Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Keenan & Nadira


__ADS_3

Keenan dan Nadira sampai di rumah sakit untuk memeriksakan wajah wanita itu, tampak dokter ahli yang dikatakan Keenan telah selesai memeriksa kondisi wajah Nadira.


"Bagaimana dok?" tanya Nadira.


"Eee dari pemeriksaan saya, sepertinya anda salah menggunakan bedak! Ini adalah efek dari bubuk yang cukup berbahaya, bubuk itu bisa saja membuat wajah anda rusak dan tidak dapat kembali seperti semula jika terus digunakan! Tapi untungnya, disini saya lihat hanya terdapat sedikit bubuk itu wajah anda!" jawab dokter itu.


"Apa dok? Tapi, saya tadi cuma pakai bedak kecantikan yang dibeli suami saya!" ujar Nadira.


"Eee boleh saya lihat merk bedaknya, Bu?" tanya dokter itu.


"Duh, saya gak bawa sih bedak itu. Soalnya saya gak berpikir kalau gatal-gatal saya ini karena bedak itu, lagian mana mungkin suami saya tega melakukan itu ke saya, dok?" ucap Nadira.


"Saya juga tidak menyalahkan suami anda, tetapi memang begitu adanya, bahwa wajah anda seperti ini karena pengaruh bubuk yang berbahaya! Mungkin saja anda salah memakai bedak, atau mungkin ada orang iseng yang menukar bedak itu dengan bubuk berbahaya!" ucap dokter itu.


"Kalau saya sih gak mungkin salah, dok. Karena bedak punya saya tuh cuma satu, nah kalau kemungkinan yang kedua itu bisa aja terjadi! Tapi, siapa coba yang iseng tukar bedak saya sama bubuk berbahaya kayak gitu?" ucap Nadira.


Dokter itu hanya menggeleng sambil menaikkan kedua bahunya, sedangkan Keenan menunduk berpikir siapa pelakunya.


"Umm, Bu sebaiknya kita pikirkan ini nanti! Saya akan coba menyelidiki masalah ini!" ucap Keenan.


"Kamu apaan sih, pak Ken? Kok panggil saya ibu? Emang kamu pikir saya ini udah ibu-ibu? Saya kan masih muda, baru delapan belas tahun!" ujar Nadira ketus.


"Eee maaf! Maksud saya non," ucap Keenan.


"Yaudah, terus gimana ini sama muka saya? Kalau sampai tuan Albert lihat, bisa gawat! Dia pasti marah banget sama saya!" ujar Nadira cemas.


"Bu Nadira benar-benar peduli banget sama tuan Albert, dia sampai takut tuan Albert marah kalau melihat kondisi wajahnya! Tapi, memang betul sih apa yang dicemaskan sama Bu Nadira sekarang! Tuan Albert pasti bakal marah dan bisa saja mengusir Bu Nadira, karena tuan menikahi Bu Nadira dengan alasan wajahnya yang cantik serta tubuhnya yang seksi!" batin Keenan.


Lalu, sang dokter yang masih ada disana coba membantu Nadira menyelesaikan masalahnya.


"Tenang Bu! Saya akan berikan resep obat yang bisa anda tebus di apotik nanti, ya semoga saja obat itu dapat menghilangkan rasa gatal dan panas di wajah anda!" ucap dokter itu.


"Iya dok, baik! Saya mau segera dapat obat itu, saya udah gak tahan sama rasa gatalnya ini! Kalau boleh, saya pasti udah garuk-garuk daritadi!" ujar Nadira.


"Jangan Bu, itu bahaya! Nantinya bintik-bintik merah itu akan semakin banyak, sebaiknya anda tahan dulu! Nanti saya berikan obat yang terdiri dari salep dan juga obat yang bisa diminum oleh ibu, supaya rasa gatal dan bintik-bintik itu bisa hilang!" ucap dokter.


"Baik dok!" ucap Nadira.


Setelahnya, Nadira pun beranjak dari ranjang tempatnya berbaring tadi. Keenan berusaha membantunya, namun Nadira melarang sehingga pria itu kembali ke tempatnya.


Sementara dokter itu menulis resep untuk ditebus oleh Nadira di apotik, lalu memberikannya pada Nadira agar wanita itu bisa mendapatkan obat nantinya.


"Yaudah, ayo pak Ken kita pergi dari sini!" ucap Nadira.


"Siap non!" ucap Keenan.


"Nah, ini resep yang saya buatkan untuk ditebus oleh Bu Nadira di apotik nanti!" ucap dokter itu.


"Iya dok, terimakasih!" ucap Nadira.


"Sama-sama, Bu!" ucap dokter itu.


Nadira pun berdiri dan memakai jaketnya kembali, lalu melangkah pergi bersama Keenan menuju ke apotik pada rumah sakit itu untuk menebus obatnya.




"Mbak, saya mau tebus obat ini ya?" ucap Nadira menyerahkan resep dari dokter tadi.


"Baik mbak, ditunggu ya!" ucap pegawai disana.


"Iya mbak,"


Setelah menyerahkan resep itu, Nadira pun kembali mendekati Keenan dan duduk di kursi dekat sana masih berusaha menutupi kondisi wajahnya agar tak terlihat oleh orang di sekitar.


Keenan yang tengah bersandar di samping Nadira, merasa terkekeh melihat kelakuan Nadira.


"Non, udah gak perlu ditutupin terus kayak gitu! Gak kelihatan juga kok bintik merahnya, biasa aja non santai!" ucap Keenan tersenyum.


"Sssttt! Ish, jangan keras-keras ngomongnya! Nanti kalau orang-orang pada dengar gimana?" ujar Nadira.


"Ahaha, iya non iya saya diem kok! Lagian bener yang tadi saya bilang non, gak bakal ada yang lihat dan tahu kondisi muka non Dira! Nih ya non, walau muka non kayak gitu, non Dira tetap kelihatan cantik kok non!" ucap Keenan menghibur Nadira.

__ADS_1


Nadira terdiam memalingkan wajahnya, jujur ia tersipu setelah mendapat pujian dari Keenan dan tak mau menunjukkan ekspresi itu pada si pria karena takut jika nantinya Keenan kembali tertawa.


"Oh ya, sekarang jam berapa ya?" tanya Nadira.


"Eee udah mau jam sebelas siang, non. Emang kenapa ya non?" jawab Keenan santai.


"Waduh, saya harus buru-buru pulang!" ujar Nadira.


"Loh loh, ada apa sih non? Obatnya juga belum jadi, masa udah mau pulang aja? Sabar dulu non, kita tunggu sebentar lagi!" ucap Keenan.


"Haish, Saya udah punya rencana mau kasih makan siang buat tuan Albert! Kalau saya masih disini, gimana caranya saya bisa bawain makan siang itu, pak Ken?" ujar Nadira.


"Oh begitu, tapi non obatnya ditunggu dulu dong! Emang non mau mukanya kayak gitu terus?" ujar Keenan.


"Iya juga ya," ucap Nadira lemas.


Tak lama kemudian, pegawai yang bekerja di bagian apotik itu muncul kembali dan memanggil nama Nadira.


"Atas nama mbak Nadira?" ujarnya agak keras.


"Iya saya," jawab Nadira.


Nadira beranjak dari kursi, lalu melangkah mendekat ke tempat pengambilan obat itu.


"Ini dia mbak, salep dan antiobiotik nya! Diminum sesuai petunjuk ya, mbak? Untuk salepnya, ini dioleskan setiap tiga kali sehari dan sehabis mandi pada bintik-bintik merah di wajah mbak!" jelas pegawai itu.


"Baik mbak, terimakasih!" ucap Nadira.


"Sama-sama, mbak!"


Nadira pun membawa obat-obatan itu, sedangkan Keenan tampak menghampiri Nadira untuk mengantar wanita itu pulang ke rumah.


"Non, non mau langsung pulang atau mampir kemana dulu?" tanya Keenan.


"Kamu ini kenapa sih, pak Ken? Mau bikin saya dimarahin sama tuan Albert apa gimana? Kan situ tahu sendiri, tuan Albert gak bolehin saya pergi kemana-mana!" tegas Nadira emosi.


"Sa-sabar non, tenang! Saya kan cuma inisiatif aja buat ajak non Dira pergi kemana dulu gitu, tapi kalau non Dira gak mau karena takut dimarahin tuan Albert, ya gapapa non kita pulang aja langsung ke rumah!" ucap Keenan nyengir.


"Iya, kita pulang ya pak Ken! Aku mau siapin makan siang buat diantar ke kantor tuan Albert, buruan kita ke parkiran!" ucap Nadira.


"Umm, saya gak ada tujuan apa-apa kok. Saya cuma mau bikin senang suami saya, emangnya itu salah ya? Lagian kan saya belum pernah masakin tuan Albert sebelumnya, gapapa dong?" jawab Nadira.


"Iya sih, gapapa. Ya cuma saya heran aja gitu, padahal tuan Albert selalu jahat dan kejam sama non Dira, tapi kenapa non masih baik aja sama tuan Albert? Hati non Dira terbuat dari apa sih, non?" ujar Keenan terheran-heran.


"Ya emang benar yang kamu bilang itu, tuan Albert kejam dan selalu siksa saya! Bahkan dia udah rusak hidup saya, terus pisahin saya dari kedua orang tua saya! Masa depan saya sirna karena dia, tapi mau bagaimanapun tuan Albert sekarang sudah resmi jadi suami saya, jadi sebagai seorang istri saya harus berusaha untuk membujuk tuan Albert! Siapa tahu kan lambat laun hati tuan Albert bisa luluh?" ucap Nadira sambil tersenyum.


"Wah emang dah non Dira ini luar biasa, saya salut sama tekad non Dira! Ya semoga aja deh tuan Albert bisa luluh nantinya, terus gak kasar lagi sama non Dira!" ucap Keenan.


"Aamiin! Yaudah, yuk kita pulang!" ucap Nadira.


"Siap non!"




Mbok Widya tampak kebingungan mencari keberadaan Nadira kesana-kemari, ia tak kunjung juga mendapatkan dimana Nadira berada walau sudah menyusuri satu rumah.


Padahal sebelumnya Nadira sudah berkata ingin membawakan makan siang untuk Albert ke kantornya, namun ketika mbok Widya memasak makanan sampai selesai, Nadira tak muncul juga menemuinya.


"Aduh, ini gimana ya? Makanannya udah pada siap, tapi non Dira malah gak ada!" gumam mbok Widya.


Akhirnya mbok Widya bertemu dengan Liam yang nampaknya hendak mengambil minuman di dapur, ia pun mendekati Liam dan bertanya padanya mengenai keberadaan Nadira.


"Eh eh Liam, kamu tahu gak non Dira dimana? Saya udah keliling-keliling cari, tapi gak ketemu juga sama non Dira!" tanya mbok Widya.


"Ohh, iya tahu mbok!" jawab Liam.


"Nah bagus! Terus, non Dira dimana sekarang?" tanya mbok Widya lagi.


"Lagi ke rumah sakit sama pak Keenan," jawab Liam.


"Hah? Rumah sakit? Mau ngapain non Dira ke rumah sakit, pak? Emangnya siapa yang sakit?" ujar mbok Widya bertanya penuh penasaran.

__ADS_1


"Iya mbok, tadi non Dira tiba-tiba ngerasa gatal dan panas di bagian mukanya. Terus pak Keenan nyaranin buat pergi ke dokter ahli wajah, yaudah deh mereka langsung berangkat!" jelas Liam.


"Walah kok bisa sih non Dira wajahnya jadi kayak gitu? Emangnya apa yang terjadi sama non Dira tadi, pak?" tanya mbok Widya heran.


"Nah, kalo yang itu saya juga kurang tahu mbok! Soalnya tadi non Dira bilang katanya cuma pake bedak dari tuan Albert, terus gak lama wajahnya langsung jadi gatal-gatal dan panas kayak gitu mbok!" jawab Liam.


"Aduh, kasihan sekali non Dira! Tapi, kayaknya gak mungkin ini ulah tuan Albert! Sejahat-jahatnya tuan Albert sama non Dira, masa iya sih dia sampai tega lukain non Dira kayak gitu?" ucap mbok Widya.


"Saya juga yakin mbok, ini pasti bukan ulah tuan Albert! Tapi, ada orang lain yang gak suka sama non Dira dan pengen wajah non Dira jadi rusak!" ucap Liam.


"Maksud kamu? Siapa emangnya?" tanya mbok Widya.


"Eee..."


"Mbok!"


Tiba-tiba saja seorang wanita berteriak dari arah tangga, ya itu adalah Chelsea yang baru keluar dari kamarnya dan hendak turun ke bawah.


Sontak mbok Widya serta Liam pun terkejut dan langsung menoleh ke arah Chelsea.


"Non Chelsea? Ada apa non?" tanya mbok Widya.


"Lagi pada ngobrolin apa sih? Kok kayaknya panik banget kayak gitu?" ujar Chelsea penasaran.


"Eee anu non, kita lagi bahas non Dira yang wajahnya jadi gatal dan panas setelah pakai bedak dari tuan Albert!" ucap mbok Widya.


"Hah? Kok bisa?" ujar Chelsea pura-pura kaget.


"Iya non, saya juga kurang tahu cerita pastinya, ini aja saya baru dikasih tahu sama si Liam!" ucap Widya.


"Ohh, terus sekarang Nadira nya kemana, mbok?" tanya Chelsea.


"Eee lagi ke rumah sakit, diantar sama pak Keenan buat periksa wajahnya!" jawab mbok Widya.


"Apa??"


Raut wajah Chelsea tampak berubah, dari yang awalnya senang menjadi kesal. Ya gadis itu geram karena ternyata pacarnya sendiri yang mengantar Nadira berobat ke rumah sakit.


"Ish, ngapain sih Keenan pake anterin tuh cewek? Padahal gue kan pengennya Nadira gausah diobatin, biar aja muka dia rusak!" gumam Chelsea dalam hati.




Nadira turun dari mobil Keenan, ia berjalan masuk begitu saja melewati beberapa penjaga di dekatnya sambil terus menunduk berusaha menutupi wajahnya yang semakin memburuk itu.


Ia sudah tak tahan lagi, ingin segera memakai salep pemberian dokter untuk bisa mengobati gatal pada area wajahnya, itu sebabnya ia langsung menuju kamarnya begitu turun dari mobil Keenan.


Keenan pun menyusul turun dari mobil, ia berusaha mengejar Nadira, tapi tidak berhasil karena wanita itu sudah jauh dan ponselnya berdering membuat ia harus berhenti sejenak disana mengangkat telepon.


"Tuan Albert?" gumamnya.


📞"Halo tuan! Ada apa?" ucap Keenan.


📞"Ken, kamu lagi dimana sekarang?" tanya Albert dengan sedikit ketus.


📞"Sa-saya masih di rumah anda, tuan. Memangnya kenapa ya?" jawab Keenan agak gugup.


📞"Gapapa, saya cuma mau kasih kabar ke kamu kalau kamu gak perlu jemput saya! Karena saya masih ada meeting di luar, nanti pulangnya saya bisa sewa taksi atau naik mobil kantor!" ucap Albert.


📞"Oh begitu, siap bos!" ucap Keenan.


📞"Yasudah, saya titip Chelsea sama kamu! Jaga dia jangan sampai dia kenapa-napa! Saya tahu, kamu pasti mau ajak dia jalan-jalan kan?" ujar Albert.


📞"Eee rencananya sih begitu tuan, tapi terhambat karena saya harus mengantar non Nadira ke rumah sakit!" ucap Keenan.


📞"Apa? Rumah sakit?" ujar Albert kaget.


Keenan spontan menutup mulutnya, ia baru teringat pesan Nadira untuk tidak memberitahu pada Albert mengenai kondisi wajah wanita itu. Kini ia pun kebingungan, tak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Albert yang sudah terlanjur tahu bahwa ia baru saja mengantar Nadira ke rumah sakit.


"Mampus saya! Ini kenapa sih mulut ceroboh banget?" gumam Keenan dalam hati.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2