Dinikahi Ceo Kejam

Dinikahi Ceo Kejam
Sekretaris baru


__ADS_3

Albert dan Nadira keluar dari kamar, mereka hendak pergi keluar sesuai permintaan Albert.


Keduanya pun sudah tampak rapih dengan pakaian yang dikenakannya, Nadira juga sangat anggun memakai gaun yang baru dibelikan oleh Albert khusus untuk malam ini.


Pria itu merengkuh pinggang Nadira, memberi kecupan lembut di kening istrinya sembari mengusapnya lembut.


"Kamu makin cantik sayang!" ucap Albert.


Nadira semakin meleleh dibuatnya, wanita itu hanya bisa tersenyum memalingkan wajahnya yang sudah memerah.


Albert tak membiarkan itu terjadi, ia menarik wajah Nadira agar bisa tetap memandanginya.


"Jangan buang muka dong! Saya mau lihat wajah kamu yang cantik ini, jadi kamu tatap ke arah saya aja ya!" pinta Albert.


"I-i-iya tuan.." ucap Nadira menurut.


"Hey! Kok masih manggil tuan aja sih? Saya kan udah bilang tadi, kamu harus biasakan panggil saya dengan sebutan 'mas'! Saya ini suami kamu, bukan lagi tuan kamu. Awas ya sekali lagi kamu panggil saya tuan, saya hukum kamu!" ujar Albert.


"Iya tuan, eh maksud aku mas." Nadira masih belum terbiasa dengan panggilan baru itu, akibatnya ia pun terus salah memanggil Albert.


"Hadeh kamu itu gemesin banget sih! Yasudah, yuk kita lanjut ke depan!" ucap Albert.


Nadira mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Albert sambil terus bergumam di dalam hatinya, berpikir tentang sikap Albert yang tiba-tiba berubah drastis itu.


"Aku jadi bingung. Apa aku harus senang atau justru sedih dengan perubahan sikap tuan Albert sekarang? Pasalnya, aku tahu kalau tuan Albert begini karena dia ingin aku melupakan kehamilan Vanesa." batin Nadira.


Tanpa disengaja, sepasang suami-istri itu malah berpapasan dengan Chelsea saat hendak pergi menuju ruang depan.


"Eh kak, Nadira. Pada mau kemana sih ini rapih banget kayak gini? Terus gak biasanya juga kak Albert sampai seceria ini jalan sama Nadira, ada apa sih?" tanya Chelsea penasaran.


"Gak ada kok. Kakak cuma mau habiskan waktu berdua sama Nadira aja," jawab Albert santai.


"Ah masa sih? Bukannya tadi Nadira marah ya sama kakak? Kok bisa secepat ini Nadira maafin kakak? Emang sebelumnya kalian ada masalah apa sih?" Chelsea masih penasaran dengan hubungan kakaknya dan Nadira itu.


"Kamu ini kenapa sih Chelsea? Kayaknya gak suka banget lihat hubungan kakak sama Nadira akur. Oh atau kamu pengen kita berdua ini berantem terus, iya? Kamu jahat banget sih, adik macam apa kamu Chelsea!" geram Albert.


"Ih bukan begitu kak, aku kan cuma kepo aja. Aku mau tau gimana caranya kalian bisa baikan secepat ini, siapa tahu aku bisa tiru nanti kalau udah nikah sama Keenan!" ujar Chelsea.


"Hah? Kamu masih kecil udah ngomongin nikah aja, belum boleh!" ujar Albert.


"Loh kakak gimana sih? Umurku sama umur Nadira aja masih tuaan umurku, masa Nadira yang masih belasan tahun udah nikah, terus aku belum boleh? Gak adil dong kak!" ujar Chelsea.


"Itu beda Chelsea. Aku kan nikah bukan karena keinginan aku, tapi karena aku dipaksa sama orang ini, kakak kamu sendiri." ucap Nadira tersenyum.


"Ya iya sih," ucap Chelsea.


"Yaudah, kakak sama Nadira mau pergi dulu. Kamu jangan halangi waktu kita berdua, karena kita mau memperbaiki hubungan kita! Kamu itu kan punya pacar, ajak lah dia jalan gitu biar kamu gak ganggu kakak sama Nadira terus!" ujar Albert.


"Yeh ge'er banget sih kak! Siapa juga yang mau gangguin kakak? Orang aku cuma nanya, kalo kakak sama Nadira mau pergi ya silahkan aja, gak ada yang ngelarang!" cibir Chelsea.


"Hmm emang dasar nih anak ngeselin! Oke, yuk kita pergi Nadira!" ucap Albert.


Nadira mengangguk pelan, ia bersama suaminya pun melanjutkan langkah mereka pergi meninggalkan Chelsea yang masih kebingungan.


"Gue heran deh. Kok bisa sih mereka baikan secepat ini? Hadeh, padahal gue senang banget kalau mereka berantem!" gumamnya.




Singkat cerita, sepasang suami-istri itu tiba di rooftop restoran yang sudah dipenuhi oleh meja serta berbagai riasan di sekelilingnya.


Nadira cukup terbelalak melihat apa yang ada di depan matanya saat ini, cukup banyak makanan tersaji di atas meja, alunan musik merdu serta berbagai macam hiasan mewah berada disana.


"Mas, kamu yang buat semua ini?" tanya Nadira menatap wajah suaminya.


"Tentu. Kamu lihat kan ukiran di depan sana?" ucap Albert menunjuk ke arah sebuah patung yang berbentuk dirinya dan juga Nadira.


"Iya, aku lihat. Itu aku sama kamu kan?" ucap Nadira cukup syok.


"Benar banget! Saya sengaja sewa seniman handal untuk mengukir patung itu, karena saya mau kamu bisa bahagia malam ini. Jadi gimana, kamu udah bahagia belum?" ucap Albert.


"Ya udah sih, tapi dikit." ucap Nadira.

__ADS_1


"Oh gitu. Gapapa deh, yang penting kamu bisa bahagia walau cuma sedikit. Sekarang kita duduk yuk dan cobain makanannya! Siapa tahu dengan begitu, kamu bisa lebih bahagia. Ya kan?" ucap Albert.


"Umm.. bisa jadi. Tapi, kita duduknya jangan sebelahan ya! Hadap-hadapan aja, soalnya aku bosen di sebelah kamu terus!" ucap Nadira.


"Oh gapapa. Justru emang posisi itu yang pas kalau lagi dinner kayak gini, yaudah yuk kita duduk!" ujar Albert tersenyum renyah.


Albert menarik kursi untuk membantu Nadira duduk lebih mudah disana, wanita itu duduk dengan santai sambil sesekali memandangi patung dirinya yang ada di depan sana.


"Kok yang dilihatin patungnya terus sih? Kenapa gak ngeliatin saya?" ujar Albert.


"Buat apa aku lihatin kamu? Kan udah sering. Aku tuh pengen lihat sesuatu yang beda, contohnya ya patung itu. Yang buatnya keren banget dih, soalnya itu patung mirip banget sama aku! Tapi sayang aja sih, ngapain coba ada patung kamu di samping aku? Gak asik banget!" ucap Nadira.


"Hey Nadira! Kamu kok begitu sih? Saya kan suami kamu, sudah sewajarnya kalau kita berdampingan seperti patung itu!" ucap Albert.


"Kita emang suami-istri, aku tahu itu. Tapi, tetap aja kamu udah selingkuh dari aku dan bahkan sampai hamilin sekretaris kamu sendiri. Gimana caranya supaya aku gak emosi soal itu, mas?" ucap Nadira menatap sinis ke wajah Albert.


"Sabar sayang! Kita cobain aja dulu makanannya, ini enak loh! Kamu mau aku suapin gak?" ucap Albert berupaya membujuk Nadira, ia mengambil sesendok makanan disana untuk Nadira.


"Yuk dibuka mulutnya! Aaaaa..." Albert mengarahkan sendok itu ke mulut Nadira layaknya seorang ayah tengah menyuapi putrinya.


Namun, Nadira tetap kekeuh tak mau menerima suapan dari suaminya itu, bahkan ia masih terus menutup mulutnya walaupun Albert terus memaksanya untuk membuka mulut.


"Ayolah sayang, buka dong mulutnya! Kamu jangan ngambek terus sama saya!" bujuk Albert.


"Gak mau! Kita makan sendiri-sendiri aja, aku bukan anak kecil lagi yang harus disuapin. Lagian lebih enak makan sendiri tau!" ucap Nadira.


"Huft, yaudah deh." ujar Albert pasrah.


Akhirnya Albert menyerah, ia tidak lagi memaksa untuk menyuapi Nadira. Melihat Nadira mau makan saja sudah cukup baginya, biarpun ia masih sedih karena Nadira belum mau memaafkannya.


"Nadira kalau marah susah banget sih dibujuknya!" batin Albert.




Keesokan paginya, seisi kantor dibuat heboh dengan kehadiran sosok wanita cantik di perusahaan milik Albert itu.


Wanita tersebut bahkan sudah membuat dua orang security yang berjaga di depan merasa terpana, mereka menganga lebar tanpa mengalihkan pandangan dari tubuh sintal wanita itu.


"Eee permisi...!!" ucap wanita itu kepada sang resepsionis disana.


"Ah iya, ada yang bisa saya bantu mbak?" ujar resepsionis itu sedikit terkejut.


"Saya mau bertemu dengan pak Albert, apa beliau sudah datang?" ucap wanita itu.


"Umm... apa anda sudah ada janji dengan pak Albert sebelumnya?" tanya resepsionis itu.


"Sudah kok, justru asisten pak Albert sendiri yang meminta saya datang kesini pagi ini. Jadi bagaimana, saya bisa kan bertemu dengan pak Albert?" ucap wanita itu.


"Oh bisa kok mbak, tapi mbaknya harus menunggu sebentar ya! Karena pak Albert belum datang ke kantor saat ini," ucap sang resepsionis.


"Oh begitu, ya gapapa deh saya nunggu disini aja." kata wanita itu.


"Kalau begitu silahkan duduk disana dulu mbak! Saya akan coba hubungi pak Keenan selaku asisten pak Albert, untuk menanyakan dimana keberadaan mereka sekarang." kata resepsionis itu.


"Baik mbak, terimakasih!" ucap wanita itu.


"Oh ya, maaf sebelumnya! Tapi, boleh saya tahu nama mbaknya? Biar saya bisa beritahu pak Albert lebih mudah," tanya sang resepsionis.


"Boleh kok mbak, nama saya Carolina Angeline." kata wanita itu menjawabnya.


"Baik mbak, akan saya telpon pak Keenan sekarang. Silahkan menunggu terlebih dahulu ya mbak!" ucap resepsionis itu.


"Iya mbak," wanita bernama Carolina itu pun mengangguk, lalu berjalan menuju kursi tunggu yang ada di dekat sana.


Sementara resepsionis tadi mulai menelpon Keenan untuk mengatakan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengan Albert di kantornya.


"Ternyata kantornya lebih besar dari yang aku kira, gak nyangka aku bisa kerja disini sebagai sekretaris pak Albert. Semoga aku bisa berikan yang terbaik untuk perusahaan ini!" gumam Carolina dalam hati.


Resepsionis itu pun berbicara kembali pada Carolina setelah menghubungi Keenan.


"Mbak, barusan saya sudah beritahu pak Keenan kalau ada tamu untuk pak Albert. Beliau bilang, mbaknya silahkan menunggu di ruangan pak Albert sekarang!" ucap resepsionis itu.

__ADS_1


"Oh begitu, tapi ruangan pak Albert itu dimana ya mbak?" tanya Carolina bingung.


"Tenang aja mbak! Saya akan antar mbak ke ruangan pak Albert kok. Mari mbak!" ucap resepsionis itu.


"Makasih mbak!" ucap Carolina sambil tersenyum.


Kedua wanita itu pun melangkah bersamaan menuju lift disana, sepanjang perjalanan banyak sekali karyawan kantor yang terpukau melihat kecantikan Carolina, mereka bahkan sampai terpaku dan menganga lebar saat Carolina lewat di dekat mereka.


"Ini mereka semua pada kenapa sih? Kok ngeliatin aku terus daritadi? Apa ada yang salah sama aku?" batin Carolina bertanya-tanya.


Carolina pun mempercepat langkahnya, ia berbisik pada sang resepsionis bahwa ia merasa diperhatikan oleh hampir seluruh karyawan disana dan khawatir kalau ada yang tidak beres dengan dirinya.


"Mbak, kira-kira ada yang salah gak ya sama saya sekarang?" tanya Carolina berbisik.


"Loh, kenapa emangnya mbak?" resepsionis itu kebingungan.


"Itu daritadi karyawan disini pada ngeliatin saya semua, saya takut aja kalau penampilan saya salah atau dandanan saya gak benar." jelas Carolina.


"Ohh itu bukan karena mbaknya punya salah, tapi mereka terpesona sama mbak Angel." jawab resepsionis itu sambil tersenyum.


"Hah? Terpesona?"




Disisi lain, Keenan dan Albert masih berada dalam perjalanan menuju kantor. Keenan memberitahu pada Albert bahwa Carolina calon sekretaris barunya di perusahaan sudah tiba.


"Tuan, Carolina sekarang sudah sampai di kantor. Sepertinya dia sangat bersemangat untuk bisa menjadi sekretaris anda, tuan." ucap Keenan.


"Hahaha... jelas saja Keenan, siapa di dunia ini yang tidak mau menjadi sekretaris saya? Itu adalah pekerjaan yang diimpikan oleh hampir seluruh manusia di negeri ini, jadi wajar saja kalau dia sangat bersemangat!" ucap Albert tersenyum.


"Betul tuan!" Keenan mengiyakan saja.


"Yasudah, kamu percepat laju mobilnya! Saya tidak mau membuat Carolina menunggu terlalu lama, kasihan dia!" pinta Albert.


"Baik tuan! Tapi, sepertinya jalan di depan mulai macet tuan." kata Keenan.


"Tidak apa, kamu terobos saja! Cari jalan tikus agar kita terhindar dari kemacetan! Bukankah kamu sudah hafal jalan-jalan di sekitar sini?" ucap Albert.


"Iya tuan," ucap Keenan.


Keenan pun mencari jalan alternatif untuk bisa sampai di kantor lebih cepat dan menghindari kemacetan, Albert sendiri sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Carolina yang akan menjadi sekretarisnya nanti.


"Saya makin gak sabar buat ketemu kamu Carolina, lihat foto kamu aja saya udah terpesona, gimana pas ketemu langsung nanti? Pasti kamu lebih cantik!" gumamnya dalam hati.


Sesampainya di kantor, Albert justru disuguhkan dengan pemandangan yang kurang mengenakkan karena Vanesa lagi dan lagi sudah berdiri disana menunggunya.


Begitu melihat Albert datang, Vanesa pun langsung menghampirinya sambil tersenyum dan membawa kotak makanan di tangannya yang akan ia berikan pada Albert.


"Selamat pagi pak!" ucap Vanesa menyapa Albert.


"Pagi! Ngapain sih kamu masih datang kesini? Ada urusan apa lagi?" ucap Albert ketus.


"Bapak kok tanya begitu ke saya? Saya ini niatnya baik loh, saya cuma mau kasih makanan ini buat bapak. Dimakan ya pak! Saya buat sendiri loh khusus untuk bapak," ucap Vanesa.


"Saya tidak mau, saya tadi sudah makan masakan istri saya di rumah. Lebih baik kamu berikan itu ke security, atau Keenan saja!" ujar Albert.


"Lah kok jadi saya tuan?" tanya Keenan kaget.


"Pak, saya kan buat makanan ini untuk bapak. Kenapa bapak gak mau terima sih?" ucap Vanesa.


"Saya kan sudah bilang, saya kenyang. Lagipun, saya tidak mau menerima apapun dari kamu termasuk makanan ini. Jadi sebaiknya kamu pergi sekarang, karena saya tidak punya waktu untuk meladeni kamu!" ujar Albert.


"Keenan, kamu urus dia!" pinta Albert.


"Baik tuan!" ucap Keenan menurut.


Tanpa berlama-lama lagi, Albert pun melangkah pergi memasuki kantornya meninggalkan Vanesa bersama Keenan disana.


"Pak, tunggu pak!" Vanesa berupaya mengejar Albert, namun ditahan oleh Keenan.


"Jangan masuk ke dalam! Kamu cepat pergi dari sini sebelum saya murka!" geram Keenan mencengkeram tangan Vanesa.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2