
Albert dan Nadira pulang ke rumah sesudah mendatangi makam Vanesa.
Namun, sebenarnya Albert masih ingin mengajak Nadira pergi jalan-jalan bersamanya.
"Udah sampe nih, aku turun ya mas? Kamu boleh lanjut ke kantor aja langsung, katanya mau ada rapat penting sama mas Devano kan." ucap Nadira sambil mencium tangan suaminya.
"Ck, kamu itu gak boleh panggil laki-laki lain pake sebutan mas! Cuma saya yang boleh, paham gak?!" ucap Albert menatap tajam Nadira.
"Iya iya, aku minta maaf mas!" ucap Nadira.
"Huh kamu beneran gak mau jalan-jalan dulu sama saya nih? Padahal saya pengen banget tau pergi berdua sama kamu," ujar Albert.
"Eee sebenarnya aku juga mau mas, tapi kan aku harus temenin Galen di rumah. Masa iya aku biarin anak kita sendirian gitu aja?" ucap Nadira.
"Kan dia gak sendiri sayang, ada mama sama pelayan di rumah." kata Albert.
"Tetap aja aku gak tenang mas kalo ninggalin anak kita, aku selalu ngerasa was-was gitu." ucap Nadira.
"Padahal itu bukan anak kamu Nadira, tapi kenapa kamu bisa seperhatian itu sama dia ya?" batin Albert.
"Mas, udah ya aku turun dulu?" ucap Nadira.
"Eh eee iya deh, kamu boleh turun. Tapi, kalau kamu merasa butuh sewa baby sitter nanti saya cariin deh buat bantu kamu urus bayi kita ya." ucap Albert sambil tersenyum.
"Baby sitter? Aku rasa gak perlu deh mas, buang-buang duit aja nantinya. Pelayan kamu itu udah banyak, lagian aku masih bisa urus Galen sendiri." ucap Nadira.
"Yaudah, terserah kamu aja. Tapi ingat, kamu gak boleh capek-capek!" ujar Albert.
"Gak akan ada kata capek bagi seorang ibu untuk mengurus anaknya, mas." ucap Nadira.
Albert terdiam saja melihat tatapan Nadira yang begitu menggodanya, apalagi wanita itu juga terus tersenyum ke arahnya.
"Kamu bisa gak jangan tatap saya kayak gitu?! Ini di mobil, ada Liam juga tuh di depan. Kalau misal gak ada dia sih gapapa, saya bisa terkam bibir kamu saat ini juga." ucap Albert.
"Halah tumben banget kamu mas, biasanya juga gak perduli mau ada siapapun di dekat kamu." cibir Nadira sambil membuang muka.
"Sekarang kan saya udah sadar sayang," ujar Albert dengan senyuman renyah.
Albert menggerakkan tangannya, mengusap rambut serta puncak kepala Nadira secara perlahan dan menariknya perlahan.
Cupp!
Ia kecup kening sang istri dengan lembut dan mendekapnya cukup erat, Nadira hanya tersenyum menikmati momen itu.
"Udah ah mas, katanya gak enak sama pak Liam!" ujar Nadira.
"Oh iya, maaf saya kelepasan tadi! Abisnya tubuh kamu emang paling enak buat dipeluk sih, jadinya saya gak bisa lepas pelukannya." ucap Albert.
Nadira tersenyum sebentar lalu berkata, "Kalo gitu aku turun ya mas? Kamu hati-hati di jalan, semangat meeting nya!"
"Iya sayangku," ucap Albert manis.
Nadira kembali mencium tangan suaminya, membiarkan Albert mengecup keningnya cukup lama hingga berakhir di bibirnya walau hanya sesaat.
Sebenarnya Albert belum ingin melepas Nadira, namun ia tak bisa berlama-lama disana karena sebentar lagi ia harus memulai pertemuan dengan sahabatnya yakni Devano.
"Bye mas!" ucap Nadira dari luar sembari melambaikan tangan.
"Bye sayang, ingat loh jangan kecapekan!" ucap Albert sambil tersenyum.
"Iya mas, aku ngerti kok." ucap Nadira.
"Sampein salam saya buat Galen ya! Bilang ke dia, papanya ini harus meeting dulu! Nanti abis selesai meeting, saya langsung pulang ke rumah deh temuin kalian!" pinta Albert.
"Siap mas, pasti aku sampein kok! Aku yakin Galen juga bisa ngerti, papanya ini kan ceo terkenal se-Jakarta bahkan Indonesia." ucap Nadira.
"Ah bisa aja kamu!" ucap Albert tersipu.
"Yaudah, aku berangkat ya cantik?" sambungnya.
"Iya mas, bye!" ucap Nadira sambil tersenyum.
Setelahnya, Albert pun melaju pergi bersama Liam yang menyetir mobilnya.
Sementara Nadira berbalik dan masuk ke dalam rumah sesudah suaminya tak terlihat lagi.
•
•
"OOWEEE OOWEEE..."
Saat Nadira masuk ke dalam, ia langsung disuguhkan dengan suara tangisan bayi yang tentunya berasal dari mulut Galen alias putranya.
Sontak saja Nadira langsung panik dan mendadak pikirannya kacau setelah mendengar suara tangisan Galen tersebut.
"Ya ampun, Galen!" teriaknya panik.
Nadira pun berlari cepat menghampiri asal suara, sampai ia menemukan putranya tengah digendong oleh Abigail yang berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Aduh aduh! Kamu ini gak bisa diem banget sih! Udahan dong nangisnya!" ucap Abigail.
Nadira merasa heran dengan sikap mamanya yang seperti itu saat coba menenangkan Galen, entah mengapa ia tidak suka dengan itu.
"Mama kok gitu sih?" batinnya.
"Apa jangan-jangan mama gak suka ya sama Galen?" ujarnya.
"Ah tenang Nadira, kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu! Bisa jadi mama cuma kecapekan karena harus ngurus Galen daritadi, apalagi Galen nangis terus kayak gitu." pikirnya.
Akhirnya Nadira memilih untuk menghampiri mamanya disana agar semua pikiran buruknya tentang sang mama hilang.
"Mama!" ucap Nadira.
"Eh Nadira, kamu udah pulang sayang? Gimana tadi sewaktu di makam?" tanya Abigail.
"Iya mah, gak gimana-gimana kok. Semuanya baik-baik aja dan aku sama mas Albert udah kirim doa buat Vanesa, juga anaknya." jawab Nadira.
"Oh syukurlah! Mama pikir ada kejadian yang kurang mengenakkan disana," ucap Abigail.
"Enggak dong, mah. Oh ya, Galen kenapa mah? Kok dia nangis-nangis kayak gitu?" ucap Nadira.
"Gak tahu nih sayang, daritadi dia begini terus. Mungkin dia haus dan mau minum, coba deh kamu kasih dia minum ya!" ucap Abigail.
"Iya mah, sini biar aku gendong Galen!" ucap Nadira.
Abigail pun menyerahkan Galen kepada Nadira untuk diberi air susu ibu, tentunya Nadira sangat senang karena dapat menggendong kembali tubuh putranya yang tengah menangis itu.
"OWEEE OOWEEE.."
Galen masih saja menangis saat digendong oleh Nadira, ia pun berusaha menenangkan putranya agar tak terus-terusan menangis.
"Cup cup cup, udah dong nangisnya sayang! Mau ***** ya? Kamu haus ya? Yaudah, kamu boleh minum sepuas kamu. Tapi, jangan nangis lagi ya Galen sayang!" ucap Nadira lembut.
Abigail begitu terharu melihat Nadira saat ini, ia merasa tidak tega jika nantinya Nadira tahu bahwa Galen itu bukanlah putranya.
"Mah, aku ke kamar dulu ya? Mama istirahat aja, kan mama udah jagain Galen daritadi." ujar Nadira.
"Iya sayang, biar mama minta pelayan bikinin minuman buat kamu ya." ucap Abigail.
"Makasih mah! Kalo gitu aku sama Galen mau ke kamar dulu, ayo sayang kamu pamit dan bilang makasih sama Oma kamu!" ucap Nadira.
"Makasi Oma tadi udah jagain aku selama mama pergi!" ucap Nadira berlagak seperti putranya.
Abigail tersenyum saja sembari menggelengkan kepala melihat tingkah menantunya yang begitu perhatian pada Galen.
"Iya sayang, sama-sama. Jangan nangis terus ya, kasihan mama kamu nantinya!" ucap Abigail.
Setelahnya, Nadira melangkah menuju kamarnya sambil membawa Galen di dalam gendongannya.
Sementara Abigail masih tetap berdiri disana, menatap punggung Nadira yang perlahan menjauh.
•
•
Celine datang menjenguk abangnya di kantor polisi sembari membawakan kue buatannya sendiri.
Tampak Keenan berjalan menghampiri sang adik dan duduk di hadapannya.
"Cel, kamu masih jam segini udah datang aja. Segitu kangennya ya sama aku?" ucap Keenan sambil tersenyum tipis.
"Iya dong bang, aku kangen banget sama abang. Dari semalam aku terus mikirin abang yang tinggal disini, berasa beda aja gitu kalau aku tidur sendiri di rumah. Abang kapan pulang sih? Kenapa abang harus nginep disini terus?" ujar Celine.
"Sabar ya sayang! Untuk sekarang kamu emang harus tidur sendiri dulu, tapi nanti begitu aku pulang pasti kita bakal tidur bareng lagi dan kamu akan mengandung anak aku." ucap Keenan.
"Jangan bicara kayak gitu dulu! Abang pikirin aja gimana cara abang buat keluar dari sini, gausah mikir hal-hal yang gak mungkin! Aku itu khawatir sama abang, katanya abang gak lama ada disini kok malah lama banget?!" ucap Celine.
"Mau gimana lagi sayang? Aku gak bisa apa-apa, aku terpaksa harus mengikuti semua proses yang ada dan bertahan disini." ucap Keenan.
"Tapi sampai kapan bang? Apa ada kemungkinan abang bisa keluar dari sini?" tanya Celine.
"Oh iya dong, kamu gak perlu khawatir berlebih begitu! Aku kan udah sewa pengacara terbaik, dia bakal bantu aku buat keluar dari sini." jawab Keenan.
"Ya syukur deh! Tapi, apa aku harus minta bantuan sama kak Albert juga bang?" tanya Celine.
"Eh eh, enggak jangan gausah baby! Kamu cukup diam dan tunggu aja aku di rumah, jangan kasih tahu tuan Albert atau siapapun itu mengenai kondisi aku saat ini!" ucap Keenan panik.
"Tapi kenapa bang? Siapa tahu kak Albert bisa bantu abang keluar dari sini lebih cepat, dia itu kan bos abang." ucap Celine.
"Enggak, pokoknya jangan ya!" tegas Keenan.
Celine mengangguk pelan dan tidak bisa membantah perkataan Keenan lagi saat abangnya itu menggenggam kedua tangannya.
Keenan pun tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke arah Celine, perlahan ia memajukan bibirnya lalu melumatt bibir adiknya disana.
Celine yang terkejut hanya bisa melotot tanpa memberi perlawanan, jujur ia juga rindu dengan permainan bibir abangnya.
Setelah puas dan dirasa Celine butuh nafas, Keenan pun melepas pagutannya lalu kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
"Bibir kamu manis banget," ucap Keenan seraya mengelus bibir sensual adiknya.
"Udah bang, nanti penjaganya lihat bisa malu aku!" ucap Celine deg-degan.
"Tenang aja! Polisi bakal datang kalau waktu kunjungan udah selesai, jadi dia gak akan lihat kita sayang." kata Keenan.
"Iya, tapi udah ya!" pinta Celine.
"Yaudah, aku nurut deh." ucap Keenan.
"Makasih bang! Oh ya, aku ada buat kue nih untuk abang makan disini nanti. Abang boleh cobain sekarang, enak loh rasanya. Jadi karena aku gabut, makanya aku buat deh kue ini." ucap Celine.
"Waw keren juga kamu gabutnya ya! Makasih cantik, kita makan satu kue berdua ya?" ucap Keenan sembari mengambil kue itu.
"Terserah abang aja," ucap Celine.
Keenan pun menggigit ujung kue itu, kemudian menyuapi Celine dengan kue yang sama.
Lalu, saat Celine lengah Keenan pun langsung melumatt bibir gadis itu kembali sembari menahan tengkuknya agar tak bergerak.
Keenan begitu menikmati bibir Celine yang bercampur dengan kue manis itu.
•
•
Albert tiba di kantornya, ia bersama Carolina langsung pergi menuju ruang meeting yang mana disana sudah terdapat Devano.
"Lina, kamu sudah siapkan semuanya kan?" tanya Albert sembari berjalan tergesa-gesa.
"Iya pak, sudah kok. Nanti kita tinggal mulai presentasi aja di depan pak Devano," jawab Carolina.
"Baiklah," ucap Albert singkat.
Sangking terburu-buru nya, Carolina sampai tersandung high heels yang ia kenakan sendiri dan hampir terjatuh ke lantai.
"Eh eh," Albert langsung sigap menangkap tubuh sekretarisnya dan menahan pinggang gadis itu sembari bertatapan cukup lama.
Entah mengapa suasana jantung Carolina tak bisa tenang saat berada di posisi seperti ini, apalagi ia dan Albert bersentuhan secara langsung dari jarak yang terbilang dekat.
Tak hanya Carolina, Albert sendiri juga merasakan hal yang sama. Nampaknya pria itu begitu menikmati momen ini, ia sampai tak beranjak dari menatap wajah sekretarisnya.
"Eee pak, maaf kayaknya bapak harus lepasin saya deh!" ucap Carolina gugup.
"Hah? Oh iya iya.." Albert terkejut dan langsung membantu Carolina berdiri kembali.
"Terimakasih ya pak sudah menolong saya!" ucap Carolina tanpa menatap wajah bosnya.
"Sama-sama, kalo gitu kita lanjut lagi!" ucap Albert.
"Baik pak!" ucap Carolina terus menunduk.
Mereka berdua tampak mengalihkan perhatian untuk tidak lagi memikirkan kejadian tadi, walau sebenarnya jantung keduanya masih terus berdebar kencang.
"Saya ini kenapa ya? Masih terbayang terus momen tadi, apalagi bau parfum Lina itu benar-benar enak." batin Albert.
Sesampainya di ruang meeting, tampak Devano beserta sekretarisnya juga sudah berada disana menunggu kehadiran Albert.
Albert pun langsung masuk, menyapa Devano dan bersalaman dengan pria itu serta sekretarisnya.
"Hai pak Vano! Maaf ya, saya terlambat! Tadi saya harus temani istri saya dulu keluar, sekali lagi saya minta maaf!" ucap Albert merasa tidak enak.
"Ah gapapa pak, saya juga nyantai aja kok gak terlalu terburu-buru. Oh ya, ngomong-ngomong selamat ya atas kelahiran bayinya!" ucap Devano.
"Terimakasih pak!" ucap Albert tersenyum.
"Yasudah, kalau begitu mari kita mulai saja rapat kali ini!" sambungnya.
Devano mengangguk pelan, lalu mereka semua pun terduduk kembali di tempat mereka masing-masing dan mulai melakukan kegiatan mereka disana.
Setelah meeting selesai, kini Albert sendiri yang mengantar Devano menuju ke depan kantor.
"Terimakasih ya Albert! Kamu sudah mau antar saya sampai kesini. Nanti kapan-kapan saya boleh kan mampir ke rumah kamu lagi?" ujar Devano.
"Oh, tentu saja boleh Vano. Buat sohib saya yang luar biasa ini apa sih yang enggak?" ucap Albert.
"Hahaha, bisa saja kamu. Sebenarnya saya pengen ke rumah kamu itu, karena saya mau lihat bayi kamu. Sekalian nantinya saya bawa Nadya kesana, dia itu paling suka sama anak kecil." ucap Devano.
"Iya iya, saya tunggu ya Vano!" ucap Albert tersenyum.
Tak lama kemudian, muncul sebuah taksi yang berhenti tepat di hadapan mereka.
Lalu, keluarlah seorang gadis dari dalam taksi tersebut yang membuat Albert terbengong melihatnya.
"Kak Albert!" gadis itu menyapanya, menambah rasa kebingungan di pikiran Albert.
"Loh kamu..??"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...