
"HEY KALIAN!" sontak Harrison dan Vanesa langsung menoleh ke asal suara, mereka tercengang melihat Albert berdiri disana.
"Albert?" ucap mereka bersamaan.
"Pah, itu Albert kan? Dia kok balik lagi kesini? Apa mungkin dia belum kabur?" tanya Vanesa.
"Gak tahu, tapi itu gak penting. Kita harus bisa manfaatin ini untuk habisi Albert! Persiapkan senjata kamu Vanesa, kita lawan dia sekarang!" ucap Harrison.
"Iya pah, kebetulan Albert juga sudah tidak memegang senjata. Pistol miliknya telah diberikan pada Keenan tadi," ucap Vanesa.
"Kamu benar Vanesa!" ucap Harrison.
Mereka bersiap-siap menarik pistol di tangan mereka itu yang sudah terarah ke tubuh Albert.
Namun, Albert masih tampak santai dan terus berjalan hingga tiba di dekat keduanya.
"Hahaha, Albert Albert... dikasih kesempatan buat kabur malah gak dipake, mau cari mati ya kamu balik lagi kesini ha?" ujar Harrison.
"Saya bukan pengecut seperti kalian! Saya hanya tidak ingin keluarga saya terkena dampak dari serangan tak bermoral kalian ini! Maka dari itu, saya selamatkan mereka lebih dulu. Sekarang saya kembali lagi untuk menghabisi kalian berdua!" ucap Albert.
"Dimana Galen anak aku, Albert?? Tolong kamu kembalikan dia padaku! Aku sudah gak tahan lagi dengan semua ini, aku mau tinggal bersama dengan putraku!" ucap Vanesa.
"Beraninya kamu bilang begitu Vanesa! Galen sudah sah menjadi anakku, dia bukan anak kamu lagi. Perjanjian kita akan terus berlaku sampai saya mati nanti, Vanesa!" ucap Albert tegas.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membunuh kamu saat ini juga Albert!" ucap Vanesa.
Wanita itu semakin emosi, ia menodongkan pistolnya ke dahi Albert dari jarak dekat dan membuat Albert tak berkutik sedikitpun.
"Matilah kamu Albert!!" ucap Vanesa dengan lantang.
Dor! Dor! Dor!
Aksi tembak-tembakan terjadi di tempat itu, Harrison dan Vanesa terus menekan Albert dengan berbagai peluru yang mereka lesakkan secara bersamaan.
Namun, tak ada satupun yang dapat mengenai Albert lantaran pria itu cukup pandai menghindar dari peluru-peluru tersebut.
Albert tersenyum tipis, merasa lega karena ia masih bisa menghirup udara bebas saat ini dan tidak mati.
"Sial!" umpat Harrison kesal.
"Kalian sepertinya harus belajar menembak lebih baik lagi, mau saya ajarkan?" ucap Albert.
"Kurang ajar kamu!" Harrison emosi dan kembali menembak ke arah Albert.
Dor!
Kali ini pelurunya tepat sasaran dan mengenai lengan siku Albert, membuat pria itu terkejut dan spontan memegangi lengannya.
"Akh!" Albert memekik terkejut, tapi belum sempat ia menoleh, satu tembakan sudah dilayangkan kembali oleh Vanesa ke bagian dadanya.
Dor!
Sontak Albert semakin tertekan, dua bagian tubuhnya sudah merasakan sakitnya peluru dari Harrison juga Vanesa.
"Aakhhh!!" Albert hanya bisa memekik menahan sakit dan berusaha menjaga keseimbangannya.
"Saya harus kuat, saya tidak boleh mati sekarang! Nadira membutuhkan saya, begitupun dengan Galen dan juga mama. Ayo Albert, kamu pasti bisa bertahan!" batinnya menyemangati diri sendiri.
Vanesa tersenyum puas, ia menurunkan pistolnya dan melangkah lebih dekat ke arah Albert.
Albert berusaha mundur untuk menjauh dari Vanesa, namun semakin ia bergerak semakin sakit pula luka di bagian tubuhnya.
Dor!
"Aaaakkkhh!!" Albert berteriak ketika Harrison menembak bagian pahanya, seketika itu juga ia lemas dan mulai kehilangan keseimbangan.
"Cukup pah! Kita jangan bunuh Albert sekarang! Aku masih harus cari tahu dimana anak aku!" pinta Vanesa pada papanya.
"Baiklah, papa turuti kemauan kamu. Tapi, cepatlah kamu paksa dia bicara!" ucap Harrison.
"Iya pah," Vanesa mengangguk dan kembali menatap Albert yang sudah ada di hadapannya.
Vanesa langsung mencengkeram rahang Albert yang kini tengah berlutut akibat rasa sakit di tubuhnya.
"Dengar ya Albert, kamu serahkan Galen sekarang sama aku atau hidup kamu akan berakhir saat ini juga!" ancam Vanesa.
"Gak akan! Sampai kapanpun, saya tidak akan serahkan Galen sama kamu Vanesa!" ucap Albert.
Plaaakk...
•
•
"Kamu gak akan bisa lindungi Albert lagi, Keenan! Karena kali ini, aku sendiri yang akan menghabisi kamu!" ucap Javier disertai senyum sinisnya.
"Tidak semudah itu," balas Keenan.
"Terus waspada! Kalian tidak boleh mati saat ini!" ucap Keenan pada Liam dan yang lainnya.
"Siap pak Keenan!" ucap Liam tegas.
Dor!
Satu tembakan sudah dilesakkan oleh Javier begitu saja saat Keenan tengah berbicara dengan Liam dan yang lainnya.
__ADS_1
Sontak saja mereka panik, untungnya peluru tersebut tidak mengenai satupun diantara mereka.
Namun, tetap saja Keenan meminta semuanya untuk berhati-hati dan terus mundur menjaga jarak dengan Javier.
"Semuanya hati-hati!" perintah Keenan.
"Baik pak!" ucap Liam dan yang lainnya.
"Mau kemana lagi kamu Keenan? Kalian semua sudah terkepung, kalian tidak mungkin bisa pergi apalagi menghindar dari kamu! Hari ini adalah hari kematian kalian, jadi bersiaplah menyambutnya!" ucap Javier dengan keras.
"Terakhir kali ada orang yang mengatakan itu padanya, dan dia langsung mati pada saat itu juga. Mungkin kamu mau menjadi yang selanjutnya Javier," ucap Keenan tersenyum smirk.
"Cih! Kamu tidak mungkin bisa mengalahkanku, Keenan!" ucap Javier percaya diri.
"Begitupun denganmu, kamu tidak mungkin dapat melawanku!" balas Keenan.
"SERAANGGG!!" Javier berteriak memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.
Dor! Dor! Dor!
Javier dan pasukannya langsung menembak secara bersamaan ke arah pasukan Keenan yang tentu saja dibalas oleh Keenan dan yang lainnya.
Bruuukkk...
"Akkhh!" satu anak buah Liam terkena tembakan itu dan terjatuh ke jalan.
"Gawat! Pak, pasukan kita semakin sedikit. Kita memerlukan bantuan!" ucap Liam panik.
"Tenang saja! Kalaupun hari ini kita harus mati, setidaknya kita mati disaat melindungi tuan kita!" ucap Keenan.
"Baik pak!" ucap Liam menurut saja.
Dor! Dor!
Tak hanya pasukan Keenan yang terkena, namun beberapa orang anak buah Javier juga mulai berguguran akibat tembakan dari Keenan dan Liam.
Mereka sudah tidak bisa mundur lagi, langkah mereka terhalang oleh dinding yang memaksa mereka untuk tetap disana.
"Pak, bagaimana ini? Kita terperangkap!" ucap Liam cemas.
"Tetaplah fokus Liam! Jangan panik seperti itu! Kita harus lawan mereka terus!" perintah Keenan.
"Tapi pak, peluru saya sudah hampir habis." ucap Liam.
"Saya juga pak!" sahut yang lain.
"Sial! Peluru saya juga tinggal sedikit, apa yang harus saya lakukan saat ini?" batin Keenan.
Javier tersenyum puas melihat kepanikan di wajah Keenan dan yang lainnya, ia terus mendekat sengaja memancing Keenan untuk menembak ke arahnya sampai pelurunya habis.
"Berani kamu mendekat lagi, kamu akan mati Javier!" ancam Keenan.
"Uhh mengerikan! Tapi sayang, saya tidak takut dengan ancaman sampah seperti itu!" ujar Javier.
Dor! Dor! Dor!
Keenan menghabiskan sisa pelurunya dengan menembak ke arah Javier, namun tidak berefek apapun pada pria itu.
"Apa-apaan ini??" gumam Keenan.
"Hahaha, sudah habis ya? Itu yang katanya ingin mengalahkan saya?" ledek Javier.
"Sial! Dia menggunakan pakaian anti peluru, saya salah mengira!" ucap Keenan lirih.
"Lalu, bagaimana ini tuan?" tanya Liam cemas.
"Kita menyerah saja, peluru saya sudah habis! Tak ada yang bisa kita lakukan lagi saat ini, selain menyerah." jawab Keenan.
"Tapi pak—"
"Lakukan saja!" potong Keenan.
Liam dan yang lainnya menurut, mereka membuang pistol di tangan mereka lalu berjongkok sembari mengangkat dua tangan tanda mereka sudah menyerah.
"Kami menyerah, tolong ampuni kami!" ucap Keenan mewakili yang lainnya.
"Hahaha, itu bagus!" Javier tertawa puas dan merasa dirinya sudah menang.
Dor!
Bruuukkk...
Tiba-tiba saja Javier tersungkur dengan kondisi kepala bagian belakangnya berdarah akibat tembakan entah darimana itu.
"Hah??" Keenan terkejut, begitupun dengan semua orang disana.
•
•
Sementara itu, Nadira tengah berbincang dengan ayahnya di teras depan rumah. Mereka tampak serius membahas mengenai hubungan Nadira dan Albert yang sedang renggang itu.
Sebagai seorang ayah, Suhendra tentu tak mau anaknya bersedih terus-menerus seperti sekarang ini. Namun, ia juga khawatir kalau Albert akan marah nantinya jika Nadira memilih pisah.
"Sayang, kamu dengarkan kata-kata ayah ini ya! Kamu coba renungin semuanya dengan baik dulu, jangan ambil keputusan disaat kamu sedang emosi! Biar gimanapun, ada Galen yang masih butuh kasih sayang orangtuanya." ucap Suhendra.
__ADS_1
"Galen bukan anak aku pak, aku yakin bapak juga udah tahu itu. Jadi, untuk apa aku masih tetap bertahan sekarang?" ucap Nadira.
"Nadira, memangnya kamu gak cinta sama suami kamu itu?" tanya Suhendra.
"Bapak jangan bicarain masalah cinta deh! Dari awal aku nikah sama mas Albert, itu karena terpaksa, bukan cinta. Ya walau aku akui, sekarang aku emang udah cinta sama dia. Tapi, rasa cinta aku terkikis lagi pak, karena aku selalu dibohongi sama mas Albert!" jawab Nadira
"Nak Albert melakukan ini semua demi kamu, dia perduli sama kamu. Harusnya kamu senang punya suami perhatian seperti dia, bukan malah minta pisah kayak gini! Apapun masalahnya, pokoknya kamu tidak boleh pisah dengan Albert!" ucap Suhendra.
Nadira mulai tersulut emosinya, ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap Suhendra dengan tajam.
"Cukup ya pak! Hubungan aku dan mas Albert, itu urusan aku. Aku berhak tentuin apa yang harus aku lakukan selanjutnya, dan bapak juga gak bisa ikut campur kayak gini!" ucap Nadira.
"Iya iya, bapak ngerti. Tapi begini deh, bapak itu cuma gak mau kamu tersakiti sayang! Kalau kamu pisah dengan Albert, bukan tidak mungkin pria itu akan menyakiti kita lagi seperti dulu! Apa kamu mau itu terjadi lagi sayang?" ucap Suhendra.
"Dan bukan cuma kamu yang akan tersakiti, tapi bapak sama ibu juga. Tolong kamu pikirkan lagi keputusan kamu itu! Semua bisa diselesaikan secara baik-baik sayang!" sambungnya.
"Gak pak, keputusan aku sudah bulat! Aku mau pisah dari mas Albert!" tegas Nadira.
Nadira akhirnya memutuskan pergi dari sana meninggalkan ayahnya, ia masuk ke kamar melewati ibunya begitu saja.
"Nadira sayang, kamu mau kemana? Udah selesai bicara sama bapak?" tanya Sulastri.
"Udah," jawab Nadira singkat dan langsung menutup pintu kamarnya begitu saja.
"Ada apa ya sama anak itu?" gumam Sulastri.
Sulastri pun berjalan ke depan menemui suaminya untuk bertanya mengenai Nadira.
"Pak, ada apa sama Nadira?" tanya Sulastri.
"Ah gak tahu lah, bapak pusing! Bapak cuma minta Nadira buat pertimbangkan lagi keputusannya, tapi dia tetap kekeuh pengen pisah dari Albert!" jelas Suhendra.
"Sudahlah pak, kalau itu memang keputusan Nadira, ya kita dukung saja! Kita gak berhak ikut campur ke dalam masalah rumah tangga Nadira, pak!" ucap Sulastri.
"Tapi Bu, ibu emang gak mikir dampaknya buat kita bakal kayak apa? Ibu kan tahu sendiri nak Albert sangat terobsesi dengan Nadira!" ucap Suhendra.
"Iya pak, ibu ngerti. Ya tapi mau gimana lagi? Untuk sekarang kita dukung saja Nadira dulu, biar dia tenangin dirinya dan bapak jangan bahas soal itu semua dulu saat ini!" ucap Sulastri.
"Ya ya ya, terserah aja deh!" Suhendra terlihat kesal dan masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Sulastri.
"Aih si bapak ini! Sudah tua tapi kok kelakuan masih kayak anak kecil?!" gumam Sulastri.
Nadira kini berbaring di ranjangnya dengan posisi tengkurap, ia menangis sesenggukan sembari memeluk guling.
"Kenapa kamu ngelakuin ini semua sama aku, mas? Kenapa??!" ucap Nadira terisak.
"Andai aja kamu jujur sama aku, mungkin ini semua gak akan terjadi! Karena suatu kebohongan, akan berakibat fatal bagi kehidupan kita! Aku sayang sama kamu mas, tapi aku gak suka terus-terusan dibohongi seperti ini!" ucapnya lagi.
Air mata terus mengalir deras membasahi pipi Nadira, wanita itu benar-benar sangat sedih sekaligus kecewa pada suaminya.
Namun, tiba-tiba saja ia merasa mual.
"Huweekk.. huweekk.." Nadira langsung bangkit dari tempat tidurnya, berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.
"Loh Dira, kamu kenapa sayang?" tanya Sulastri saat melihat putrinya buru-buru masuk ke kamar mandi.
"Ada apa ya??" gumamnya.
•
•
Celine merasa sangat cemas pada Keenan, ia tak bisa berdiam diri di rumah dan terus saja mondar-mandir sembari menggigit jarinya memikirkan sang kakak.
Pasalnya, Celine tak tahu kemana Keenan pergi lantaran pria itu tidak memberitahunya.
Perasaannya juga terus terasa panik, ia khawatir pada Keenan.
"Duh, kenapa gue adi panik gini ya? Perasaan kak Keenan sering banget tinggalin gue sendiri di rumah, tapi gue gak pernah sepanik ini. Kenapa sekarang malah gue jadi panik banget mikirin dia? Semoga gak terjadi apa-apa deh sama kak Keenan!" ucap Celine.
Ting nong ting nong...
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi dari depan pintu, membuat Celine terkejut dan mengira yang datang adalah Keenan.
"Apa itu kak Keenan ya? Tapi, kenapa dia harus mencet bel segala?" gumam Celine.
Celine pun langsung berjalan ke arah pintu untuk mencari tahu siapa yang datang.
Ting nong ting nong...
"Iya sebentar!" teriak Celine dari dalam.
Ceklek...
Celine membuka pintu, senyum di wajahnya menghilang saat ia menyadari sosok yang berdiri di depannya bukanlah Keenan.
"Halo Celine!" pria itu menyapanya, memberi senyuman manis padanya sambil melambaikan tangan.
"Frendi? Lo tahu darimana alamat rumah gue?" tanya Celine keheranan.
"Aku tahu dari teman-teman kamu, dan kamu tahu gak? Aku senang banget karena aku akhirnya bisa ketemu sama kamu lagi!" jawab Frendi.
"Aih sial! Ngarepin kak Keenan yang dateng, eh malah si dia!" batin Celine.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...