
Albert pulang ke rumahnya di malam hari yang dingin ini, kebetulan di luar hujan sehingga jas yang dikenakan Albert sedikit lembab akibat terkena tetesan air hujan.
Pria itu sangat mengerti bahwa saat ini pastinya Nadira sedang terpukul setelah mengetahui apa yang ia lakukan dengan Vanesa di kantornya, sejak awal juga Albert sudah memikirkan resiko itu dan ia siap menerima semuanya.
Namun, bukan hanya soal Nadira yang ia pikirkan saat ini. Melainkan juga mamanya, ya pasti sang mama juga sudah mengetahui hal itu dan bisa saja akan memberi hukuman padanya atau bahkan membawa pergi Nadira dari rumahnya.
"Nadira gak boleh pergi dari sini, she's mine! Saya harus berjuang keras untuk membujuk Nadira, karena dia pasti sedih banget!" batinnya.
Disaat ia hendak menuju kamarnya, tiba-tiba saja Chelsea muncul dari arah tangga lalu berjalan ke dekatnya sembari memanggil namanya.
"Kak, kak Albert tunggu kak!" teriak Chelsea.
Sontak Albert menghentikan langkahnya, menatap sang adik dengan tatapan heran.
"Kenapa?" tanya Albert dingin.
"Kakak mau temuin Nadira, ya?" ucap Chelsea.
"Iya, ada sesuatu hal penting yang harus kakak sampaikan ke Nadira. Kamu mau apa panggil kakak tadi?" ucap Albert.
"Eee mending jangan deh kak! Nadira itu lagi emosi banget sama kakak, nanti yang ada dia malah marahin kakak lagi. Udah deh kak, biarin aja si Nadira itu, gak perlu dibujuk!" ucap Chelsea.
"Kamu ini bicara apa sih Chelsea? Kakak lagi gak punya waktu untuk membahas omong kosong kamu itu, sebaiknya kamu minggir dan jangan halangi kakak!" ujar Albert tegas.
"Ish, kakak kok galak banget sih? Aku kan cuma kasih saran doang ke kakak, lagian menurutku itu saran yang bagus kok! Nadira kan lagi sedih dan kecewa banget sama kakak setelah tahu kak Albert selingkuh dari dia, sampe hamil lagi ceweknya. Jadi, mana mungkin Nadira mau bicara sama kakak sekarang? Terus nih ya, tadi siang om Darius juga kesini dan bicara sama mama sama Nadira juga," ucap Chelsea.
"Om Darius kesini? Dia ngapain aja? Apa yang dibicarakan om Darius ke Nadira?" tanya Albert.
"Santai kali kak, gausah tegang gitu!" ujar Chelsea.
"Chelsea! Jawab pertanyaan kakak, apa yang dibicarakan om Darius!" tegas Albert.
"Hadeh galak banget sih kak! Iya iya aku kasih tahu nih ke kakak, tapi kakak jangan kaget ya?" ucap Chelsea sengaja memancing kakaknya.
"Iya, gue gak kaget kok."
"Jadi tuh gini...."
"Albert!" ucapan Chelsea belum sempat terselesaikan, karena sudah lebih dulu muncul Abigail menyela obrolan mereka dan tampak emosi menatap tajam ke arah Albert.
"Mama?" ucap Chelsea dan Albert bersamaan.
"Sayang, kamu ke kamar ya! Ini sudah malam, gak baik anak gadis belum tidur!" pinta Abigail pada putrinya, Chelsea.
"Iya mah," Chelsea menurut saja dengan perintah mamanya, ia pergi menaiki tangga menuju kamar.
"Mah, aku—"
"Mama mau bicara sama kamu! Kita ke balkon sekarang!" potong Abigail lalu berjalan lebih dulu menuju balkon.
"I-i-iya mah..." Albert tampak gusar dan terus mengacak-acak rambutnya, ia bingung harus ikut dengan mamanya atau tetap pada keputusannya yakni menemui Nadira di kamar.
"Aduh! Saya harus ngapain sekarang? Ikutin mama atau bicara sama Nadira?" gumam Albert.
"Albert, ayo cepat!" Abigail kembali berteriak meminta Albert segera pergi.
"I-i-iya mah, sebentar!" balas Albert panik.
Akhirnya pria itu memilih mengikuti mamanya dan berbicara di balkon rumahnya, walau Albert juga ingin segera menjelaskan pada Nadira.
•
•
Singkat cerita, kini Abigail dan Albert sudah berada di balkon. Wanita itu berdiri memunggungi putranya dengan wajah mendongak, sedangkan Albert hanya terdiam menunggu mamanya bicara.
"Albert, mama benar-benar kecewa sama kamu!" ucap Abigail tanpa melihat ke arah putranya.
"Iya mah, aku tahu dan aku ngerti kekecewaan mama itu! Tapi, boleh kan mah kalau sekarang aku ke kamar dan bicara sama Nadira? Aku harus jelasin semuanya ke dia, mah! Aku gak mau Nadira marah terus salah paham karena foto-foto yang dia lihat tadi!" pinta Albert cemas.
"Gak perlu! Biarkan Nadira istirahat sekarang, dia butuh itu setelah hampir seharian ini dia menangis karena ulah kamu! Asal kamu tahu Albert, Nadira juga punya perasaan dan kamu gak bisa mempermainkan dia seperti itu! Kamu sudah culik dia dan paksa dia buat menikah sama kamu, itu saja sudah membuat dia terluka. Lalu sekarang, kamu dengan teganya main api di belakang Nadira, apa kamu sudah gila Albert?" ucap Abigail.
__ADS_1
Albert terdiam menundukkan wajahnya, semua yang diucapkan Abigail memang benar karena ia sudah menyakiti perasaan Nadira hanya demi kepuasan dirinya.
"Kenapa diam? Apa kamu sudah menyadari kesalahan-kesalahan kamu? Mama semakin heran dengan sikap kamu, Albert. Apa sebenarnya yang bikin kamu jadi seperti ini? Dengan kelakuan kamu ini, itu sama saja kamu merusak nama baik papa kamu!" tegas Abigail.
"Mah, kalau mama mau marah-marah sama saya silahkan aja! Tapi, mama gak bisa bilang aku ini udah merusak nama baik papa!" ujar Albert.
"Kenapa? Yang mama bilang itu benar loh, kamu masih belum mau mengakui juga?" ujar Abigail.
"Iya mah aku ngaku, aku akui aku salah dan aku sudah menghamili sekretaris aku sendiri! Bahkan aku dan dia sudah menjalin hubungan cukup lama, sejak aku belum menikahi Nadira. Itu semua aku lakuin atas dasar nafsuu, bukan cinta!" ucap Albert.
"Sudah lama? Kalau memang kamu dan sekretaris kamu yang kegatalan itu sudah berhubungan dari lama, kenapa kamu masih aja pengen menikahi Nadira? Kenapa gak kamu nikahi aja sekretaris kamu itu, Albert? Mama masih gak nyangka, ternyata sikap kamu sebejat ini Albert!" ujar Abigail.
"Cukup mah! Aku gak mau lagi dengar omelan mama sekarang ini, karena aku harus segera temui Nadira dan jelasin semuanya ke dia! Aku akan minta maaf sama Nadira, tolong mah jangan cegah aku untuk melakukan itu!" ucap Albert.
Albert berlalu pergi, ia melangkah menuju kamar dengan langkah tergesa-gesa meninggalkan mamanya disana.
"Albert, tunggu Albert!" Abigail berteriak kencang, berharap Albert mau mendengarnya.
Akan tetapi, Albert sama sekali tak perduli dan tetap melanjutkan langkahnya. Abigail pun menyusul putranya itu, ia tak mau Albert berbuah nekat yang akan mengganggu Nadira.
Ceklek...
"Nadira, saya mau bicara sebentar sama kamu!" ucap Albert yang langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Ia mengarahkan pandangan ke tempat tidurnya, tampak Nadira tengah tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali.
"Nadira, tolong maafkan saya! Saya gak ada maksud untuk—"
Ucapan Albert terjeda, karena ketika ia membuka selimut tersebut yang ada di ranjangnya bukanlah Nadira, melainkan hanya bantal dan guling.
"Kosong? Bagaimana mungkin?" ujarnya heran.
"Nadira! Nadira!" Albert langsung kalut dan panik, ia mencari-cari keberadaan istrinya di sekitar ruangan kamar itu berharap Nadira masih berada di kamarnya.
Namun, Albert tak berhasil menemukan Nadira di seluruh sudut kamarnya.
"Aaarrgghh!! Nadira, kamu kemana?!" teriak Albert kebingungan sembari menarik rambutnya sendiri.
"Albert, ada apa ini? Kenapa kamu teriak-teriak begitu? Dimana Nadira?" tanya Abigail cemas.
"Mah, Nadira gak ada disini mah. Sekarang mending mama kasih tahu ke aku, dimana Nadira sekarang mah!" ujar Albert.
"Apa??"
•
•
Srrrrttttt... srrrrttttt....
Di bawah guyuran air hujan yang deras serta petir menggelegar, Nadira terus berjalan sambil menangis dan memegangi perutnya.
Ya Nadira saat ini sudah keluar jauh dari area komplek perumahan Albert, ia sengaja pergi dari sana karena tak kuat lagi menahan segala rasa sakit yang diberikan Albert padanya.
Selain itu, tekanan dari Darius yang terus memaksanya untuk pergi juga membuatnya tak memiliki pilihan lain selain menjauh dari Albert.
"Sekarang ibu harus kemana sayang? Ibu gak tahu lagi tempat mana yang aman buat kita, maafin ibu ya sayang karena ibu udah egois dan gak memikirkan keselamatan kamu!" ucap Nadira berbicara pada anaknya di dalam perut.
Nadira menghentikan langkahnya, melihat ke kanan dan kiri, berharap ada kendaraan lewat yang bisa ia tumpangi saat ini. Namun naas, suasana disana cukup sepi karena hujan deras yang mengguyur.
"Duh, kok sepi banget ya? Gimana caranya aku bisa cari tempat yang aman sekarang?" ujarnya bingung.
Akhirnya wanita itu kembali berjalan dengan lamban sembari mengelus perutnya disertai air mata yang terus mengucur di pipinya.
Flashback
Nadira yang baru masuk ke kamarnya, kini terduduk di pinggir ranjang dan terus menangis sembari mengusap perutnya. Ia tak menyangka kalau diselingkuhi ternyata sesakit ini, memang tak bisa dipungkiri bahwa Nadira sudah mulai merasa jatuh cinta pada sosok Albert suaminya itu.
Perlakuan Albert yang seperti itu, ditambah bukti mengenai kehamilan Vanesa membuat Nadira makin diambang kesedihan, apalagi sebelumnya Darius sempat menemuinya dan membahas mengenai rencana untuk membawanya pergi dari rumah Albert itu.
Ya seketika terlintas di kepala Nadira untuk segera pergi dari sana.
__ADS_1
"Aku lebih baik pergi dari sini, aku gak mau dan gak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini! Biar gimanapun, aku ini juga seorang wanita yang berhak bahagia dan dicintai! Bukannya diperlakukan seperti budak!" ucapnya.
Nadira pun bangkit dan mengemasi semua pakaian miliknya untuk dibawa pergi, akan tetapi ia menghentikannya secara tiba-tiba setelah terlintas sesuatu di pikirannya.
"Oh iya, semua baju ini kan pemberian tuan Albert. Aku gak mau bawa apapun yang bersangkutan dengan tuan Albert!" ucapnya.
Akhirnya Nadira tidak jadi membawa apapun, ia memilih keluar kamar secara perlahan dan menoleh ke kanan serta kiri untuk memastikan bahwa disana aman tidak ada siapapun.
Nadira bernafas lega karena penjaga yang biasanya berjaga disana sedang tidak ada, sehingga ia bisa kabur menuju ke depan rumah.
Wanita itu terus melangkah perlahan-lahan, sehingga ia berhasil keluar melalui pintu samping rumah itu tanpa ketahuan oleh para pelayan yang sedang sibuk memasak untuk makan malam majikannya.
"Huft, untung aja gak ketahuan!" ucapnya pelan.
Setelahnya, Nadira mengendap-endap melalui samping dan hanya ada satu jalan baginya untuk bisa keluar dari sana, yakni pagar depan. Namun, ia harus melewati rombongan penjaga di depan rumah Albert yang jumlahnya cukup banyak itu, sehingga ia harus pintar-pintar mencari ide.
Nadira mengambil sebuah batu dan melemparkan itu ke semak-semak, sontak para penjaga disana melihat ke arah yang sama, Nadira pun dapat menggunakan kesempatan itu untuk melewati mereka tentunya dengan berjalan merambat pada tanaman di dekat dinding.
Tiiinnnn...
Sebuah klakson panjang terdengar dari luar gerbang, Nadira mengetahui bahwa itu adalah mobil Albert yang baru datang.
"Itu tuan Albert, aku harus bisa keluar dari sini bersamaan dengan masuknya mobil itu. Ayo Nadira, kamu pasti bisa!" ucapnya.
Dengan mudahnya Nadira pun melangkah keluar ketika satpam membukakan pintu gerbang bagi Albert, ia langsung lari terbirit-birit menjauhi rumah suaminya dan terpaksa hujan-hujanan.
Flashback end
Tiba-tiba Nadira merasakan pusing dan pandangannya mulai kabur, ia terus memegangi keningnya, memijatnya sekilas berharap rasa pusing itu bisa hilang.
"Awhh ssshhh kok pusing banget ya?" ujarnya dengan langkah yang mulai sempoyongan.
Bruuukkk...
"Aaaakkkhh!!" Nadira terjatuh ke aspal dengan lutut sebagai tumpuannya.
"Aduh! Aku gak boleh nyerah, aku harus kuat demi anakku! Ayo Nadira, kamu pasti bisa! Kamu itu wanita kuat!" ujar Nadira menyemangati dirinya.
Wanita itu berusaha bangkit, namun yang terjadi justru ia semakin bertambah pusing dan tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Saat Nadira kembali hendak terjatuh, tiba-tiba seseorang pria datang menangkap tubuhnya. Samar-samar mata wanita itu melihat wajah pria yang menolongnya, ia tersenyum sebelum akhirnya pingsan di pelukan si pria.
Pria itu tak mau ambil pusing, ia menggendong tubuh Nadira yang basah itu dan membawanya ke dalam mobil dengan cekatan. Ia tak mau jika Nadira mati dalam keadaan seperti itu.
"Akhirnya aku bisa dapetin kamu Nadira, penantian panjang itu kini telah berakhir. Hahaha, aku gak akan biarkan kamu lepas lagi kali ini Nadira! Karena cuma aku yang berhak bersama kamu!" gumam pria itu sambil memandangi tubuh Nadira.
•
•
Bugghhh...
Bugghhh...
Albert memukuli kedua penjaga di area rumahnya itu hingga mereka tersungkur.
"Dasar payah! Bisa-bisanya kalian kecolongan! Ngapain aja kalian daritadi, ha? Dasar bego!" umpat Albert cukup kasar dan keras.
"A-ampun tuan! Kami benar-benar meminta maaf pada tuan, kami tidak menyangka kalau non Nadira akan pergi dari rumah. Tolong ampuni kami tuan!" ucap penjaga itu ketakutan.
"Kalian sudah melakukan kesalahan yang besar, apa kalian pikir saya akan mengampuni kalian gitu aja? Enggak!" bentak Albert.
"Sekarang saya minta kalian buat cari dan temukan Nadira, kalian harus bisa bawa Nadira kembali ke rumah saya! Ingat, sebelum kalian berhasil bawa Nadira maka kalian tidak boleh kembali kesini!" ucap Albert memerintahkan anak buahnya itu.
"Ba-baik tuan!" ucap mereka terbata-bata.
Kedua penjaga itu pun bergegas pergi mencari Nadira demi keselamatan mereka, sedangkan Albert tampak gusar dan mengusap wajahnya kasar, merutuki dirinya sendiri disana.
"Aaarrgghh!! Dasar bodoh lu, bodoh!!" teriak Albert sembari menghentakkan kakinya ke lantai.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...