DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
165. Keluarga Bahagia.


__ADS_3

***Kerajaan Darkness World***


…Dunia Di Dalam Kendi Mundo (Kendi Dunia)…


Shopie melihat intens Carissa yang masih duduk sembari memejamkan matanya. Shopie merasa jika jiwa Carissa tidak ada di dalam tubuhnya, Carissa berada di dunia lain. Itulah yang di yakini oleh Shopie saat ini.


"Apa yang terjadi pada temanku, kemana jiwanya kau bawa, nyonya?" Tanya Shopie dengan tenang, dia tahu jika ibu yang sedang bersandar di dadanya bukanlah orang jahat. Shopie cukup tenang untuk menghadapi wanita itu.


"Dia masuk ke Dunia yang ada di dalam Kendi Mundo (Kendi Dunia). Sang pengendalian sedang menemui beberapa orang yang memang harus dia temui. Itulah takdirnya. Dia adalah salah satu titisan Dewa Agung, kau juga tahu itu. Sang Peramal Suci." Balas ibu itu, cukup membuat Shopie terkejut karena dia mengetahui siapa dirinya dan juda Carissa.


"Siapa sebenarnya dirimu, nyonya?" Tanya Shopie masih tenang.


"Aku dan anak-anak ku adalah salah satu pengikut setia Dewa Bumi Dios De La Tierra. Dari beberapa keturunan, aku dan anak-anak ku keturunan terakhir yang akan selalu menjaga Kendi Mundo." Jelas sang ibu.


Shopie tahu apa itu Kendi Mundo. Sebuah Pusaka Langit yang memiliki dunianya sendiri. Namun tidak ada yang tahu bagaimana di dalam dan kekuatannya, kecuali mereka yang pernah masuk ke dalam sana. Saat ini orang itu adalah Carissa Hubert Sang Pengendali.


"Jika kau adalah salah satu pengikut setia Dewa Bumi, mengapa hidupmu seperti ini?" Tanya Shopie ingin tahu. Terlihat jelas ibu dan anak itu hidup miskin seperti seorang pengemis. Mengapa bisa seperti itu?


"Sudah takdir kami hidup seperti ini. Hidup kami tidak boleh mencolok, hidup kami memang harus susah, dan penuh akan perjuangan. Agar tidak menarik perhatian orang melihat ke arah kami, kami yang seperti ini akan terus di abaikan. Tentu saja kami juga tidak bisa menggunakan kekuatan kami yang sebenarnya sebelum kedatangan salah satu titisan Dewa Agung. Semua kekuatan kami berada di dalam Kendi Mundo, hanya kekuatan suara hati dan mengirimkan sebuah ingatan yang bisa kami gunakan. Itupun tidak sembarangan orang yang bisa menerimanya. Seperti kalian berdua." Jelas sang ibu.


Shopie masih menyimak sembari terus melihat ke arah Carissa yang masih menutup matanya dan tidak bergerak sama sekali.


"Baiklah, jika seperti itu. Aku percaya akan semua penjelasan mu." Balas Shopie percaya pada ibu tersebut.


"Kau percaya padaku, Sang Peramal Suci?" Ragunya.


"Apa aku memiliki alasan untuk tidak percaya padamu? Sedangkan kau tahu siapa aku dan Sang Pengendali, padahal kami sudah menutup jati diri kami. Tidak banyak orang yang tahu sosok kami, di kerajaan ini kau satu satunya yang tahu siapa aku dan Sang Pengendali tanpa melihat langsung wajah kami." Penjelasan Shopie. Sukses membuat sang ibu tersenyum, lalu berkata.


"Kita memiliki aura kekuatan yang sama, sama-sama memiliki aura kekuatan putih dari Dewa Agung, Dunia Langit. Kau harus tahu itulah istimewa dari kekuatan ku dan anak anakku, dapat merasakan aura kekuatan Sang Peramal Suci yang berasal dari Dewi Bulan, dan aura kekuatan Sang Pengendali titisan Dewa Agung. Bagaimana bisa aku akan salah menebaknya." Ungkap Ibu itu sembari melihat jauh ke arah anaknya yang sedang menikmati makan malamnya.


"Putraku…akan kembali seperti dulu lagi. Sedangkan putriku akan terlahir ke dunia ini. Inilah takdir yang kami nantikan selama ratusan tahun. Kegelapan di dunia ini akan segera sirna, dengan cahaya murni dari tiga kekuatan yang menjadi satu." Ungkap ibu tersebut dengan senyum melihat ke arah Carissa yang ada di hadapannya.


Shopie hanya diam, dia tahu maksud dari Sang ibu. Semua yang di katakan dan menjadi keinginan ibu itu, juga telah ia dengar dari putri Alarice Jovandra. Semua takdir yang telah di nantikan selama ratusan tahun, akan terjadi.


...--------------------------------...


…Dunia Kendi Mundo…


Perlahan permaisuri dan Carissa melepaskan pelukkan mereka. Tatapan keduanya terlihat teduh dan hangat.


Permaisuri Pricelia mencangkup kedua pipi Carissa, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat dan dalam di atas kening Carissa. Begitu hangat ciuman itu penuh akan cinta dan kasih sayang. Carissa sangat menikmatinya.


"Putri kecilku…" Panggil permaisuri tersenyum melihat sang putri yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik.


Carissa melihat ketulusan di mata permaisuri, saat Carissa mendengar ucapan putri kecilku. Seketika Carissa teringat akan sosok putri Alarice Jovandra, putri mereka yang sebenarnya.


"Tidak…aku bukanlah putri kalian." Ucap Carissa sembari memundurkan langkahnya ke belakang.

__ADS_1


Semuanya melihat ke arah Carissa.


"Ada apa putriku…?" Tanya heran permaisuri melihat keraguan dan kesedihan di wajah Carissa.


"Maafkan hamba permaisuri, jika hamba telah lancang. Hamba bukanlah putri anda yang sebenarnya." Ucap tunduk hormat Carissa di hadapan permaisuri Pricelia.


Permaisuri mengerutkan keningnya melihat sikap tunduk hormat Carissa kepadanya.


"Apa maksudmu?" Tanya permaisuri.


"Hamba Carissa Hubert, putri ketiga dari keluarga Hubert. Putri anda yang sebenarnya adalah putri Alarice Jovandra." Balas Carissa melihat sang permaisuri yang masih melihatnya intens.


Permaisuri menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, lalu tersenyum.


"Aku tahu kamu adalah Carissa Hubert, Callysta Angelina, dan kamu adalah Alarice Jovandra. Kalian bertiga adalah satu orang yang sama, hanya terpisah oleh ruang dan waktu yang berbeda. Kalian bertiga sama-sama titisan dari kami dan Dewa Agung." Balas penjelasan permaisuri Pricelia tahu apa yang di pikirkan oleh Carissa saat ini.


Carissa masih diam dan menatap wanita cantik dan anggun di hadapannya. Begitu bersahaja dan berkharisma. Carissa kagum melihatnya.


"Alarice Jovandra, Carissa Hubert dan Callysta Angelina adalah putri kami satu satunya. Kalian bertiga akan tetap menjadi putri kecil kami." Ucapnya terdengar tulus.


Carissa terharu, dan tidak bisa menahan perasaannya lagi.


"Ibu." Ucap Carissa memeluk erat tubuh permaisuri sembari menangis haru.


Di saat perasaan itu dapat menerima keberadaan seorang ibu untuknya, seakan beban di dalam hati Callysta selama ini terlepas begitu saja. Hatinya seringan kapas. Begitu lama kasih sayang dan cinta seorang ibu ingin ia raih, dan hari ini pada sosok tubuh Carissa, Callysta mendapatkan semuanya secara nyata.


"Iya putriku." Balas permaisuri sembari membelai lembut rambut panjang Carissa.


Begitu ia puas akan pelukkan di antara mereka. Carissa mengingat jika putri Alarice Jovandra juga berhak merasakan itu.


"Ibu, putri Alarice Jovandra ada bersama hamba saat ini. Apakah ibu ingin bertemu dengannya?" Tanya Carissa ingin salah satu bagian darinya juga merasakan kehangatan seorang ibu.


"Apakah kau bisa melakukannya?" Tanya balik permaisuri. Carissa hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Carissa segera memejamkan matanya, dia tahu jika apa yang tadi sedang terjadi pada dirinya dan juga seluruh keluarganya yang hadir. Putri Alarice Jovandra pasti mengetahuinya juga, hanya saja untuk keluar dari ruang dimensinya, sang putri tidak bisa dengan sendirinya. Butuh bantuan dari Carissa untuk keluar dari tempat persembunyiannya tersebut.


Carissa menyebut nama sang putri dan membayangkan wajah gadis kecil cantik dan manis yang pernah ia temui. Begitu putri Alarice Jovandra menerima panggilan dan tarikkan dari Carissa, tubuhnya dengan otomatis keluar dan kini berada tepat di hadapan sang ibu.


Permaisuri Pricelia dan putri Alarice Jovandra saling memandang. Terlihat jelas kerinduan dan kasih sayang serta cinta di dalam sorot mata mereka berdua.


Tanpa menunggu lama, keduanya saling memeluk untuk melepaskan kerinduan mereka selama ratusan tahun.


"Ibu…!" Panggil haru sang putri.


"Putri kecilku…!" Balas permaisuri dengan harunya dan bahagia dapat melihat dengan jelas putri kecil yang ia lahirkan bersama suaminya kaisar Zayvius Jovandra.


Mereka berdua saling berpelukan. Melupakan beberapa orang di sekitar mereka yang melihat haru pertemuan ibu dan putrinya tersebut.

__ADS_1


"Apakah ayah tidak akan di rindukan." Tiba-tiba kaisar Zayvius Jovandra berkata memecah keharuan di antara mereka.


Kini semua mata memandang ke arah pria tampan yang terlihat sangat merindukan putrinya. Tatapan teduhnya, melihat dua putri yang ia lahirkan kini tepat berada di hadapannya.


"Apakah kalian tidak akan memberikan sebuah pelukkan kepada ayah?!" Ucap kaisar melihat ke arah Carissa dan putri Alarice Jovandra secara bergantian.


Carissa dan Alarice saling memandang sejenak, lalu melihat ke arah permaisuri yang menganggukkan kepalanya tanda setuju ucapan sang kaisar. Tanpa menunggu lama, Carissa dan Alarice berlari kecil ke arah kaisar Zayvius.


Memeluk sang ayah yang tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, terhadap kebahagiaan bertemu dengan kedua putrinya yang berasal dari ruang dan waktu yang berbeda.


"Ayah." Panggil Carissa dan Alarice secara bersamaan di sela sela pelukkan mereka.


"Putriku…" Balas kaisar Zayvius memeluk erat kedua putrinya.


"Ayah sangat merindukan kalian." Ucap sang kaisar dengan suara yang bergetar.


"hamba juga merindukan ayah." Balas Carissa dan Alarice secara bersamaan.


Tatapan haru permaisuri bahagia melihat keluarganya berkumpul. Itu semua berkat Carissa yang dapat menerima takdirnya dengan tulus ikhlas. Carissa adalah penghubung di antara mereka, seorang putri titisan dari Dewa Agung.


"Kemarilah, sayang…!" Panggil kaisar kepada permaisuri yang melihat interaksi mereka.


Permaisuri mengerti apa maksud dari suaminya tersebut. Permaisuri segera mendekat dan ikut masuk ke dalam pelukkan di antara mereka bertiga. Tiga orang yang sangat ia cintai dan kasihi selama hidupnya.


Tidak lupa kedua putri juga memeluk kakek dan nenek mereka, dua Petapa Suci. Mereka juga bahagia dapat bertemu dengan kedua cucunya yang sangat cantik.


Beberapa detik telah berlalu, mereka kini duduk di atas rerumputan yang terasa empuk. Membicarakan sesuatu yang akan menjadi masa depan yang lebih baik untuk dunia itu.


"Carissa, terima kasih kamu sudah mau menerima takdirmu ini. Itu menjadi penghubung untuk kita semua. Mulai sekarang kamu adalah satu satunya kekuatan yang akan melawan semua kegelapan yang ada. Kami akan selalu membantumu mulai sekarang. " Ucap kaisar melihat sang putri yang kini telah dewasa dan cantik seperti ibunya.


"Baik ayah. Tapi apakah hamba bisa?" Ucap Carissa masih ragu akan kekuatan dan kemampuannya.


"Mulai saat ini, kamu bisa menggunakan semua kekuatan yang kami miliki karena kami semua ada di dalam dirimu. Kamu adalah satu orang yang memiliki kekuatan dari kami semua." Jelas sang kaisar dengan tatapan yang sangat teduh.


"Kamu jangan cemas putriku…Ayah, ibu, kakek dan nenekmu akan selalu bersamamu di dunia luar, itu semua berkat dirimu." Ucapnya.


" Bagaimana bisa ayah?" Tanya bingung Carissa.


Kaisar dan permaisuri hanya tersenyum akan kebingungan yang terlihat jelas di wajah putri mereka. Sedangkan putri Alarice Jovandra hanya sibuk bergelayut manja pada sang ibu. Keluarga yang terlihat sangat bahagia.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2