DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
171. Aura Darah Kehidupan.


__ADS_3

***Kerajaan Darkness World***


Semua kembali dengan selamat dari hutan kematian. Hutan yang penuh akan aura kegelapan, dingin dan mencekam. Sekali masuk ke dalam hutan kematian, tidak akan ada yang mudah untuk keluar dari hutan tersebut.


Wakiza, Leon, Saira dan Callysta dapat keluar dengan selamat, itu berkat kekuatan segel yang di miliki oleh Carissa sang pengendali.


Mereka melihat ke arah Wakiza dan kawan-kawannya yang baru saja tiba. Pandangan mata mereka semua terfokus pada seorang wanita yang menggunakan setelah baju rumah sakit, yang menurut mereka aneh. Rambut hitam panjang Callysta tergerai sedikit berantakan.


Callysta menatap mereka satu per satu, dan melihat ke sekitar aula tersebut. Dia tahu semua mata melihat ke arahnya dengan pandangan yang cukup aneh melihat penampilannya.


Saat matanya menangkap seseorang yang melangkah mendekatinya. Tentunya ia tahu jika wanita itu adalah Callysta yang sebenarnya, tetapi kini jiwanya berada di dalam tubuh milik Carissa Hubert.


"Callysta…!" Panggil Carissa melangkah mendekati Callysta.


"Carissa…!" Panggilnya tidak percaya, jika Carissa yang ada di tubuh Callysta kini ada tepat di hadapannya, dan itu nyata bukan mimpi.


Mereka saling merangkul untuk mencurahkan kerinduan mereka, dan untuk membuktikan jika itu semua adalah nyata. Keduanya saling memeluk dengan air mata haru dan senyuman bahagia mereka dapat bertemu kembali.


Tentunya membuat semuanya heran dan terkejut tidak percaya melihat sosok dua orang dengan wajah yang sama. Hanya berbeda pada warna rambut dan mata mereka saja.


Tubuh Carissa yang di tempati oleh jiwa Callysta, memiliki warna mata silver kebiruan yang berkilau dan warna rambut panjangnya yang pirang, selaras dengan kulitnya yang seputih porselin.


Sedangkan tubuh Callysta yang di tempati oleh jiwa Carissa, memiliki warna mata coklat bening yang indah dan warna rambut hitam panjangnya selaras dengan kulitnya yang cukup putih bersih.


"Kau benar-benar datang ke dunia ini." Ungkap Callysta yang ada di tubuh Carissa, di sela-sela pelukkan mereka berdua.


"Iya, aku datang. Aku benar-benar pulang Callysta." Balas lemah Carissa yang ada di dalam tubuh Callysta.


"Aku senang kamu kembali ke dunia ini Carissa."


"Aku juga…!" Balas lemah Carissa yang kemudian jatuh luluh dalam pelukan Callysta.


"Carissa…!" Panik Callysta melihat kondisi Carissa yang lemah. Begitu juga mereka yang melihat.


"Ada apa denganmu?" Tanyanya. Dia menahan tubuh Carissa yang sudah rebah dan berada di dalam rangkulannya.


"Maafkan aku Callysta. Aku sangat lemah sekali." Balas lemah Carissa.


Callysta melihat ke arah dada kiri Carissa. Ia mengingat jika dada kirinya terkena sebuah tembakan. Dada itu kini mengeluarkan darah segar yang membasahi pakaian rumah sakit.


Callysta segera memeriksa luka tembak yang sudah di operasi itu, kembali terbuka dan mengeluarkan darah segar. Carissa benar-benar pingsan, Callysta memeriksa denyut nadinya. Sangat lemah.


Wanita itu merebahkan tubuh Carissa ke atas lantai. Dia mencoba menggunakan kekuatan penyembuhnya, namun tidak bisa.


"Kenapa tidak bisa? Kenapa kekuatan penyembuh ku tidak dapat di gunakan?" Tanya Callysta bergumam sendiri.

__ADS_1


"Itu karena Celia yang sekarang ada di dalam tubuh anda, putri. Celia tidak memiliki cukup kekuatan penyembuh seperti yang anda miliki." Balas Oceana memberitahukan setelah mendengar ucapan sang pengendali.


Callysta mengerti, dia kemudian melihat ke arah Shopie. Kondisi tubuh Carissa saat ini kritis, seharusnya dia masih menggunakan bantuan alat modern rumah sakit untuk membantunya bertahan dari luka pada dadanya.


"Shopie, tolonglah… dia sedang kritis." Ucapnya melihat ke arah Shopie yang hanya diam saja.


"Maafkan aku Carissa. Sekarang aku sedang lemah, setelah semua kekuatan ku masuk ke dalam tubuh mu." Balas Shopie memberitahukan kondisi tubuhnya saat ini.


"Lalu bagaimana? Carissa…sadarlah…!" Ucapnya bingung. Dengan cepat Callysta memeriksa detak jantung yang di miliki oleh tubunnya itu. Ia arahkan telinganya ke dada Carissa. Detaknya sangat lemah.


Callysta tidak ingin kehilangan tubuhnya dan jiwa Carissa yang ada di dalam sana. Dia berpikir untuk memberikan pertolongan pertama dengan menggunakan kekuatan penyembuh. Tapi dia dan Shopie yang memiliki kekuatan itu, tidak dapat menggunakan kekuatan mereka sama sekali. Mengapa harus hari ini mereka kehilangan kekuatan penyembuhnya?


Callysta melihat ke arah wajah pucat Carissa. Dia butuh seseorang yang bisa menggunakan kekuatan penyembuh untuk menstabilkan detak jantung Carissa saat ini, agar dia bisa mengeluarkan beberapa peralatan kesehatan dan obat modern yang ia butuhkan dari dalam Kotak Kehidupan.


Callysta berpikir dengan cepat, siapa lagi yang memiliki kekuatan penyembuh. Ia pun teringat pada permaisuri Princella, tetapi dia kembali membuang pikiran itu. Tidak mungkin dia meminta bantuan dari permaisuri, terlalu berisiko dan akan memakan waktu yang cukup lama.


Kembali Callysta berpikir cepat, kemudian dia mengingat jika kedua pengikut setia di dalam tubuhnya memiliki kekuatan penyembuh. Dengan terpaksa dia memanggil dua pengikut setianya yang seharusnya tidak keluar dari persembunyiannya.


"Dragon White, Phoenix Gold apakah kalian bisa mendengarkan panggilanku?" Panggil sang pengendali melalui telepatinya kepada dua pengikut setianya yang ada pada pedang kembar keramatnya.


"Hamba My Lord." Balas Dragon White dan Phoenix Gold secara bersamaan melalui telepati mereka.


"Bisakah kalian keluar dan menggunakan kekuatan penyembuh kalian kepada Carissa yang sedang kritis?" Ucapnya. Kedua pengikut setia sang pengendali tahu segalanya tentang junjungan mereka.


"Baik My Lord." Balas mereka secara bersamaan.


Sebuah cahaya muncul secara tiba-tiba di hadapan semua orang. Terlihat dua orang pria tampan muncul di hadapan mereka, keduanya sedang berada pada posisi tunduk hormat dengan satu kaki yang di tekuk.


"Salam My Lord." Ucap salam dua pria tampan yang tiba-tiba muncul di hadapan sang pengendali.


Dua pria tampan yang memiliki aura sangat kuat dari dalam tubuh mereka. Dua pria tampan yang merupakan jelmaan dari Dragon White dan Phoenix Gold, mereka sudah dapat berubah menjadi seorang manusia.


Dragon White menjelma menjadi seorang pria tampan dengan rambut panjang putih yang di ikat setengah bagian, dengan warna matanya yang biru terang, memiliki postur tubuh tinggi atletis dan kulit yang putih bersih.


Sedangkan Phoenix Gold menjelma menjadi seorang pria tampan dengan rambut panjang emasnya yang di ikat setengah bagian, dengan warna matanya yang merah ke emasan sangat terang, memiliki postur tubuh tinggi atletis dan kulit yang putih bersih.


Mereka benar-benar menjelma menjadi dua pria tampan yang mampu menarik perhatian semua kaum hawa saat ini. Mereka yang melihat cukup terkejut dan terkesan akan ketampanan keduanya.


Mereka memiliki nama masing-masing yang di berikan oleh sang pengendali. Dragon White dengan nama Grande, sedangkan Phoenix Gold dengan nama Rey.


Semua orang cukup terkejut akan siapa yang muncul secara tiba-tiba? Tidak ada yang tahu siapa mereka berdua? Dua pria tampan pengikut setia sang pengendali yang keluar dari pedang kembar keramat.


"Bangunlah, lakukan apa yang aku minta pada kalian?" Ucap sang pengendali meminta Grande dan Rey untuk bangkit dari tunduk hormat mereka.


Grande dan juga Rey bangkit, tiba-tiba mereka dapat merasakan ada aura yang sudah lama tidak mereka rasakan. Aura Darah Kehidupan yang di miliki oleh Dewa Agung dan permaisurinya. Mereka saling memandang dengan pandangan yang terkejut. Kemudian mencari dari mana aura tersebut datang. Apakah sosok Dewa Agung atau permaisurinya ada di sana?

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya heran sang pengendali, melihat sikap terkejut dan aneh keduanya seakan mencari sesuatu yang mereka inginkan.


"My Lord, di sini ada aura Darah Kehidupan yang di miliki oleh Dewa Agung dan permaisurinya." Balas Grande mewakili mereka berdua.


"Darah kehidupan?" Gumam sang pengendali.


Wakiza, Leon, dan Saira yang juga pernah mendengar seseorang penyebut tentang darah kehidupan beberapa menit yang lalu, ikut bergumam. Mereka melihat ke arah Grande yang mengatakan itu.


"Apa maksud kalian?" Tanya sang pengendali bingung.


"Aura darah kehidupan, yang hanya di miliki oleh Dewa Agung dan permaisurinya. Tapi aura ini sedikit melemah." Balas Grande melihat ke arah tuannya.


"Gadis ini…Aura darah kehidupan berasal dari tubuhnya…!" Tunjuk tiba-tiba Rey si burung Phoniex Gold ke arah tubuh Callysta yang datang dari dunia lain.


Grande melihat ke arah yang di tunjuk oleh Rey, dia pun mendekati tubuh itu. Grande melihatnya dengan teliti, dapat ia rasakan aura darah kehidupan yang mengalir di dalam tubuh tersebut sekarang melemah.


"Kau benar Rey…gadis ini memiliki aura darah kehidupan." Ucap Grande membenarkan ucapan Rey.


"Sudahlah…pembahasan itu kita bicarakan nanti. Cepat berikan kekuatan penyembuh kalian ke dalam tubuhnya…!" Perintah sang pengendali kepada dua pengikutnya, sembari menunjuk ke arah tubuh Callysta dengan ujung matanya.


"Bagaimana mungkin, My Lord…! Kami tidak berani berbuat lancang seperti itu…!" Balas Grande.


Mereka masih mengingat aturan langit. Aturan langit tidak mengijinkan mereka yang miliki kasta rendah menyentuh tubuh pemilik darah kehidupan. Pemilik darah kehidupan di dunia langit adalah Dewa Agung dan permaisurinya. Pemimpin tertinggi dunia langit khayangan.


Bagaimana mungkin mereka yang merupakan binatang sakral peliharaan sang Dewa Agung berani menyalurkan kekuatan penyembuh kepada pemilik darah kehidupan. Darah yang sangat murni dari segala jenis darah di dunia mereka. Darah yang memiliki kekuatan istimewanya.


"Simpan dulu penjelasan kalian. Sekarang cepat lakukan…nyawanya sedang terancam…!" Histeris sang pengendali sudah tidak dapat bersabar lagi. Kondisi tubuh Callysta benar-benar melemah.


"Cepat lakukan…!" Perintah tegas dan keras sang pengendali terlihat tajam.


"Baik My Lord." Akhirnya mereka menyerah, dan mengikuti apa yang diperintahkan dan di inginkan oleh sang pengendali.


Keduanya mulai mengarahkan dan menyalurkan kekuatan penyembuh mereka ke arah tubuh Callysta. Sedangkan Carissa mengeluarkan Kotak Kehidupannya untuk mendapatkan beberapa peralatan kesehatan dan obat obatan yang ia perlukan untuk tubuh Callysta.


Semua orang yang hadir di sana dapat melihat dengan jelas semua itu. Mereka hanya dapat diam dengan tenang, dan ingin mengetahui semuanya dengan jelas. Masih banyak penjelasan yang harus mereka dapatkan dari sosok sang pengendali. Sosok yang kini sedang sibuk memberikan pengobatan kepada seorang wanita yang sangat mirip dengannya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2