
Setibanya di meja makan, tampak hanya ada Chelsea disana yang tengah menikmati sarapannya sembari bermain ponsel.
"Loh Chelsea, mama mana? Kok gak ikut sarapan disini?" tanya Albert heran.
Melihat kakaknya muncul bersama Nadira dan saling merangkul, Chelsea pun tampak senang. Gadis itu langsung berdiri menatap mereka berdua dengan mulut menganga.
"Wah! Kak Albert sama mbak Nadira udah baikan nih? Gak berantem lagi kan?" ujar Chelsea.
"Iya dong Chelsea, kita mah gak pernah marahan lama-lama. Kita ini kan saling mencintai, jadi kita gampang baikannya." jawab Albert tersenyum.
"Oh, syukur deh kak!" ucap Chelsea.
Albert dan Nadira pun duduk disana berdampingan, Nadira mengambil piring kosong dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
"Tadi kakak kan tanya soal mama, kemana mama? Kok gak sekalian sarapan disini?" tanya Albert.
"Mama lagi dandan tuh kak, tadi sih udah sarapan duluan disini." jawab Chelsea.
"Hah? Dandan? Emangnya mama mau kemana, pagi-pagi begini udah dandan aja?" tanya Albert terheran-heran.
"Tadi sih bilangnya mau ada arisan sama teman-temannya, biasalah ibu-ibu doyannya yang begituan." jawab Chelsea sambil nyengir.
"Mas, ini sarapan buat kamu!" ucap Nadira.
"Ah iya, makasih sayang!" ucap Albert tersenyum.
"Aduh aduh, yang baru baikan jadinya mesra banget deh! Aku gak dianggap deh disini, berasa nyamuk." ujar Chelsea.
"Hahaha, makanya Chelsea kamu buruan tuh minta Keenan buat nikahin kamu! Jadi, kamu bisa dah tuh mesra-mesraan juga kayak kita." ucap Albert.
"Yeh aku juga pengennya begitu kak, tapi kan semuanya tergantung Keenan sendiri. Kalau misal Keenan belum siap, aku bisa apa kak?" ucap Chelsea.
"Yaudah, nanti kamu bicarain aja coba sama si Keenan itu!" saran Albert.
"Iya deh kak, tapi aku rasa kayaknya belakangan ini Keenan itu sikapnya beda deh sama aku. Dia udah jarang banget kabarin aku, kalau aku gak chat duluan dia pasti gak pernah chat aku. Telpon aja gak pernah sama sekali," ucap Chelsea.
"Eee mungkin aja Keenan lagi sibuk, kamu kan tau dia asisten kakak dan dia banyak kerjaan dari kakak." kata Albert.
"Tapi kak, kalau cuma sibuk doang sih gapapa. Masalahnya ini dia tuh cuek banget sama aku, aku jadi curiga deh sama dia." ucap Chelsea.
"Curiga kenapa coba?" tanya Albert bingung.
"Aku curiga kalau Keenan udah berpaling ke lain hati, dia gak cinta sama aku lagi. Soalnya dia beda banget gak kayak dulu." jawab Chelsea.
"Gak boleh mikir gitu! Nanti kalau kejadian beneran gimana hayo?" ujar Albert.
"Iya Chelsea, menurut aku gak mungkin loh Keenan kayak begitu. Dia itu baik kok, dan kelihatannya dia juga cinta banget sama kamu." ucap Chelsea.
"Itu dulu mbak, sekarang mah kayaknya udah enggak. Buktinya Keenan juga jadi beda banget sama aku sikapnya," ucap Albert.
"Udah Chelsea, jangan mikir yang enggak-enggak dulu! Nanti coba kamu tanyain aja langsung ke dia pas kalian ketemu!" ucap Albert.
"Iya kak.." ucap Chelsea pelan.
Tak lama kemudian, Abigail muncul disana menemui mereka bertiga dan tampak sudah rapih berpakaian serta wangi.
"Pagi anak-anak mama semua!" ucap Abigail.
"Eh eh, mama cantik banget nih! Mau kemana sih mamaku ini?" ujar Albert.
"Halah bisa aja kamu Bert! Mama mau ke arisan nih bareng teman mama. Eh ya, kalian berdua udah baikan kan? Gak ada masalah lagi atau berantem lagi kayak kemarin?" ucap Abigail.
"Gak ada dong mah, kita berdua tuh udah baikan. Nadira juga gak marah lagi kok sama aku, ya kan sayang?" ucap Albert merangkul istrinya.
"Iya mas," ucap Nadira tersenyum manis.
"Bagus deh! Semoga kalian gak ada masalah lagi ya sayang!" ucap Abigail.
"Aamiin!" ucap Albert.
"Tergantung dari kak Albert nya tuh mah, kan kak Albert yang sering bikin masalah." cibir Chelsea.
"Heh!" tegur Albert.
"Mas, yang dibilang Chelsea benar kok. Selama ini yang selalu bikin masalah kan kamu, siapa suruh kamu deket banget sama Vanesa!" ujar Nadira.
"Iya iya, aku kan udah janji sama kamu kalau aku gak bakal begitu lagi sayang!" ucap Albert.
"Yaudah sayang, kalian kayak gini terus ya jangan berantem lagi! Mama mau pergi dulu, kamu mau ikut sama mama gak Nadira?" ucap Abigail.
"Loh mah, jangan dong! Kalau Nadira ikut pergi, terus aku sama siapa?" ucap Albert.
"Ya ampun Albert! Masa cuma pergi sebentar aja gak boleh? Lagian kamu kan juga harus ke kantor, emangnya kamu gak mau kerja, ha?" ucap Abigail.
"Kerja sih mah, tapi kan bukan sekarang. Mama kayak gak tahu aja, aku ini gak bisa jauh dari Nadira barang satu menit." ucap Albert.
"Ah lebay kamu mas!" ujar Nadira.
"Hehe, emangnya kamu mau ikut apa sama mama? Itu kan arisan ibu-ibu, nanti kalau kamu gak ngerti apa-apa gimana hayo?" ucap Albert.
__ADS_1
"Iya sih mas, kalo gitu aku gak mau ikut deh. Aku di rumah aja sama Chelsea," ucap Nadira.
"Oh gitu, yaudah kamu baik-baik ya di rumah! Mama pergi dulu sebentar." ucap Abigail.
"Iya mah," ucap Nadira tersenyum.
"Hati-hati mah!" ucap Albert dan Chelsea.
Abigail pun pergi dari rumahnya untuk segera menuju tempat arisan bersama teman-temannya disana.
β’
β’
Carolina pergi menemui seorang pria yang sedari tadi menunggu Albert di kantornya.
Selaku sekretaris Albert, gadis itu pun bermaksud membantu si pria untuk mengantar pria itu ke ruangan Albert.
"Permisi pak! Saya Carolina, sekretaris pak Albert. Saat ini pak Albert masih belum datang ke kantor, tapi sebentar lagi mungkin beliau akan sampai. Bapak bisa ikut saya ke ruangan pak Albert dan menunggu disana sesuai perintah beliau," ucap Carolina.
"Ah iya, kebetulan Albert juga sudah bilang sama saya kalau dia minta saya menunggu di ruangannya. Baiklah, tolong antar saya ke ruangan Albert ya Carolina!" ucap pria itu.
"Baik pak, mari!" ucap Carolina.
Pria itu tersenyum singkat, lalu bangkit dari duduknya dan pergi bersama Carolina menuju ruangan Albert.
Sesampainya disana, Carolina langsung mempersilahkan pria itu untuk duduk sembari menunggu Albert datang.
"Silahkan duduk dulu pak!" ucap Carolina.
"Iya, terimakasih Carolina!" ucap pria itu.
"Eee sama-sama, pak. Oh ya, bapak mau minum apa?" tanya Carolina.
"Apa aja, tapi kalo bisa kopi hitam." jawab pria itu.
"Baik pak! Mohon ditunggu sebentar ya!" ucap Carolina.
"Ya,"
Carolina pun keluar dari sana, menemui ob untuk minta dibuatkan minuman sekaligus coba menghubungi Albert dan memberitahu jika pria yang ingin menemuinya sudah tiba disana.
"Galang, kamu tolong buatkan minuman ya untuk pak Albert dan tamunya di dalam! Tamunya minta kopi hitam, kalau pak Albert kamu buatkan saja minuman seperti biasa yang beliau minta!" ucap Carolina.
"Baik Bu!" ucap ob itu menurut.
π"Halo pak!" ucap Carolina pelan.
π"Ya halo! Ada apa Lina?" tanya Albert.
π"Maaf pak! Saya hanya ingin sampaikan kalau tamu bapak sudah tiba, saya sudah mengantar beliau ke ruangan bapak." jawab Carolina.
π"Oh begitu, ya ya ini saya juga sudah di jalan kok menuju kesana. Tolong kamu temani dulu beliau ya, jangan sampai dia merasa bosan karena menunggu saya!" ucap Albert.
π"Iya pak, baik! Saya akan kembali ke ruangan bapak untuk menemani beliau," ucap Carolina.
π"Yasudah, sampaikan juga ke dia kalau saya sebentar lagi akan tiba disana!" pinta Albert.
π"Siap pak!" ucap Carolina.
π"Okay, terimakasih ya Lina! Kalo gitu sekarang saya tutup dulu telponnya, terimakasih atas infonya!" ucap Albert.
π"Sama-sama, pak." kata Carolina.
Tuuutttt tuuutttt...
Albert memutus telponnya, Carolina pun menghela nafas lalu berbalik dan kembali ke ruangan Albert.
"Tadi nama tamunya pak Albert siapa ya? Aku lupa tanya sama dia, terus gimana ya aku tegur dia? Masa iya aku panggil woi woi atau heh? Gak sopan banget dong, nanti aku bisa dicap buruk sama tamunya pak Albert itu!" batin Carolina.
Ceklek...
Carolina membuka pintu, masuk kembali ke dalam ruangan Albert dan menemui sosok pria yang sudah memiliki janji dengan Albert itu.
"Permisi pak! Saya ditugaskan pak Albert untuk menemani bapak disini, siapa tahu bapak bosan atau butuh apa-apa, jadi bapak bisa bilang saja ke saya." ucap Carolina.
"Ah iya, terimakasih! Untuk kali ini saya hanya ingin tahu, Albert dimana ya? Dia sudah sampai atau belum?" ucap pria itu.
"Eee maaf pak! Untuk itu, pak Albert belum sampai kesini. Tapi, barusan saya hubungi beliau dan beliau bilang sebentar lagi akan sampai." jawab Carolina.
"Baguslah, saya tunggu." kata orang itu.
"Oh ya pak, maaf sebelumnya! Nama bapak siapa ya?" tanya Carolina.
Pria itu langsung menatap bingung ke arah Carolina, membuat Carolina merasa tidak enak dan mengira pria itu tersinggung dengannya.
"Sa-saya minta maaf pak kalau saya lancang! Saya hanyaβ"
"Tidak apa, nama saya Devano Alexander. Kamu bisa panggil saya pak Vano, orang-orang juga mengenal saya dengan sebutan itu." ucap pria itu memotong ucapan Carolina.
__ADS_1
"Ohh, jadi anda ini yang namanya pak Devano? Maaf ya pak, saya gak tahu kalau bapak ternyata pak Devano! Abisnya penampilan bapak gak seperti ceo ceo terkenal lainnya, jadi saya kira bapak bukan pak Devano." ucap Carolina.
"Gapapa, wajar kok." ucap Devano tersenyum.
Carolina tersenyum lebar, ia berusaha menutupi rasa malunya dengan memalingkan wajah dan tidak mau menatap Devano secara langsung.
β’
β’
Celine berusaha mencegah Keenan yang hendak pergi dari rumahnya, gadis itu mencekal lengan Keenan dan meminta pria itu tetap disana.
"Bang, abang disini aja dong! Lagian abang mau kemana sih buru-buru amat?!" ujar Celine.
"Kamu kenapa sih? Biasanya juga kalo ditinggal kerja sama abang, kamu gak kenapa-napa tuh. Kok sekarang kamu malah jadi manja begini?" tanya Keenan keheranan.
"Ya abisnya abang gak mau kasih tahu ke aku kemana abang mau pergi, jadinya kan aku penasaran tau. Makanya abang kasih tahu dong, supaya aku juga bisa tenang!" ucap Celine.
"Aduh sayang! Abang kan udah bilang tadi, abang mau ada urusan sebentar di luar. Nanti kalau urusannya udah selesai, pasti abang balik lagi kok. Kamu di rumah aja dulu jangan kemana-mana, nanti kita jalan-jalan deh!" ucap Keenan.
"Ah abang bohong! Aku gak percaya sama abang!" ucap Celine.
"Kok gitu sih? Percaya dong sayang, abang ini gak pernah bohong loh sama kamu!" ucap Keenan.
"Hilih kata siapa gak pernah?! Yang ada tuh abang selalu bohongin aku, makanya aku gak pernah percaya sama abang lagi!" ucap Celine ketus.
"Yaudah, tapi kali ini beneran kok abang gak bohong. Kamu mau kemana nanti? Abang pasti bakal turutin kemauan kamu!" ucap Keenan.
"Eee aku mau ke kota tua," jawab Celine.
"Hah? Mau ngapain kesana? Gak ada tempat lain apa yang pengen kamu datangin? Yang agak bagusan dikit gitu loh, masa kotu sih?" ujar Keenan tak percaya.
"Ih itu udah bagus tau bang! Aku pengen kesana sama abang, disana tuh seru tau buat jalan-jalan berduaan gitu!" ucap Celine.
"Apa iya?" tanya Keenan.
"Iya abang, emangnya kenapa sih? Abang gak mau ya jalan berdua sama aku kesana? Oh pasti abang maunya mah sama Chelsea, ya kan?" ujar Celine.
"Enggak dong, abang justru lebih pengen berduaan sama kamu dibanding Chelsea." ucap Keenan sambil mencolek dagu adiknya.
"Halah nipu! Palingan ini abang mau temuin Chelsea kan?" ucap Celine.
"Gak kok, abang ini mau cek perkembangan pencarian Cakra. Yaudah ya sayang, abang harus pergi sekarang! Kamu siap-siap aja dulu, mandi biar wangi terus pakai baju yang seksi!" ucap Keenan.
"Idih masa pake baju seksi? Gak mau ah aku!" ucap Celine menolak.
"Hehe, bercanda kok. Terserah kamu aja mau pake baju apa kek, kamu juga pasti bakal tetap cantik kok!" ucap Keenan tersenyum.
"Iya iya abang..." ucap Celine.
"Okay, abang pergi dulu ya?" ucap Keenan menyodorkan tangannya ke arah Celine.
Celine mengangguk sambil tersenyum, lalu mencium tangan abangnya dan melambai ke arah Keenan.
"Bye bang!" ucap Celine.
"Bye sayang!" balas Keenan.
Keenan pun masuk ke mobilnya, melaju pergi dari sana dengan kecepatan tinggi.
Sementara Celine kembali ke dalam rumahnya, ia masih terus memikirkan sikap abangnya yang menurutnya terlalu berlebihan dan tidak seperti sikap seorang abang kepada adiknya.
"Bang Ken itu sebenarnya kenapa ya? Dia tuh kayak seakan-akan anggap gue ini istrinya, bukan adiknya." gumam Celine.
β’
β’
Singkat cerita, Keenan telah sampai di tempat kejadian kecelakaan Cakra. Ia langsung menghampiri para petugas yang tengah melakukan pencarian untuk bertanya mengenai Cakra.
"Pak, bagaimana perkembangan pencarian korban? Apa sudah ada titik temu?" tanya Keenan.
"Belum pak, kami belum berhasil menemukan jasad korban dikarenakan kondisi tempat ini yang terlalu curam dan berbahaya." jawab petugas itu.
"Aduh! Terus gimana dong ini?" ujar Keenan.
"Tapi pak, kami berhasil mendapatkan kartu identitas milik korban saat kami sedang melakukan pencarian. Ini dia pak," ucap petugas itu memberikan KTP milik Cakra kepada Keenan.
"Hah? Iya iya, benar ini milik korban pak. Kalau begitu berarti seharusnya jasad korban tidak terlalu jauh dong pak dari tempat ditemukannya KTP ini," ucap Keenan.
"Iya pak, kami juga terus berupaya mencari jasad korban di sekitar sini. Ya semoga saja ada titik terang mengenai keberadaan jasad korban!" ucap petugas itu.
"Aamiin aamiin!" ucap Keenan panik.
"Ya Tuhan, permudah lah proses pencarian ini!" batin Keenan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1