
Semua melihat ke arah ku yang jatuh terduduk di lantai, aku masih melihat Antoni yang ada di hadapanku dengan senyum mengembang di bibir ku.
Perlahan aku bangun dan berdiri tepat di hadapan Antoni yang terlihat berbeda dari sebelumnya aku kenal.
Warna matanya hijau bening sangat sesuai dengan warna kulitnya yang putih bersih, warna rambutnya coklat kehitaman terlihat panjang dan di ikat rapi ke belakang, terlihat pakaian yang di gunakan memakai bahan berkualitas tinggi dengan model baju dalaman kemeja putih berenda pada bagian leher, dan memakai jas luaran panjang bagian belakangnya yang sangat pas di badannya, celananya ketat dengan di padukan sepatu pantofel hitam yang mengkilap.
Aku melihat Antoni dari ujung sepatu sampai ujung rambutnya dengan heran dan seketika mimik wajahku pun berubah, karena melihat sorot mata tajam Antoni dengan penuh intimidasi melihat padaku.
'Antoni terlihat berbeda? apa dia Antoni? mengapa pakaiannya sama anehnya dengan orang-orang di sini? dan tatapan matanya sama seperti saat pertama kali kami bertemu, tidak suka akan kehadiranku, apa dia benar-benar Antoni atau bukan?' gumamku seraya menelan Saliva ku karena tatapan tajam Antoni padaku.
Aku masih melihat Antoni dengan lembut tanpa rasa takut sama sekali, yang membuat Antoni terus menatapku tajam.
"lancang sekali kau …tidak memberi salam pada yang mulia putra mahkota." ucap seseorang di sebelahnya yang terlihat seperti Leo.
"Leo…" gumamku berbisik. "di sini juga ada Leo, asisten pribadinya." gumamku pelan seperti berbisik.
"tunjukkan rasa hormat mu dan turunkan pandanganmu, lancang sekali kau berani menatap yang mulia putra mahkota." ucap dan perintah Leo padaku.
Penampilan Leo sama anehnya dengan orang-orang di sini, tetapi warna matanya juga berbeda, matanya berwarna coklat bening seperti warna mata kucing, dan rambutnya panjang coklat kehitaman tidak sama seperti yang aku kenal.
'mengapa semuanya berbeda?' gumamnya dalam hati seraya melihat Antoni dan Leo secara bergantian.
"lancang sekali kau…pengawal tahan dia…" perintah Leo yang kesal melihat ku hanya diam tidak mengikuti apa perintahnya.
Dengan segera para pengawal menahan kedua lenganku, aku terkejut dan ingin melawan tetapi terhenti karena perintah seseorang yang langsung di dengarkan oleh para pengawal.
"hentikan…lepaskan dia, kau… bawa wanita ini ke dalam kamarnya dan jangan biarkan dia keluar lagi." perintah Antoni pada para pengawal dan Feyrin yang masih duduk bersujud di hadapannya.
Para pengawal pun menjauh beberapa langkah dariku, sedangkan Feyrin hanya mengucapkan kata 'mengerti yang mulia' seraya masih duduk bersujud.
Antoni dengan segera membalikkan badannya ingin pergi tanpa ingin bicara dan menyapaku, dan ini membuatku merasa ada yang aneh dan ganjal dari semua ini, tempat ini dan orang-orang ini. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi?
"tunggu…!!" panggilku pada Antoni yang ingin pergi, dan Antoni pun menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan.
"siapa kau? apa kita tidak saling mengenal?" tanyaku padanya yang masih saja tidak berbalik badan.
"lancang sekali kau berbicara kasar dan tidak sopan pada yang mulia putra mahkota." kali ini Leo lah yang menjawab.
Aku tidak perduli dengan ucapan Leo.
"jawab aku, apa kau tuan muda Antoni Yuandara?" tanyaku lagi tanpa memperdulikan tatapan semua orang yang terkejut dan heran melihatku berani bertanya pada orang yang mereka panggil yang mulia putra mahkota.
__ADS_1
"lancang sekali kau…pengawal tangkap dia dan kurung." perintah Leo lagi padaku.
Antoni sama sekali tidak ingin menjawab ku, dan Leo membuatku mulai marah karena selalu dia yang menjawab pertanyaan ku, aku tidak puas dengan jawaban yang tidak aku dapatkan sama sekali.
Saat salah satu pengawal yang ingin menyentuh ku, dengan cepat aku meraih tangan pengawal tersebut dan memutar badanku untuk mengangkat dan membanting tubuh pengawal tersebut dengan mudah, sang pengawal kesakitan karena punggungnya jatuh mencium lantai, sedangkan yang lainnya terkejut melihatku dengan mudah melumpuhkan sang pengawal.
Antoni dengan cepat berbalik badan karena keributan yang aku timbulkan, dengan santai aku merapikan letak jubahku yang berantakan.
"apa itu yang kau mau…?" tanyaku dengan tatapan meremehkan pada Antoni yang melihatku dengan mimik wajah datar dan dinginnya.
'itulah mimik wajahnya yang asli, datar dan dingin.' gumamku dalam hati melihat Antoni.
"beraninya kau …pengawal tangkap wanita ini." perintah Leo kembali yang membuatku bertambah marah, karena lagi-lagi dia yang menjawab perkataan ku dengan perintah.
Semua pengawal maju mendekatiku, tetapi tidak semudah itu mereka akan melupuhkanku, dengan tajam aku melirik pada setiap pengawal yang akan menangkapku, dengan cepat aku melayangkan tendangan pada salah satu pengawal, dan yang satunya lagi berusaha menyerang ku dengan tinjunya, tetapi dapat aku tangkis dan dengan cepat aku balas dengan memukul perutnya sehingga dia mundur kesakitan.
Semua pengawal di sana satu per satu menyerang ku dan dengan cepat dan lincah aku bisa menghindar dan menyerang balik mereka, dengan satu gerakkan aku menarik satu pedang dari salah satu pengawal yang membawanya, dan aku arahkan pada dada Antoni yang masih setia berdiri melihat pertunjukkan ku, semua pengawal langsung mengarahkan pedang mereka padaku, termasuk Leo yang manatapku tajam dan marah.
"turunkan senjatamu !" perintah Leo.
Aku tersenyum devil melihat Leo yang menatapku marah dan mengarahkan pedangnya padaku, aku tidak takut mati sama sekali, karena aku sudah pernah mati jadi mati untuk kedua kalinya tidak akan sulit bagiku, apalagi di hadapanku sudah ada Antoni yang berada di ujung pedang yang aku pegang.
"kau pikir aku takut, aku pernah mati sekali dan mati untuk kedua kalinya tidak masalah untukku." balas ku menatap tajam dan dingin pada Leo dan Antoni secara bergantian.
"tapi yang mulia." ucap Leo meragu.
"turunkan pedang kalian." perintah Antoni lagi dengan masih menatap tajam padaku.
Tatapan kami masih beradu, tanpa ada yang ingin mengalah, semua pengawal dan juga Leo menurunkan pedangnya yang mengarah padaku.
"apa maumu?" tanya Antoni tegas dengan mimik wajahnya yang datar dan dingin melihatku.
"jawab pertanyaan ku? siapa kau? siapa namamu?"
"apa kau lupa atau kau pura-pura lupa siapa aku?" balasnya yang hanya membuat hatiku tidak puas dengan apa jawabannya?
"siapa kau?" ucapku dengan menekan sedikit ujung pedang yang ku pegang hingga menyentuh kain bajunya, yang membuat semua pengawal dan Leo siaga kembali tetapi di hentikan oleh gerakkan tangan dari Antoni.
"aku putra mahkota kerajaan Holmes, namaku Leonard Theodore."
Jawaban yang membuatku terkejut tidak percaya, tetapi tidak ada kebohongan di sorot matanya yang tajam menatapku.
__ADS_1
"kau tahu siapa aku? siapa namaku?"
"kau calon selir pangeran kedua, adikku pengeran Damian Theodore, namamu Carissa Hubert." ungkapnya yang membuat aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku dengar, kenyataan apa yang dia ucapkan?
"aku Carissa Hubert." beo ku melihat nanar pada Antoni yang mengaku sebagai putra mahkota Leonard Theodore dari kerajaan Holmes.
mata Antoni atau Leonard Theodore tidak ada sorot kebohongan, dan aku melihat pada Feyrin yang masih duduk bersujud di sampingku.
"Feyrin…!" panggil ku dan Feyrin melihat padaku.
"apa yang dia katakan benar?" tanyaku lagi melihat Feyrin yang sudah ketakutan dan dia hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya.
Lagi-lagi aku melihat sorot kejujuran di mata Feyrin, aku beralih pada Antoni atau Leonard Theodore yang masih tidak bergerak melawanku sama sekali, padahal aku tahu dari perawakannya dia pasti bisa melawanku dengan mudah, tetapi dia hanya diam menatapku tajam.
Perlahan aku turunkan pedangku dan melemparnya kebawah samping kaki sang putra mahkota, aku sudah tidak bisa berpikir apa pun saat ini? semuanya di luar pikiranku, dan apakah ini nyata? atau aku belum bangun dari tidurku dan masih bermimpi? tetapi tidak ini nyata karena saat aku memukul para pengawal aku merasakan kebas nyeri pada kepalan tanganku.
"tangaku…" ucapku melihat kedua pergelangan tanganku, dan semuanya pun ikut melihat ke arah pergelangan tanganku yang aku angkat ke depan.
Aku mengingat terakhit kalinya pergelangan tanganku sakit keseleo akibat melerai Antoni dan David saat berkelahi, tetapi saat ini aku tidak merasakan sakit sama sekali di pergelangan tanganku.
"ini tidak mungkin, kenapa tidak sakit lagi?" tanyaku pada diriku sendiri, yang membuat semua orang melihatku heran.
'apa aku ada di dunia atau negara lain?' gumam ku dalam hati dan aku melihat pada sang putra mahkota.
"apa aku akan kau hukum?" tanyaku dengan tatapan tajam pada Leonard Theodore.
"tergantung pada dirimu? apa kau ingin aku menghukummu?" tanyanya dengan tersenyum tipis yang membuatku mengerutkan kening ku heran melihat dia tiba-tiba tersenyum.
"apa aku bisa pergi dari sini."
"tentu kalau kau mau." balasnya dengan masih tersenyum tipis.
Tanpa menjawab aku bergegas membantu Feyrin bangun dari sujudnya, dengan takut dan terus tertunduk Feyrin ikut bangun dan Feyrin sedikit membungkukkan badannya memberi hormat pada sang putra mahkota, tanpa berkata dan melakukan apapun aku berbalik dan berjalan menuju ke kamarku yang di ikuti oleh Feyrin dari belakangku.
Mereka semua dan sang putra mahkota melihat ku pergi tanpa ada rasa hormat untuknya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun sampai menghilang dari pandangan mereka yang melihatku pergi begitu saja.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.