Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Jalan-jalan yuk!


__ADS_3

Albert tiba di rumahnya, ia bergegas masuk ke dalam rumahnya dan menuju kamar Nadira. Ya pria itu sudah tak bisa lagi menahan hasratnya, sudah terbayang dalam kepalanya seperti apa kejadian yang akan terjadi antara ia dengan Nadira nanti.


Sangking bergairahnya, bahkan Albert sampai tak menggubris panggilan dari Keenan maupun para pelayan yang bekerja disana menawarkan minum untuknya, kini yang ada di kepala Albert hanyalah Nadira dan ia menginginkan wanita itu bukan yang lain, sehingga ia tak perduli dengan apapun itu kecuali Nadira seorang.


Ceklek...


Dengan cekatan Albert membuka pintu, dilihatnya Nadira sudah berganti pakaian dan berdiri di dekat jendela kamar. Tentu saja Albert seketika merasa kecewa, ia padahal sudah membayangkan akan menghujam tubuh Nadira dengan kenikmatan yang hebat dan luar biasa.


"Tuan Albert? Kok tuan udah pulang aja sih? Ini kan masih sore, apa kerjaan tuan di kantor udah selesai?" tanya Nadira bingung.


"Ya, saya sudah selesai! Saya buru-buru pulang ke rumah karena kamu!" jawab Albert.


"Hah??"


Nadira merasa bingung dengan maksud dari perkataan Albert barusan, ia pun menghampiri pria itu dengan wajah penasaran dan berhenti di dekatnya sambil tersenyum manis.


"Maksud tuan gimana sih? Aku gak ngerti deh, kok pulang karena aku? Emang aku kenapa?" tanya Nadira terheran-heran.


"Tadi siapa yang berani goda saya waktu lagi di kantor? Kamu kan? Jadi, saya cepat-cepat pulang ke rumah karena saya pengen minta jatah dari kamu Nadira! Tapi, kenapa kamu malah ganti baju? Mana baju dinas kamu yang tadi?" ujar Albert.


"Umm, ya udah aku lepas lah tuan! Lagian aku mana tau kalo tuan mau pulang!" ucap Nadira.


"Ah yasudah, saya tidak mau tau pokoknya sekarang kamu harus ganti lagi pakai baju dinas kamu! Atau saya akan hukum kamu dengan kasar, mau kamu ha?!" ancam Albert.


"Jangan tuan!" ucap Nadira ketakutan.


"Yaudah, cepat pakai lagi baju dinas kamu! Saya udah enggak bisa tahan lagi, dia udah mau keluar dari sarangnya!" ucap Albert.


"I-i-iya tuan, tapi kenapa aku harus pake baju itu lagi? Kan tuan pengen minta jatah, nanti malah jadi ribet dong tuan kalau saya pakai baju dulu! Kan bisa langsung lepas aja!" ucap Nadira.


"Udah deh, kamu jangan bantah dan banyak tanya! Lakuin aja apa yang saya suruh, cepat!" tegas Albert.


"Iya tuan, maaf!" ucap Nadira merunduk.


Nadira pun menuruti kemauan suaminya, ia perlahan melepas pakaian yang dikenakannya saat ini di hadapan Albert, lalu ia mengambil baju dinas pemberian Albert tadi dan memakainya kembali sesuai permintaan pria tersebut.


Albert sendiri masih tertegun menyaksikan momen indah yang ada di depan matanya, kemolekan tubuh Nadira membuatnya tak bisa berkata-kata, ia hanya terus memandangi tubuh Nadira dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewati, ia menjilat bibirnya sendiri tak kuasa menahan gairah di tubuhnya.


"Sudah cukup! Biar saya yang melanjutkan, kamu diam dan nikmati Nadira!" ucap Albert.


Nadira terkejut saat Albert tiba-tiba maju dan mencengkeram kedua tangannya cukup erat, pria itu mengikat dua tangan Nadira menggunakan dasi miliknya, lalu membawanya ke atas ranjang.


"Tu-tuan pelan-pelan!" ucap Nadira gugup.


"Saya tidak suka diatur, biarkan saya menikmati permainan ini dengan cara saya sendiri! Saya yakin kamu juga pasti akan menikmatinya!" ucap Albert.


Nadira pun memejamkan mata, namun Albert langsung menampar pipinya dengan keras membuat wanita itu meringis kesakitan.


Plaaakk...


"Awhh! Tu-tuan, kenapa tuan tampar saya?" tanya Nadira tak mengerti.


"Jangan pejamkan mata kamu!" tegas Albert.


"Ba-baik tuan!" ucap Nadira menurut.


Pria itu mulai beraksi, mengendus leher Nadira dan menciumi setiap inci wajah sampai bagian dada wanita itu. Albert semakin bergairah, ia merobek baju dinas yang dikenakan Nadira dengan mudahnya sembari melahap bibir wanita itu.


Sreekkk...


Suara robekan itu terdengar jelas di telinga Nadira, ia heran mengapa Albert membelikan ia baju itu jika hanya untuk dirobek.


Tentu yang terjadi setelahnya bisa ditebak, mereka melakukan hubungan panas dengan sangat agresif dan liar. Bahkan, Nadira juga mulai terbuai dengan semua sentuhan suaminya.




Setelah puas bermain selama lima ronde dalam kurun waktu empat jam lebih, kini keduanya tergeletak lemas di atas ranjang dengan tubuh telanjang, Albert terlihat masih memainkan puncak gunung kembar Nadira menggunakan jari telunjuknya dan sesekali mengecup pipi Nadira.


Albert tersenyum sembari mengusap wajah penuh peluh Nadira dengan satu tangannya, sedangkan wanita itu hanya diam berusaha mengatur nafasnya yang masih terengah-engah akibat permainan Albert, tak terhitung berapa kali ia mencapai puncaknya tadi.

__ADS_1


"Nadira, saya semakin dibuat gila sama tubuh kamu! Saya pengen setiap jam bisa setubuhi kamu sampai selamanya!" ucap Albert.


"Tuan, itu semua kan terserah tuan! Aku juga udah gak punya pikiran buat kabur dari sini," ujar Nadira pasrah.


"Bagus! Kamu memang wanita yang penurut! Sebagai hadiah karena kamu udah memuaskan saya, yuk besok kita pergi ke mall dan kamu bebas belanja apa aja yang kamu mau!" ucap Albert.


"Belanja? Di mall? Tuan serius mau ajak saya ke mall?" tanya Nadira tak percaya.


"Buat apa saya bercanda? Saya cuma pengen kasih hadiah buat kamu, karena tubuh kamu benar-benar bikin saya enak! Lagipun, cuma satu kali mah gapapa itung-itung bikin kamu senang Nadira! Tapi, tetap kamu harus dalam pengawasan saya!" ucap Albert.


"Iya tuan, makasih!" ucap Nadira tersenyum.


Cupp!


Albert kembali mengecup pipi dan kening Nadira secara bergantian, lalu mencolek hidung wanita itu karena gemas. Nadira menggeser kepalanya lebih dekat dengan Albert, bahkan ia membenamkan wajahnya pada dada kotak-kotak milik Albert.


Namun, Albert justru mengangkat kepala Nadira dan memindahkannya, membuat Nadira ketakutan.


"Ma-maaf tuan, saya lancang!" ucap Nadira.


"Gapapa, saya cuma pengen lihat wajah kamu lebih jelas Nadira, makanya saya pindahkan kepala kamu! Oh ya, kita mandi bareng yuk! Tubuh kamu udah penuh keringat semua nih!" ucap Albert.


"Ya kan gara-gara tuan Albert juga! Eee tapi, aku bisa mandi sendiri kok tuan, gak perlu bareng sama tuan!" ucap Nadira.


"Gak ada penolakan!" tegas Albert.


"I-i-iya tuan, tapi punya aku masih sakit banget! Tuan jangan lakuin itu lagi ya pas mandi nanti? Kalau tuan maksa buat terobos punya aku, nanti yang ada aku makin tambah kesakitan tuan!" ujar Nadira memelas.


"Tenang aja! Saya cuma mau bantu gosok punggung kamu, dan gunung kembar kamu!" ucap Albert.


Nadira melongok dibuatnya, pria itu justru terkekeh dan langsung bangkit menggendong tubuh Nadira ala bridal style, membawanya ke dalam kamar mandi.


Di sela-sela perjalanan, Nadira menyempatkan diri untuk bertanya pada Albert mengenai sikapnya yang perlahan berubah kepadanya.


"Tuan, aku mau tanya sebentar deh! Boleh enggak?" ucap Nadira minta izin dulu.


"Ya, silahkan!" ucap Albert.


"Eee tuan kenapa jadi lembut gini sama aku? Biasanya tuan selalu kasar dan bikin aku menderita, tapi tadi tuan malah kasih saya kenikmatan yang luar biasa!" tanya Nadira.


"Oh gitu, yaudah seterusnya aja begitu ya tuan? Aku gak kuat kalo tuan kasar terus!" ucap Nadira.


"Tergantung!" ucap Albert.


"Tergantung apanya?" tanya Nadira heran.


"Kamu mau nurut terus sama saya atau enggak, kalau misal kamu ngebantah kata-kata saya sekali aja, udah pasti saya akan hukum kamu secara kasat dan brutal!" jawab Albert.


Nadira menganga lebar mendengar jawaban Albert, sedangkan pria itu terkekeh dan lanjut melangkah.




Keesokan harinya, Albert telah bersiap mengajak istrinya pergi ke mall sesuai dengan yang telah ia janjikan kemarin pada Nadira. Ya keduanya pun sudah berpakaian rapih, bahkan Nadira juga telah wangi dan nampak cantik dengan balutan dress berwarna merah yang dipilihkan oleh Albert.


Nadira pun menghampiri suaminya, dengan cepat Albert berdiri lalu merengkuh pinggang Nadira dan merapatkan tubuh mereka, Albert mengendus leher Nadira membuat wanita sedikit mengerang.


"Mmhhh..." satu suara lolos dari mulut Nadira saat Albert menggigit lehernya dan meninggalkan tanda cinta disana.


"Tuan, cukuph!" lirih Nadira memohon.


Albert tersenyum tipis, bukannya berhenti ia justru semakin liar menjilati area leher Nadira sambil mencengkram buah dada wanita itu.


"Saya punya ide supaya perjalanan kita kali ini lebih menantang Nadira!" bisik Albert.


"Maksud tuan?" tanya Nadira bingung.


Albert tersenyum menyeringai, kemudian melepas sejenak tangannya dari Nadira dan mengambil sesuatu benda kecil di dalam laci, pria itu pun kembali mendekati Nadira dengan sebuah benda kecil bulat di tangannya.


Nadira masih merasa heran dan bingung, ia tak mengerti apa yang akan dilakukan Albert padanya kali ini. Namun, ia tentu tahu kalau pria itu pasti memiliki rencana yang tidak benar.

__ADS_1


"Nah Nadira, saya akan masukkan ini ke dalam milik kamu! Dan selama perjalanan nanti, kamu bisa merasakan sensasi yang hebat dari benda ini! Gimana? Kamu pasti suka kan dengan rencana saya ini?" ujar Albert menunjukkan benda itu kepada Nadira.


Seketika wajah Nadira berubah terkejut, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.


"Tu-tuan, jangan!" tolak Nadira.


Hal itu sia-sia saja, karena tak mungkin seorang Albert akan mendengarkan permohonan Nadira. Justru Albert langsung menyingkap dress Nadira dan membuka celana yang dikenakannya, Albert pun memasukkan benda tersebut ke dalam milik Nadira tanpa ragu, sedangkan Nadira hanya bisa terdiam tak mampu melawan atau berbuat apa-apa.


Albert membenarkan semula dress Nadira, lalu menatap wajahnya.


"Sudah selesai, kita bisa berangkat sekarang Nadira! Saya akan menyalakan alat itu begitu kita berada di mobil, kamu tidak perlu khawatir karena selama kamu mau menurut saya hanya akan menyetel getaran kecil untuk kamu!" ucap Albert.


"I-i-iya tuan, saya mengerti!" ucap Nadira gugup.


"Bagus, anak pintar! Yasudah, ayo kita keluar sekarang dan saya akan berikan sensasi luar biasa itu ke kamu secepatnya!" ucap Albert.


Nadira menelan saliva nya susah payah, Albert mulai mendekat menaruh satu tangannya di pundak sang istri, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk mengambil sesuatu dari dalam jaketnya.


Terlihat Albert memegang sebuah remote control yang tentunya adalah alat untuk mengatur tempo getaran di dalam milik Nadira, sontak wanita itu tertegun saat melihatnya.


"Siap sayang?" tanya Albert berbisik.


Nadira hanya melongok tak menjawab apapun, rasanya ini sangat asing baginya karena belum pernah ia bepergian dengan sebuah benda kecil ada di dalam miliknya, apalagi ketika nanti Albert akan mulai menggetarkan benda tersebut.


"Aku harus gimana nih?" batin Nadira.




Saat hendak menuju mobil, Albert dan Nadira dicegat oleh Chelsea yang penasaran dengan kedua manusia tersebut.


"Kak tunggu! Kakak sama Nadira mau kemana? Kok rapih banget begini?" tanya Chelsea penasaran.


"Eee iya, kakak mau ajak Nadira jalan-jalan berdua! Emangnya cuma kamu sama Keenan aja yang bisa begitu? Kakak juga bisa kali!" jawab Albert sambil tersenyum dan mendekap tubuh Nadira.


"Yeh dasar kakak! Emang kakak mau jalan-jalan kemana sih?" ujar Chelsea.


"Ada deh, pokoknya ke tempat yang bikin Nadira bahagia! Udah, kamu gausah banyak tanya mending pacaran sama Keenan sana!" ujar Albert.


"Dih, iya iya!"


Albert tersenyum menatap wajah Nadira, kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobilnya. Ia sengaja tak mau meminta antar pada Keenan ataupun supir pribadinya, karena ia ingin berduaan saja dengan Nadira di dalam mobil.


Begitu sampai di dalam mobil, Albert langsung mendekat ke arah Nadira hingga membuat wanita itu terkejut karena tiba-tiba wajah Albert sudah berada di depan bibirnya.


Cupp!


Pria itu berhasil mencuri satu kecupan lembut di bibirnya, Nadira hanya diam tak bergerak.


"Tu-tuan mau apa?" tanya Nadira gugup.


"Saya cuma mau pasangin seat belt di tubuh kamu!" jawab Albert dingin.


Benar saja Albert melakukan apa yang dikatakannya, sesudah memasang seat belt di tubuh Nadira kini Albert kembali menjauh dan duduk di tempatnya, ia tersenyum licik sambil memegang remote di tangannya dan melirik ke arah Nadira sekilas.


"Untuk permulaan sedang kayaknya gak buruk, baru nanti saya akan tingkatkan getaran itu di perjalanan!" ucap Albert sambil memencet tombol pada remote itu dan tersenyum.


Nadira pun mulai merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam miliknya, ia menggigit bibir bawahnya berusaha sekeras mungkin agar tidak mengeluarkan suara disana. Tangannya mencengkram erat dress yang ia kenakan sambil terus memejamkan mata.


"Kamu boleh bersuara kok disini, kan gak ada orang selain kita!" ucap Albert.


"Mmhhh sshhh tuann saya mohon, pelankan!" ucap Nadira sedikit bersuara keenakan.


"No," jawab Albert singkat.


Albert mulai memacu mobilnya meninggalkan rumah, ia senyum-senyum puas melihat Nadira kesulitan mengendalikan dirinya.


"Ini baru awal Nadira, nanti saya akan semakin percepat getaran itu begitu kita sampai di mall! Dan kamu pasti akan semakin keenakan, itu yang saya suka dari kamu!" gumam Albert dalam hati.


Nadira bersusah payah menahan tubuhnya yang semakin menggelinjang akibat getaran itu, ia bingung harus apa, berkali-kali ia meminta pada Albert untuk menghentikan itu, namun pria itu seolah acuh.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2