DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
32. Tantangan Memanah Dan Pedang Kayu.


__ADS_3

***Area Latihan Istana***


Carissa mengerutkan keningnya melihat ke arah putra mahkota Leonard Theodore, karena dia memberikan tambahan pada tantangan kali ini, yaitu memanah dengan menunggangi seekor kuda, Carissa masih diam sampai dua pengawal membawa dua ekor kuda datang ke hadapan mereka, Carissa hanya melihat kuda tersebut.


"maaf putra mahkota, apa ini tidak berlebihan?" uangkap pangeran kedua melihat Carissa yang seakan ragu karena permintaan putra mahkota.


"apanya yang berlebihan, memanah dengan menunggangi kuda sangatlah biasa, karena saat berperang kita akan menunggangi kuda sembari memanah lawan, jadi ini biasa, bagaimana pangeran ketiga apa kau keberatan?" balas Leonard melihat pada pangeran kedua dan pangeran ketiga secara bergantian.


"aku setuju, itu benar saat kita berperang kita biasa menunggangi kuda sembari memanah lawan." balas pangeran ketiga.


Carissa hanya diam melihat kedua kuda tersebut tanpa ikut berkomentar ataupun keberatan sama sekali, dia rasa ada yang tidak beres di sini, dan Carissa percaya kalau semua insting kecurigaannya selalu benar.


"bagaimana nona Carissa? apa anda keberatan?" tanya putra mahkota melihat Carissa hanya diam tanpa komentar apapun.


"apa hamba ada pilihan yang mulia?" tanya Carissa dengan wajah datarnya.


"tentu saja ada, menyerah untuk kalah atau menerima tantangannya tetapi belum tahu berhasil atau tidak." ungkap putra mahkota tersenyum tipis, Leonard merasa senang sekali menggoda dan menyulitkan Carissa saat ini.


"itu bukanlah pilihan…" balas Carissa tersenyum tipis. "anda terlalu baik hati yang mulia." ucap Carissa kembali seraya membungkukkan sedikit badannya.


"sebelum mencobanya, kita tidak akan tahu, kita bisa atau tidak." ucap Carissa kembali melihat pangeran ketiga. "jadi hamba mohon bimbingannya yang mulia." ucap Carissa membungkukkan sedikit badannya pada Verdian.


"bagus…aku suka semangatmu yang tidak mudah putus asa, baiklah ayo kita mulai." ungkap Verdian tersenyum senang dan bersemangat.


Carissa pun mengikuti Verdian melangkah menuju kuda yang sudah di siapkan, Verdian dengan cepat menaiki kudanya, sedangkan Carissa tampak ragu sehingga seseorang datang mengulurkan tangannya pada Carissa.


"mari aku bantu untuk naik." ucap Damian mengulurkan tangannya ingin membantu Carissa untuk naik ke atas punggung kuda.


Carissa melihat kembali pada kuda yang akan dia tunggangi, dia membelai lembut wajah kuda yang akan di naikinya.


"tolong bantu aku." ungkapnya pada kuda tersebut dengan suara lembutnya yang masih bisa di dengar oleh Damian yang ada di depannya.


"terima kasih yang mulia atas niat baik anda, tetapi hamba akan berusaha sendiri." ungkapnya lembut karena masih ada yang peduli padanya.


Carissa memegang tali kekang kuda tersebut dengan cekatan Carissa menaiki kudanya tanpa kesulitan sama sekali, Carissa duduk anggun dan tegak di atas kuda tersebut dengan memegang busur panah yang di berikan oleh pengawal, sedangkan tempat anak panahnya dia gantung pada belakang punggungnya.


Aturan kali ini pangeran ketiga yang lebih dulu memanah Sampai tiga kali panah, selanjutnya baru Carissa dengan tiga kali panah di papan sasaran yang sama, Carissa hanya diam dengan wajah datar dan dinginnya, duduk melihat pangeran ketiga yang sudah lebih dulu mulai aksi memanahnya, dengan di iringi teriakan histeria dari para putri lainnya memberikan semangat.


Terlihat hasil panahan dari Verdian sangat bagus sekali dua papan tepat sasaran titik hitam dan satu lagi di nilai 95% titik hitam, Carissa terus melihat Verdian yang kembali dengan senyum kemenangannya, Verdian kini sudah ada di depan Carissa.

__ADS_1


"ayo nona…sekarang giliranmu…" ungkapnya tersenyum kemenangan karena puas akan hasil panahannya.


Carissa melihat sejenak pada Verdian dan ketiga papan sasaran, dia menajamkan pengelihatannya jauh di titik hitam yang sudah ada anak panah milik Verdian tertancap di sana.


Carissa menundukkan badannya untuk berbisik di atas kepala kuda yang ia tunggangi, "tolong bantu aku." itu yang Carissa bisikkan yang membuat semua orang heran akan apa yang di lakukan Carissa?


Carissa perlahan menarik tali kekang kudanya, begitu kudanya merespon dengan melangkahkan kakinya, Carissa lalu menghentakkan kedua kakinya untuk membuat kudanya berlari kencang, saat kudanya sudah berlari Carissa berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh, lalu dengan menegakkan badannya Carissa mengarahkan busuk panahnya pada papan sasaran pertamanya, begitu di rasa tepat pada bidikkannya Carissa pun melepaskan anak panahnya dan terpanah tepat pada titik hitam papan sasaran pertamanya.


Carissa terus melakukan untuk kedua kalinya, dia membidik titik hitam sasaran yang sudah terdapat anak panah Verdian, saat di rasa bidikkannya sudah tepat, Carissa pun melepaskan anak panahnya, dan anak panah milik Carissa dengan cepat membelah anak panah milik Verdian di titik hitam papan kedua sasarannya.


Kali ini Carissa juga berkonsentrasi membidik papan sasaran ketiga yang sudah terdapat anak panah dari Verdian di titik tengah, dan kali ini pun Carissa berhasil membelah anak panah milik Verdian, yang membuat semua orang terkejut dan tidak ada yang bersuara lagi.


Carissa dengan cepat kembali mendekati Verdian dan ingin meminta hadiahnya, karena sudah di pastikan dialah pemenangnya dengan selisih tipis dengan Verdian, semua orang melihat tidak percaya pada Carissa yang sudah memanah ketiga papan sasaran tepat di titik hitam, sampai membuat dua anak panah Verdian terbelah menjadi dua agar anak panah Carissa bisa berada di tengah titik hitam.


"bagaimana yang mulia…apa anda ingin melihat hasil panahan hamba?" tanya Carissa yang masih duduk di atas punggung kudanya dan melihat Verdian yang masih terkejut.


"bagaimana caramu melakukannya?" tanya gagap Verdian masih tidak percaya akan apa yang dia lihat?


"hanya membidik sasaran dan memanahnya saja."


"kalau kau memang bisa memanah, kenapa kemarin sewaktu tantangan kau kalah, bahkan memegang busur saja kau tidak bisa." balas Verdian dengan pertanyaan yang mungkin semua orang ingin menanyakannya.


"lalu sekarang kenapa kau ingin melakukannya?"


"ya jelas karena menginginkan hadiah dari anda yang mulia." jawab Carissa jujur.


"apa hanya itu saja…?" kali ini putra mahkota Leonard yang bertanya, dan semua melihat padanya termasuk Carissa.


Carissa terdiam, dia turun dari atas kudanya dan melangkah mendekati putra mahkota.


"iya, tentu hanya itu saja…apa ada yang lain yang mulia?" tanya Carissa balik.


Alih-alih menjawab pertanyaan Carissa, Leonard malah memanggil Verdian dan membisikkan sesuatu padanya, Carissa mengerutkan keningnya curiga dan instingnya mengatakan akan ada sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.


Verdian terlihat menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan apa yang di bisikkan oleh Leonard, dengan segera Verdian berjalan mengambil dua pedang kayu dan berbalik mendekati Carissa, dengan cepat Verdian melemparkan pedang kayu pada Carissa, dan dengan sigap pula Carissa menangkap pedang kayu tersebut.


"waoooww cara menangkap yang bagus." ungkap Verdian suka melihat cara Carissa menangkap pedang kayu yang di lemparkan.


"apa maksudnya ini?" tanya bingung Carissa dengan melihat Verdian dan pedang kayu di tangannya secara bergantian.

__ADS_1


"kurang seru kau hanya melakukan satu tantangan untuk mendapatkan satu hadiah dariku, jadi aku ingin menambah satu tantangannya dengan satu hadiah lagi untukmu, bagaimana apa kau mau?" ucap Verdian tersenyum pada Carissa, Verdian sangat suka tantangan, apa lagi sangat suka pada apa yang di katakan oleh putra mahkota saat berbisik padanya tadi???


"hamba hanya cukup satu hadiah saja yang mulia, terima kasih." jawab Carissa yang tidak ingin mencari masalah, lagi pula dia malas meladeni apa yang di perintahkan putra mahkota pada Verdian.


"kau hanya ada dua pilihan, mengikuti perintah ku atau kau bersedia menjadi pelayanku selama satu bulan?"


Carissa diam mengerutkan keningnya, dia merasa sudah di jebak, mereka hanya ingin membermainkannya.


"maafkan hamba yang mulia…hamba bukanlah tandingan anda, melawan anda ataupun tidak hamba akan tetap kalah, bila anda maksa hamba bersedia menjadi pelayan anda." ucap Carissa lebih baik mengalah dari pada tantangannya akan terus berlanjut.


Putra mahkota dan Verdian terlihat tidak puas dengan jawaban Carissa, dengan deheman dari putra mahkota, Verdian pun menyerang Carissa dengan cepat tetapi tidak menggunakan tenaga.


Carissa repleks menahan serangan pedang kayu Verdian, Verdian yang merasa kalau Carissa cukup bagus saat menahan serangannya, dengan cepat pula dia menyerang Carissa kembali, lagi-lagi Carissa bisa menahan serangannya dan menghindar.


Dalam benak Carissa berkata, dia tidak akan di lepaskan bila tidak mengikuti kemauan verdian, jadi dengan terpaksa Carissa mengikuti apa kemauan verdian, dengan cepat dan kuat Carissa juga membalas menyerang Verdian.


"waaooow seranganmu kuat juga." ungkap Verdian di sela-sela serangannya.


Carissa hanya diam tidak menjawab, dalam pikirannya hanya ingin cepat menyelesaikan ini semua, Verdian dan Carissa masih saling menyerang dan menghindari serangan masing-masing, mereka seimbang dan terlihat terengah-engah karena gerakkan mereka, Verdian tidak mau mengalah sama sekali, sedangkan Carissa tidak ada pilihan untuk mengalah karena itu hanya sia-sia saja.


Bukan dengan serangan pedang kayu saja yang di gunakan mereka berdua, pukulan, tinju dan tendangan pun mereka gunakan untuk saling melumpuhkan, tetapi mereka tetap seimbang.


Carissa memutar otaknya untuk melumpuhkan Verdian, dan dia pun ingin mencoba trik yang pernah di ajarkan Master pedangnya saat masih di dunia mafia.


Dengan cepat Carissa memutar pedangnya pada pedang kayu milik Verdian seraya terus maju agar Verdian mundur untuk menghindar, dan saat langkah mundur Verdian tidak seimbang, Carissa dengan cepat melakukan tendang ke arah perut Verdian seraya mendorong kuat pedang kayu Verdian ke arah atas hingga terbang ke atas.


Dengan gerakan cepat Carissa melakukan tendangan berputer di saat Verdian lengah hingga tendangannya berhasil mengenai pipinya, lalu dengan mudah Carissa menangkap pedang kayu Verdian dan memakai kedua pedang kayu tersebut untuk menyerang Verdian bertubi-tubi, sehingga Verdian kewalahan dan jatuh saat Carissa menyepak kedua kaki Verdian, dengan gerakkan cepat Carissa menodongkan pedang kayunya pada leher Verdian yang sedang jatuh terlentang di atas tanah.


Carissa menatap tajam Verdian yang sudah kalah dengan nafasnya yang terengah-engah karena lelah, untuk pertama kalinya Carissa mendapatkan lawan yang seimbang lagi, semenjak dia berhenti pada dunia mafianya, sudah lama sekali dia tidak menggunakan bela diri dan jurus pedangnya lagi.


Verdian yang sudah nyata kalah merebahkan badannya pasrah di atas tanah dan menyerah dengan mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, segera Carissa merilekskan tubuhnya dan mengatur nafasnya dengan berdiri tegak melihat pada Verdian, putra mahkota dan pangeran kedua secara bergantian dengan membuang kedua pedang kayunya ke atas tanah di samping kakinya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2