
Albert pun menghela nafasnya, membuang muka dan kembali fokus ke jalan.
Nadira masih merasa tidak enak, ia pun menaruh tangannya di lengan Albert sambil mengelusnya.
"Mas, kamu jangan marah lagi dong!" pinta Nadira.
"Iya honey, saya udah gak marah kok. Mana bisa saya marah lama-lama sama istri saya yang cantik dan imut ini?" jawab Albert sambil mencubit pipi Nadira.
"Hahaha, bisa aja kamu mas!" ucap Nadira.
Nadira tersenyum senang dan memberanikan diri menyender di bahu suaminya, Albert langsung mengelus pipi istrinya dan mengecupnya lembut.
Namun, tiba-tiba Nadira tak sengaja mencium bau parfum wanita di jas milik suaminya. Ia pun menatap wajah Albert dengan curiga.
"Mas, ini wangi parfum siapa?" tanya Nadira.
"Hah??" Albert terkejut bukan main.
Albert sontak membuang muka, mengarahkan pandangan ke depan dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Sayang, kamu mau makan dulu atau langsung pulang aja?" tanya Albert pada istrinya.
"Aku pengen pulang aja mas, aku udah kangen sama Galen!" jawab Nadira.
"Ohh, yaudah kalo gitu kita pulang ya? Tapi, kamu gak mau beliin sesuatu gitu buat Galen? Misal makanan atau minuman yang dia suka?" tanya Albert.
"Terserah kamu, kan yang punya uang itu kamu bukan aku." jawab Nadira.
"Kamu kok bicaranya gitu sih? Uang saya kan uang kamu juga sayang," ujar Albert.
"Iya mas, tapi kan dipegangnya sama kamu bukan aku." ucap Nadira.
"Iya sih, hehe.." Albert nyengir sambil bernafas lega karena berhasil mengalihkan pembicaraan.
Namun, Nadira kembali teringat pada bau parfum yang tadi tercium di jas milik suaminya.
Tentu saja Nadira langsung beralih menatap wajah Albert dengan tatapan tajam dan penasaran.
"Mas!" ucap Nadira.
"Ya?"
"Aku tadi kan lagi tanya sama kamu tentang bau parfum di baju kamu, kenapa kamu malah bahas hal lain? Harusnya kamu jawab dulu dong pertanyaan aku!" ujar Nadira.
"Eee..." Albert langsung dibuat kaget lagi saat Nadira menanyakan itu.
"Hadeh, kenapa Nadira pake inget lagi sih soal itu? Baru aja saya ngerasa tenang dan lega, eh malah Nadira nanya itu lagi." batin Albert.
Nadira merasa heran melihat Albert terdiam tanpa menjawab pertanyaannya, ia pun mendekati pria itu sembari menyentuh lengan sang suami dan terus menatapnya.
"Mas, kamu kok malah diem? Ayo dong jawab pertanyaan aku, mas! Itu bau parfum siapa di jaket kamu? Kenapa kamu gak kasih tau ke aku? Dari baunya, itu kayak parfum cewek. Apa kamu abis ketemu terus pelukan sama cewek lain, mas?" tanya Nadira.
"Sabar sayang! Iya iya, nanti saya jelasin ke kamu semuanya. Tapi, sekarang kita pulang dulu ya ke rumah!" jawab Albert sambil mengusap puncak kepala istrinya.
"Aku gak mau pulang! Aku maunya kamu jelasin ke aku sekarang, bukan nanti! Lagian apa susahnya sih kamu tinggal jawab pertanyaan aku? Atau jangan-jangan kamu emang ada main ya sama cewek lain di belakang aku?!" ucap Nadira.
"Hah? Mana mungkin saya khianati kamu, sayang? Jangan mikir begitu dong!" elak Albert.
"Yaudah, makanya jelasin ke aku sekarang!" ucap Nadira cemberut.
"I-i-iya, kita berhenti sebentar ya di depan. Udah dong, kamu jangan tarik-tarik tangan saya kayak gini! Lama-kelamaan sakit tau," ucap Albert.
"Iya iya.." ucap Nadira.
Nadira pun melepas tangan Albert dari genggamannya.
Tak lama kemudian, Albert menghentikan mobilnya di pinggir sebuah taman dan menatap ke arah Nadira sambil tersenyum.
"Yuk kita turun! Terus, kita bicara di taman itu berdua!" ucap Albert.
"Gausah pegang-pegang!" Nadira menepis tangan Albert yang hendak menyentuh lengannya.
"Kenapa sih sayang? Kamu marah sama saya?" tanya Albert heran.
"Ya iyalah, aku masih curiga sama kamu mas!" jawab Nadira tegas.
Nadira langsung membuka pintu, turun dari mobil itu dan melangkah ke dalam taman lebih dulu.
Albert menghela nafas sejenak, mengusap wajahnya dan berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Nadira.
"Hadeh, saya jelasin apa ya ke Nadira supaya dia gak cemburu?" gumamnya.
•
•
#Flashback
"Hah? Kamu gak lanjut kuliah?" tanya Albert.
"Enggak, aku males. Selain itu, aku juga gak punya uang banyak buat bayar biaya kuliah. Makanya aku langsung mau cari kerja," jawab Nasya.
__ADS_1
"Jaman sekarang mana ada sih perusahaan yang mau terima lulusan SMA kayak kamu? Pantas aja kamu selalu ditolak dimana-mana," ujar Albert.
"Iya aku tahu, tapi kalau disini gak mungkin kan aku ditolak?" ucap Nasya sambil nyengir.
"Sebenarnya saya lagi gak butuh karyawan, semua posisi disini sudah diisi." kata Albert.
"Yah, berarti kamu gak bisa bantu aku nih?" tanya Nasya cemberut.
"Bisa kok, masih ada tempat yang cocok buat kamu." jawab Albert.
"Apa tuh?"
"Office girl."
Nasya dibuat menganga lebar dengan jawaban yang dilontarkan Albert.
"Hah? Serius kamu, Bert? Masa kamu tega sih jadiin aku office girl di perusahaan kamu ini? Jahat banget ih kamu! Gak ada posisi yang lebih bagus apa?" ucap Nasya.
"Gak ada, kalau kamu gak mau yaudah gapapa. Saya gak bisa kasih kamu kerja di posisi lain, semuanya udah terisi." ucap Albert.
Nasya beranjak dari kursinya, mendekati Albert seraya menyentuh lengan pria itu.
"Ayolah Albert! Masa kamu gak mau bantu aku sih? Kasih aku posisi yang lebih tinggi dong disini, abis itu aku janji deh bakal berikan tubuh aku buah kamu." ucap Nasya merayu Albert.
Jantung Albert berdegup kencang, sentuhan tangan Nasya di kulitnya benar-benar membuat ia merasa tergoda.
"Nasya, kamu jangan aneh-aneh deh!" ujar Albert.
"Apa sih Bert? Kamu pikir aku lupa kalau kamu itu hobi banget tidurin cewek-cewek di sekolah dulu?" ucap Nasya sambil tersenyum.
"Waktu itu aku selalu nolak ajakan kamu, karena aku pikir gak ada gunanya aku tidur sama kamu. Tapi, sekarang aku sendiri loh yang tawarin tubuh aku ke kamu. Apa kamu gak mau?" sambungnya.
Albert coba menguatkan dirinya dari cobaan itu, ia memejamkan mata dan mengambil nafas panjang.
"Cukup Nasya! Tolong jangan kayak gini!" ucap Albert sedikit lantang sembari menyingkirkan tangan Nasya dari pundaknya.
"Kenapa? Kamu gak tertarik lagi tidur sama aku? Apa karena kamu udah kaya?" tanya Nasya.
"No, it's not because of that. Saya sudah menikah, dan saya tidak akan mungkin meniduri wanita lain selain istri saya!" jawab Albert.
"Menikah? Kamu serius?" tanya Nasya tak percaya.
"Ya, saya serius!" jawab Albert.
Akan tetapi, Nasya justru memeluk dan menaruh wajahnya di bahu Albert hingga membuat pria itu tercengang.
"Menikah bukan berarti kamu gak bisa tidur sama aku kan, Albert?" goda Nasya.
"Sialan nih cewek! Saya bisa-bisa tergoda kalau dia terus-terusan kayak gini. Ayo Albert, kamu harus kuat! Kamu udah janji sama istri kamu, kamu pasti bisa!" batin Albert.
Albert mati-matian menahan gairahnya, sampai muncul wajah Nadira dan mendiang putrinya di dalam pikirannya.
"Hah??"
Tiba-tiba Albert bangkit dari duduknya, mendorong tubuh Nasya agar menjauh darinya sampai gadis itu hampir terpentok meja.
"Akh!" pekik Nasya.
"Kamu pergi dari sini sekarang, atau saya akan panggil satpam buat usir kamu!" teriak Albert.
"Albert, come on! Kamu harus bantu aku, aku butuh kerjaan sekarang!" ucap Nasya memohon.
"Saya gak bisa bantu kamu, karena kamu sudah kelewatan. Wanita seperti kamu, memang tidak pantas untuk bekerja disini!" ucap Albert emosi.
"Ayolah Albert, aku minta maaf! Tapi, tolong kasih aku kerjaan ya! Aku mau deh jadi office girl disini, please Albert!" rengek Nasya.
"Saya sudah berbaik hati sama kamu tadi, tapi sikap kamu barusan benar-benar membuat saya emosi. Kamu pergi sekarang sebelum saya kehilangan kesabaran!" tegas Albert.
"Bert.."
"PERGI!!" bentak Albert.
Nasya sampai menutup matanya saat Albert berteriak cukup keras.
Lalu, gadis itu pun mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Albert disana.
Albert kembali terduduk di kursinya, mengusap wajahnya berkali-kali untuk menenangkan diri.
"Aaarrgghh!! Hampir aja saya khilaf, untuk saya bisa tahan diri! Maafin saya ya Nadira, tadi saya hampir tergoda sama Nasya!" ucap Albert menyesali perbuatannya.
#Flashback end
•
•
Kini Albert dan Nadira telah duduk berdua di bangku taman yang sepi itu.
Albert baru saja usai menceritakan semua yang dia alami di kantor tadi siang bersama Nasya.
"Begitu ceritanya sayang, saya minta maaf ya!" ucap Albert.
__ADS_1
"Ohh, jadi kamu itu diajakin tidur bareng sama cewek teman lama kamu? Dia begitu supaya bisa dapet kerjaan dari kamu, terus kenapa kamu tolak coba?" ucap Nadira.
"Maksud kamu nanya gitu apa sih? Emang kamu pengen kalau saya terima tawaran dia dan tidur bareng sama dia?" tanya Albert.
"Ya kalau emang itu yang kamu pengen, kenapa enggak? Kan tadi gak ada aku disana, jadi kamu bisa bebas tuh lakuin apapun yang kamu mau. Atau bisa jadi juga, kamu emang udah terima tawaran dia dan semua yang kamu ceritain ke aku itu cuma bohong." ucap Nadira.
"Haish, kamu kenapa sih sayang? Masa masih curiga gitu sama saya? Saya udah cerita dan jelasin semuanya loh ke kamu, jujur. Saya gak bohong sama kamu, ayolah kamu percaya sama saya!" ucap Albert.
"Gimana caranya aku bisa percaya sama kamu? Kan aku waktu itu gak ada di dekat kamu, jadi aku gak tahu apa yang kamu lakuin." ujar Nadira.
"Yaudah gini deh, kalau kamu gak percaya kamu bisa kok cek ke kantor saya sekarang. Kita lihat cctv di ruangan saya, kebetulan saya sendiri yang pegang kendali kamera itu." ucap Albert.
Albert pun berdiri dan meraih tangan Nadira bermaksud mengajak wanita itu pergi.
"Ayo kita pergi sekarang!" ucap Albert.
"Eh eh, gausah mas! Iya iya aku percaya deh sama kamu! Kita gak perlu ke kantor kamu buat cek cctv disana, kita pulang aja!" ucap Nadira.
"Pulang? Kamu yakin mau pulang? Emang kamu udah maafin saya?" tanya Albert.
"Iya, aku udah maafin kok. Yuk sekarang kita pulang! Aku kangen sama Galen, aku pengen main sama dia." ucap Nadira ketus.
"Kalau kamu udah maafin saya, kenapa kamu masih ketus gitu? Coba senyum dong sayang!" ucap Albert sambil mencubit pipi Nadira.
"Enggak!" ucap Nadira membuang muka.
"Tuh kan, berarti kamu masih marah. Udah ayo kita ke kantor saya dan cek langsung rekaman cctv nya! Saya gak bisa diginiin terus sama kamu, saya gak kuat sayang!" ucap Albert.
Albert menarik paksa tangan Nadira hingga berdiri, ia membawa Nadira ke arah mobilnya.
"Ih mas sakit! Kamu jangan paksa aku begini dong! Aku kan udah bilang, kita gak perlu ke kantor kamu!" ucap Nadira.
"Yaudah, makanya kamu senyum dong! Senyum kamu kan manis sayang, ayo dong kasih lihat ke saya suami kamu yang tampan ini!" ucap Albert.
"Dih, narsis banget sih kamu! Aku gak mau senyum, kita pulang aja ayo!" ucap Nadira.
Albert malah mendekat ke arah Nadira, menangkup wajah Nadira dan mengusapnya lembut.
"Kan saya emang tampan, kamu juga akui itu kan?" ucap Albert sambil tersenyum.
"Udah ah mas, aku pengen pulang dan main sama Galen! Aku males lama-lama disini, apalagi cuma berdua sama kamu!" ucap Nadira.
"Loh kok gitu? Kamu masa berduaan sama suaminya sendiri males sih? Gak baik loh, gak boleh gitu sayang!" ujar Albert.
"Terserah kamu aja mau bilang apa! Udah ayo kita pulang sekarang!" ucap Nadira.
"Okay, kita pulang! Tapi, nanti di rumah kamu jangan cemberut kayak gini ya!" ucap Albert.
Nadira mengangguk saja tanpa ekspresi, Albert pun menghela nafasnya sembari membuka pintu mobil.
"Yuk masuk!" ucap Albert.
Nadira langsung masuk ke dalam melewati Albert, ia masih terus memasang wajah jutek saat Albert menatap ke arahnya.
•
•
Keenan masuk ke kamar adiknya begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Terlihat Celine tengah berkutik di depan laptop sehingga tak menyadari keberadaan Keenan.
Tanpa berpikir panjang, Keenan langsung mendekati Celine dan memeluknya dari belakang.
"Hah?!" Celine terkejut saat tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang. "Kakak? Ngapain sih?" tanyanya pada Keenan sambil menoleh ke arahnya.
Keenan tersenyum lebar seraya berkata, "Aku kangen sama kamu sayang! Selama di penjara, kan aku gak bisa peluk kamu kayak gini."
Celine membalas senyuman kakaknya, ia membiarkan Keenan merasakan kehangatan tubuhnya saat ini.
Pelukan Keenan semakin erat, pria itu juga mengecup leher Celine dan semakin turun ke bawah sampai pada bagian dadanya.
"Ngghh.." Celine melenguh kecil.
"Kamu wangi banget sih!" ucap Keenan.
Keenan pun menarik kursi ke dekatnya, lalu duduk disana masih sambil mengusap lengan Celine.
"Oh ya, besok kamu ada kegiatan gak?" tanya Keenan.
"Umm, ada. Besok aku rencananya mau lanjut pemotretan buat produk baru kak Albert di kantornya," jawab Celine.
"Waw! Kalo gitu aku anterin kamu ya besok?" ucap Keenan.
"Boleh, tapi emang kakak gak sibuk? Katanya kakak mau cari kerjaan," tanya Celine.
"Kalau untuk anterin kamu, itu prioritas utama aku. Urusan lain, aku bisa urus lain waktu. Lagipun, cari kerja kan juga bisa lewat handphone dan kapan aja bisa." jawab Keenan.
"Iya sih, terserah kakak aja deh." kata Celine.
Keenan tersenyum, kemudian menarik Celine ke dalam dekapannya. Ia ciumi wajah serta bibir gadis itu berkali-kali karena rasa gemasnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...