
***Kerajaan Darkness World***
Callysta dari dunia masa depan yang memiliki jiwa Carissa Hubert melihat ke arah dua pria yang di maksudkan oleh sang Pengendali. Dua pria yang sangat ia kenal selama beberapa bulan yang lalu.
Satu pria adalah orang yang sangat ia cintai dan ingin bersama dengan pria tersebut. Pria itu adalah putra mahkota kerajaan Holmes, Leonard Theodore. Satu pria adalah orang yang telah menerimanya sebagai calon selir, di saat beberapa orang meremehkan dirinya yang tidak memiliki kemampuan apa pun. Pria itu adalah pangeran kedua kerajaan Holmes, Damian Theodore.
Kedua pria yang di maksudkan juga melihat ke arah Callysta yang menatap mereka dengan tatapan teduh namun terlihat tenang.
'Saya adalah pangeran kedua kerajaan Holmes, Damian Theodore. Raja kerajaan Jericho, untuk menggantikan sekaligus mempertahankan tahta kerajaan yang di miliki oleh putra mahkota kerajaan Jericho, Devano Liberata. Raja ke 4 dari kerajaan Jericho.' Kata Damian di dalam hatinya yang dapat di dengarkan oleh Callysta, dan juga Carissa yang terhubung melalui kunci ajaib yang di pegang oleh sang Pengendali.
Callysta mengerutkan keningnya atas apa yang ia dengarkan jelas, tetapi tidak melihat pergerakan bibir sang pangeran sama sekali. Apa suara yang ia dengarkan adalah suara di dalam hati dan pikiran pangeran kedua? Itulah pertanyaan Callysta di dalam benaknya.
Carissa tahu apa yang membuat bingung Callysta, hanya diam saja. Melihat dan memperhatikan setiap pergerakan yang akan dilakukan oleh gadis yang sedang berada di dalam tubuhnya dari masa depan.
"Siapa yang mengatakan sesuatu, dan apa yang ia katakan?" Tanya Carissa melihat ke arah Callysta yang ada di sampingnya.
Callysta terdiam sejenak, lalu dia melihat ke arah Carissa sekilas dan segera menunjuk ke arah pangeran kedua Damian Theodore.
"Pria ini, pangeran kedua kerajaan Holmes, pangeran Damian Theodore. Dia mengatakan, jika 'Saya adalah pangeran kedua kerajaan Holmes, Damian Theodore. Raja kerajaan Jericho, untuk menggantikan sekaligus mempertahankan tahta kerajaan yang di miliki oleh putra mahkota kerajaan Jericho, Devano Liberata. Raja ke 4 dari kerajaan Jericho.' Itulah yang di katakannya." Balas Callysta apa yang sebenarnya memang ia dengarkan.
Damian tentunya terkejut akan kebenaran itu, gadis yang memiliki kemiripan dengan sang Pengendali dapat mengetahui apa yang ia katakan di dalam hatinya.
"Apa itu benar pangeran Damian?" Tanya Carissa melihat ke arah Damian.
"Iya, dia benar. Itulah yang saya katakan." Balas Damian dengan jujur.
Semua terdiam dan kini melihat ke arah Callysta yang diam dan terlihat tenang.
"Bagaimana bisa pangeran kedua kerajaan Holmes, bisa menjadi raja kerajaan Jericho?" Tanya Callysta heran karena tidak mengetahui kebenaran yang sudah terjadi beberapa bulan ini.
Carissa mengerti itu. Tidak dengan yang lainnya, mereka heran akan ucapan yang di lontarkan oleh Callysta. Seakan gadis yang baru datang itu mengetahui segalanya tentang mereka. Namun semuanya hanya bisa diam untuk sementara waktu, dan terus menyimak segalanya.
"Banyak yang sudah terjadi selama beberapa bulan ini, setelah kejadian itu. Semuanya terjadi begitu saja dengan begitu cepat tanpa dapat di cegah, dan berjalan mengikuti alurnya." Carissa melihat ke arah Callysta yang terlihat bingung akan semua yang terjadi setelah kepergiannya.
Carissa Hubert sebenarnya adalah gadis yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Hanya saja dia terlalu takut untuk tahu segalanya yang sangat mudah untuk ia mengerti. Menghalangi dan membatasi dirinya sendiri, itulah pilihannya selama ini. Sehingga tidak memiliki kemampuan apapun, dan pada akhirnya dia di pandang remeh oleh orang lain.
"Baiklah. Aku mengerti jika itulah yang sebenarnya sudah terjadi." Ucapnya untuk mengerti situasi tersebut.
"Kamu hutang penjelasan padaku." Bisik Callysta di samping telinga Carissa.
Tentunya hanya mereka berdua yang mendengar. Yang lainnya hanya diam menyimak saja.
Carissa melihat ke arah Callysta yang ada di sampingnya. Dia pun mengangguk tanda mengerti bisikkan Callysta.
__ADS_1
"Baiklah tes selanjutnya, agar semuanya jelas." Ucap Carissa melihat ke arah Leonard yang belum mengucapkan apa pun.
Leonard melihat sejenak ke arah sang Pengendali, kemudian melihat ke arah gadis cantik yang sangat mirip dengan gadis yang tengah ia sukai saat ini.
'Siapa sebenarnya dirimu. Aku merasa tidak asing dengan dirimu, nona?' Itulah perkataan Leonard di dalam hatinya menatap serius kepada Callysta.
Callysta yang di tatap dan mendapatkan sebuah pertanyaan dari Leonard, terdiam sembari menelan salivanya. Debaran jantungnya terlalu cepat dari biasanya, dia gugup akan tatap Leonard. Pria yang ia cintai selama ini hingga saat ini, pria dan cinta pertama di dalam hidupnya.
Callysta menatap teduh penuh kerinduan kepada Leonard, dia benar-benar gugup setiap berada di hadapan atau dekat dengan Leonard. Callysta berusaha mengatur dan menyembunyikan rasa gugupnya. Carissa yang dapat merasakan perasaan hati Callysta, dia terdiam dan cukup mengerti bagaimana rasa cinta gadis itu keluar begitu saja. Carissa tahu jika gadis di sampingnya benar-benar mencintai putra mahkota Leonard Theodore.
"Mengapa diam saja? Apakah anda tidak dapat mendengar atau mengerti yang saya katakan?" Tanya Leonard karena melihat Callysta hanya diam melihatnya saja.
Pria itu tidak buta, dia tahu arti tatapan teduh Callysta yang penuh akan kerinduan saat melihat ke arahnya. Dia hanya berusaha menutupi dan tidak mau mempedulikan tatapan itu.
"Callysta…!" Tegur lembut dan pelan Carissa.
"Siapa sebenarnya dirimu. Aku merasa tidak asing dengan dirimu, nona?' Itulah yang putra mahkota katakan." Pada akhirnya Callysta menjawab, setelah berusaha keras mengatur debaran jantungnya dengan menghela nafasnya secara perlahan.
Semua terdiam begitu juga Leonard. Callysta benar-benar bisa mendengar suara hati seseorang yang ada di hadapannya.
"Apakah kamu belum sadar juga Callysta?" Tanya Carissa ingin jawaban dari gadis itu.
Callysta tahu dan sekarang mengerti, jika dia bisa mendengarkan suara hati dan pikiran seseorang yang ada di sekitarnya.
"Semua melihat ke arahnya, menunggu apa yang selanjutnya Callysta katakan tentang apa yang ia tahu dan mengerti?
"Aku bisa mendengarkan suara hati dan pikiran seseorang. Aku juga tahu apa yang akan datang, terjadi dan siapa mereka. Itulah yang sekarang terjadi dan aku rasakan." Ucap Callysta terdengar pasrah pada apa yang terjadi padanya.
"Callysta…!" Panggil sang Pengendali.
Carissa tahu jika gadis yang ada di sampingnya itu tidak siap akan apa yang terjadi padanya sekarang. Namun, ada yang aneh dari gadis itu. Dia bukannya terkejut akan kemampuan yang ia miliki, tetapi terlihat pasrah dan terpaksa menerima kemampuannya itu.
"Apa sebelumnya ini pernah terjadi padamu?" Tanya Carissa melihat serius dan teliti Callysta.
Callysta melihat ke arah Carissa. Gadis itu tahu jika ada yang sedang Carissa curigai tentangnya.
Tentunya semua rahasia tidak dapat di sembunyikan terus menerus.
"Menurut mu bagaimana?" Tanya balik Callysta menatap serius ke arah Carissa.
Sang Pengendali tahu dan tersenyum ketika menemukan jawaban yang ia inginkan dari sorot mata Callysta.
"Ini sudah terjadi sejak lama bukan, sebelum kita bertemu." Balas Carissa.
__ADS_1
"Iya." Anggukkan dan jawaban Callysta semakin membuat sang Pengendali tersenyum lebar. Senyum yang bahkan tidak pernah ia tampilkan.
"Siapa saja yang tahu tentang ini?"
"Tidak ada. Aku pandai menyembunyikannya." Geleng Callysta menjawab.
"Apa kamu merasa aneh dengan dirimu sendiri tentang kemampuan ini?"
"Awalnya iya. Cukup aneh dan berat bagiku, tapi aku tahu harus bagaimana."
"Bagus dan kamu cukup baik mengatur dan menahannya. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi mu, tapi tidak seharusnya kamu tahan semua itu."
Sang Pengendali tahu jika Carissa Hubert yang dulu menahan semua kemampuannya itu. Ia takut jika seseorang tahu akan kemampuannya dan berakibat fatal untuk keluarganya nanti.
"Aku tahu. Bagaimana pun aku menahannya, ini semakin berkembang, dan semakin membuat ku tersiksa. Aku hanya bisa diam dan pura-pura tidak tahu apa pun. Semua demi kebaikan dan keselamatan keluarga ku. Kemampuan ini juga yang telah menyiksaku selama ini, hingga aku tidak dapat menahannya lagi dan memutuskan sesuatu pada diriku sendiri. Untuk mengakhiri semuanya." Katanya terdengar dan terlihat jelas kesedihan saat mengenang semuanya yang telah terjadi di dalam hidupnya.
"Aku tahu Callysta. Aku tahu…" Balas Carissa sembari menggenggam lembut tanggan Callysta.
"Setidaknya untuk saat ini. Kemampuan mu itu akan sangat berguna untuk kita melawan musuh. Kamu tahu apa yang mereka pikirkan, matamu dapat melihat siapapun yang sedang menyamar dan kamu dapat merasakan siapa saja yang jahat beserta kekuatan yang mereka miliki. Ini adalah kemampuan special yang tidak semua orang miliki. Jadi jangan lagi berpikir kalau kemampuan mu ini adalah sesuatu yang menyiksamu." Tutur Carissa menjelaskan, dan semua yang hadir kini mengerti kemampuan yang sedang di miliki dan di tahan oleh Callysta.
Callysta terdiam dan melihat intens Carissa. Dia percaya apa yang Carissa katakan. Namun ia masih takut jika kemampuannya itu akan berakhir buruk untuk semua orang yang ada di sekitarnya.
"Jangan takut Callysta. Aku ada di sini bersamamu, mereka juga akan mendukung dan bersama denganmu. Kamu aman bersama dengan kami." Carissa mencoba untuk meyakinkan serta menepis rasa khawatir dan takut Callysta yang sekarang gadis itu rasakan.
"Itu benar nona Callysta. Kemampuan anda sangat berharga dan berguna untuk kita melawan musuh kegelapan. Kemampuan anda spesial dan tidak banyak orang memilikinya. Bahkan kemampuan saya sendiri yang sama seperti anda, tidak sekuat itu." Ucap Shopie menimpali dan membantu Carissa untuk meyakinkan Callysta yang bimbang serta takut.
Callysta melihat kedua gadis cantik di hadapannya secara bersamaan. Walaupun dia masih ragu dan takut, dia mencoba untuk menerima semuanya. Biarkan mengalir begitu saja seperti air yang jernih.
"Baiklah. Aku akan mencoba untuk menerima semua ini." Balas Callysta akhirnya mengalah pada kemampuan yang ia miliki.
"Terima kasih. Aku senang kamu seperti ini, selalu yakin dan percaya pada diri sendiri. Kamu pasti bisa." Balas Carissa dengan senyuman manisnya melihat keyakinan gadis yang tengah menepati tubuhnya.
Carissa yakin jika tubuhnya itu masih sangat kuat seperti di dunianya dulu. Dia juga dapat merasakan jika tubuhnya yang tengah di ambil alih oleh jiwa gadis lain, mulai sembuh sepenuhnya dan semakin kuat. Itulah yang di yakini oleh sang Pengendali.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1