Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Clarity


__ADS_3

Bab 91



"Wah wah wah... ini lagi pada ngapain? Kok peluk-peluk sambil nangis kayak gitu?" ucap Abigail yang baru muncul dari teras.


Abigail merasa heran sekaligus penasaran karena saat ini putrinya yakni Chelsea tengah berpelukan dengan Nadira disana, padahal setahunya Chelsea sama sekali tidak menyukai Nadira.


"Iya mah, Chelsea baru aja minta maaf sama Nadira. Dia juga janji gak akan mengulangi perbuatannya lagi dan coba untuk berbaikan dengan Nadira," jawab Albert menjelaskan pada mamanya.


"Yang benar sayang? Kamu sudah mau terima Nadira di rumah ini?" tanya Abigail pada Chelsea.


Chelsea pun melepas pelukannya dan menyeka air mata di pipinya, ia berbalik menatap Abigail untuk coba menjawab pertanyaan mamanya walau agak sulit karena nafasnya masih sesenggukan.


"Benar mah, aku nyesel udah berlaku tidak sopan sama mbak Dira. Harusnya aku gak pernah ngelakuin itu," ucap Chelsea.


"Syukurlah sayang akhirnya kamu sadar juga! Mama jadi ikut senang deh dengernya, semoga seterusnya kalian bisa damai begini ya dan gak ada keributan lagi di rumah ini!" ucap Abigail.


"Aamiin mah!" ucap mereka bersamaan.


Chelsea kembali menaruh wajahnya pada bahu Nadira, membuat Abigail dan Albert tersenyum senang melihatnya.


"Mbak, aku boleh kan pinjam bahunya sebentar?" tanya Chelsea sambil tersenyum.


"Boleh dong, asal jangan lama-lama. Soalnya nanti aku jadi pegal kalau kelamaan tahan kepala kamu disini, terus mas Albert gak bisa nyender juga di baju aku." jawab Nadira terkekeh.


"Hahaha... iya benar juga tuh, jangan bikin Nadira kecapekan loh Chelsea! Biar gimanapun, kakak juga suka nyender di bahunya." kata Albert.


"Tenang aja kak! Aku cuma pengen sebentar kok disini, soalnya nyaman banget." kata Chelsea.


"Ya itu dia, emang nyaman nyender di bahu Nadira. Karena selain empuk, enak juga sambil diusap-usap serasa balik ke kecil lagi." ujar Albert sambil nyengir.


"Bisa aja kamu mas," ucap Nadira malu-malu.


"Yasudah, kalau kalian udah pada puas nyender di bahu Nadira nya, kita sarapan sama-sama ya. Mama tunggu di meja makan," ucap Abigail.


"Iya mah, sebentar lagi aku sama kak Albert dan mbak Nadira nyusul kok kesana." kata Chelsea.


Abigail tersenyum mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan menuju meja makan meninggalkan mereka bertiga disana.


Sementara Chelsea tampak masih betah berada di bahu Nadira, gadis itu seakan tidak mau mengangkat kepalanya dan membuat Albert jengkel.




Keenan bersama adiknya pergi berolahraga di pagi hari yang cerah ini, mereka memang sering sekali melakukan itu setiap kali hari libur tiba.


Mereka beristirahat sejenak di kursi yang tersedia, Keenan tampak menatap wajah Celine sembari menyeka keringat menggunakan handuk kecil miliknya.


"Kita duduk dulu! Kasihan lu kecapekan gitu, sampe keringat semua isi wajah lu." kata Keenan.


"Ih lu juga kok, bukan gue doang." protes Celine.


"Hahaha..." Keenan tertawa lalu mengambil handuk miliknya dan bergeser sedikit mendekat ke arah Celine.


Gadis itu terkejut saat menoleh dan abangnya sudah berada di dekatnya sembari menyodorkan handuk ke wajahnya.


"Lu mau ngapain?" tanya Celine panik.


"Udah diem aja! Gue pengen seka keringat lu, abis banyak banget begini." jawab Keenan.


"Gausah, gue bisa sendiri." kata Celine.


Namun, Keenan tak memperdulikan itu dan tetap menyeka keringat di wajah serta leher Celine sambil tersenyum lebar.


"Kasihan banget adik gue kecapekan gini! Makanya lu harus sering olahraga, jadi tubuh lu gak kaget kalau lu lari pagi kayak tadi. Itu aja susah banget gue bangunin," ucap Keenan terkekeh.


Entah mengapa Celine tak bisa mengendalikan detak jantungnya, ia merasa grogi saat Keenan melakukan hal itu padanya.


Tak hanya itu, Keenan pun memberikan botol minum kepada adiknya itu.


"Cel, minum nih!" ucap Keenan.


Celine mengangguk saja dengan nafas yang masih terengah-engah, sebenarnya ia bingung mengapa Keenan sebegitu perduli kepada dirinya sampai harus menyeka keringat di wajahnya.


Namun, Celine melupakan itu dan berpikir bahwa Keenan hanya ingin melakukan yang terbaik untuk adiknya walau agak mencurigakan.


"Bang, abis ini kita mau lanjut olahraga lagi atau udahan?" tanya Celine.

__ADS_1


"Hahaha... kenapa emang? Lu udah capek ya? Lemah banget sih!" ujar Keenan terkekeh.


"Bukan gitu, gue laper tau." kata Celine.


Keenan tersenyum dan kembali mendekat ke arah Celine yang tengah memegangi perutnya.


"Lu lapar? Yaudah, kita udahan dulu olahraganya. Kita cari tempat sarapan di dekat sini, lu mau makan apa ha?" tanya Keenan sembari menyelipkan rambut Celine di telinganya.


"Apa aja deh bang, yang penting gue bisa makan sekarang. Tapi, kayaknya sih gue kepengen makan bubur ayam." jawab Celine tersenyum.


"Oh gitu, yaudah kita cari aja tukang bubur ayam dekat sini! Lu udah gak capek lagi kan? Masih kuat jalan gak? Kalo enggak, biar gue gendong sambil nyari tempat makannya." kata Keenan.


"Gausah bang, gue bisa jalan sendiri. Kalau lu terus anggap gue kayak anak kecil, kapan gue bisa mandiri bang? Menurut gue, lu juga terlalu lebay tahu! Seolah-olah kita ini—"


"Sssttt udah jangan kebanyakan bicara! Yuk kita pergi sekarang!" potong Keenan.


Keenan terkekeh melihat ekspresi Celine yang terkejut saat ia menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu.


Akhirnya mereka beranjak dari kursi, Keenan menggandeng tangan Celine erat seakan tak mau melepaskannya.


Mereka pun mulai melangkah pergi dari sana, mencari tempat bubur ayam sesuai keinginan Celine tadi.


"Kok gue jadi grogi gini ya gandengan tangan sama bang Ken?" batin Celine.




Vanesa dan Harrison juga tengah menikmati pagi hari yang indah ini bersama-sama.


Mereka berdua berniat untuk mencari sarapan di luar mumpung cuaca sedang cerah dan mendukung.


"Pah, boleh gak aku tanya satu hal lagi sama papa?" ucap Vanesa agak gugup.


"Tentu saja boleh, kamu tanya aja apa yang mau kamu tanya! Papa pasti bakal jawab kalau memang papa bisa jawab," ucap Harrison tersenyum sembari mengusap rambut putrinya.


"Anu loh pah, aku cuma mau mastiin aja papa benar gak marah sama aku karena kehamilan aku ini?" tanya Vanesa grogi.


"Buat apa kamu tanya lagi soal itu? Kan papa udah bilang dari kemarin, papa gak akan marah dengan kehamilan kamu, karena itu bukan kesalahan kamu. Justru seharusnya papa yang minta maaf sama kamu, kan gara-gara papa suruh kamu kerja di kantor Albert sekarang kamu jadi harus menanggung akibatnya." kata Harrison.


"Makasih ya pah! Jujur deh awalnya aku takut banget bilang ini ke papa, aku gak mau bikin papa kecewa dan marah sama aku karena aku gak bisa jaga diri." ucap Vanesa.


"Tapi pah, aku juga masih bingung gimana nanti kalau anak ini lahir terus dia tanyain siapa papanya. Aku harus jawab apa sama dia, pah?" ujar Vanesa.


"Kamu tidak perlu khawatir! Papa akan bantu mengurus anak itu sampai dia dewasa, dan papa pastikan dia tidak akan menanyakan siapa papa kandungnya!" jawab Harrison.


"Baik pah," ucap Vanesa pelan.


Harrison menarik tengkuk Vanesa dan menaruh wajah wanita itu di dadanya sembari terus mengusap dengan lembut.


"Kamu mau sarapan apa sekarang?" tanya Harrison.


"Umm... aku lagi kepengen bubur ayam, pah. Menurut papa gimana?" jawab Vanesa.


"Boleh juga tuh, yaudah kita cari aja tempat makan bubur dekat sini ya?" ucap Harrison.


Vanesa mengangguk tersenyum.


"Jaya, bawa kami ke tempat bubur ayam di dekat sini! Pastikan tempatnya itu yang bersih dan higienis, saya tidak mau putri saya dan calon anaknya kenapa-napa!" pinta Harrison pada supirnya yang bernama Jaya.


"Baik pak!" ucap Jaya menurut.


Mobil pun mengarah menuju tempat bubur ayam di dekat sana.


Vanesa masih berada dalam dekapan papanya, ia merasa nyaman dan tidak mau melepasnya.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah tempat makan bubur ayam sesuai kemauan Vanesa sebelumnya.


Tentu saja mereka langsung turun dari mobil, lalu melangkah ke dalam tempat tersebut.


"Lumayan ramai juga ya tempatnya, gapapa kita makan disini? Atau kamu mau cari tempat lain yang lebih sepi supaya gak terlalu lama nunggunya?" tanya Harrison.


"Udah pah, gapapa disini aja. Aku belum terlalu lapar kok, daripada harus cari tempat lain malah lebih lama kan." jawab Vanesa.


"Iya juga sih, yaudah yuk kita masuk!" ujar Harrison.


Vanesa mengangguk pelan, lalu melangkah bersama papanya ke dalam tempat tersebut dengan bergandengan tangan.


"Vanesa?" wanita itu terkejut saat melihat seorang pria menyebut namanya dan saat ini tengah berdiri di depannya.

__ADS_1


Tak hanya Vanesa, Harrison sang ayah juga merasakan hal yang sama. Pria itu tak percaya jika di tempat itu dirinya bisa bertemu dengan Keenan serta Celine.


Ya kebetulan tempat bubur yang mereka datangi sama dengan Keenan dan Celine.


"Waw! Saya benar-benar gak nyangka, ternyata benar kalian berdua itu ada hubungan. Hebat ya, hebat sekali!" ujar Keenan tersenyum smirk.


Vanesa dan Harrison terdiam, mereka menunduk dengan suasana jantung yang tidak aman.




"Apa? Jadi, benar kalau diantara Vanesa dan penculik adik kamu itu ada hubungan? Dapat info darimana kamu, Keenan?" tanya Albert kaget setelah mendengar penjelasan Keenan.


Ya saat ini Keenan sudah berada di rumah Albert, ia langsung menjelaskan semua yang ia ketahui tadi ketika bertemu dengan Vanesa dan Harrison di tempat bubur ayam.


"Benar tuan, saya lihat sendiri tadi Vanesa dengan orang yang bernama Harrison itu saling bergandengan tangan dan mereka terlihat sangat dekat. Bahkan begitu mereka melihat saya, mereka tampak gugup dan ketakutan." jelas Keenan.


"Tapi, emangnya kamu udah pastikan kalau mereka ada hubungan?" tanya Nadira yang ada disana.


"Sudah Bu, kebetulan juga tadi mereka mengaku kalau mereka itu ayah dan anak. Artinya, selama ini Harrison dan Vanesa itu saling bekerjasama." jawab Keenan.


"Sialan! Tapi baguslah, dengan begini kita bisa lebih mudah untuk mengetahui rencana Vanesa dan Harrison. Saya juga yakin, paman Darius terlibat dengan mereka!" ucap Albert.


"Kenapa kamu begitu yakin, mas?" tanya Nadira.


"Ya, karena saya tahu sendiri paman Darius sangat membela Vanesa begitu saya memecat Vanesa dari kantor." jawab Albert.


"Belum tentu juga kan kak, bisa jadi om Darius cuma gak tega sama Vanesa karena dipecat. Kakak jangan berpikiran negatif dulu sama om Darius!" ucap Chelsea.


"Hah? Kamu kenapa belain om Darius si sayang?" ujar Albert curiga.


"Bukan belain kak, aku cuma gak mau kakak salah sangka nantinya dan malah bikin perpecahan diantara kakak sama om Darius. Biar gimanapun, om Darius itu kan keluarga kita juga, gak mungkin lah dia begitu sama kakak!" ucap Chelsea.


"Iya sih mas, yang dibilang Chelsea itu ada benarnya juga. Kamu gak boleh asal menuduh om Darius terlibat dalam masalah ini!" sahut Nadira.


"Hey sayang! Dengar ya, aku ini menuduh berdasarkan bukti, bukan sembarangan nuduh aja. Aku tahu kalau om Darius emang gak suka sama kesuksesan aku, makanya dia pengen aku hancur. Jadi, kalian berdua gausah lah belain dia hanya karena dia keluarga kita!" ucap Albert tegas.


"Maaf mas! Aku kan cuma—"


"Iya, udah gapapa kok. Saya gak marah sama kamu ataupun Chelsea, saya cuma pengen kalian tahu kalau om Darius gak sebaik yang kalian berdua kira." potong Albert.


Nadira dan Chelsea mengangguk saja patuh dengan kata-kata Albert.


"Oh ya tuan, saya juga tadi dapat kabar dari asisten pak Rio. Katanya hari ini pak Rio bisa datang kemari untuk memenuhi undangan tuan," ucap Keenan pada bosnya.


"Baguslah, kapan dia akan datang?" tanya Albert.


"Katanya pak Rio akan berangkat sekitar jam tujuh atau delapan malam, tuan. Beliau masih harus mengurus urusannya saat ini," jawab Keenan.


"Yasudah, terimakasih ya Keenan atas informasi yang kamu berikan ke saya! Sekarang kita hanya tinggal berjaga-jaga saja, sekaligus menyelidik apa rencana Vanesa selanjutnya." kata Albert.


"Benar tuan, kalau begitu saya mohon izin permisi dulu tuan!" ucap Keenan pamit.


"Loh, kamu mau kemana?" tanya Chelsea.


"Iya Keenan, kamu ini gimana sih? Padahal disini ada Chelsea pacar kamu, masa mau pergi gitu aja gak ajak dia jalan-jalan dulu? Mumpung hari libur loh, jarang-jarang kan kamu bisa berduaan sama Chelsea kalau hari kerja." ujar Albert.


"Ahaha, memangnya boleh tuan?" tanya Keenan.


"Boleh boleh aja, asalkan kalian pulangnya jangan terlalu malam! Lagian saya kan juga pernah seperti kalian, jadi saya tahu gimana perasaan kalian." jawab Albert sambil tersenyum.


"Kalau memang boleh, ayo deh Chelsea kita jalan berdua! Aku juga udah kangen banget pergi berdua sama kamu sayang!" ucap Keenan.


"Cie cie... udah Chelsea, kamu ikut gih sana sama Keenan!" goda Nadira.


"Iya mbak. Tapi Ken, aku ganti baju dulu ya ke kamar?" ucap Chelsea.


"Iya, aku tunggu di luar ya?" ucap Keenan.


"Ngapain tunggu di luar? Udah disini aja, habisin tuh kopi kamu!" ujar Albert.


"Siap tuan!" ucap Keenan menurut.


Chelsea sangat gembira karena ia akan pergi bersama Keenan, gadis itu langsung beranjak dari sofa dan pergi ke kamar untuk berganti pakaian.


Sementara Keenan tetap disana bersama Albert dan Nadira, mereka berbincang membahas mengenai hubungan Keenan dengan Chelsea.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2