
"Apa semua yang dikatakan Vanesa itu benar, Albert? Kamu yang sudah menghamili dia, dan kamu tidak mau bertanggung jawab karena memilih bersama Nadira?" tanya Suhendra.
Albert tak bisa berkutik, ia bingung harus menjawab dan menjelaskan bagaimana pada Suhendra.
"Aduh! Gimana ini jawabnya ya?" batin Albert.
Sementara Suhendra terus menatap Albert, ia menunggu jawaban dari pria itu karena ia sangat penasaran dan bahkan hampir semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan itu.
"Kenapa Albert kelihatan bingung dan cemas gitu ya? Apa benar dia sudah menghamili sekretarisnya sendiri dan tidak mau bertanggung jawab? Kalau iya, saya sungguh geram dengan tingkah Albert ini!" gumam Suhendra dalam hati.
Suhendra semakin yakin jika Albert menyembunyikan sesuatu dan pria itu tak mau memberitahukan itu padanya.
"Albert, sudah kamu bicara aja sama bapak! Bapak gak akan marah kok sama kamu!" pinta Suhendra.
"Eee ini bukan soal bapak marah atau gimana, tapi saya takut kalau kejujuran saya bikin bapak sakit hati nantinya. Biar gimanapun, bapak ini kan ayah kandung dari Nadira." kata Albert.
"Lalu, apa semua itu benar?" tanya Suhendra.
"I-i-iya pak, itu benar. Memang benar saya sudah menghamili Vanesa sekretaris saya sendiri, dan itu juga yang menjadi alasan Nadira kabur kemarin. Saya mohon maaf kepada bapak, saya sadar semua yang saya lakukan itu salah dan saya sudah menyakiti hati anak bapak!" jawab Albert.
"Oh Tuhan! Jadi, Nadira sudah mengetahui semua ini?" tanya Suhendra kaget.
"Benar pak, Nadira sudah tahu. Dia sempat marah dan kecewa sekali dengan saya, bahkan waktu itu dia juga pergi dari rumah saya karena kecewa pak." jawab Albert histeris.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi? Apa kamu tidak puas sudah memiliki seorang wanita? Kenapa kamu melakukan itu, Albert?" tanya Hendra geram.
"Maafkan saya pak! Waktu itu saya khilaf, saya tidak bisa mengontrol diri saya sendiri. Saya juga sudah meminta Vanesa menggugurkan bayi itu, tapi ternyata dia malah mengabaikan perintah saya dan dia gunakan bayi itu sebagai alat untuk mengancam saya. Bahkan, saya tak menyangka kalau Vanesa bisa menemui bapak dan bilang semua itu ke bapak," ujar Albert.
"Jangan salahkan Vanesa, Albert! Ini semua salah kamu, kamu yang tidak bisa kendalikan diri kamu! Sudah wajar kalau Vanesa meminta tanggung jawab dari kamu, karena bayi di kandungannya itu kan anak kamu." kata Suhendra.
"Iya pak, saya tahu kok. Saya juga tidak menyalahkan Vanesa dalam hal ini, hanya saja saya tahu kalau Vanesa sengaja memberitahu bapak tentang kehamilannya karena dia ingin merusak hubungan saya dengan Nadira. Tentu saja saya tidak terima itu, pak!" ucap Albert.
"Mengapa? Bukankah kamu tidak mencintai Nadira anak saya? Kamu menikahi dia kan semata-mata karena kamu menyukai tubuhnya, lalu kenapa kamu tidak ingin pisah dari Nadira?" tanya Hendra.
"Itu dulu pak, sekarang saya sudah sadar kalau saya mencintai Nadira sepenuh hati. Saya juga sudah utarakan itu ke Nadira, dan Nadira pun mencintai saya juga. Jadi, kami sekarang saling mencintai pak." jawab Albert.
"Bapak tidak yakin dengan ucapan kamu barusan Albert, kamu terlihat meragukan." kata Suhendra.
"Itu terserah bapak, intinya saya sudah jujur dengan perasaan saya pada Nadira. Saya juga janji sama bapak, kalau saya akan jaga keutuhan rumah tangga saya dan Nadira!" ucap Albert.
"Baiklah, bapak pegang omongan kamu!" ucap Suhendra.
Albert mengangguk pelan, ia merasa sedikit lega karena sudah berani jujur pada Suhendra, walau tentu saja suasana hatinya masih tegang.
•
•
Vanesa berhasil menerobos masuk hingga ke bekas ruangannya dulu yang kini ditempati oleh Carolina selaku sekretaris baru disana.
Carolina yang sedang bekerja, terkejut melihat seorang wanita muncul di ruangannya dan masuk begitu saja kesana.
"Wah wah... ternyata ruangan ini sudah ditempati oleh orang baru ya, cepat sekali pak Albert menemukan pengganti saya. Tapi, saya gak yakin sih kalau kamu bisa bekerja dengan baik di perusahaan ini seperti saya dulu." ucap Vanesa bergerak mendekati Carolina.
Carolina pun bangkit dari kursinya, menatap ke arah Vanesa dengan wajah heran.
"Kamu siapa? Mau apa masuk ke ruangan saya? Dengar ya, tidak sembarang orang bisa masuk kesini. Dan satu lagi, kamu juga sudah tidak sopan karena masuk tanpa seizin saya. Saya bisa loh telpon security sekarang buat usir kamu," ujar Carolina.
"Sabar mbak sabar! Jangan emosi dulu! Saya kesini cuma mau lihat-lihat bekas ruangan saya kok, saya gak pengen bikin masalah disini. Jadi, kamu gak perlu telpon security!" ucap Vanesa.
"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Carolina kesal.
"Oh ya, kenalkan saya Vanesa. Saya ini mantan sekretaris pak Albert, dan ruangan ini juga dulunya adalah ruangan milik saya." jawab Vanesa.
"Kalau udah mantan, ngapain kamu masih kesini? Gak bisa moveon ya dari perusahaan ini?" tanya Carolina meledek Vanesa.
"Ahaha, jelas aja saya gak bisa moveon. Karena disini lah saya pertama kali bekerja, dan perusahaan ini juga yang sudah memberikan kesan indah serta buruk bagi saya." kata Vanesa.
"Apapun itu, saya tidak perduli. Kamu lebih baik keluar sekarang!" bentak Carolina.
"Saya tidak akan pergi dari sini, sebelum saya bisa bertemu dengan pak Albert. Kamu kan sekarang sekretarisnya, tolong dong telponin pak Albert untuk saya!" ucap Vanesa.
"Saya bukan orang yang bisa disuruh-suruh sama kamu! Saya juga yakin, pak Albert pasti gak akan mau ketemu sama kamu!" ucap Carolina.
"Ohh jadi begini ya sikap seorang sekretaris yang baru? Memang kamu itu tidak pantas berada disini, kamu lebih cocok bekerja di bedeng bukan di tempat seperti ini!" ujar Vanesa.
"Kenapa gak kamu aja yang kerja disana? Kamu kan pengangguran tuh, mending kamu cari kerja sana biar dapat duit! Daripada kamu terus ganggu pak Albert yang udah gak butuh kamu lagi, ya kan?" ucap Carolina tersenyum smirk.
"Hahaha... ternyata kamu berani juga ya melawan saya? Oke fine, sekarang kamu boleh bersikap seperti ini dan membela bos kamu yang tampan itu. Tapi, saya yakin gak lama lagi pasti kamu bisa merasakan apa yang saya rasakan." kata Vanesa.
"Maksud kamu apa?" tanya Carolina tak mengerti.
__ADS_1
"Kamu lihat ini kan, sekretaris baru?" Vanesa menunjukkan perutnya yang mulai membesar itu kepada Carolina sembari mengusapnya.
"Kamu hamil? Lalu, apa masalahnya?" tanya Carolina keheranan.
"Benar kamu ingin tahu? Janji gak bakal kaget mendengarnya?" ujar Vanesa sengaja mengulur waktu.
"Iya, buat apa juga saya kaget?" ucap Carolina.
"Oke! Saya akan ceritakan semua yang saya alami selama bekerja disini. Dan saya yakin, kamu pasti bakal berpikir-pikir lagi buat bekerja di tempat yang seperti ini." kata Vanesa.
"Kamu tidak usah bertele-tele, cepat katakan saja apa maksud kamu!" tegas Carolina.
"Baiklah, saya ini..." Vanesa melangkah menuju kursi sembari menceritakan semua kejadian yang ia alami kepada Carolina.
•
•
Keenan tiba di sekolah bersama adik tercintanya, pria itu tersenyum ke arah Celine dan melepas sabuk pengaman dari tubuhnya.
"Nah udah, lu bisa turun sekarang!" ucap Keenan.
"Iya bang, thanks ya udah anterin gue ke sekolah!" ucap Celine tersenyum.
"Sama-sama sayang, lu belajar yang rajin ya. Jangan cari masalah di sekolah!" ucap Keenan.
"Yah elah bang, emang kapan sih gue cari masalah? Nih ya, gue seumur-umur aja belum pernah tuh dipanggil sama guru BK." kata Celine.
"Iya gue tau, kan gue cuma ngingetin lu aja." ujar Keenan tersenyum lebar.
"Yaudah deh, kalo gitu makasih ya bang udah ingetin gue! Sekarang gue mau turun dulu ya? Sampai ketemu lagi nanti siang!" ucap Celine pamit dan mencium tangan abangnya.
"Oke, bye sayang!" ucap Keenan.
Celine hendak membuka pintu dan turun dari mobil, namun entah mengapa Keenan malah mencekal lengannya dari samping.
"Ih bang, lu kenapa sih?" tanya Celine bingung.
"Sebentar dulu!" ucap Keenan sembari menarik Celine ke dekatnya.
Pria itu memandangi wajah Celine dari jarak sangat dekat, ia mengusap rambut gadis itu lalu memberi kecupan lembut pada kening serta pipi Celine secara bergantian.
Bahkan tak hanya disitu, Keenan juga mengecup hidung dan dagu Celine.
"Bang, lu kenapa sih?" tanya Celine bingung.
"Gapapa. Gue tuh sayang banget sama lu, makanya gue cium lu terus kayak gini." jawab Keenan singkat.
"Hah? Darimana ceritanya sayang itu harus ciumin wajah adiknya terus-menerus?" ujar Celine.
"Ya gak ada, kan setiap orang punya cara masing-masing untuk mengungkapkan rasa sayang mereka ke orang yang mereka cintai. Nah, begitulah cara gue Cel." kata Keenan tersenyum.
"Iya aja deh, yaudah ya bang gue harus turun sekarang! Kalo enggak, nanti gue bisa telat dan malah gak dibolehin buat masuk." kata Celine.
"Oh iya, lu boleh pergi deh!" ucap Keenan.
Celine mengangguk, ia kembali mencium tangan Keenan lalu turun dari mobil.
Kali ini pria itu membiarkan Celine turun, karena ia juga tak mau adiknya terlambat sekolah.
"Bye bang!" ucap Celine sembari melambai ke arah Keenan dari luar.
"Bye sayang!" balas Keenan.
Gadis itu pun melangkah pergi meninggalkan Keenan dengan sedikit tergesa-gesa.
Keenan terus memandangi adiknya sampai punggung sang adik hilang dari matanya.
"Celine itu imut banget!" ujarnya spontan.
Drrttt..
Drrttt...
Tiba-tiba ponselnya berdering, Keenan yang hendak melaju pun mengurungkan niatnya dan lebih memilih mengangkat telpon itu.
"Loh, Carolina? Ada apa ya?" gumamnya heran.
Karena penasaran, Keenan segera mengangkat telpon dari sekretaris baru bosnya itu.
📞"Halo Carol! Ada apa kamu telpon saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Keenan penasaran.
__ADS_1
📞"Halo pak! Benar, ada yang ingin saya sampaikan ke bapak kali ini." jawab Carolina.
📞"Apa itu?" tanya Keenan bingung.
📞"Saya mau mengajukan pengunduran diri, pak. Saya rasa saya tidak bisa bekerja di perusahaan ini lagi sebagai sekretaris pak Albert," jawab Carolina.
📞"Apa? Hey, kamu sedang tidak bercanda kan? Kamu baru mulai bekerja loh, masa sudah mau resign? Yang benar saja!" ujar Keenan heran.
Keenan menganga lebar mendengar apa yang disampaikan Carolina padanya.
•
•
Albert dan Nadira juga baru saja selesai sarapan bersama di rumah Suhendra.
Sepasang suami-istri itu kini berada di mobil dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Nadira heran melihat suaminya itu tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Ah enggak kok, aku gak kenapa-napa." jawab Albert mengelak.
"Beneran mas? Tapi, kamu kelihatan kayak lagi mikirin sesuatu. Eh ya, tadi sewaktu aku lagi sama ibu di dapur, kamu ngobrolin apa aja sama ayah?" tanya Nadira curiga.
"Oh itu, ayah kamu cuma bahas soal kerjaan kok. Kamu gak perlu khawatir, sekarang ini antara saya dan pak Hendra udah gak ada masalah. Apalagi beliau itu kan ayah kamu, otomatis pak Hendra juga sudah menjadi orang tua saya." jawab Albert.
"Iya mas, tapi beneran kamu gak ada apa-apa? Aku tahu loh mas, kamu itu lagi sembunyiin sesuatu dari aku. Mending kamu cerita aja deh sama aku!" ujar Nadira penasaran.
"Apa sih sayang? Lama-lama saya cubit juga nih pinggang kamu!" ujar Albert.
"Ish, aku serius mas!" ucap Nadira.
"Aku juga kok, emang kamu pikir daritadi saya gak serius ha? Kamu aja yang gak percayaan sama suami sendiri," ucap Albert.
"Bukan begitu, abisnya kamu tuh emang kayak lagi sembunyiin sesuatu dari aku." kata Nadira.
"Enggak ada kok sayang, kamu tenang aja ya! Saya mana pernah sembunyiin sesuatu dari kamu?" ucap Albert tersenyum mengusap rambut Nadira dengan lembut.
"Iyain aja deh mas, awas ya kalau kamu ternyata bohong sama aku dan sembunyiin sesuatu dari aku!" ucap Nadira mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Albert.
Albert tersenyum lebar, meraih jari telunjuk Nadira dan menjilatnya.
"Ih kamu jorok banget sih, mas!" ujar Nadira reflek menarik jari telunjuknya dari genggaman Albert.
"Hahaha... makanya kamu jangan sembarangan nunjuk-nunjuk suami, gak boleh tau begitu!" ujar Albert tertawa lepas.
"Ya maaf, abisnya kamu!" cibir Nadira.
"Kok jadi saya? Kan saya udah bicara jujur sama kamu, emang gak ada apa-apa. Yaudah ya, saya mau fokus cari Vanesa abis ini. Kamu gapapa kan saya tinggal di rumah?" ucap Albert.
"Gapapa mas, maaf ya kemarin aku gagal bantu kamu buat temuin Vanesa!" ucap Nadira.
"Santai aja!" ucap Albert singkat.
Albert mendekatkan wajahnya ke arah Nadira, bibir mereka saling mendekat dan bersiap bersentuhan satu sama lain.
Drrttt..
Drrttt...
Namun, sialnya ponsel milik Albert justru berbunyi dan membuat pria itu kesal sembari menepuk jidatnya.
"Aduh ganggu aja sih!" umpatnya kesal.
"Angkat mas!" ucap Nadira menahan senyumnya.
Albert pun mengangkat telpon itu.
📞"Halo! Ada apa sih Keenan? Kamu tahu gak sekarang saya lagi sama Nadira? Ganggu aja deh!" geram Albert di dalam telpon.
Sedangkan Nadira terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya.
📞"Ma-maaf tuan! Saya gak bermaksud mengganggu tuan, tapi ini ada berita penting yang harus saya sampaikan ke tuan." kata Keenan.
📞"Oh ya? Soal apa?" tanya Albert penasaran.
📞"Carolina pak, Carolina barusan telpon saya dan dia bilang kalau dia mau resign dari perusahaan, pak." jawab Keenan.
📞"Apa??" Albert terkejut bukan main mendengarnya, bahkan ia sampai menegakkan tubuhnya dengan mulut terbuka.
Nadira ikut terkejut melihat suaminya seperti itu, ia penasaran apa penyebab Albert sampai kaget begitu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...