DUNIA KEDUA.

DUNIA KEDUA.
40. Kunci Ajaib Milik Damian Theodore.


__ADS_3

***Istana Holmes***


…Carissa Hubert…


Entah apa yang akan terjadi setelah aku melihat kunci ajaib keramat yang dikatakan oleh Verdian, yang tidak sembarang orang bisa melihatnya.


Apakah benar kunci ajaib keramat tersebut sangat luar biasa? sehingga orang yang tidak memiliki takdir yang bagus untuk melihatnya akan mengalami segala musibah bahkan kutukan, walaupun sudah berpegangan tangan dengan sang pemilik buku bahasa asing yang menyatakan kunci ajaib tersebut datang bersama dengan buku bahasa asing itu.


Walaupun dalam hatiku takut untuk melihatnya, tetapi dalam hatiku juga mengatakan aku harus melihatnya, dan saat ini juga aku akan melihat kunci ajaib tersebut dengan resiko apapun akan terjadi padaku, aku hanya berprinsip kalau belum mencobanya mana kita tahu hasilnya bagaimana? jadi aku putuskan aku akan melihatnya.


Aku berjalan bersama dengan tiga pria tampan dan berkuasa di kerajaan Holmes ini, sepanjang koridor istana menuju ruangan yang khusus menyimpan barang-barang berharga, antik dan keramat lainnya, kami menjadi pusat perhatian dari semua yang kami lewati terutama aku.


Aku yang hanya calon selir pangeran kedua menjadi pusat perhatian mereka, karena tidak banyak wanita di istana ini bisa berjalan bersama dengan sang putra mahkota dan para pangeran kerajaan Holmes, jadi mereka ada yang kagum dan ada juga yang merasa iri.


Aku hanya cuek saja melihat lurus kedepan dengan masih memasang wajah datar dan dingin ku, aku tidak menghiraukan apa bisikan mereka membicarakan ku, karena menurut ku mereka semua tidak penting bagiku dan aku masa bodoh pada mereka.


Kami berempat sudah berada di dalam ruangan yang memiliki papan nama di depannya dengan sebutan Lotus Room, dan kami berdiri di depan sebuah kotak yang di tutupi oleh kain berwarna emas.


"apa kau sudah siap?" tanya Damian dengan memasang wajah cemasnya melihatku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku setuju dan tanpa merubah mimik wajahku sedikitpun.


"pejamkan matamu sebentar, saat aku sudah membuka kain penutup ini, bukalah matamu perlahan, kau mengerti?" ucap Damian seraya mengulurkan telapak tangannya padaku.


Aku melihat telapak tangan Damian dan wajahnya secara bergantian.


"peganglah tanganku, untuk menjagamu bila kau tidak di takdirkan melihat kunci ini." ungkapnya yang bisa aku mengerti, dengan perlahan aku menyambut uluran tangannya.


Terasa tangannya begitu besar, lembut dan hangat yang aku rasakan.


Akupun menutup mataku seperti perintah Damian, beberapa saat kemudian…


"coba buka perlahan matamu, bila kau rasa ada yang tidak beres padamu langsung tutup kembali matamu, kau mengerti?" tanyanya kembali dan lagi-lagi aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti.


Aku menarik dan menghembuskan nafasku perlahan, ku coba membuka perlahan mataku untuk melihat kunci ajaib keramat yang membuatku penasaran, saat mataku menangkap sebuah kunci yang berada di atas bantalan di dalam kotak kaca, aku seketika terkejut dan sangat terkejut, karena aku sangat mengenal kunci tersebut.


"ini…" ucapku seraya menunjuk ke arah kunci yang ada di dalam kotak kaca tersebut.


"ada apa…?" tanya Damian dengan mengeratkan genggaman tangannya padaku. "apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Damian kembali dengan wajah khawatirnya melihatku terkejut melihat kunci ajaib tersebut.


"ini kunci ajaib nya…?" tanyaku seraya melihat ketiga pria tersebut secara bergantian.


"iya…ada apa?" tanya Damian dengan mengerutkan keningnya melihat ku.

__ADS_1


'apa-apaan ini…? ini mirip kunci ajaib milik keluarga Yuandara, mirip kunci ajaib milikku di duniaku yang di berikan oleh Antoni Yuandara padaku, dan aku punya juga kunci yang sama seperti ini, yang mana asli dan yang mana palsu dari kedua kunci ini?' gumamku dalam hati Seraya melihat putra mahkota, yang memiliki wajah sama dengan Antoni, karena wajah Leonard selalu mengingatkan aku pada sosok Antoni Yuandara.


"ada apa nona Carissa?" tanya Damian cemas melihatku melamun dengan melihat ke arah putra mahkota yang melihatku curiga.


"nona Carissa…" panggil Damian seraya menggoyangkan genggaman tangan kami.


"iya…"


"kau baik-baik saja?"


"aahhh…tentu saja, bisa kah yang mulia coba melepaskan tangan hamba?"


"apa kau yakin?"


"iya…hamba ingin tahu apa hamba memiliki takdir bagus untuk melihat kunci ajaib ini?"


"baiklah…tapi cepatlah pegang tanganku bila kau merasakan sesuatu."


"baik." Damian perlahan melepaskan genggaman tangannya padaku, dan aku masih melihat kunci ajaib tersebut dan benar-benar tidak terjadi apapun padaku.


Ketiga pria tersebut melihat heran padaku yang tidak mengalami apapun setelah melihat sendiri kunci ajaib tersebut, perlahan aku ulurkan tanganku menyentuh pintu kotak kaca tersebut.


"apa yang coba kau lakukan?" tanya Damian mencegah tanganku yang ingin membuka pintu dari kotak kaca tersebut.


"hamba ingin menyentuh nya yang mulia."


"bisakah coba anda buktikan yang mulia…?" ucapku.


Damian melihatku dan putra mahkota secara bergantian, saat putra mahkota menganggukkan kepalanya tanda setuju, akhirnya Damian mencoba untuk menyentuh kunci ajaib tersebut, dan aku terkejut karena ada percikan api pada kunci ajaib itu, seperti percikan listrik yang membuat Damian menarik segera tangannya.


Aku menutup mulutku yang menganga karena terkejut, dan melihat ke arah Damian yang mengibaskan tangannya yang tersengat.


"apa kau ingin mencoba juga…?" kali ini putra mahkota yang bertanya, dan aku melihat juga padanya.


Aku tidak menjawab pertanyaan dari Leonard, aku menarik dan menghembuskan nafasku perlahan dengan terus melihat ke arah kunci ajaib yang ada di dalam kotak kaca, perlahan aku mencoba mengulurkan tangan ku ke dalam kotak kaca tersebut, saat tanganku sudah dekat terlihat jelas tanganku sedikit gemetar saat ingin menyentuh kunci tersebut.


Perlahan ku arahkan telunjukku untuk menyentuh sedikit Kunci Ajaib tersebut, saat telunjukku sudah menyentuh sedikit kunci ajaib tersebut dan aku tidak merasakan apapun, perlahan aku ingin meraih kunci ajaib itu, dan aku berhasil menggenggam kunci ajaib tersebut tanpa terjadi apapun pada tanganku, perlahan aku membawa keluar kunci ajaib tersebut di dalam genggamanku.


Terlihat ketiga pria tampan yang melihatku terkejut karena aku berhasil menggenggam kunci ajaib tersebut tanpa terjadi apapun padaku, aku pun heran dengan apa yang terjadi padaku, aku membuka genggamanku dan melihat secara dekat kunci ajaib tersebut, ku ulurkan kunci ajaib yang ada di telapak tanganku ke hadapan Damian.


"coba anda sentuh yang mulia?" ucapku yang masih tidak percaya kalau kunci ajaib itu akan mengeluarkan percikan api listrik, seperti saat Damian menyentuhnya.


Perlahan Damian menyentuh kunci ajaib itu, dan lagi-lagi dia tersengat, tetapi tidak terjadi apapun padaku dengan kunci ajaib tersebut masih di atas telapak tanganku, aku pun heran mengapa bisa seperti itu? akupun meraih dan menggenggam tangan Damian.

__ADS_1


"coba sentuh sekali lagi yang mulia…?" Damian yang mengerti maksudku, dengan ragu dan perlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh lagi kunci ajaib itu.


Dan ajaibnya Damian tidak tersengat seperti tadi, aku dan Damian saling menatap heran dengan apa yang kami alami dengan nyata, ku genggam tangan Damian yang terdapat kunci ajaib itu di dalam genggaman tangan kami perlahan aku coba melepaskan genggama tangan kami yang satunya lagi, dan masih tidak terjadi apapun.


Dengan cepat aku membalik telapak tangan kami agar tangan Damian berada di bawah tanganku, dan dengan cepat pula aku melepaskan telapak tanganku yang ada di atas telapak tangan Damian, tapi lagi-lagi Damian tersengat, dengan cepat pula aku genggam segera telapak tangan Damian, seketika sengatan itu hilang.


"ajaib…benar-benar ajaib!!!" ungkap Verdian yang takjub melihat apa yang terjadi pada kami berdua, begitupun dengan putra mahkota yang tidak percaya pada apa yang dia lihat.


Aku benar-benar bisa memegang kunci ajaib keramat tanpa terjadi apapun padaku, sedangkan Damian harus aku sentuh hingga dia dapat menyentuh kunci ajaib tersebut.


"siapa sebenarnya dirimu?" tanya putra mahkota yang membuatku melihat padanya.


Aku hanya diam dan memasang mimik wajah datar dan dinginku melihatnya.


'bagaimana ini? apa yang harus aku jawab?' gumamku seraya melihat ketiga pria yang menatap ku secara bergantian.


"maaf yang mulia hamba juga tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi? hamba Carissa Hubert yang mulia." balasku dengan wajah akting memelas melihat putra mahkota.


Bukannya menjawabku putra mahkota malah tersenyum tipis melihat ku.


"kau pandai menyembunyikan sesuatu, tetapi wajah mu yang memelas tersebut tidak bisa mengelabui ku." balasnya yang membuatku langsung merubah mimik wajahku menjadi datar dan dingin kembali melihat ke arahnya.


"lalu hamba harus bagaimana yang mulia? ini semua di luar kendali hamba?" balas ku dengan melihat ke arah kunci yang aku bolak balik di atas telapak tangan ku.


"apa yang membuatmu tidak bisa jujur nona Carissa?" tanya Verdian yang juga penasaran dengan jati diriku.


"tidak ada yang mulia, hamba tidak ada menyembunyikan apapun, untuk apa tidak ada untungnya untuk hamba."


"lalu bagaimana kau bisa mengerti bahasa asing itu dengan mudah? apa kau menyembunyikan dirimu yang juga salah satu orang jenius pilihan dari peramal suci?" tanya Damian, yang membantuku punya ide untuk menjadikan perkataan Damian alasan agar mereka tidak banyak tanya lagi.


"iya yang mulia…itu alasannya, bagaimana anda bisa tahu?" balas dan tanyaku dengan cepat dan berpura-pura lugu.


"sudah ku tebak tidak mungkin orang yang bisa membaca buku bahasa asing dengan mudah, pastilah dia pilihan langsung dari peramal suci." balas Damian kembali menatap ku lembut.


Aku tahu tatapan Damian dan maksud perkataan nya itu untuk membantuku, agar terlepas dari pertanyaan mendesak dari putra mahkota, dalam hati aku sangat berterima kasih pada Damian yang sudah membantuku mencari jawaban untuk putra mahkota.


"apa kalian juga masih meragukan nona Carissa? bisa jadi kunci ajaib itu takdir dari nona Carissa karena dia yang bisa membaca petunjuk tentang kunci ajaib tersebut, yang tidak bisa ku mengerti bacaannya." ucap Damian membelaku dan melihat pada kedua saudaranya.


Putra mahkota dan pangeran ketiga melihat kami secara bergantian, nampak mereka masih ragu akan perkataan Damian, aku hanya pura-pura ikut mendukung Damian dengan masih memasang wajah luguku, yang terlihat ketahuan karena apa yang coba aku sembunyikan ketahuan oleh mereka.


Sebenarnya dalam hati aku lelah untuk berakting seperti ini, tetapi apa boleh buat harus aku lakukan? karena tidak mungkin aku berkata jujur kalau aku adalah Callysta Angelina dari dunia zaman lain, dan bukan Carissa Hubert dari dunia zaman ini.


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2