapi, kali ini kamu harus diikat supaya sensasinya lebih nikmat!" jawab Albert sambil tersenyum smirk.
"Hah? Mas, jangan ngada-ngada deh! Aku gak mau ah pake diikat segala, mending kayak biasa aja!" ucap Nadira menolak kemauan Albert.
"Gak ada penolakan sayang, kamu harus nurut sama suami kamu!" tegas Albert.
"Tenang aja!" ucap Albert tersenyum renyah.
Cupp!
Albert mengecup bibir Nadira sekilas, lalu bangkit dari kasur dan mengambil tali dari laci yang akan ia gunakan untuk mengikat Nadira.
•
•
Keenan masih berada di lokasi kecelakaan Cakra, entah mengapa ia merasa bersalah dengan kepergian Cakra.
Keenan terus menatap ke jurang di bawah sana dengan wajah sedihnya, mengingat kejadian saat ia mengejar mobil milik Cakra hingga terguling.
"Kenapa saya jadi ngerasa bersalah terus ya? Apa ini semua emang salah saya? Cakra harusnya gak jatuh ke jurang, kalau saya gak kejar dia waktu itu." gumam Keenan dalam hati.
Tak lama kemudian, dua orang yang tak lain ayah dan ibu dari Cakra muncul disana.
"Hey!" Keenan terkejut saat suara berat muncul di dekatnya.
"Kamu sebenarnya siapa? Kenapa kamu terus ada di tempat kecelakaan anak saya? Apa kamu tahu sesuatu tentang penyebab anak saya masuk jurang?" tanya pria itu tampak penasaran.
Keenan terdiam bingung, ia menunduk berpikir sejenak harus bagaimana menjawab pertanyaan dari ayah Cakra itu.
"Kenalkan, saya Yohanes. Ini istri saya, Melinda. Kami adalah orang tua dari Cakra, kami sangat sedih kehilangan putra kami satu-satunya itu. Apalagi jasadnya tidak bisa ditemukan, kami juga sedang berusaha mencari tahu apa penyebab Cakra mengalami kecelakaan ini." ucap pria itu.
"I-i-iya pak, polisi juga sudah beritahu saya mengenai bapak dan ibu." kata Keenan gugup.
"Baguslah, lalu siapa kau sebenarnya?" tanya Yohanes terus menatap tajam ke arah Keenan.
"Sa-saya Keenan, pak." jawab Keenan.
"Keenan? Ada kepentingan apa kamu disini? Saya lihat-lihat kamu selalu ada setiap kali kami kesini, apa keperluan kamu sebenarnya?" tanya Yohanes.
"Eee saya..." Keenan tampak gugup dan bingung.
"Apa kamu tahu tentang penyebab kecelakaan Cakra?" potong Melinda yang sudah penasaran.
Keenan bertambah panik saat ditanya seperti itu, ia coba menetralkan dirinya agar tidak membuat kedua orang tua Cakra curiga padanya.
__ADS_1
"Saya sebenarnya memang kenal dengan Cakra, jadi saya sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Cakra ini. Kebetulan Cakra itu sahabat dari kekasih bos saya, jadi saya ditugaskan untuk membantu proses pencarian jasad Cakra disini." ucap Keenan memberi penjelasan.
"Siapa bos kamu itu? Saya ingin ketemu sama dia dan ucapkan banyak-banyak terimakasih, karena bantuan dia terhadap pencarian putra kami." ucap Yohanes.
"Eee beliau adalah salah seorang pengusaha di kota ini, saya tidak bisa memberitahu lebih lanjut mengenai siapa beliau." jawab Keenan.
"Loh, kenapa?" tanya Yohanes heran.
"Iya pak, maafkan saya! Itu sudah permintaan dari beliau dan saya tidak bisa membantahnya," jawab Keenan.
"Oh, baiklah. Kalau begitu tolong sampaikan ucapan terimakasih saya kepada bos kamu itu ya! Walau anak saya belum bisa ditemukan, tapi bantuan dia cukup berarti." kata Yohanes.
"Baik pak, nanti akan saya sampaikan kepada bos saya!" ucap Keenan.
"Eee kalau gitu saya mohon izin permisi ya pak, Bu! Saya harus segera pulang!" sambung Keenan.
"Oh ya ya, silahkan!" ucap Yohanes.
Keenan tersenyum sembari menatap kedua orang tua itu, lalu bergegas pergi agar tidak terus ditanya-tanya oleh mereka.
Melinda mendekati suaminya, ia menaruh curiga pada sikap Keenan yang terlihat gugup ketika ditanya olehnya tadi.
"Mas, kok aku curiga ya sama orang itu? Dia kayaknya sembunyiin sesuatu dari kita," bisik Melinda.
"Saya juga merasa begitu, tapi biarlah nanti saya akan selidiki semuanya." ucap Yohanes.
•
•
Keesokan paginya, Keenan sudah berada di kantor menemui Albert sesuai perintah dari bosnya itu.
Albert sengaja memanggil Albert kesana karena ia cukup khawatir dengan masalah Cakra.
"Maaf tuan! Sebenarnya ada apa ya, kenapa tuan panggil saya kesini pagi-pagi begini?" tanya Keenan sambil menguap menahan kantuknya.
"Maaf ya, saya sudah ganggu kamu pagi-pagi begini! Saya gak mau aja kalau agak siangan nanti kamu malah susah dipanggilnya," ucap Albert.
"Gapapa tuan, saya selalu siap kok kapanpun dipanggil sama tuan. Kalau tuan butuh saya, tuan tinggal telpon aja saya!" ucap Keenan.
"Baguslah!" ucap Albert tersenyum singkat.
"Eee terus, tujuan tuan panggil saya kesini apa ya? Tuan kan belum ngomong apa-apa tadi," tanya Keenan penasaran.
"Ah iya, saya panggil kamu kesini karena saya mau tanya sesuatu hal sama kamu. Ini tentang kasus kecelakaan Cakra, yang bikin dia sampai meninggal itu dan jasadnya gak bisa ditemukan." jawab Albert.
"Apa yang mau tuan tanya tentang Caka?" Keenan semakin dibuat penasaran.
"Bagaimana kelanjutan kasusnya? Apa ada kemungkinan jasad Cakra bisa ditemukan?" tanya Albert.
"Untuk itu saya belum tahu tuan, karena belum ada kabar lagi dari pihak kepolisian. Tapi, kayaknya sih kemungkinannya kecil deh buat jasad Cakra ditemukan. Karena kan proses pencariannya juga udah mau dihentikan," jawab Keenan.
"Oh gitu, lalu gimana dengan orang tua Cakra? Mereka ada temui kamu atau tanya-tanya kamu soal kematian anaknya gak? Saya khawatir aja kalau mereka cari tahu lebih lanjut," tanya Albert.
"Itu dia tuan, semalam sewaktu saya lagi ada di lokasi kecelakaan Cakra, mereka datang dekati saya dan bicara sama saya. Mereka kelihatan udah curiga sama saya, tapi untungnya mereka percaya kalau saya ini orang baik." jawab Keenan.
"Syukurlah! Kalau misal mereka temui kamu lagi, jangan pernah bawa-bawa saya!" ujar Albert.
"I-i-iya tuan, saya paham kok!" ucap Keenan.
TOK TOK TOK...
"Halo pak!" tiba-tiba saja suara perempuan muncul dan membuat Albert serta Keenan menoleh secara bersamaan ke arah pintu.
"Ya masuk!" teriak Albert.
Ceklek...
Pintu dibuka memperlihatkan sosok Carolina selaku sekretaris Albert, gadis itu langsung melangkahkan masuk ke dalam mendekati Albert dan juga Keenan disana.
"Permisi pak! Ini saya mau menyampaikan laporan yang sudah dibuat oleh pak manager," ucap Carolina sembari menyerahkan berkas di tangannya kepada Albert.
"Ah iya, terimakasih Lina! Oh ya, nanti kamu temani saya untuk melakukan kunjungan ke showroom ya!" ucap Albert.
"Baik pak! Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Carolina sambil tersenyum.
"Silahkan!" ucap Albert singkat.
Carolina pun berbalik dan pergi dari sana, Keenan menatap bingung ke arah Albert karena bosnya itu meminta Carolina untuk menemaninya.
"Tuan, kenapa harus Carol yang ikut bersama tuan? Saya kan bisa temani tuan seperti biasa," tanya Keenan heran.
"Saya ingin sesuatu yang beda, bosan kalau harus sama kamu terus." jawab Albert santai.
Keenan hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar jawaban bosnya, sedangkan Albert langsung mengalihkan pandangan ke berkas laporan itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...