Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Melahirkan


__ADS_3

Tuuutttt tuuutttt...


Telpon telah terputus, Keenan pun merasa panik dan mulai coba menghubungi nomor Albert.


Akan tetapi, seperti tadi yang Chelsea lakukan kini Keenan juga tidak bisa menghubunginya.


"Duh, gak diangkat lagi!" ujarnya.


"Bang, siapa yang tadi telpon?" tanya Celine yang tiba-tiba muncul dari depan.


"Eh kamu sayang, ini barusan Bu Abigail telpon dan kasih tahu ke aku kalau Bu Nadira udah mau melahirkan. Aku diminta buat hubungi tuan Albert, tapi nomornya gak aktif. Makanya sekarang aku bingung harus apa," jelas Keenan.


"Oalah, jadi Nadira udah mau lahiran? Kalo gitu berarti kamu harus ikut kesana dong temenin mereka?" tanya Celine.


"Ya sepertinya begitu, tapi paling awal aku harus cari tuan Albert dulu. Biar gimanapun, Bu Nadira itu kan istrinya dan tuan Albert harus ada di samping Bu Nadira saat ini." jawab Keenan.


"Abang mau cari kak Albert kemana?" tanya Celine.


"Entahlah, tapi aku coba telpon Carol deh sekretaris tuan Albert. Sebentar ya sayang!" ucap Keenan sambil mengusap wajah adiknya.


"Iya bang," ucap Celine tersenyum singkat.


Keenan pun mulai menghubungi Carolina, ia berharap gadis itu tahu dimana Albert berada.


📞"Halo Carol!" ucap Keenan.


📞"Iya pak, ada apa ya?" tanya Carolina heran.


📞"Eee tuan Albert masih ada di kantor gak sekarang? Saya ada urusan penting nih sama beliau," ujar Keenan.


📞"Ohh, barusan sih pak Albert memang ada disini. Tapi, tadi baru aja pak Albert pamit ke saya mau pergi keluar. Katanya sih ada urusan penting yang gak bisa ditunda," ucap Carolina.


📞"Kira-kira kamu tahu gak tuan Albert pergi kemana?" tanya Keenan penasaran.


📞"Kalau soal itu, saya gak tahu pak. Soalnya tadi pak Albert juga gak bilang apa-apa ke saya, beliau cuma bilang ada urusan penting." jawab Carolina.


📞"Oh gitu ya, waduh saya harus cari tuan Albert kemana ya ini?!" ucap Keenan.


📞"Umm, mau saya bantu cari pak? Saya akan coba hubungi beberapa kolega perusahaan, siapa tahu tuan Albert sedang bersama mereka." usul Carolina.


📞"Ya ya, boleh boleh. Nanti kamu kabarin saya lagi ya kalau kamu berhasil dapat informasi tentang keberadaan tuan Albert!" ucap Keenan.


📞"Baik pak!" ucap Carolina.


📞"Yasudah, terimakasih! Kalau gitu saya tutup dulu telponnya ya?" ucap Keenan.


📞"Iya pak," ucap Carolina.


Tuuutttt....


Keenan menutup telponnya, lalu berpikir keras bagaimana untuk menghubungi atau menemui Albert dan mengatakan semuanya.


"Bang, gimana? Sekretarisnya kak Albert tahu dimana kak Albert sekarang?" tanya Celine.


"Dia juga gak tahu, makanya aku bingung harus apa sekarang." jawab Keenan.


"Kalo gitu kita mending ke rumah sakit dulu aja bang, soal kak Albert mah nanti aja coba ditelpon lagi siapa tahu udah bisa." kata Celine.


"Oh iya benar juga, kalo gitu aku siap-siap dulu deh buat kesana." ujar Keenan.


"Aku juga bang," ucap Celine.


"Loh, emangnya kamu mau ikut?" tanya Keenan.


"Iyalah bang, masa aku sendirian disini? Aku juga pengen tahu kali kondisi kak Nadira yang lagi lahiran," jawab Celine.


"Yaudah, kamu siap-siap yang cepat jangan lama-lama! Gausah pake dandan, kamu itu udah cantik!" ucap Keenan.


"Iya bang," ucap Celine tersenyum tipis.


Keenan mencubit dua lesung pipi sang adik, kemudian pergi begitu saja menuju kamarnya.


Singkatnya, mereka telah sama-sama berganti pakaian dan siap untuk pergi.


"Gimana? Udah siap kan?" tanya Keenan.


"Udah dong bang, aku cantik kan?" jawab Celine sambil memutar tubuhnya.


"Iya iya, cantik kok. Malahan bukan cantik aja, tapi cantik banget. Kamu juga wangi, aku makin suka!" ucap Keenan langsung merangkul adiknya.


"Yaudah, ayo bang kita pergi!" ucap Celine.


"Oke!"


Mereka pun melangkah bersamaan menuju pintu sambil saling menempel satu sama lain.


Namun, saat mereka hendak keluar tiba-tiba saja di depan rumah mereka sudah ada segerombolan orang yang berseragam polisi.


Ceklek...


"Selamat siang, saudara Keenan!"


"Hah?" Keenan terkejut dan menganga lebar melihat kehadiran polisi-polisi itu di depan rumahnya.


•


•


"Awhh awwsss sshh..." Vanesa terus merintih sembari mencengkram tangan Albert.


"Sabar ya Vanesa! Ini kita kan udah di rumah sakit, kamu pasti bisa!" ucap Albert.

__ADS_1


Vanesa mengangguk saja, ia kembali memejamkan mata dan berdoa untuk keselamatannya serta bayi di dalam kandungannya.


Saat mereka hendak masuk ke ruang persalinan, sang perawat yang bersama mereka melarang Albert untuk ikut masuk kesana.


"Maaf pak! Bapak tidak boleh masuk ke dalam! Sebaiknya bapak menunggu disini saja ya!" ucap perawat itu.


"Tapi, kenapa sus?" tanya Albert heran.


"Iya pak, memang begitu peraturannya disini. Biar kami yang mengurusi semuanya ya pak, mohon bapak tunggu disini!" jawab perawat itu.


"Oh oke, saya tunggu disini." kata Albert.


"Terimakasih atas pengertiannya ya pak, permisi!" ucap perawat itu.


"Ya," ucap Albert mengangguk singkat.


Perawat itu pun pergi menutup pintu dan ikut membantu proses persalinan Vanesa, sedangkan Albert tetap menunggu disana dengan cemas.


Vanesa merasa heran lantaran Albert tidak ikut bersamanya di dalam sana, ia pun menatap para suster di dekatnya untuk bertanya.


"Eee sus, suami saya mana ya? Kok dia gak ikut?" tanya Vanesa.


"Maaf ya Bu! Tapi, suami ibu tidak diperbolehkan masuk. Beliau harus menunggu di luar selama proses persalinan ibu," jawab suster itu.


"Tapi sus—"


"Sebentar ya Bu, sebaiknya ibu fokus dulu dengan bayi ibu ini!" potong suster itu.


"Iya sus iya.." ucap Vanesa pasrah.


Dua orang perawat itu pun mulai sibuk melakukan proses persalinan yang harus mereka lakukan, Vanesa juga tampak merem melek menahan rasa sakit di perutnya.


Albert yang masih berada di luar baru sadar jika ponselnya mati dan tidak diaktifkan sedari tadi.


"Aduh! Hp saya ternyata mati, semoga aja gak ada yang hubungi saya daritadi!" ucap Albert sembari menyalakan ponselnya.


Setelah ponselnya menyala, Albert langsung syok berat melihat ada banyak panggilan tak terjawab disana.


"Hah? Ini banyak banget missed call dari Chelsea sama Keenan, kira-kira ada apa ya?" ujarnya.


"Apa jangan-jangan ada hal penting yang mau mereka sampaikan ke saya! Ah ini semua gara-gara Vanesa, jadinya saya gak tahu kalau Chelsea telpon saya!" umpatnya kesal.


"Yaudah deh, saya coba aja telpon balik Chelsea. Tapi, semoga gak terjadi apa-apa sama Nadira atau siapapun itu!" ucapnya.


Albert pun langsung menelpon nomor Chelsea dengan raut paniknya.


Cukup lama ia memegang ponselnya, sampai akhirnya Chelsea menjawab telpon tersebut.


📞"Halo kak! Kakak tuh darimana aja sih? Daritadi loh aku telponin kakak, tapi hp kakak malah mati terus gak bisa dihubungi." ujar Chelsea.


📞"Iya, kakak minta maaf! Tadi hp kakak sengaja kakak matiin pas di kantor, terus lupa dinyalain lagi." ucap Albert berbohong.


📞"Oalah, kirain kenapa." kata Chelsea.


📞"Ah iya kak, mending kakak langsung kesini deh susul aku sama mama! Soalnya mbak Dira lagi mau lahiran tuh, buruan kakak nyusul ini kan anak pertama kakak!" jawab Chelsea.


📞"Hah? Apa? Kamu serius Chelsea, gak bercanda kan?" ujar Albert terkejut bukan main.


📞"Iya kakak, aku serius lah. Makanya kakak kesini aja susulin kita! Oh ya, sekalian deh kakak bawain semua keperluannya mbak Dira ya!" ucap Chelsea.


📞"Ah itu urusan nanti, sekarang kamu kasih tahu dimana rumah sakit Nadira lahiran!" ujar Albert.


📞"Iya iya, aku sama mama lagi di rumah sakit jaya kusuma. Kakak kalau mau, langsung aja kesini ya!" ucap Chelsea.


📞"Rumah sakit jaya kusuma? Serius?" tanya Albert memastikan.


📞"Iyalah kak, ya ampun daritadi nanyanya begitu mulu! Buat apa sih aku bohong coba?" jawab Chelsea agak kesal.


"Saya kan juga lagi di rumah sakit jaya kusuma, apa saya langsung aja temui Nadira? Tapi, kira-kira Chelsea bakal curiga gak ya?" batin Albert.


📞"Kak, halo kak!" ucap Chelsea di telpon.


📞"Ah iya iya, kamu lagi ada di ruangan mana Chelsea?" tanya Albert.


📞"Aku di ruang salin VVIP kak, mama sengaja bawa mbak Dira kesini supaya gak campur sama pasien lainnya." jawab Chelsea.


📞"Oh oke, kakak segera kesana ya!" ucap Albert.


📞"Iya kak," ucap Chelsea.


Tuuutttt....


Albert menutup telponnya, ia berpikir sejenak sebelum memutuskan apa yang harus ia lakukan.


"Duh, gimana ya? Saya langsung ke ruang VVIP atau muter-muter dulu?" batin Albert.


•


•


"AHHH EENNGGHH AAAAKKKHH..."


Nadira terus berteriak mengeluarkan suaranya saat proses persalinan berlangsung, ia mencengkram kuat pinggir ranjang dan memejamkan mata.


"Tahan ya Bu, tahan!" perintah dokter.


"Mas, kamu dimana? Aku butuh kamu disini, cepat datang mas!" batin Nadira.


Sementara itu, di luar tampak Abigail dan juga Chelsea sedang berharap-harap cemas menanti kabar dari dokter mengenai kondisi Nadira yang sedang berjuang mati-matian di dalam sana.


"Duh, ya Tuhan selamatkan lah menantu dan cucu hamba! Lancarkan lah segala proses persalinan ini ya Tuhan!" ucap Abigail.

__ADS_1


"Aamiin!" sahut Chelsea.


"Ah iya Chelsea, kamu tadi sudah dihubungi Albert kan?" tanya Abigail pada putrinya.


"Iya mah, udah. Terus kenapa?" ucap Chelsea.


"Kok kenapa sih? Dia dimana sekarang sayang? Kamu udah kasih tahu semuanya kan tentang Nadira?" tanya Abigail.


"Ohh, udah kok mah. Tadi sih katanya kak Albert mau langsung kesini, mama tunggu aja paling nanti juga datang!" jawab Chelsea.


"Ya semoga aja deh dia gak terlambat! Mama maunya begitu bayinya lahir, Albert udah ada disini. Jadi, dia bisa temani Nadira nanti kan dia suaminya." kata Abigail.


"Aamiin! Mama sabar aja, pasti kak Albert datang kok!" ucap Chelsea.


"Iya iya," ucap Abigail mengangguk pelan.


"Yaudah, ayo kita duduk mah!" pinta Chelsea sembari memegang pundak mamanya.


Abigail mengangguk pelan, mengikuti kemauan putrinya dan terduduk di kursi tangga walau sebenarnya ia masih belum bisa tenang.


"Oh iya, mama udah kabarin orang tua mbak Nadira belum?" tanya Chelsea.


"Aduh! Mama lupa sayang! Ini gara-gara mama sangking paniknya sama kondisi Nadira, jadi mama lupa kabarin mereka. Eee kira-kira mama harus gimana ya sekarang?" ujar Abigail bingung.


"Ya gak gimana-gimana mah, mama telpon aja mereka sekarang!" ucap Chelsea.


"Ah iya kamu benar, yaudah deh mama telpon mereka dulu ya?" ucap Abigail sembari mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Iya mah," ucap Chelsea singkat.


Abigail pun mulai menghubungi nomor Suhendra alias ayah Nadira.


📞"Halo pak Hendra, ini saya Abigail!" ucap Abigail.


📞"Eh iya Bu, saya tahu kok kan saya save nomor ibu di hp saya. Ada apa ya Bu? Tumben ibu telpon saya begini," ucap Suhendra.


📞"Iya pak, jadi gini barusan sewaktu saya sama Nadira dan Chelsea belanja, tiba-tiba aja Nadira ngerasa perutnya sakit. Nah sekarang Nadira itu lagi lahiran pak," jelas Abigail.


📞"Apa? Nadira melahirkan Bu? Benar begitu?" ujar Suhendra kaget bukan main.


📞"Iya pak, itu benar. Kalau bapak sama ibu Lastri mau datang buat jenguk Nadira, silahkan aja ya bapak datang ke rumah sakit jaya kusuma!" ucap Abigail sambil tersenyum.


📞"Oh iya iya, rumah sakit jaya kusuma ya Bu? Yaudah, kalau begitu saya sama istri saya langsung datang ke sana sekarang! Terimakasih ya Bu atas informasinya!" ucap Suhendra.


📞"Sama-sama pak, hati-hati ya di jalan!" ucap Abigail.


📞"Iya Bu," ucap Suhendra singkat.


Tuuutttt...


Telpon langsung terputus, Abigail memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan fokus memikirkan Nadira.


"Mah, mama kok perhatian banget sama ayahnya mbak Dira? Pake segala ingetin buat hati-hati, wah jangan-jangan mama ada rasa nih sama ayahnya mbak Dira!" ujar Chelsea.


"Hus ngaco aja kamu kalo ngomong! Gausah ngada-ngada deh!" tegur Abigail.


"Hehe..." Chelsea nyengir saja dibuatnya.


"Mama, Chelsea!"


Tiba-tiba seseorang datang dan menyapa mereka begitu saja.


Sontak Abigail serta Chelsea langsung beranjak dari kursi dan menghadap ke arah orang itu.


"Albert?" ucap Abigail terkejut.


"Iya mah, ini aku. Terus, Nadira dimana? Kondisinya gimana sekarang? Nadira sama anak aku gak kenapa-napa kan mah?" tanya Albert cemas.


Abigail dan Chelsea terdiam sambil saling menatap satu sama lain, hingga membuat Albert merasa heran sekaligus penasaran.


•


•


"AAAAKKKHH EEUUUHHH..."


"Ayo Bu semangat Bu, sedikit lagi!" ucap dokter terus menyemangati Nadira untuk bisa mengeluarkan bayinya.


Akhirnya dokter berhasil mengeluarkan bayi tersebut dari dalam tubuh Nadira.


"Akh mas, aku berhasil!" batin Nadira.


Nadira yang sudah lemas tak berdaya akhirnya pingsan setelah melahirkan bayinya.


Namun, dokter serta para perawat disana kebingungan lantaran bayi Nadira itu tidak menangis saat dikeluarkan.


"Dok, ini kenapa bayinya gak nangis ya?" tanya si perawat bingung.


"Eee cepat bawa bayi ini ke ruang inkubator! Biar saya tangani bu Nadira dulu!" perintah dokter.


"Baik dok!" ucap perawat itu menurut.


Dokter itu tampak cemas dengan kondisi Nadira serta bayinya, namun ia berharap mereka dapat melewati semuanya dan pulih kembali agar bisa merasakan momen bahagia ini.


Sang dokter pun mulai memeriksa kondisi Nadira, walau ia juga dilanda kecemasan pada bayi dari Nadira yang tidak mengeluarkan suara pada saat dilahirkan.


Sementara itu, di luar ruangan Albert masih merasa cemas menanti kabar istrinya.


"Mah, kok masih gak ada kabar juga ya? Kapan aku bisa dengar suara tangisan anak aku?" tanya Albert pada mamanya dengan raut cemas.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2