DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
109. Tiga Lambang Kekuatan.


__ADS_3

***Dunia Ruang Dimensi Langit***


Callysta Angelina, Carissa Hubert, dan Alarice Jovandra saling memandang. Mereka sudah tahu tujuan mereka berada di dunia ini. Mereka akan menerima semua takdir yang sudah di gariskan kepada mereka bertiga. Khususnya Alarice Jovandra yang sejak awal mengalami dan kehilangan segalanya.


"aku akan membantu segenap tenaga, apapun akan aku lakukan untuk melawan semua musuh yang menjadi penyebab semua ini terjadi." ucap Callysta memulai pembicaraan mereka.


"terima kasih, kamu mau mengerti dan membantuku. Maafkan aku yang sudah lancang dan memaksa mu untuk terlibat dalam ini semua." balas Alarice dengan mimik wajahnya yang terlihat sedih dan menyesal.


"itu sudah garis dari takdir ku, lagi pula duniaku saat ini lebih baik dan bisa aku kendalikan dengan keinginan ku sendiri. Daripada duniaku di masa depan, aku tidak bisa melakukan keinginan ku sendiri, aku hidup dengan aturan dari semua orang." ucap Callysta.


"tetapi cinta dan kekasihmu ada di sana." ucap Alarice mengingatkan.


Callysta terdiam sejenak. "aku tahu itu. Bila kami berjodoh, kami pasti akan bertemu kembali. Tetapi bila kami tidak memiliki jodoh untuk bersama, sampai kapanpun hubungan itu hanya akan sia-sia saja?" jawab Callysta dengan senyum getirnya mengingat hubungan cintanya dengan Antoni Yuandara.


Callysta ingin mencoba mengikuti alur dari takdir yang sudah berjalan dan terjadi. Walaupun itu menyangkut perasaan hati dan cintanya. Harapan untuk memiliki keluarga yang utuh dan bahagia masih bisa dia cari di masa depan dan di dunia yang akan dia tempati nantinya.


Callysta dan Alarice yang sudah mencapai kesepakatan dan tahu keinginan mereka, melihat pada Carissa Hubert yang hanya diam melihat mereka berdua.


"bagaimana denganmu Carissa Hubert?" tanya Callysta yang mampu mengalihkan pandangan Carissa padanya.


"aku tidak memiliki kemampuan apapun? aku memutuskan mati dan bunuh diri karena putus asa akan hidup yang tidak ada artinya. Aku memutuskan mengakhiri hidupku agar terlepas dari semua penderitaan yang aku alami selama hidupku di dunia ini. Jadi aku tidak bisa banyak membantu kalian berdua untuk melawan dua kerajaan kegelapan, maafkan aku yang tidak berguna." ucap sedih Carissa yang tahu benar bagaimana dirinya?


Alarice Jovandra dan Callysta Angelina tahu perasaan Carissa saat ini. Mereka berdua mendekati Carissa dan berusaha menyentuh kedua tangan arwah Carissa, yang tentu saja mereka dapat menyentuhnya karena mereka bertiga adalah satu kesatuan.


"kamulah yang paling berjasa dan paling menderita di sini, karena kamulah sosok yang melambangkan semua kelemahan yang kami miliki dan lambang kekuatan cinta kasih, kami sangat berterima kasih padamu karena kamu mau bertahan hidup sampai waktunya tiba." ungkap Alarice dengan senyum tipisnya untuk memberikan kekuatan pada Carissa.


Mereka bertiga memiliki takdir yang saling terikat satu sama lainnya. Alarice Jovandra yang datang dari masa lalu adalah lambang kekuatan putih, yang berasal dari anugerah kekuatan kedua orang tuanya dan para Dewa dan Dewi khayangan langit.


Callysta Angelina yang datang dari masa depan adalah lambang dari dua kekuatan hitam dan putih. Callysta yang seorang pembunuh bayaran dan seorang dokter memiliki dua sisi di dalam hatinya. Seseorang yang bisa dengan mudah membunuh orang yang memang pantas untuk di bunuh sebagai pembunuh bayaran. Dia adalah seseorang yang juga bisa menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa orang lain sebagai seorang dokter.


Carissa Hubert yang berasal dari dunia masa sekarang adalah lambang kelemahan dari dua kekuatan hitam dan putih serta lambang kasih sayang yang berwarna abu abu. Carissa yang mempunyai hati penuh akan kasih sayang, tidak suka kekerasan dan suka perdamaian. Kekuatan cinta kasihnya akan sangat kuat untuk melawan aura kegelapan, kekuatan cinta kasih Carissa bisa di gunakan untuk menyatukan mereka bertiga. Itulah lambang kekuatan mereka masing-masing.


"apa benar seperti itu. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? bukankah aku sudah tiada? bagaimana caranya aku bisa membantu kalian?" tanya Carissa dengan tatapan lembutnya.


"raga dan jiwa kalian sudah tertukar. Saat ini jiwamu berada di dalam tubuh Callysta yang masih dalam keadaan mati suri, sedangkan jiwa Callysta ada di dalam tubuhmu dan menggantikanmu di dunia ini." ungkap Alarice melihat Callysta dan Carissa secara bergantian.

__ADS_1


"jadi aku masih hidup?" tanya Carissa tidak percaya.


"iya kamu dan Callysta masih hidup, hanya saja kondisi tubuh kalian berbeda. Tubuh Callysta masih sangat lemah karena jiwamu juga lemah, sedangkan tubuh Carissa sangat kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya, karena memang jiwa Callysta lebih kuat darimu." ungkap Alarice menjelaskan kebenaran yang ada.


"lalu apa aku bisa kembali lagi?" tanya Carissa.


"bisa…kamu bisa kembali, bila Callysta bisa membuka gerbang ke dunia lain dengan menggunakan Kunci dan Gembok ajaib benda keramat." ungkap Alarice yang membuat Carissa terkejut, karena dia tahu cerita tentang Kunci dan Gembok ajaib itu.


"bagaimana bisa Callysta mendapatkan itu semua? Apa dialah Sang Pengendali?" tanya Carissa tidak percaya.


"iya Callysta adalah orang yang memiliki takdir Sang Pengendali, melalui tubuhmu." jawab Alarice melihat Callysta dan Carissa secara bergantian.


Carissa memandang Callysta tidak percaya, karena dengan kata lain saat ini tubuh dan namanya lah yang di kenal oleh semua orang yang ada di dunia sekarang ini. Carissa Hubert yang dulu tidak bisa apapun? yang tidak memiliki kemampuan apapun? kini di kenal dengan sebutan Sang Pengendali.


"apa itu benar?" tanya Carissa pada Callysta.


"iya itu benar, namamu dan tubuhmu sudah sangat di segani, di hormati dan di akui oleh semua orang, bahkan saat ini musuh pun menginginkan sang pengendali." ucap Callysta membenarkan semuanya.


Carissa benar-benar terkejut dengan kebenaran yang di ceritakan, hingga menutupi mulutnya yang menganga karena tidak percaya akan kebenaran yang sudah terjadi.


"jadi untuk apa aku kembali lagi? kalau aku kembali nama itu akan rusak karena aku tidak sekuat kamu Callysta." jawab Carissa dengan mimik sedihnya.


"apa kamu ingin kembali lagi?" tanya Callysta dengan mimik wajah seriusnya.


Carissa memandang intens wajah Callysta, dia melihat sorot kejujuran di dalam mata Callysta. Mata dan wajah yang sama dengan miliknya.


"apa kamu juga ingin kembali Callysta?" alih-alih menjawab pertanyaan Callysta, Carissa malah balik bertanya pertanyaan yang sama.


Callysta yang mendapatkan pertanyaan yang sama, hanya bisa diam. Dia juga tidak tahu harus kembali apa tidak? bila dia kembali, cinta dan kekasihnya akan dia dapatkan, sekaligus kehidupan yang penuh akan aturan dari orang lain yang dia tidak suka akan dia lalui lagi.


Tetapi bila dia memutuskan tetap tinggal, itu tidak lah adil bagi hidup Carissa. Carissa yang akan menggantikan posisinya di dunia masa depan. Itu bila tubuh Callysta masih bisa bertahan untuk hidup. Callysta bingung saat ini.


Carissa dan Alarice bisa merasakan kebingungan yang sedang di rasakan oleh Callysta, karena bagaimana juga mereka bertiga adalah satu kesatuan.


"aku bisa bertahan di dalam tubuh Callysta sampai kalian berdua bisa mengalahkan dua kerajaan kegelapan, bila kamu ingin tinggal di dalam tubuhku, aku rela. Aku rela kamu mau mengantikan posisi ku dan menjadikannya lebih berguna. Satu yang aku minta, lindungi kedua orang tuaku, dan orang-orang yang aku sayangi." ungkap Carissa dengan lemah lembut, yang berhasil membuat Callysta mencapai keputusan yang akan dia ambil.

__ADS_1


Carissa benar-benar lambang dari cinta kasih dan lambang kelemahan yang akan selalu mematahkan semua rintangan.


"apa tidak masalah bila seandainya aku tidak berhasil menjaga tubuhmu ini dengan baik?" tanya Callysta melihat intens Carissa.


"tidak, aku percaya padamu. Tubuhku sudah menjadi milikmu, semua yang akan kamu lakukan dan putuskan adalah hakmu sepenuhnya. Aku akan menunggu sampai waktunya tiba aku bisa kembali ataupun tidak. Aku sudah rela dan pasrah akan semua takdir ini, untuk semua orang yang masih hidup dan perlu kekuatan dari kalian berdua, aku rela untuk tidak kembali dan mengorbankan jiwaku." ungkap Carissa dengan senyum manisnya yang tulus, yang berhasil membuat Callysta dan Alarice mengeluarkan air matanya.


Callysta dan Alarice tahu Carissa tulus dan rela mengorbankan jiwanya, untuk kedamaian dan kesejahteraan semua manusia dan makhluk hidup lainnya, yang masih hidup di dunia masa sekarang.


"terima kasih Carissa, terima kasih kamu bahkan rela mengorbankan jiwamu untuk kami semua." ungkap Alarice dengan linangan air mata, Alarice memeluk erat pinggang Carissa sembari menangis sedih karena Carissa rela berkorban.


"terima kasih Carissa atas kepercayaan mu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan darimu." ungkap Callysta dengan air mata yang tidak bisa dia tahan lagi.


Semua ucapan dan pengorbanan Carissa benar-benar menyentuh hatinya, Callysta menangis sedih dan ini untuk kedua kalinya Carissa merasakan kesedihan pada orang selain ibunya.


Mereka bertiga saling berpelukan dengan linangan air mata. Carissa mengalah dan mau berkorban demi semua orang. Callysta menerima kesempatan kedua yang di berikan oleh Carissa padanya. Alarice berterima kasih pada Callysta dan Carissa karena sudah tumbuh menjadi pribadi yang baik dan benar.


"baiklah…waktu anda sudah habis putri Carissa, anda akan segera kembali ke dalam tubuh putri Callysta." ucap Dewi Bulan Diosa De La Luna memberi tahukan.


Mereka bertiga melepaskan pelukan mereka, sembari menghapus air mata yang ada di pipi mereka masing-masing.


"Callysta apa aku bisa memberikan pesan pada kedua orang tua ku dan seseorang yang aku cintai." ungkap Carissa malu-malu.


Callysta yang tahu maksud dari Carissa menyebutkan seseorang, melihat ke arah Alarice.


"tentu saja bisa putri Carissa. Gunakan ini dan berikan kecupan dari bibir anda, sembari ucapkan apa pesan anda untuk seseorang yang anda inginkan." ucap Dewi Bulan sembari memberikan dua buah sapu tangan kecil pada Carissa.


Carissa segera mengambil sapu tangan yang di berikan oleh Dewi Bulan, lalu melakukan seperti yang di perintahkan oleh Dewi Bulan. Setelah di rasa selesai, Carissa menyerahkan dua sapu tangan itu pada Callysta, yang berwarna putih untuk kedua orang tuanya, dan yang berwarna merah muda untuk orang yang dia cintai selama ini. Callysta pun tahu siapa pria yang di maksudkan oleh Carissa?


Beberapa saat kemudian arwah Carissa perlahan menghilang dan kembali ke dalam tubuh Callysta di masa depan. Callysta pun sama kembali ke dalam tubuh Carissa di dunia luar. Mereka kembali dan siap untuk berperang melawan dua kerajaan kegelapan beserta seluruh pengikutnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2